Bantencorner’s Weblog


Sian Fu dan Serang tempo Doeloe: Menjelajah ke Masa Lalu
Maret 8, 2008, 9:08 am
Filed under: Kisah

Pada sebuah kursi plastik yang warnanya mulai memudar, siang itu, Sian Fu duduk dengan kaki kanan mengapit kaki kiri. Ia asyik membaca sebuah koran lokal. Entah, berita apa yang dibaca. Tapi, itulah aktivitas rutin yang dilakukannya hampir saban hari di sebuah ruko di kawasan Royal, Serang, dari pukul 10 pagi hingga 12 siang. Sian Fu baru menghentikan aktivitas rutinnya manakala sang cucu pulang sekolah. Dan hari itu, ia ditemani sang anak, Muhammad Iwan, yang lebih dikenal sebagai Iwan Nit Net.
***
PERHATIANNYA seketika berubah manakala penulis datang dan menyapanya. “Mari silakan duduk,” ujarnya dengan ramah.
Dari situ obrolan tercipta. Temanya tak jauh dari persoalan masa lalunya, saat ia masih muda. Ia berkisah tentang media massa, tentang Kota Serang tempo doeloe, tentang harmonisasi kehidupan masa lalu yang tak berjurang antara masyarakat pribumi dan warga keturunan.
Yang luar biasa, kendati usianya sudah uzur (75 tahun), Sian Fu masih mampu bercerita panjang lebar, dengan suara dan pendengaran cukup jelas. Ingatannya terhadap berbagai peristiwa masa lalu juga masih cukup tajam. Hanya sesekali obrolan terhenti, itu pun karena Sian Fu harus rehat untuk minum.
***
Tak banyak yang tahu siapa Sian Fu sebetulnya. Kalaupun ada yang mengenal, ia dikenal barangkali tak lebih dari seorang warga keturunan biasa, sebagaimana masyarakat secara umum mengenal warga keturunan lain yang tinggal dan berniaga di kawasan Royal. Tapi, sosok yang telah berusia uzur ini lain. Ia adalah sedikit saksi mata yang masih hidup sekaligus pernah mengikuti secara aktif denyut nadi dari perjalanan Kota Serang, setidaknya dalam setengah abad ke belakang.

Dari Bung Karno sampai Pabrik Baja Trikora
Lima puluh tahun silam, saat usianya baru dua puluhan, Sian Fu adalah seorang wartawan sekaligus tukang foto alias fotografer pada sebuah majalah bernama Utusan Banten – dan kemudian berubah menjadi tabloid Gelora Massa — yang ia dirikan bersama tiga rekannya yang lain. (tentang Utusan Banten dan Gelora Massa, lihat Jejak Penerbitan Pers di Banten Setengah Abad Silam, Radar Banten edisi Minggu 3 Februari 2008).
Kenangannya pada masa 50 tahun lampau masih terekam dalam ingatan. Misalnya, ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Serang pada sekitar 1957. Karena tahu Soekarno bakal datang, Gelora Massa membuat artikel yang berisi bahwa masyarakat Banten merasa dianaktirikan oleh pemerintah pusat.
“Koran (tabloid, Red.) yang berisi artikel itu sengaja kami taroh di meja tempat di mana Bung Karno akan berorasi. Maka, dengan sendirinya Bung Karno pun membaca artikel tersebut,” kata Sian Fu yang memiliki nama pena Chemmy.
Dalam orasinya, Bung Karno menyatakan bahwa tidak benar Banten dan masyarakatnya dianaktirikan. “Sebaliknya, kata Bung Karno, pemerintah ingin mengembangkan Banten,” ujar Sian Fu seraya bercerita bahwa benih-benih keinginan masyarakat Banten untuk mendirikan provinsi sendiri sudah muncul saat itu, meski tidak diungkapkan secara gamblang.
Masih terkait dengan kehadiran Bung Karno di Serang, Sian Fu juga memiliki kisah menarik. Selepas berorasi di alun-alun, Bung Karno dijamu di Karesidenan. Beragam menu masakan disajikan. Namun, setiap kali Bung Karno menikmati hidangan yang disajikan kepadanya, setiap itu pula ibu-ibu berebut mengambil piring bekas Bung Karno. “Sisa makanan Bung Karno diperebutkan untuk dimakan ibu-ibu,” kata Sian Fu sambil tersenyum.
Cerita lain yang masih diingatnya adalah ketika berlangsung pro kontra tentang rencana pembangunan pabrik baja di Cilegon. Pada sebagian masyarakat kala itu ada kekhawatiran bahwa dengan didirikannya pabrik baja, daerah Banten akan dikomuniskan.
Kekhawatiran itu cukup dimaklumi. Selain situasi politik yang tidak menentu karena munculnya komunisme, pabrik baja yang dinamai Pabrik Baja Trikora (kini PT Krakatau Steel, Red.) itu dananya berasal dari Uni Sovyet yang berhaluan komunis. “Kondisi ini terus berlangsung hingga waktu peresmian. Tiba-tiba beredar isu ancaman bom. Bung Karno pun tak jadi datang untuk meresmikan. Sebagai gantinya, yang meresmikan adalah Menteri Keuangan Subandrio,” kata Sian Fu yang ikut hadir dalam peristiwa itu untuk meliput.
Selepas peresmian, dilakukan semacam pesta syukuran di pantai Pulorida. Ketika pesta berlangsung, tiba-tiba hujan turun. Panitia kelimpungan. Segenap cara dilakukan untuk menghentikan hujan, termasuk meminta tolong kepada sekelompok orang Baduy yang kebetulan hadir dalam acara itu. “Saya menyaksikan sendiri, orang Baduy itu kemudian membaca sesuatu. Tak lama setelah itu, hujan berpindah arah,” kata Sian Fu sambil geleng-geleng kepala.

Serang Tempo Doeloe
Sudah lebih dari satu jam obrolan berlangsung, tapi tak ada tanda-tanda Sian Fu hendak menghentikannya. Hanya beberapa detik saja rehat, itu pun hanya untuk minum. Setelah itu Sian Fu kembali bercerita. Kali ini tentang Kota Serang tempo doeloe.
Kota Serang setengah abad yang lalu masih sangat lengang. Jangankan mobil, motor pun masih amat jarang. Moda transportasi yang dominan waktu itu adalah delman dan sepeda. Becak, juga belum ada. Untuk perjalanan jauh, ditempuh dengan naik kereta api. “Termasuk ke Cilegon, naiknya ya kereta api. Dan jarang ada yang berani malam-malam pergi ke Cilegon. Suasananya masih belum aman dan sangat mencekam,” urainya.
Adapun mobil, Sian Fu menghitung bahwa di Serang hanya dimiliki tidak lebih oleh empat sampai lima orang saja. “Pernah ada bemo, tapi hanya satu-satunya. Pemiliknya dulu tinggal di depan kantor BNI. Setelah itu tidak ada lagi,” katanya.
Sedangkan sepeda motor, jumlahnya sedikit lebih banyak, tetapi umumnya dipakai oleh para pejabat pemerintahan dan polisi. “Di antaranya ada motor DKW, Ducati, dan motor Jawa,” urai Sian Fu.
Tentang sepeda motor, Sian Fu teringat akan perempuan pengendara motor. “Namanya saya sudah lupa, tapi dia siswi SMEP (sekolah menengah ekonomi pertama, sekarang berganti SMP), tiap hari dia mengendarai motor Jawa yang besar,” kata Sian Fu agak terkekeh.
Ingatan lain tentang Kota Serang tempo doeloe yang masih terekam olehnya adalah soal bangunan-bangunan fisik. Dulu, kata dia, kawasan Pocis dan Royal adalah kawasan pemukiman dengan bentuk bangunan yang masih amat sederhana. Drainase kota juga amat lancar karena airnya mengalir. “Sekarang tidak lagi,” katanya.
“Rumah sakit sudah ada sejak dulu. O ya, di tugu alun-alun itu (sekarang menjadi tugu pahlawan) dulu ada sumur tempat orang mandi,” ujar Sian Fu seraya menambahkan bahwa suasana pusat Kota Serang waktu itu masih lengang, karena belum banyak gedung dan bangunan berdiri.

