Bantencorner’s Weblog


Mengubah Paradigma Sekolah
Maret 3, 2008, 3:28 am
Filed under: Kisah

Sulit menemukan suasana formal di lembaga pendidikan yang satu ini. Selain bangunannya yang amat sederhana – terbuat dari kayu dan beratap rumbia – aktivitas yang tercipta sama sekali jauh dari suasana sekolah pada umumnya yang serba formal. Itulah Sekolah Peradaban yang berlokasi di kawasan Sepang, Serang. Sebuah sekolah dengan konsep yang boleh dibilang ‘sangat bertolak belakang’ dengan sekolah-sekolah lain.
***
Siang itu (25/2) suasana sekolah agak lengang. Hanya ada beberapa siswa saja yang terlihat bermain. Kebanyakan tengah beristirahat dan menunaikan solat duhur. “Anak-anak barusan melakukan kegiatan out bond,” ungkap Bambang Wibowo, saat menyambut kedatangan wartawan koran ini.
Selepas jam 12, suasana kembali ramai dengan beragam aktivitas para siswa. Ada yang bermain bola, becek-becekan, dan permainan lain khas anak-anak. Mereka dibiarkan bermain sesuka hati kendati baju yang dikenakan basah atau kotor oleh lumpur. Sementara para pengelola (guru-guru, Red.), hanya mengawasi dari kejauhan. Sesekali saja mereka menegur, itupun sekadar mengingatkan atau mengarahkan saja.
Bambang sendiri hari itu cukup disibukkan dengan aktivitas seorang anak autis. Namanya Dani Fakih Noval, murid kelas empat. Tapi, dengan sabar dan telaten Bambang melayani apa yang diminta sang murid. “Dia (Dani, Red.) itu cerdas. Kemampuannya di bidang pemrograman komputer,” ungkap Bambang.
Kemana pun Bambang pergi, di situlah Dani ada. Bahkan ketika wawancara berlangsung di ruang atas kantor, Dani turut serta dan sesekali nimbrung sambil mengutak-atik handphone milik Bambang.
Bambang adalah salah seorang yang berada di belakang layar dari Sekolah Peradaban. Ia termasuk pendiri sekaligus konseptor sekolah ini. Adapun pengelolaan sekolah diserahkan kepada sang istri, Rahmiyana, yang hari itu ikut terlibat dalam perbincangan, ditemani beberapa guru lainnya.
Dalam perbincangan itulah terungkap tentang konsep dan gagasan dari sekolah ini, sekaligus alasan yang melandasi pendiriannya, sehingga baik kurikulum maupun sistem pengajarannya jauh berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya.
Menurut Rahmiyana, sistem pendidikan di Indonesia pada umumnya sudah tidak bisa dipakai karena cenderung melakukan pemaksaan kepada anak didik. “Untuk itu perlu dibuat sistem yang baru yang mencerahkan sekaligus menghargai anak didik,” ungkap Rahmiyana.
Dengan sistem baru yang coba diterapkan di Sekolah Peradaban ini, anak dibiarkan beraktivitas dan berkreativitas sesuai kemauan dan kecenderungannya, sehingga dengan sendirinya potensi dan kemampuan anak dapat terlihat sekaligus diasah dan diarahkan. “Sebab, hakekatnya anak yang bodoh itu tidak ada,” ujar Rahmiyana lagi yang mengaku bahwa sistem pendidikan di sekolahnya merupakan hasil gabungan dari berbagai sistem pendidikan, tapi disesuaikan dengan kultur Indonesia.
Seakan menegaskan apa yang disampaikan Rahmiyana, Bambang ikut angkat bicara. Menurutnya, sekolah ini melalui sistem pendidikan dan pengajarannya hanya ingin mengembalikan si anak sesuai kodratnya sebagai manusia. Karena sesungguhnya setiap anak itu champion (baca; unggul).
“Tidak ada anak yang bodoh atau nakal. Semua anak anak itu pintar. Dari berjuta-juta sperma, toh yang jadi hanya satu. Dan masing-masing anak merupakan hasil dari sperma yang jutaan jumlahnya itu. Sperma terunggul. Artinya, masing-masing anak itu memiliki keunggulan,” kata Bambang seakan mempertanyakan paradigma yang berlaku saat ini di masyarakat, terkait dengan adanya sebutan anak bodoh atau anak nakal.
Untuk itulah, imbuh Bambang, sekolah ini terbuka bagi siapa pun, termasuk bagi anak-anak autis semacam Dani. “Nyatanya Dani memiliki keunggulan dan kecerdasan luar biasa, terutama di bidang komputer dan matematika. Ini membuktikan bahwa setiap anak itu unggul,” ujarnya sambil melirik Dani yang kali ini asyik mencari cara menjinakan virus “Tati My Love” di sebuah laptop.
Dani adalah murid pindahan. Sebagai anak autis, ia dianggap bermasalah karena tingkah lakunya yang susah diatur dan dipahami. Kedua orangtuanya nyaris putus asa mencarikan sekolah untuk Dani karena hampir semuanya menolak. Hanya satu sekolah yang mau menerima keberadaan Dani, yakni di Sekolah Peradaban ini.
“Butuh perhatian ekstra untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada Dani. Tapi, dengan pola pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di sini, secara perlahan Dani sudah mulai berlaku seperti rekan-rekannya yang lain,” urai Bambang.