Pembaruan dan Harmonisasi
Kenangan lain dari seorang Sian Fu adalah tentang semangat kebersamaan dan harmonisasi masyarakat Serang waktu itu. Sian Fu berkisah, kendati dilahirkan sebagai warga keturunan, ia merasa tidak ada perbedaan mencolok dengan masyarakat pribumi pada umumnya. “Kami membaur dan akrab dengan seluruh masyarakat, tak ada perbedaan perlakuan. Bahkan, saling berjabat tangan antara warga keturunan dengan masyarakat pribumi pada waktu itu adalah hal yang biasa,” kata Sian Fu.
Toleransi beragama pun terjalin harmonis. Sebagai contoh betapa harmonisnya kehidupan beragama kala itu, Sian Fu mengisahkan soal tradisi kirim makanan. Kata dia, di Gang Rendah, setiap perayaan maulidan, dari rumah-rumah Tionghoa dikirim makanan ke masjid. Begitu pun saat bulan puasa. “Kami seolah ikut puasa untuk menghormati umat muslim,” ujarnya.
Namun, sejak 1960-an suasananya agak berubah seiring berubahnya peta perpolitikan di tanah air. Hubungan yang dulunya begitu cair dan nyaris tanpa jarak, menjadi sedikit lebih kaku. Hal itu pula yang kini disesalkan Sian Fu, termasuk oleh M Iwan, sang anak. “Sayang memang, suasana yang harmonis itu tidak dilanjutkan oleh anak keturunannya. Padahal, dulu kakek saya berkawan akrab dengan Jaro Kamid,” timpal Iwan.
Tapi Sian Fu tetap beruntung. Nasionalismenya yang dimanifestasikan dalam berbagai kiprahnya, telah terwariskan kepada sang anak, M Iwan dan Victor Sutanto. Iwan tak hanya memiliki bakat fotografi seperti ayahnya, tetapi ia masuk lebih dalam lagi. Cintanya terhadap Indonesia bahkan Banten, tak ada yang meragukan.
Ia menggali berbagai data tentang Banten, ia bersahabat sangat dekat dengan masyarakat Baduy, dan kini ia aktif dalam dunia pertanian. Dan bahkan, Iwan menikahi perempuan pribumi. Seiring dengan itu namanya pun berubah dari Ko Haw-Haw menjadi Mohammad Iwan Subakti Koharjaya. Begitupun dengan Victor Sutanto yang juga mempersunting perempuan pribumi.
“Dalam perjalanan ini, saya bersyukur dan berterimakasih kepala keluarga besar Sayuti, yaitu Agus Sayuti almarhum dan Hajah Halimah almarhumah beserta putra-putrinya yang telah membimbing serta membentuk kepribadian saya dalam hal bermasyarakat dan adaptasi kebangsaan Indonesia yang berjalan dengan baik,” urainya.

Tempat OERIDAB Disimpan
Sian Fu lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah, 8 Maret 1933, dengan nama Ko Kian Hoe. Ia pindah ke Banten (Serang) pada 1948, tepatnya menjelang agresi militer kedua Belanda. Waktu itu Banjarnegara dan wilayah sekitarnya dibumihanguskan seiring masuknya tentara Belanda ke Yogyakarta. “Maka kami pun mengungsi ke daerah Pekalongan,” kata Sian Fu mengenan kembali masa lalunya.
Tak lama berada di pengungsian, Sian Fu dan keluarga dijemput sang ayah untuk selanjutnya tinggal dan menetap di Serang. “Kami naik kapal kecil dari Pekalongan ke Tanjung Priok, dan selanjutnya tiba di Serang,” urainya.
Sian Fu juga masih mengingat masa-masa awal tinggal si Serang. Menurutnya, selain sebagai tempat tinggal, rumahnya kala itu sekaligus menjadi tempat penyimpanan uang yang dicetak oleh Pemerintahan Karesidenan Banten yang kerap disebut OERIDAB (Oeang Repoeblik Indonesia Daerah Banten).
“Saya menyaksikan uang yang belum dikasih nomor itu numpuk,” kata Sian Fu, sembari menambahkan bahwa uang tersebut berbahan kertas HVS berwarna warni tersimpan di sebuah lemari. Sayang sekali, kini benda bernilai bersejarah itu tak bersisa satu pun.
Tak hanya soal uang OERIDAB, bahkan dokumen-dokumen lain ikut lenyap seiring dengan berubahnya suhu perpolitikan di tanah air. “Kala itu sekitar tahun 1960-an, politik sedang berubah, kami warga minoritas dicurigai. Karena takut ada sweeping, berbagai dokumen itu dibakar ibu,” tutur Sian Fu.
Selain OERIDAB, dokumen-dokumen penting lainnya yang kini hilang tak berbekas itu adalah foto-foto ketika Bung Karno berkunjung ke Banten hasil jepretan Sian Fu, termasuk majalah Utusan Banten dan Gelora Massa. “Pokoknya, dokumen apa pun yang memungkinkan kami dicurigai, dibakar ibu,” timpalnya.
Sian Fu sendiri mengaku menyesali hal itu. Sebab, di antara dokumen-dokumen itu merupakan bagian dari tinggalan sejarah yang bisa lebih menjelaskan jejak masa lalu Serang atau Banten. Namun, apa hendak dikata. Karena dihadapkan situasi yang sulit, maka tak ada cara lain selain menghilangkannya.
***
Karir Sian Fu di bidang kewartawanan tak begitu lama. Pada 1962 ia meninggalkan Serang untuk bekerja dalam pembangunan Universitas Respublika (kini Universitas Trisakti) di Bandung. Tahun 1979 ia kembali ke Serang dan membuka praktik pengobatan tusuk jarum hingga 1984. Lalu, terhitung dari 1984 hingga 1988 ia kembali beralih profesi, dengan menjadi karyawan di sebuah perusahaan konstruksi
Saat ini, seiring dengan usianya yang kian uzur, Sian Fu tak lagi bekerja. Aktivitas rutin yang masih setia ia lakoni setiap hari adalah menunggui sang cucu, Mimosa Pudica Koharjaya pulang sekolah sambil membaca koran yang ia langgani.
***
Meski belum ada tanda akan dihentikan, tetapi obrolan sudah berlangsung dua jam lebih. Siang semakin terik, karenanya perbincangan hangat beda generasi ini harus berhenti pula. Di akhir obrolan, Sian Fu hanya berharap satu hal saja: Ia ingin tulisan ini dimuat tak jauh dari hari ulang tahunnya yang ke-75, tanggal 8 Maret 2008.
“Barangkali ini akan menjadi catatan tentang saya yang terakhir,” kata Sian Fu.
Selamat ulang tahun………….!**