***
“Dani, sekarang ceritakan kamu itu siapa,” pinta Rahmiyana, direktur Sekolah Peradaban kepada Dani yang tengah asyik mengutak-atik laptop.
Tak ada respon. Ia malah asyik membuka sebuah program di komputer, sementara mulutnya tak henti bicara. Entah apa yang dibicarakan karena terlalu cepat.
“Ayo Dani, ceritakan sedikit saja, kamu itu siapa,” pinta Rahmiyana lagi. Alih-alih mendengarkan, Dani malah menarik lengan kiri bu guru sambil memperlihatkan sesuatu di layar monitor. “Tuh lihat tuh, Tati My Love,” kata Dani.
Beberapa hari ini Dani tengah dipusingkan dengan virus tersebut. Beberapa kali ia mencari cara ‘menaklukan’ virus itu. Mulai dari membuka internet hingga membedah program komputer. Tapi hasilnya selalu nihil. “Kalau sudah di depan komputer, ya seperti itu,” kata Bambang sambil tersenyum.
“Ayo dong Dani sedikit saja kamu cerita,” pinta Rahmiyana sekali lagi.
Kali ini Dani mendengar. “Namaku Dani Fakih Noval kelas empat SD.” Kata-katanya begitu cepat. “Saya anak hebat.”
“Hebatnya di mana?” Tanya Rahmiyana.
“Main komputer dan matematika,” jawab Dani singkat sambil jemarinya terus memainkan keyboard.
“Kenapa main komputer dan matematika?” Rahmiyana terus bertanya.
“Karena saya senang main komputer dan matematika,” jawab Dani lagi.
“Kalau sudah besar cita-citanya apa?” kali ini Rahmiyana memberikan pertanyaan lain.
“Mau bikin koran,” jawab Dani. Setelah itu, dialog terhenti karena Dani kembali asyik mengutak-atik laptop. Pertanyaan lanjutan yang disampaikan Rahmiyana sama sekali tak diresponnya.
Kendati butuh perhatian khusus, tetapi Rahmiyana, Bambang, maupun guru-guru lainnya tak menyimpan sedikit pun rasa kesal. Sebaliknya, mereka malah menyanjung kehebatan Dani.
“Kalau Microsoft tahu kehebatan Dani, Bill Gates mungkin mau mengadopsinya,” kata Bambang setengah bergurau.
Tapi, gurauan Bambang ada benarnya, karena Dani dalam usianya yang baru 9 tahun memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang pemrograman. “Saya saja kalah,” kata Fajar, guru komputer.
Dani, tentu bukan satu-satunya murid yang menjadi fokus perhatian para pengelola di sekolah ini. Seluruh murid diperlakukan sama. Yang berbeda adalah pemberian arahan dan bimbingan yang disesuaikan potensi masing-masing murid. “Dengan kebebasan berkreativitasnya, kita sesungguhnya memberikan pembelajaran yang acceleration. Dari situ, potensi dan kemampuannya akan segera terlihat. Kita, hanya sebatas mengarahkan saja,” ungkap Rahmiyana.
***
Rahmiyana selaku direktur sekolah menyebutkan beberapa hal yang menjadi ciri khas sekaligus sisi keunggulan Sekolah Peradaban. Selain menisbikan anak bodoh, sekolah ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan penekanan pada sisi praktik daripada teori (kontekstual). “Di sini tidak ada istilah atau sebutan guru, yang ada adalah fasilitator karena hakekatnya kami ini adalah fasilitator,” kata Rahmiyana.
Dengan begitu, dimungkinkan tak ada gap antara guru dan murid. Yang ada justru semangat kekeluargaan yang kental. Di samping itu ada pula kegiatan yang penekanannya pada pengembangan diri si anak semisal out bond. Sebab, dengan kegiatan seperti out bond, si anak mampu mendobrak sisi ‘aku tak bisa’ mereka menjadi bisa.
Agar lebih optimal dan maksimal dalam memberikan arahan dan bimbingan, sekolah ini menerapkan rasio 1 : 10. Artinya, 1 guru memiliki tanggung jawab untuk 10 murid. “Tidak seperti di sekolah-sekolah pada umumnya yang perbandingannya mencapai 1 : 40, bahkan 50 puluh,” tutur M Faiz A Rahman, kepala SD Peradaban yang ikut terlibat dalam perbincangan.
Sekolah Peradaban Serang hingga kini baru membuka dua jenjang pendidikan, jenjang Taman Kanak-kanak (TK), dan Sekolah Dasar (SD). Karena baru memasuki tahun keempat, maka kelas tertinggi di sekolah tersebut baru kelas empat SD. Sekolah ini berdiri di lahan seluas 7.800 meter per segi dengan suasana yang amat jauh dari kesan formal.
Bangunannya tidak seperti bangunan sekolah pada umumnya. Hanya terbuat dari kayu dengan bentuk panggung beratap rumbia. Hanya ada satu bangunan permanen, bantuan dari Dinas Pendidikan. Komplek pendidikan ini dilengkapi dengan lapangan sepakbola dan lapangan basket mini. Ada juga sarana outbond dan sebidang tanah khusus untuk anak-anak belajar bercocok tanam dilengkapi sebuah kolam ikan.
Suasana belajar di dalam kelas juga jauh dari kesan formal. Seperti siang itu, sambil lesehan para siswa dengan segala tingkah polahnya asyik mendengarkan pelajaran yang disampaikan guru. Ada yang menyandarkan tubuh, ada pula yang merebahkan tubuh di lantai, dan sebagainya. Mereka belajar dengan suasana gembira.***