Catatan: Wawancara dilakukan akhir Januari 2008

 

 



Mengubah Paradigma Sekolah
Maret 3, 2008, 3:28 am
Filed under: Kisah

Sulit menemukan suasana formal di lembaga pendidikan yang satu ini. Selain bangunannya yang amat sederhana – terbuat dari kayu dan beratap rumbia – aktivitas yang tercipta sama sekali jauh dari suasana sekolah pada umumnya yang serba formal. Itulah Sekolah Peradaban yang berlokasi di kawasan Sepang, Serang. Sebuah sekolah dengan konsep yang boleh dibilang ‘sangat bertolak belakang’ dengan sekolah-sekolah lain.
***
Siang itu (25/2) suasana sekolah agak lengang. Hanya ada beberapa siswa saja yang terlihat bermain. Kebanyakan tengah beristirahat dan menunaikan solat duhur. “Anak-anak barusan melakukan kegiatan out bond,” ungkap Bambang Wibowo, saat menyambut kedatangan wartawan koran ini.
Selepas jam 12, suasana kembali ramai dengan beragam aktivitas para siswa. Ada yang bermain bola, becek-becekan, dan permainan lain khas anak-anak. Mereka dibiarkan bermain sesuka hati kendati baju yang dikenakan basah atau kotor oleh lumpur. Sementara para pengelola (guru-guru, Red.), hanya mengawasi dari kejauhan. Sesekali saja mereka menegur, itupun sekadar mengingatkan atau mengarahkan saja.
Bambang sendiri hari itu cukup disibukkan dengan aktivitas seorang anak autis. Namanya Dani Fakih Noval, murid kelas empat. Tapi, dengan sabar dan telaten Bambang melayani apa yang diminta sang murid. “Dia (Dani, Red.) itu cerdas. Kemampuannya di bidang pemrograman komputer,” ungkap Bambang.
Kemana pun Bambang pergi, di situlah Dani ada. Bahkan ketika wawancara berlangsung di ruang atas kantor, Dani turut serta dan sesekali nimbrung sambil mengutak-atik handphone milik Bambang.
Bambang adalah salah seorang yang berada di belakang layar dari Sekolah Peradaban. Ia termasuk pendiri sekaligus konseptor sekolah ini. Adapun pengelolaan sekolah diserahkan kepada sang istri, Rahmiyana, yang hari itu ikut terlibat dalam perbincangan, ditemani beberapa guru lainnya.
Dalam perbincangan itulah terungkap tentang konsep dan gagasan dari sekolah ini, sekaligus alasan yang melandasi pendiriannya, sehingga baik kurikulum maupun sistem pengajarannya jauh berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya.
Menurut Rahmiyana, sistem pendidikan di Indonesia pada umumnya sudah tidak bisa dipakai karena cenderung melakukan pemaksaan kepada anak didik. “Untuk itu perlu dibuat sistem yang baru yang mencerahkan sekaligus menghargai anak didik,” ungkap Rahmiyana.
Dengan sistem baru yang coba diterapkan di Sekolah Peradaban ini, anak dibiarkan beraktivitas dan berkreativitas sesuai kemauan dan kecenderungannya, sehingga dengan sendirinya potensi dan kemampuan anak dapat terlihat sekaligus diasah dan diarahkan. “Sebab, hakekatnya anak yang bodoh itu tidak ada,” ujar Rahmiyana lagi yang mengaku bahwa sistem pendidikan di sekolahnya merupakan hasil gabungan dari berbagai sistem pendidikan, tapi disesuaikan dengan kultur Indonesia.
Seakan menegaskan apa yang disampaikan Rahmiyana, Bambang ikut angkat bicara. Menurutnya, sekolah ini melalui sistem pendidikan dan pengajarannya hanya ingin mengembalikan si anak sesuai kodratnya sebagai manusia. Karena sesungguhnya setiap anak itu champion (baca; unggul).
“Tidak ada anak yang bodoh atau nakal. Semua anak anak itu pintar. Dari berjuta-juta sperma, toh yang jadi hanya satu. Dan masing-masing anak merupakan hasil dari sperma yang jutaan jumlahnya itu. Sperma terunggul. Artinya, masing-masing anak itu memiliki keunggulan,” kata Bambang seakan mempertanyakan paradigma yang berlaku saat ini di masyarakat, terkait dengan adanya sebutan anak bodoh atau anak nakal.
Untuk itulah, imbuh Bambang, sekolah ini terbuka bagi siapa pun, termasuk bagi anak-anak autis semacam Dani. “Nyatanya Dani memiliki keunggulan dan kecerdasan luar biasa, terutama di bidang komputer dan matematika. Ini membuktikan bahwa setiap anak itu unggul,” ujarnya sambil melirik Dani yang kali ini asyik mencari cara menjinakan virus “Tati My Love” di sebuah laptop.
Dani adalah murid pindahan. Sebagai anak autis, ia dianggap bermasalah karena tingkah lakunya yang susah diatur dan dipahami. Kedua orangtuanya nyaris putus asa mencarikan sekolah untuk Dani karena hampir semuanya menolak. Hanya satu sekolah yang mau menerima keberadaan Dani, yakni di Sekolah Peradaban ini.
“Butuh perhatian ekstra untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada Dani. Tapi, dengan pola pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di sini, secara perlahan Dani sudah mulai berlaku seperti rekan-rekannya yang lain,” urai Bambang.
***
“Dani, sekarang ceritakan kamu itu siapa,” pinta Rahmiyana, direktur Sekolah Peradaban kepada Dani yang tengah asyik mengutak-atik laptop.
Tak ada respon. Ia malah asyik membuka sebuah program di komputer, sementara mulutnya tak henti bicara. Entah apa yang dibicarakan karena terlalu cepat.
“Ayo Dani, ceritakan sedikit saja, kamu itu siapa,” pinta Rahmiyana lagi. Alih-alih mendengarkan, Dani malah menarik lengan kiri bu guru sambil memperlihatkan sesuatu di layar monitor. “Tuh lihat tuh, Tati My Love,” kata Dani.
Beberapa hari ini Dani tengah dipusingkan dengan virus tersebut. Beberapa kali ia mencari cara ‘menaklukan’ virus itu. Mulai dari membuka internet hingga membedah program komputer. Tapi hasilnya selalu nihil. “Kalau sudah di depan komputer, ya seperti itu,” kata Bambang sambil tersenyum.
“Ayo dong Dani sedikit saja kamu cerita,” pinta Rahmiyana sekali lagi.
Kali ini Dani mendengar. “Namaku Dani Fakih Noval kelas empat SD.” Kata-katanya begitu cepat. “Saya anak hebat.”
“Hebatnya di mana?” Tanya Rahmiyana.
“Main komputer dan matematika,” jawab Dani singkat sambil jemarinya terus memainkan keyboard.
“Kenapa main komputer dan matematika?” Rahmiyana terus bertanya.
“Karena saya senang main komputer dan matematika,” jawab Dani lagi.
“Kalau sudah besar cita-citanya apa?” kali ini Rahmiyana memberikan pertanyaan lain.
“Mau bikin koran,” jawab Dani. Setelah itu, dialog terhenti karena Dani kembali asyik mengutak-atik laptop. Pertanyaan lanjutan yang disampaikan Rahmiyana sama sekali tak diresponnya.
Kendati butuh perhatian khusus, tetapi Rahmiyana, Bambang, maupun guru-guru lainnya tak menyimpan sedikit pun rasa kesal. Sebaliknya, mereka malah menyanjung kehebatan Dani.
“Kalau Microsoft tahu kehebatan Dani, Bill Gates mungkin mau mengadopsinya,” kata Bambang setengah bergurau.
Tapi, gurauan Bambang ada benarnya, karena Dani dalam usianya yang baru 9 tahun memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang pemrograman. “Saya saja kalah,” kata Fajar, guru komputer.
Dani, tentu bukan satu-satunya murid yang menjadi fokus perhatian para pengelola di sekolah ini. Seluruh murid diperlakukan sama. Yang berbeda adalah pemberian arahan dan bimbingan yang disesuaikan potensi masing-masing murid. “Dengan kebebasan berkreativitasnya, kita sesungguhnya memberikan pembelajaran yang acceleration. Dari situ, potensi dan kemampuannya akan segera terlihat. Kita, hanya sebatas mengarahkan saja,” ungkap Rahmiyana.
***
Rahmiyana selaku direktur sekolah menyebutkan beberapa hal yang menjadi ciri khas sekaligus sisi keunggulan Sekolah Peradaban. Selain menisbikan anak bodoh, sekolah ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan penekanan pada sisi praktik daripada teori (kontekstual). “Di sini tidak ada istilah atau sebutan guru, yang ada adalah fasilitator karena hakekatnya kami ini adalah fasilitator,” kata Rahmiyana.
Dengan begitu, dimungkinkan tak ada gap antara guru dan murid. Yang ada justru semangat kekeluargaan yang kental. Di samping itu ada pula kegiatan yang penekanannya pada pengembangan diri si anak semisal out bond. Sebab, dengan kegiatan seperti out bond, si anak mampu mendobrak sisi ‘aku tak bisa’ mereka menjadi bisa.
Agar lebih optimal dan maksimal dalam memberikan arahan dan bimbingan, sekolah ini menerapkan rasio 1 : 10. Artinya, 1 guru memiliki tanggung jawab untuk 10 murid. “Tidak seperti di sekolah-sekolah pada umumnya yang perbandingannya mencapai 1 : 40, bahkan 50 puluh,” tutur M Faiz A Rahman, kepala SD Peradaban yang ikut terlibat dalam perbincangan.
Sekolah Peradaban Serang hingga kini baru membuka dua jenjang pendidikan, jenjang Taman Kanak-kanak (TK), dan Sekolah Dasar (SD). Karena baru memasuki tahun keempat, maka kelas tertinggi di sekolah tersebut baru kelas empat SD. Sekolah ini berdiri di lahan seluas 7.800 meter per segi dengan suasana yang amat jauh dari kesan formal.
Bangunannya tidak seperti bangunan sekolah pada umumnya. Hanya terbuat dari kayu dengan bentuk panggung beratap rumbia. Hanya ada satu bangunan permanen, bantuan dari Dinas Pendidikan. Komplek pendidikan ini dilengkapi dengan lapangan sepakbola dan lapangan basket mini. Ada juga sarana outbond dan sebidang tanah khusus untuk anak-anak belajar bercocok tanam dilengkapi sebuah kolam ikan.
Suasana belajar di dalam kelas juga jauh dari kesan formal. Seperti siang itu, sambil lesehan para siswa dengan segala tingkah polahnya asyik mendengarkan pelajaran yang disampaikan guru. Ada yang menyandarkan tubuh, ada pula yang merebahkan tubuh di lantai, dan sebagainya. Mereka belajar dengan suasana gembira.***

 



KH. Zaenuddin, Berjuang di Tengah Globalisasi Desa Sawarna
November 10, 2007, 11:49 am
Filed under: Kisah

 Tak Ingin Sawarna Berubah Warna 

Sudah seperempat malam, tapi Zaenuddin belum juga tidur.  Ia masih berada di tengah-tengah santrinya di depan kobong pesantren yang baru didirikan dua bulan lalu. Sesekali ia memberi instruksi satu dua orang santri untuk mempercepat pekerjaan membuat gapura. 

Malam itu Zaenuddin bersama beberapa santrinya tengah diburu pekerjaan menyelesaikan pembuatan gapura tujuh belasan yang akan dipasang di pintu masuk pesantren. ”Sudah tidak ada waktu lagi, besok pagi sudah harus terpasang,” kata Zaenuddin.

Di kobong berukuran dua kali rumah tipe 21 inilah Zaenuddin mencoba meneguhkan diri menjadi penjaga moral anak-anak dari arus modernitas yang mulai masuk  ke desa wisata yang dikenal dengan keindahan kawasan pantainya itu. Selain mengajari baca tulis al-Quran, pria yang biasa bersorban ini  juga mengajari para santri pelajaran aqidah, akhlak, bahasa Arab, serta beberapa keterampilan seperti menulis indah. ”Saya hanya ingin mengisi kekosangan waktu santri dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat,” aku pria kelahiran 1952 silam itu.

Ia mengajar seorang diri, kecuali sesekali dibantu sang anak, Mustofa, khusus untuk pelajaran bahasa Inggris. Mustofa adalah satu dari sebelas anaknya yang aktivitas kesehariannya selain menjadi guru honorer, juga menjadi guide para turis asing yang biasa berkunjung ke Desa Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten.

Baru dua bulan didirikan, kobong pesantren yang terbuat dari bilik bambu ini sudah dihuni sekitar empat puluhan santri yang berasal dari kampung sekitar. Di antara mereka ada yang tinggal di pesantren, sebagian lagi merupakan santri kalong — sebutan santri yang tidak tingal di pesantren. ”Kalau pagi sampai siang, mereka sekolah formal di SMP dan SMA, sorenya belajar di pesantren,” kata Zaenuddin.

Membangun pesantren di Desa Wisata Sawarna bukanlah cita-cita Zenuddin. Malah, sebelumnya pun tak terbayangkan jika ia harus kembali ke desa kelahirannya. ”Saya sudah lama menetap Lampung. Tapi, orangtua meminta saya pulang. Padahal di Lampung waktu itu saya juga sedang merintis pembangunan pesantren,” ujar kiai yang masa mudanya dihabiskan untuk mesantren dari kobongan satu ke kobongan yang lain, dari kiai yang satu ke kiai yang lain.