 



Debat Kusir
Maret 3, 2008, 3:25 am
Filed under: Kolom

BEBERAPA waktu yang lalu, Wakil Bupati Serang Andy Sujadi melontarkan pernyataan bahwa Pemkot Serang ibarat rumah kecil tapi banyak personil. Padahal program dan keuangannya belum memadai. Andy juga menyatakan bahwa ia sering melihat pegawai pemkot hanya merokok dan nongkrong di warung. “Itu namanya pengangguran terselubung dan makan gaji buta. Kalau di perusahaan swasta udah dipecat itu,” kata dia seperti dimuat di harian ini, Rabu (20/2).
Karuan, pernyataan Andy memancing reaksi dari pejabat teras di lingkungan Pemkot Serang. Tak kurang dari Sekdakot Sulhi Choir angkat bicara untuk mengcounter pernyataan Andy. Kata Sulchi, Andy boleh saja melakukan kritikan tapi tidak dengan persepsi negatif. “Persepsinya jangan negatif. Kalau sudah negatif, seterusnya akan dinilai negatif,” jawab Sulchi.
Sulhi juga membantah penilaian Wabup yang menuding kinerja pegawai pemkot tidak optimal dan terkesan berleha-leha. “Tidak seperti itu. Justru semua pegawai bekerja keras untuk menjalankan amanah dari pembentukan Kota Serang. Memang melihat ngerokok dan nongkrongnya di mana,” ungkap Sulhi balik mempertanyakan.
Publik awam mungkin akan bertanya, apa yang sesungguhnya sedang terjadi dengan dua pejabat itu? Apa pula yang terjadi dengan Pemkab dan Pemkot Serang?
Sulit dijawab, kecuali oleh kedua pejabat dan kedua pemerintahan tersebut. Yang jelas, dengan munculnya ‘perang terbuka’, publik menjadi tahu betapa tidak harmonisnya hubungan ‘kakak beradik’ tersebut. Keduanya saling tuding dan menyalahkan. Sungguh sebuah preseden buruk lagi memalukan bagi kedua pemerintahan itu. Untungnya, ‘perang’ tidak terus berlanjut karena berhasil ‘didamaikan’ oleh Wakil Gubernur Banten Masduki dalam sebuah rapat bersama antara Pemkab dan Pemkot Serang di Gubernuran, Rabu (27/02).
***
Di zaman sekarang yang kata orang zaman serba keterbukaan, saling tuding, saling hujat, saling menjatuhkan, merupakan hal biasa. Karena sudah saking biasa pula, seseorang terkadang tak lagi bisa menempatkan diri sebagai apa dan dalam kapasitas apa ia melontarkan pernyataan. Ironisnya lagi, perdebatan yang muncul cenderung debat kusir, tidak substanisal, bahkan tanpa solusi.
Kenyataan ini pula yang nyaris setiap hari kita lihat di televisi, kita dengarkan di radio, dan kita baca di suratkabar. Bukan hanya di tingkat lokal, tetapi juga di tingkat nasional. Para elit sampai berbusa-busa berbicara mempersoalkan ini dan itu, dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat. Elit yang tidak suka atau tersinggung dengan pernyataannya, balik membalas, tentu dengan berbusa-busa dan mengatasnamakan kepentingan rakyat pula.
Padahal, tidak jelas, rakyat yang mana yang mereka bela? Lalu, mana bukti bahwa rakyat telah berhasil diperjuangkan?
Toh, hingga kini mayoritas rakyat masih hidup dalam kubangan kemiskinan, masih banyak yang buta aksara, masih banyak yang putus sekolah, masih banyak yang kekurangan gizi, dan masih banyak lagi, masih banyak lagi yang lainnya.
Rakyat tidak berdaya manakala harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Bahkan untuk membeli sepotong tempe, karena harganya tak lagi terjangkau. Rakyat juga semakin tidak berdaya di kala sakit, karena rumah sakit menolak mengobati dengan alasan dana askeskinnya habis atau tersendat.
Saking kesalnya dengan fenomena seperti itu, seorang kawan setengah bercanda berujar bahwa pemerintah dan para elit sesungguhnya tidak benar-benar memperjuangkan nasib rakyat. Munculnya kebijakan beras raskin yang saat ini tengah ramai dipersoalkan karena kualitas yang rendah dan banyak disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu, sebetulnya bukanlah kebijakan yang pro rakyat. Bagi dia, itu kebijakan seolah-olah pro rakyat saja, padahal sebetulnya tidak. “Beras raskin itu bukan pemberian pemerintah. Tapi pemberian rakyat kepada pemerintah, lalu diberikan lagi oleh pemerintah kepada rakyat,” kata dia enteng.
***
Fenomena debat kusir antar-elit sesungguhnya bukanlah hal yang aneh di negeri ini. Tapi, yang justru aneh jika fenomena itu dianggap sebagai indikator bahwa demokratisasi sedang terjadi di negeri ini. Jadinya, atas nama demokrasi pula, siapa pun boleh mengatakan apa pun, bebas tanpa batas.
Padahal, anggapan seperti itulah yang salah kaprah. Demokrasi bukanlah debat kusir. Demokrasi adalah mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Kalaupun debat kusir dikatakan demokrasi, itu baru sebatas talking democracy, bukan working democracy. Atau, malah lebih pantas disebut democrazy.
Maka, agar tak mau disebut talking democracy bahkan democrazy, hentikan debat kusir sekarang juga. Bekerjalah dengan tulus, dan tentu sesuai kapasitas….!***