Atas permintaan sang ibu, kendati dengan berat hati, pada awal 1990-an ia kembali ke kampung halaman. Dan praktis, Zaenuddin pun memulai hidup dari awal lagi. Tak ada aktivitas yang dikerjakan selain membantu mengajar di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) di desanya dengan honor tak seberapa. Karena kondisi ekonomi dan tuntutan hidup, pada 1994 Zaenuddin memutuskan berangkat ke Arab Saudi menjadi TKI. Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 1998, ia pulang ke kampung halaman. ”Alhamdulillah dengan keberangkatan ke Arab saya ditakdirkan Allah untuk berziarah ke makam Nabi (berhaji, pen),” ujar Zaenuddin setengah menerawang.

Sepulangnya dari Saudi, Zaenuddin mulai menancapkan niat untuk kembali merintis pembangunan pesantren yang sempat ia semai ketika di Lampung dulu. Langkahnya diawali dengan membangun kembali masjid kampung yang lokasinya berada tak jauh dari kobong pesantrennya. Bersama masyarakat setempat masjid itu dibangun dan kini berdiri cukup  bersih dan terawat. ”Berkat seluruh masyarakat dan bantuan para donatur, Alhamdulillah, meskipun belum sempurna masjid itu telah berdiri dan bisa digunakan untuk ibadah,” kata Zaenuddin.

Selesai membangun masjid, konsentrasi Zaenuddin beralih ke rencana pembangunan pesantren. Prosesnya cukup lama karena terbentur oleh dana. Diawali dengan membangun pondasi seadanya, secara perlahan pesantren yang seratus persen tanpa bahan material semen dan pasir itu dibangun. Karena dana yang tidak mencukupi, pembangunan beberapa kali harus terhenti.

Namun, berkat keuletan dan kerja keras, sejak dua bulan silam bangunan pesantren itu akhirnya berdiri. Tidak megah, juga tidak luas. Bangunan itu malah sangat bersahaja sebersahaja pendirinya. Hanya terbuat dari bilik bambu yang ditopang oleh kayu, tapi cukup untuk menampung empat puluhan santri belajar agama. ”Ya di tempat jelek inilah saya mengajari santri,” kata Zaenuddin dengan nada merendah.

Untuk menghidupi pesantren, Zaenuddin tak memiliki kas khusus. Semua ia biarkan mengalir apa adanya. Ia juga tak pernah memungut sepeser pun iuran dari para santri. Semua bergantung keikhlasan para orangtua santri yang menitipkan anaknya di pesantren. Kalaupun ada sumbangan dari orangtua, kembalinya untuk kepentingan para santri seperti untuk membeli kapur tulis dan alat tulis lainnya.Zaenuddin memiliki cita-cita luhur atas pesantren yang didirikannya ini. Ia ingin para santrinya kelak, selain mampu menguasai ilmu agama, kultur Desa  Sawarna yang agamis tetap terjaga meskipun desa ini telah menjadi desa wisata yang banyak dikunjungi para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara.

”Saya khawatir kehadiran para wisatawan bisa berdampak pada perubahan perilaku masyarakat. Sekarang pun sudah terasa,” akunya tanpa memerinci lebih jauh maksud dari perubahan itu. Zaenuddin hanya bercerita tentang tingkah para turis asing yang kadang tidak sesuai adat setempat, seperti cara berpakaian, dan sebagainya.

Meski begitu, ia mengaku tidak anti-turis asing, juga tidak phobi terhadap budaya luar. ”Saya hanya ingin menjaga moral saja. Toh, bagaimanapun keberadaan turis-turis itu juga memiliki dampak positif,” ujarnya.

Sikap moderat dan akomodatif  terhadap keberadaan para turis asing ia buktikan dengan memberikan dorongan dan dukungan terhadap pekerjaan sang anak, Mustofa, untuk menjadi guide. ”Dia (Mustofa, pen.) lumayan bahasa Inggrisnya. Saya ingin Mustofa menjadi guide yang baik, mampu memandu serta dapat memberikan pemahaman kepada para turis untuk menghargai adat dan budaya di sini. Dengan begitu, kultur dan budaya Desa Sawarna dapat tetap terjaga,” urainya.

Bahkan, jauh di relung hatinya tersimpan harapan bahwa santrinya kelak ada juga yang menjadi guide bagi para turis-turis itu. ”Makanya, saya juga membekali mereka pelajaran bahasa Inggris. Biar mereka juga lancar bicara Inggris dan bisa berkomunikasi dengan turis,” ujar Zaenuddin.

Pesantren yang rencananya akan dinamai Pesantren Mathlabul Hidayah (tempat mencari hidayah, pen.) itu adalah satu-satunya pesantren di Desa Wisata Sawarna. Desa ini mendapat sebutan desa wisata karena memiliki kawasan pantai dengan keindahan alam serta ombaknya dengan ketinggian lebih dari dua meter, sehingga menjadi surga bagi para turis asing terutama penggila selancar. Di samping objek wisata pantai, di desa ini juga terdapat puluhan objek wisata gua dengan stalaknit yang luar biasa indahnya. Meskipun secara geografis berada di pelosok dan nyaris terisolir, Sawarna sudah menjadi desa global dan kondang di mancanegara. Dan, tak mustahil satu waktu Desa Sawarna akan berubah warna seiring arus kedatangan para wisatawan asing dan derasnya globalisasi.

Namun, Pak Kiai tak ingin Sawarna berubah warna…….!***



Ibu Guru Sujiyah, 28 Tahun Mengabdi di Ciboleger
November 2, 2007, 3:31 am
Filed under: Kisah

Tak Ingin Pulang Ke Tanah Leluhur 

Rumah berukuran sedang itu nyaris tak terawat. Langit-langitnya mulai lapuk terkena rembesan hujan. Juga perabotan seperti kursi, meja dan lemari, warnanya mulai pudar. Sedangkan tembok rumah yang bercat putih terlihat buram. Ada beberapa hiasan dinding tertempel, antara lain lukisan perempuan Jawa dan kalender dengan gambar wajah cantik seorang bakal calon (balon) gubernur. “Saya juga dapat ini,” kata Sujiyah (49), sambil memperlihatkan tiga buah gantungan kunci bergambar balon gubernur tadi tanpa menyebut pemberian siapa.

*** 

Hanya karena pengabdian dan rasa tangung jawablah, Sujiyah  mau bertahan dan menetap di Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Padahal, tahun 1978 adalah masa-masa yang begitu sulit. Dari Rangkasbitung saja harus ditempuh dalam waktu dua hari. Ditambah lagi dengan suasana Ciboleger yang masih rawan. Jika malam, gelap pekat karena belum ada listrik, penduduknya sedikit, dan jarak antara satu rumah penduduk dengan rumah penduduk yang lain begitu berjauhan.     

“Saya nyaris kembali ke Kulonprogo karena tak betah,” kata Sujiyah mengenang kembali masa 28 tahun yang lalu.  Tapi, keinginan pulang kampung itu kini telah sirna. Ia bahkan sudah berketetapan hati untuk menghabiskan masa hidupnya hanya di Ciboleger.

Sujiyah lahir 15 September 1957 silam di sebuah desa di Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta. Setamat Sekolah Pendidikan Guru (SPG) pada 1977, ia mengikuti program pengangkatan guru untuk ditempatkan di Jawa Barat. “Waktu itu Provinsi Jawa Barat kekurangan banyak guru SD. Saya ikut mendaftar bersama 2.500 orang lainnya. Semuanya dari Jogja,” kata Sujiyah dengan logat Jawanya yang masih kental.

April 1978, bersama ribuan tamatan SPG lainnya, Sujiyah diberangkatkan dengan menggunakan bus malam. Ada yang ditempatkan di Sukabumi, Cianjur dan daerah lainnya di Jawa Barat. Sedangkan Sujiyah ditempatkan di Kabupaten Lebak, tepatnya di kecamatan Leuwidamar. “Saya tak pernah membayangkan akan ditempatkan di lokasi yang begitu jauh dan terpelosok,” aku Sujiah.

Tiba di Rangkasbitung, Sujiyah dan rekan-rekannya disambut para pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Setelah beberapa hari tinggal di rumah kepala dinas, Sujiyah selanjutnya berangkat menuju medan pengabdian sesungguhnya; di Leuwidamar. “Saya harus berjalan kaki dan menyeberangi sungai Cisimeut,” urai Sujiyah tak mampu menyembunyikan kegetirannya.

Di Leuwidamar ia ditugaskan di SD Cibungur III yang lokasinya berbatasan dengan Kampung Kadu Ketug, salah satu kawasan Baduy Luar. Waktu itu, sekolah tersebut baru ada dua kelas. “Tak terbayang Pak, bagaimana susahnya mengajar di sana,” kata perempuan bersuamikan Syamsudin, warga asli Ciboleger yang berprofesi sebagai sopir di Bekasi.

Selain kondisinya yang masih apa adanya, tantangan lain yang dihadapi  adalah persoalan perbedaan budaya. Syukurnya, persoalan ini dapat teratasi karena kepala sekolahnya berasal dari Sumedang yang telaten mengajarinya terutama bahasa Sunda.Menurutnya, yang membuat dia tidak betah pada masa-masa awal tinggal di Ciboleger adalah kondisi geografisnya. Selain masih hutan, jarak antara rumah penduduk dengan rumah penduduk lainnya begitu berjauhan, belum lagi masyarakatnya yang suka membawa golok. Bahkan beberapa kali terjadi kasus kriminal seperti pembunuhan dan perampokan.

“Pernah, gaji seluruh guru se Kecamatan Leuwidamar dirampok. Saya sampai tidak gajian tapi untungnya segera diganti. Pokoknya kalau membayangkan kembali masa-masa awal dulu, ngeri Pak! Tapi, alhamdulillah saya betah-betahin terus,” ujar Sujiyah yang mengaku memperoleh gaji pertama sebesar 15 ribu rupiah setiap bulannya.  

Pada 1993, SD Cibungur III berubah nama menjadi SD Bojong Menteng III seiring dengan pemekaran desa. Dan setelah 18 tahun mengajar di SD tersebut, tepatnya tahun 1996, Sujiyah mendapat promosi menjadi kepala sekolah dan ditempatkan di SD Nayagati III dengan siswanya kebanyakan berasal dari komunitas Baduy Luar. Setahun kemudian, Sujiyah kembali dimutasi ke sekolah asal, SD Bojong Menteng III yang kini jumlah muridnya mencapai 400 orang lebih dengan lokal kelas yang bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar hanya tiga unit, tiga unit lainnya sejak beberapa tahun yang lalu sama sekali tak lagi bisa dipakai.

Tentang pengalamannya mengajar selama hampir 30 tahun ini, Sujiyah bercerita panjang lebar. Menurutnya, kalau dirasakan, lebih banyak dukanya dibanding sukanya. Apalagi pada masa sekarang, terutama dari daya tangkap pelajaran serta sikap dan tingkah laku siswa.Disebutkan, kalau dulu siswa begitu tekun dan cepat menangkap mata pelajaran yang diberikan guru. Begitu juga soal sopan santun dan etika. “Sekarang susah. Murid-murid sulit menangkap pelajaran. Termasuk soal sopan santun. Ada guru di depan pun mereka nyelonong begitu saja,” kata ibu beranak satu ini.

Apa yang menyebabkan murid-murid berubah? Menurut Sujiyah, salah satu faktornya adalah karena tontonan televisi. “Anak-anak zaman sekarang lebih banyak menonton televisi ketimbang belajar,” katanya.

Duka lain yang dirasakan Sujiyah adalah sikap para orangtua yang cenderung menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada guru. Tapi, ketika ada anak yang karena prestasi belajar di sekolah jelek hingga tidak naik kelas, si orang tua dengan serta merta memarahi dan menyalahkan guru. “Sikap orangtua yang seperti itulah yang paling menyedihkan saya,” keluhnya.

Kendati begitu, ia mengaku berbahagia karena sudah ada beberapa muridnya yang sukses, di antaranya ada yang menjadi PNS dan polisi. “Ada murid saya namanya Pak Citra, sekarang sudah jadi guru dan jadi PNS. Juga ada Euis yang bekerja di Bappeda, lalu Yudi yang menjadi polisi, dan Julaeha yang menjadi guru bantu,” urai Sujiyah menyebut satu per satu mantan muridnya yang telah sukses berkarir.

***

Di usianya yang menjelang setengah abad ini, Sujiyah menyatakan tak punya keinginan macam-macam, termasuk keinginan untuk kembali ke Kulonprogo, tanah leluhurnya. Yang diinginkan justru tinggal lebih banyak di rumah dengan alasan capai. “Saya sudah capek dan ingin beristirahat,” katanya.

“Saya hanya ingin membesarkan anak saya satu-satunya, Eka, biar cepat lulus kuliah dan cepat mendapat pekerjaan,” katanya lagi. Eka Supriyadi adalah anak satu-satunya Sujiyah yang kini kuliah di STIE La Tansa Rangkasbitung.