 

 



Wajah Kota Kita
Februari 22, 2008, 3:45 am
Filed under: Kolom

SELAMA delapan tahun belakangan ini kita menyaksikan perkembangan yang cukup luar biasa dari geliat ibukota Provinsi Banten, Serang. Selain arus lalu lintas yang kian hari kian padat, di kiri kanan jalan, kini nyaris tak ada lahan yang tersisa. Berbagai bangunan baru bermunculan dan memagari jalan-jalan protokol, khususnya bangunan ruko alias rumah dan toko.
Perkembangan Kota Serang yang semakin dinamis itu tak hanya bisa kita lihat di sepanjang jalan Jenderal Sudirman, Ahmad Yani hingga Veteran, tetapi juga kawasan lain seperti Lingkar Selatan yang dulu begitu sepi, gelap, dan angker, sehingga jarang orang melintas, apalagi menjadikannya sebagai lahan usaha. Tapi, kini ruas jalan tersebut sudah semakin ramai dan menjadi kawasan yang cukup strategis untuk usaha apapun.
Para pemilik kapital berdatangan menginvestasikan uangnya dalam beragam jenis usaha. Misalnya, membuat ruko, membangun perumahan, membukai gerai ini dan itu, hingga jenis usaha lain yang dulu boro-boro bisa laku di Serang, semisal jasa laundry dan sebagainya. Kafe dan rumah makan pun bertebaran hampir di sepanjang jalan di kawasan Kota Serang. Begitu pula dengan bank, hotel, maupun pusat perbelanjaan.
Sungguh luar biasa!
***
Geliat yang sedang terjadi di Serang tentu tak lepas dari statusnya sebagai ibukota provinsi. Tanpa status ibukota, barangkali perubahannya tak secepat ini. Karenanya, wajar jika Serang menjadi magnet tersendiri bagi para pendatang, pencari kerja, maupun pemilik kapital. Sebab, Serang kini lebih menjanjikan dibanding delapan tahun silam.
Hanya sayang, perubahan yang terjadi seperti tidak terantisipasi dan terprediksi dengan baik. Sehingga wajah kota yang sedang berubah itu tidak malah menjadi cantik, indah, tertib, dan humanis. Tetapi sebaliknya, menyimpan wajah kota yang semrawut, kusut, dan tentu saja amat tidak ramah.
Dan perubahan yang terjadi pun senyatanya lebih menguntungkan para pemilik kapital, sementara masyarakat semakin termarjinalisasi. Sebagai bukti adalah kemunculan ruko dan bangunan baru di sepanjang jalur di kawasan kota yang seperti jamur di musim hujan, tidak disertai sama sekali dengan penambahan ruang publik.
Alun-alun sebagai sedikit dari ruang publik yang kita punya, belakangan lebih banyak menjadi ruang komersil para pemilik modal dibanding menjadi ruang publik sesungguhnya. Lihatlah, nyaris setiap Sabtu malam tempat itu menjadi sarana promosi berbagai produk yang dibungkus dengan pagelaran ini itu dengan mengatasnamakan, semisal, pesta rakyat, hiburan rakyat, dan sebagainya.
Esok paginya sami mawon. Rasa nyaman untuk lari pagi atau sebatas rileks bersama keluarga hilang seiring dengan berjubelnya para pemilik modal tadi, mulai dari perusahaan besar yang menggelar berbagai acara dalam rangka mempromosikan produknya, hingga para pedagang kaki lima yang menjual mainan anak, hingga makanan. Alun-alun pun berubah layaknya sebuah pasar tumpah dengan sampah yang berserakan di mana-mana. Pun trotoar, yang semestinya hanya menjadi ruang untuk para pejalan kaki, di beberapa lokasi tersapu oleh lapak-lapak milik para pedagang kaki lima.
Ketidakramahan juga terasa di jalanan. Ruas jalan yang sempit tak hanya semakin padat oleh jumlah kendaraan yang semakin banyak, tapi diperparah oleh kondisinya yang berlubang, serta keberadaan para pengamen, anak-anak jalanan, maupun peminta-minta, khususnya di lampu-lampu merah. Belum lagi keberadaan orang gila yang begitu mudah kita jumpai di jalanan, dan terkesan dibiarkan berkeliaran.
***
Wajah yang mulai cenderung kapitalis dan tidak humanis ini sesungguhnya merupakan problem besar bagi kota Serang hari ini dan untuk masa yang akan datang. Jika tidak disikapi secara serius, terutama oleh para pemegang regulasi, bisa menimbulkan beragam problem baru yang semakin kompleks dan sulit dipecahkan. Tanpa keseriusan dan kesungguhan pemerintah dalam menata kota, maka perubahannya akan semakin tidak terkendali.
Kondisi ini merupakan PR sekaligus tantangan yang harus dijawab dan dihadapi oleh mereka yang berkehendak menjadi walikota. Jadi, jangan pernah (berani) mencalonkan sebelum memiliki konsep dan jawaban yang jitu untuk mengatasi dan menata kembali wajah kota kita yang mulai tak ramah ini!
Bukan begitu?***