Pada wajah perempuan murah senyum ini, memang terlihat gurat-gurat kelelahan. Sudah hampir 30 tahun ia bergulat dalam medan pengabdian yang membutuhkan kesabaran, ketelatenan, bahkan keyakinan. Dan, nyatanya ia berhasil bertahan.Kalau bukan Sujiyah, siapa yang mau bertahan dalam medan pengabdian seperti di Ciboleger yang sunyi dan sepi ini? ***



Bukuku Hatiku (Sebuah Testimoni):
November 1, 2007, 5:01 am
Filed under: Kisah

Dengan Buku Kini Aku Menjadi


SUATU  hari di tahun 1993, aku sibuk menyibak-nyibak buku yang tersusun rapi di sebuah rak Perpustakaan Institut Pendidikan Islam Darussalam (IPD) Pondok Modern Gontor. Tiba-tiba, pandangan tertuju pada sebuah buku merah karya Emha Ainun Nadjib berjudul – kalau tidak salah – Indonesia Bagian Dari Desa Saya. Aku ambil, lalu aku buka halaman demi halaman dari buku itu.
Hmm…, cukup menarik isinya. Timbul keinginan dalam diriku untuk memiliki buku tersebut. Maka, setelah sejenak memperhatikan kanan kiri, dan dirasa aman karena tak ada seorang pun tahu – kecuali Tuhan – buku merah itu aku masukkan ke balik baju. Lalu, sambil berjingkat aku keluar dari gedung perpustakaan menuju asrama.
Aku sadar. Aku telah mengambil sebuah buku tanpa izin (baca; mencuri). Tapi, karena keinginan yang begitu kuat untuk membaca sekaligus memilikinya, buku itu akhirnya terbang ke lemariku. Pada waktu-waktu senggang, aku baca buku karya Kyai Mbeling itu. Kadang aku tertawa karena isinya yang lucu dan nakal, dus, ada banyak kesamaan dengan kisah kecilku.
Di salah satu bagian buku itu Cak Nun – panggilan akrab Emha – berkisah tentang anak-anak desa yang suka mengejar-ngejar mobil, lalu menaikinya. Jika tak terkejar, anak-anak desa hanya bisa memandangnya dengan rasa takjub hingga hilang dari pandangan. Lalu, mengelus-elus legokan tanah yang menyisakan warna hitam serta bau yang khas dari ban mobil tersebut. Ya, pada dua puluhan tahun silam, mobil masih merupakan benda aneh bagi anak-anak kampung.
Maka, begitu membaca bagian itu, pikiranku melayang ke masa aku masih berusia SD. Aku pernah mengejar-ngejar mobil sepulang mengaji pada malam hari. Kuselendangkan sarung di bahu, mobil kukejar. Kena, dan aku pun bergelantung. Begitu hampir tiba melewati rumah, aku meloncat. Dan, aduh…..! Aku terjatuh. Aku terpelanting ke arah krikil tajam. Lututku berdarah, beberapa bagian tangan tergores. Untungnya, tak ada yang melihatku, juga orangtuaku.
Di bagian lain dari buku itu, Emha juga berkisah tentang televisi yang merupakan barang langka sekaligus menunjukkan simbol ketinggian derajat seseorang yang memilikinya. Kata Emha, orang-orang di desanya dahulu menyebut televisi adalah pisyi. Di satu desa paling hanya satu atau dua orang saja yang memiliki pisyi, itu pun hitam putih dan untuk menyalakannya menggunakan aki – karena listrik belum masuk desa. Saban malam minggu, orang-orang se desa tumplek blek di rumah si pemilik pisyi untuk menonton film akhir pekan.
Itu pula yang kualami dulu. Meskipun kedua orangtuaku hanya berprofesi guru dan beranak banyak, kami cukup beruntung karena memiliki pisyi hitam putih merek SHARP yang dibeli sekitar tahun 1979. Mirip yang dikisahkan Emha, setiap malam minggu rumah kontrakan kami penuh dengan orang-orang desa yang ingin menyaksikan film akhir pekan.
Gara-gara buku merah, aku menjadi sering berkhayal betapa enaknya menjadi penulis. Apalagi jika tulisannya dimuat di koran atau dibukukan, seperti tulisan-tulisannya Cak Nun. Aku bisa jadi orang terkenal karenanya.