 



Bebas, Bukan Bablas
Februari 15, 2008, 4:59 am
Filed under: Kolom

DALAM sejumlah forum diskusi maupun pelatihan jurnalistik di mana penulis menjadi salah satu pematerinya, kerap kali peserta mengeluhkan tentang kebebasan pers yang dinilai cenderung kebablasan. Keluhan itu terlontar oleh karena peserta biasanya pernah mengalami pengalaman buruk dengan pers.
Keluhannya pun bermacam-macam. Mulai dari ulah oknum wartawan yang kurang mengindahkan sopan santun, oknum wartawan yang sehabis konfirmasi minta uang transport, hingga masalah pemberitaan yang kurang sesuai fakta, atau terlalu tendensius, sehingga merugikan narasumber ataupun pihak tertentu.
Ujung-ujungya, biasanya mereka tidak lagi sekadar mempertanyakan, tetapi lebih cenderung menggugat kebebasan pers. “Buat apa ada kebebasan pers kalau kebebasan itu malah merugikan? Kebebasan pers bahkan cenderung menciderai hak asasi orang lain!” gugat seorang guru sebuah sekolah saat mendamping murid-muridnya ketika melakukan kunjungan jurnalistik ke Radar Banten, Sabtu (9/2) pekan lalu.
Lantas, apakah karena itu kebebasan pers harus kita bungkam?
Membungkam kebebasan tentu bukan langkah yang dewasa. Bukan pula menjadi semacam panasea. Sebab, jika kebebasan dibungkam, yang terjadi adalah situasi yang membuat kita mundur ke belakang, seperti masa ketika Orde Baru berkuasa. Di mana bukan saja jumlah media yang dibatasi, pemberitaan yang dibuat pun harus selalu ‘sesuai keinginan’ penguasa. Jika tidak, siap-siap saja media diberedel, dan wartawannya masuk bui.
Maka, tak ada alasan bagi siapa pun untuk membungkam kebebasan pers. Sebaliknya, kebebasan adalah anugerah yang patut disyukuri, bukan saja oleh kalangan pers, tetapi juga oleh masyarakat secara luas.
Adapun tentang dampak negatif dari kebebasan pers seperti dikeluhkan oleh banyak pihak, agaknya penting kita menyimak imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada puncak Hari Pers Nasional 2008 di Semarang, 9 Februari lalu. Menurut SBY, pers harus melakukan refleksi kritis dan otokritis. Caranya dengan melakukan evaluasi apakah dengan kebebasan pers yang dimiliki saat ini semua yang diperankan pers sudah tepat dan betul-betul membawa manfaat bagi bangsa.
Di samping itu, pers juga perlu melakukan sensor. “Dari kasus kartun nabi Muhammad di Denmark, pelajaran yang kita peroleh (adalah) kebebasan pers tidak absolut. Selalu ada pagar-pagar,” demikian imbauan Presiden SBY sebagaimana dikutip dari sebuah harian.
Apa yang dilontarkan Presiden SBY setidaknya mengandung dua pesan. Pertama, sebagai cermin terutama bagi kalangan pers agar tidak menjadikan kebebasan sebagai legitimasi untuk melakukan segala kegiatan jurnalitik secara bablas. Kedua, Pernyataan Presiden SBY adalah komitmen sekaligus garansi bahwa kebebasan pers di negeri ini tak hendak dibungkam.
Terpenting lagi. Selain refleksi kritis, otokritik, dan sensor yang harus dilakukan pers, andil masyarakat agar pers tidak bablas adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan. Antara lain dengan melakukan pengawasan secara aktif, serta meluruskan kealpaan yang dibuat pers, sesuai dengan aturan main (baca; aturan hukum) yang berlaku.
***
Beberapa waktu lalu kita dikejutkan oleh protes dan keberatan umat Katolik atas majalah Tempo (edisi 4-10 Februari 2008) dengan gambar sampul Soeharto didampingi anak-anaknya, ‘meniru’ sebuah gambar yang disakralkan oleh umat Katolik.
Komposisi gambar yang ditampilkan Tempo rupanya serupa dengan tata letak The Last Supper karya Leonardo da Vinci, yang menggambarkan Yesus Kristus dan murid-muridnya. Atas dasar itulah, umat Katolik pun protes dan merasa keberatan terhadap Tempo yang menampilkan gambar sampul demikian. Tempo meminta maaf atas kealpaannya, dan umat Katolik pun memaafkan.
Seandainya tidak ada protes dan keberatan (baca; pengawasan), barangkala Tempo akan terus alpa dalam kebablasan. Tapi, untung ada yang yang mengingatkan – berupa protes dan penyampaian keberatan oleh umat Katolik — sehingga Tempo pun segera menyadari kebablasannya.
Dari kasus ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kebablasan sesungguhnya dapat kita hentikan tanpa harus membungkam kebebasan. Jadi, kenapa harus dibungkam?***

 



Buang Hajat
Februari 8, 2008, 6:39 am
Filed under: Kolom

SELASA (7/2) pekan lalu, penulis diminta rekan-rekan dari UNICEF untuk terlibat dalam penilaian lomba kebersihan antar-RT di Desa Curug, Kecamatan Curug, Kota Serang, terkait dengan kampanye tentang bahaya penyakit flu burung dan cara pencegahannya. Selain penulis, ada juga dokter puskesmas kecamatan setempat, dan dua orang lainnya yang terlibat dalam penilaian. Selama setengah harian kami berkeliling melihat lebih dekat kondisi lingkungan di wilayah kelurahan tersebut.
Sambil berkeliling, sejumlah warga kami datangi. Kami berdialog dengan mereka terutama tentang seputar flu burung, di antaranya dengan seorang ibu setengah baya.
“Ibu punya ayam berapa?”
“Saya mah nggak punya ayam”
“Tapi, Ibu tahu nggak flu burung?”
“Saya mah nggak tahu apa itu flu burung. Emangnya, mau ada flu burung gitu?”
Jawaban terakhir si ibu yang lugu membuat kami manggut-manggut. Lucu sekaligus miris. Lebih miris lagi, selain tingkat pemahaman yang masih kurang, si ibu dan warga pada umumnya hidup dalam lingkungan yang kurang sehat. Ayam dan bebek dilepas di alam bebas, dan baru masuk kandang atau hinggap di pepohonan saat petang menjelang. Padahal, di situlah letak bahayanya, karena virus flu burung akan lebih mudah menyerang unggas maupun manusia.
Di samping itu, keberadaan kandang ayam, bebek, ataupun burung — yang berdempetan dengan rumah-rumah penduduk — ikut menambah rasa khawatir akan (kemungkinan) terjangkitnya penyakit flu burung pada unggas maupun manusia. Tak jarang, kandang-kandang itu diletakkan di samping jendela rumah dengan kondisinya yang penuh kotoran unggas. Lebih parah lagi, ada kandang yang lokasinya berdampingan dengan sumur, atau dengan tempat jemuran.
Di lapangan, kami juga menemukan fakta lain yang tak kalah mengagetkan, yakni masih banyak rumah warga yang belum dilengkapi fasilitas MCK alias tempat buang hajat. Kami datangi salah seorang pemilik rumah dan berdialog dengannya.
“Kenapa rumahnya belum dilengkapi MCK?”
“Bikin MCK kan butuh dana”
“Jadi, kalau buang hajat gimana?”
“Ya di belakang rumah. Di situ (belakang rumah, pen.) kan ada kali”
“Mengalir nggak kalinya?”
“Kalau musim hujan sih ngalir”
Ya, itulah fakta bahwa betapa tingkat pemahaman dan kesadaran mereka tentang flu burung dan kesehatan secara umum masih begitu rendah. Tapi, semua itu tentu saja tidak berdiri sendiri. Sebab, di balik rendahnya tingkat pemahaman dan kesadaran ini, mereka sejatinya sedang mengalami apa yang dinamakan dengan kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural.
***
Secara geografis administratif, Kecamatan Curug masuk wilayah Kota Serang. Di Kecamatan Curug pula kawasan pusat pemerintahan Provinsi Banten berada. Tapi, sungguh ironis. Di tengah gegap gempita pembangunan yang tengah berlangsung di sana, mayoritas masyarakatnya ternyata masih terpinggirkan. Dan mereka, secara mentalitas sesungguhnya belum siap untuk menjadi warga kota.
Ironisnya lagi, beberapa bulan ke depan, wilayah ini akan menjadi pusat perhelatan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Nasional. Curug tentu akan hiruk pikuk dengan berbagai kegiatan, dikunjungi ratusan kafilah, tamu undangan, bahkan mungkin tetamu lain dari sejumlah negara.
Persiapan untuk perhelatan acara yang sungguh prestisius dan menelan dana puluhan miliar tersebut kini sedang dikebut. Namun, persiapan hanya sebatas persiapan fisik. Persiapan mental masyarakatnya malah nyaris tak tersentuh.
Sekarang, bayangkan ketika perhelatan itu berlangsung, ada kafilah, pengunjung, atau tamu undangan yang ingin berkeliling melihat-lihat kondisi sekitar. Mereka keluar masuk kampung. Melihat ayam dan bebek berkeliaran, dan seterusnya. Lalu kesan apa yang kira-kira yang akan mereka peroleh?
Soal kesan kekumuhan atau kondisi-kondisi kampung dengan ayam atau bebek yang bekeliaran di mana-mana, untuk sementara mungkin tidak membuat kita terlalu hirau, karena barangkali itu akan menjadi pemandangan alami yang justru bisa membuat mereka berkesan.
Tetapi, yang susah sekali penulis bayangkan adalah manakala ada di antara mereka yang tiba-tiba kebelet ingin buang hajat.
Nah loh, buang hajat di mana? Di kebunkah, atau, di kali……?*



Sang Jenderal
Februari 1, 2008, 2:27 am
Filed under: Kolom

Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
Sang Jenderal mati meninggalkan kontroversi

21 MEI 1998. Di layar kaca tampak sosok orang tua yang sudah begitu ringkih dimakan usia. Dalam suasana khidmat tetapi diliputi ketegangan, orang tua itu berpidato cukup singkat. Ia menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai presiden, sembari menyerahkan tongkat estafeta kepemimpinan kepada sang wakil, BJ Habibie.
Soeharto mengakhiri masa kekuasaannya selama 32 tahun dengan ending yang begitu pahit. Ia lengser dalam suasana penuh tekanan serta hujatan banyak pihak. Ia menjadi sosok paling tersalahkan atas kondisi Indonesia yang tidak menentu kala itu.
Hujatan dan makian yang dialamatkan kepadanya datang bertubi-tubi dari segala penjuru. Dalam aksi-aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa maupun elemen masyarakat lain, baik sebelum maupun sesudah lengsernya, terlihat bagaimana amarah massa terhadap Soeharto dimuntahkan dalam bentuk hujatan melalui spanduk maupun nyanyian massa seperti; “Gantung, gantung, gantung Suharto, gantung Suharto sekarang juga….!”. Atau, pernyataan-pernyataan gagah berani para tokoh dan aktivis reformasi agar Soeharto diadili karena dosa-dosa besarnya selama memimpin republik ini.
Rasa takut terhadap kemungkinan ditangkap aparat karena dianggap sebagai penghinaan alias subversif sama sekali sirna. Padahal, jauh sebelumnya, jangan harap melakukan hujatan. Salah ucap saja bisa diciduk. Tapi, kali ini tidak. Massa malah semakin beringas manakala menyanyikan lagu-lagu hujatan seperti itu. Kekuasaan Sang Jenderal selama 32 tahun seperti lenyap tak berbekas.
Hari-hari berikutnya selepas lengser keprabon, Soeharto terus dihujat sana-sini. Tuntutan pengadilan atas pelanggaran dan berbagai dosa besar yang dilakukannya selama memimpin negeri ini tak pernah reda digaungkan banyak pihak. Hatta, kejaksaan tak kuasa menolaknya. Proses penyidikan dilakukan. Harapan untuk mengadili Soeharto seperti semakin mendekati kenyataan.
Tapi, di sinilah kita kemudian tahu dan sadar bahwa sesungguhnya orang tua itu tidak hilang daya kuasanya. Ia lengser, juga sakit. Dalam sakit dan ketiadaan daya pun hukum ternyata sulit menyentuhnya. Karisma dan wibawanya yang telah begitu mengakar selama puluhan tahun membuat perangkat dan penegak hukum kita ewuh pakewuh terhadapnya. Alih-alih diadili, proses penyidikan justru dihentikan dengan alasan Sang Jenderal dalam kondisi sakit permanen. Ia kian tak tersentuh, bahkan sampai meninggalnya pada 27 Januari lalu.
Yang ada sebaliknya. Di tengah-tengah kondisi kesehatannya yang semakin menurun dan kemudian meninggal, sang jenderal masih memperlihatkan karisma luar biasa. Sakit yang dideritanya justru mengundang empati banyak pihak. Keluarga, kerabat, dan kroninya datang menjenguk. Termasuk musuh-musuh politiknya yang dulu paling lantang menghujat dan menuntut agar Soeharto diadili, berbalik arah dengan melakukan imbauan kepada seluruh rakyat untuk memaafkan Sang Jenderal.
Ketika benar-benar pergi pun, ia masih begitu gagah. Ia dikawal, ditangisi, bahkan diantar begitu banyak orang, dari kaum jelata hingga penguasa. Lagu Gugur Bunga bahkan mengiringi kepergiannya.
***
Jenderal Besar telah pergi. Dalam perginya ia tak hanya mewariskan sejumlah kontroversi bagi bangsa ini, tapi juga meninggalkan simpati, empati, bahkan caci dan maki.
Lalu, sebutan apa yang pantas diberikan untuknya; pahlawankah – seperti diusulkan sejumlah pihak — atau sebaliknya, sebagai penjahat – sebagaimana hujatan yang kerap dialamatkan kepadanya? Sulit untuk dijawab, sesulit kita bersikap kepadanya.**



Si Doel
Januari 24, 2008, 4:45 am
Filed under: Kolom

Sinetron Si Doel Anak Sekolahan, kembali nongol di salah satu stasiun televisi swasta kita. Sinetron yang pada masanya sangat digemari para pemirsa televisi hingga mencapai rating cukup tinggi, ini berkisah tentang keluarga si Doel yang diperankan oleh aktor kawakan Rano Karno dengan segala pernak-perniknya, dalam setting budaya Betawi.

Dalam sinetron itu, antara lain diceritakan tentang si Doel sebagai sedikit dari orang Betawi yang sadar akan pentingnya pendidikan. Ia lebih memilih kuliah ketimbang menjadi makelar tanah, atau sopir oplet seperti pamannya (yang diperankan oleh Mandra), demi menggapai cita-cita: Menjadi tukang insinyur!

Si Doel yang berpendidikan itu dikenal pula sebagai sosok yang jujur, idealis, dan pekerja keras. Ia pun dikenal sebagai si Doel yang relijius, tukang sembahyang dan mengaji seperti dalam tembangnya: Nih Si Doel anak Betawi asli, kerjaannya sembahyang mengaji…., dan seterusnya.

Tulisan ini, tentu saja tidak bermaksud mengulas lebih jauh tentang sinetron tersebut. Hanya, secara kebetulan, di saat sebuah stasiun televisi menayangkan kembali sinetron ini, di saat yang sama Rano Karno yang kemudian menjadi lebih akrab dipanggil Si Doel, tengah terjun ke dunia politik praktis, yakni mencalonkan diri sebagai wakil bupati Tangerang berpasangan dengan calon bupati Ismet Iskandar.

Hasilnya, seperti kita ketahui, meski belum ada penetapan resmi, si Doel bersama sang incumbent sukses meraup suara terbanyak. Jika tidak ada aral melintang, pasangan ini bakal resmi menjadi pasangan bupati dan wakil bupati Tangerang untuk lima tahun ke depan.

Tentu tak ada kaitan antara sinteron Si Doel yang dibintanginya itu dengan profesi baru yang akan dijalaninya nanti, sebagai wakil bupati. Tapi, terlepas seperti apa kemampuannya sebagai birokrat kelak, masyarakat Tangerang yang notabene sebagai pemirsa sinetron Si Doel juga, boleh jadi hanya akan membayangkan sosok Rano Karno yang jujur, idealis, tipe pekerja keras, sebagaimana tervisualisasi dalam sinetronnya itu.

Artinya, melalui sinetron Si Doel, frame (baca; cara pandang) masyarakat terhadap sosok Rano Karno sudah lebih dahulu terbentuk. Bahkan frame tersebut telah cukup mengakar di benak masyarakat, semengakarnya sebutan Si Doel bagi Rano Karno.

Nah, dalam konteks ini Rano Karno dihadapkan dengan sebuah tantangan berkaitan dengan persepsi masyarakat yang sudah kadung terbentuk pada dirinya melalui penggambaran sosok Si Doel itu. Ia dituntut menjadi Si Doel selaku wakil bupati yang jujur, idealis, dan pekerja keras. Bersama sang incumbent ia pun harus mampu mewujudkan janji-janji yang pernah dilontarkannya ketika kampanye dulu.

Terpenting lagi, ia harus sadar bahwa saat ini dan untuk lima tahun ke depan, ia tidak sedang bersinetron. Tapi ia sedang berperan sebagai wakil bupati sungguhan yang segala janji manisnya saat kampanye dulu akan ditagih secara sungguh-sungguh pula oleh masyarakat, termasuk oleh para pemirsa Si Doel Anak Sekolahan.

***

Nah, manakala persepsi masyarakat tentang sosok si Doel mampu ia wujudkan dalam kerja sesungguhnya sebagai wakil bupati, boleh jadi success story-nya itu kelak bakal disinetronkan sekaligus menjadi kelanjutan dari kisah Si Doel Anak Sekolahan, dengan kisah utama: kandasnya cita-cita menjadi tukang insinyur gara-gara menjadi wakil bupati. Ceritanya pun tak lagi berputar-putar pada persoalan Si Doel yang dihadapkan dua pilihan sulit dan dilematis — memilih si Jaenab atau si Sarah — tapi bergesar pada cerita ketika datang pinangan dari seorang incumbent.

Nyatanya, si Doel pun tak kuasa atas pinangan itu!

Bukan begitu Dul, eh maaf, Pak Wakil….? ***