***

Buku merah itu tak pernah lagi ku kembalikan ke rak perpustakaan IPD. Buku itu aku bawa ke Solo – karena aku memutuskan pindah kuliah dari IPD ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dan, nasib buku itu kini tak jelas lagi rimbanya. Terakhir, buku itu aku titipkan bersama sekardus atau dua kardus buku koleksiku yang lain kepada seseorang yang pernah aku yakini akan menjadi pendamping hidup, gadis Banjarnegara, teman PPL semasa kuliah dulu.
***
Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga yang serba terbatas. Ayah dan ibu – karena banyak anak – tak pernah memanjakan anak-anaknya. Karena keterbatasan keuangan pula, orangtuaku jarang membelikan baju lebaran. Hidup kami selalu diwarnai oleh suasana kerja, kerja dan kerja. Ayahku, terutama, secara tegas memberikan tugas yang harus kami kerjakan setiap hari. Mulai bersih-bersih pekarangan, menimba air dari sumur, hingga membersihkan kandang ayam. Hari minggu pun demikian.
Kadang aku merasa terkekang karena di saat anak-anak sebayaku bermain sepeda atau sepak bola, aku malah diajak ayah mencabuti rumput dengan tangan di kebun. Tak boleh pakai cangkul atau kored, kata ayah. Pernah, saking inginnya bermain, saat membantu ayah menambal lantai rumah dengan semen, aku menyelinap diam-diam untuk pergi bertanding sepak bola ayam cup tanpa sepengetahuannya. Kala itu timku menang dan melaju ke babak final. Sungguh, betapa gembiranya aku karena salah satu gol kemenangan itu merupakan hasil tendanganku. Namun, kegembiraan itu seketika pupus karena tiba-tiba adikku menyusul ke lapangan sembari mengabarkan ayah marah besar karena aku pergi tanpa pamit.
Rasa takut untuk pulang tiba-tiba menyergapku. Aku bingung harus bagaimana, sementara bayang-bayang kemarahan ayah sudah mampir di pikiranku. Benar saja. Begitu tiba di rumah, ayah dengan serta merta memarahiku. “Kalau memang sepakbola bisa membuat kamu hidup, pergi saja dari sini!” hardik ayah. Aku hanya berdiri mematung sambil menunduk. Syukurlah, ibu segera memapahku ke dapur dan memintaku mandi.
Namun, esok harinya, saat aku sedang makan, tiba-tiba ayahku mendekat. “Kapan sepakbolanya lagi,” tanya ayah.
“Besok pak, tinggal sekali lagi karena sudah masuk final,” jawabku penuh heran, karena tumben-tumbennya ayah bertanya demikian.
Aku bertambah kaget sekaligus gembira begitu ayah membolehkan aku main bola besok.
Itulah sekelumit masa kecilku. Hidup penuh disiplin dan selalu dalam suasana kerja. Tapi, aku masih bersyukur, karena kendatipun dibesarkan dalam lingkungan yang kaku dan disiplin ala militer, orangtuaku selalu membiasakan anak-anaknya membaca. Ayah berlanggananan majalah Panjimas, sedangkan ibuku berlangganan Galura, koran berbahasa Sunda dan sesekali membeli majalah seperti Intisari atau tabloid lain terutama khusus wanita. Sementara, anak-anaknya berlangganan majalah Bobo. Sesekali pula ayah membawa setumpuk buku-buku cerita dari kantornya.
Dari situlah kegemaranku membaca terasah. Tak hanya suka membaca cerita Oki dan Nirmala atau Deni Manusia Ikan, aku juga menjadi sering membaca Panjimas. Dari Panjimas pula, aku mulai mengenal nama budayawan nyentrik Emha Ainun Nadjib lewat kolom-kolomnya yang dimuat secara berkala. Aku suka karena bahasanya yang nakal dan ngepop. Sedangkan Galura jarang aku perhatikan kecuali sesekali saja.
Selepas SMP, aku dipesantrenkan ke Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Tangerang. Setahun di sana aku dipindah ke Pesantren Daar el-Istiqomah, Serang. Di sini, aku mulai membaca beberapa buku karya Emha, terutama di penghujung kelulusanku. Namun, aku harus jujur, yang paling banyak dibaca semasa di pesantren, terutama di Daar el-Qolam adalah Wiro Sableng karya Bastian Tito. Itu pun sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan pengurus pesantren. Biasanya Wiro Sableng aku sisipkan ke dalam sebuah buku pelajaran. Pura-puranya membaca buku pelajaran pesantren, padahal yang dibaca dan dihapal adalah jurus seruling sakti-nya Wiro Sableng.
Minat bacaku hingga kini terbilang biasa-biasa saja. Bukan kutu buku, kecuali untuk beberapa buku saja. Ya, seperti Wiro Sableng itu, atau beberapa buku Emha, atau buku Khalil Gibran macam Sayap-Sayap Patah, terutama saat aku tengah kasmaran. Buku yang lain, apalagi yang terlalu teoritis, aku kurang suka karena terlalu berat dan jarang sampai tamat dibaca. Kalaupun kini aku suka menulis dan pernah dibukukan, tulisan-tulisan itu paling isinya ringan-ringan saja, tidak berteori karena aku miskin referensi tentang teori tokoh ini atau itu. Tulisan-tulisanku lebih banyak bersifat reflektif dan subjektif sesuai pengalaman empirisku terutama sebagai wartawan. Ya, niru-niru tulisannya Emha, gitu loch….!
O ya, saat SMP dulu, aku adalah pembeli setia Kompas edisi Jumat. Mengapa? Karena hari itu Kompas memiliki suplemen olahraga Bola berbentuk tabloid (kini sudah berpisah dengan induk semangnya). Jadi, yang kubaca bukan Kompas-nya, tapi Bola-nya. Dari dulu aku memang suka olahraga, terutama bulutangkis dan sepakbola. Bahkan aku pernah bercita-cita menjadi pemain bulutangkis seperti Rudi Hartono atau pemain bola macam Heri Kiswanto dan Rully Nere.
Cita-cita itu ada historisnya. TVRI pada medio 1980-an menayangkan siaran langsung Piala Thomas dan Pra Piala Dunia. Karena tayangan tersebut, bulutangkis dan sepak bola mendadak digandrungi warga selama beberapa waktu. Kebetulan, ada warga yang memiliki pekarangan yang sedikit luas dan disulap menjadi lapangan badminton. Di rumahku ada dua raket kayu, sehingga aku ikut-ikutan menggandrungi permainan badminton hingga sekarang. Sedangkan sepakbola, aku juga suka ikut dan malah tergabung dalam klub anak-anak kampung. Beberapa kali kampungku ikut pertandingan sepakbola memperebutkan hadiah seekor ayam jago atau bahkan kambing yang biasa kami sebut ayam cup dan kambing cup.
Meski cita-cita menjadi seperti Rudi Hartono atau Rully Nere itu kandas, aku tetap doyan membaca berita dan perkembangan olahraga di Bola atau di Pikiran Rakyat, milik tetangga sebelah. Dari situlah sesungguhnya cita-cita menjadi wartawan itu tumbuh. Gara-gara sering baca Bola yang banyak menyajikan berita olahraga luar negeri, terutama Liga Italia, aku selalu berpikir dan mengkhayal betapa enaknya jadi wartawan. Bisa naik pesawat terbang dan melanglangbuana dari satu negara ke negara lain, juga bisa kenal dengan nayak orang penting.

***
Alhamdulillah, cita-cita itu akhirnya terkabul. Meskipun hanya menjadi wartawan koran lokal, aku sudah sangat bersyukur. Impianku menjadi penulis pun tergapai. Paling tidak tulisan-tulisanku pernah dimuat secara berkala dalam kolom Refleksi seminggu sekali di Harian Banten (kini Radar Banten) tempatku bekerja dari tahun 2001 hingga 2003. Apalagi, berkat dorongan, desakan, sekaligus kebaikan Gola Gong, Toto ST Radik, almarhum Rys Revolta, dan Andi Suhud, kumpulan tulisan itu telah diterbitkan menjadi buku berjudul Menjadi Orang Banten; Refleksi Seorang Wartawan tentang Banten.
Dan, gara-gara rutin menulis, lalu dibukukuan, aku – lagi-lagi harus bersyukur – (banyak) dikenal orang. Aku jadi sering mendapat undangan baik seminar, pelatihan jurnalistik maupun diskusi. Baik dalam kapasitas sebagai pembicara maupun moderator. Kini, dalam satu bulan rata-rata aku diundang dalam forum-forum seperti itu, antara dua hingga tiga kali.
Pada awalnya nyaris tak ada honor yang kuperoleh. Kalaupun ada, besarnya antara 20 ribu hingga 50 ribu rupiah saja, jarang sekali dapat 100 ribu rupiah. Tapi, kini, honor yang kuperoleh bisa mencapai antara 200 ribu hingga 500 ribu rupiah bahkan pernah tembus beberapa kali ke angka satu juta rupiah, untuk sekali tampil. Selain itu, aku juga banyak terlibat dalam penyusunan dan pengeditan buku yang diterbitkan lembaga maupun perorangan. Honornya amat lumayan, bisa dua hingga empat kali lipat dari gajiku saat ini.
Kini, di samping menjalankan aktivitas rutin di kantor, aku juga mengajar di sebuah perguruan tinggi negeri di Banten khusus untuk mata kuliah jurnalistik. Tak seberapa honornya, tapi ada kepuasan tersendiri karena bisa berbagi ilmu, wawasan dan pengalaman pada para mahasiswa. Konsep dan gagasanku juga banyak dipakai orang, dan kadang, juga menghasilkan uang.
Sebagian besar pendapatanku di luar gaji kantor aku manfaatkan untuk keperluan seperti kuliah lagi, mencicil sebuah rumah kecil di sebuah komplek perumahan di Kota Serang, termasuk mencicil komputer yang biasa aku pakai di rumah.
Apa yang kuraih saat ini tentu saja tidak diperoleh dengan mudah. Aku melaluinya dengan perjalanan panjang dan berliku. Dimulai dari serba keterbatasan. Masa kecil yang penuh dengan suasana kerja, kerja dan kerja, kuliah dengan jurusan yang tidak kusuka, hingga akhirnya menjadi wartawan yang ternyata tidak semanis dan sehebat bayanganku dahulu.
Namun, ada satu hal. Jika aku meruntut kembali perjalanan hidup hingga menjadi wartawan, penulis, pembicara/moderator, juga dosen, ternyata itu tidak lepas dari buku dan membaca, di samping pergaulan dan jaringan. Meski bukan kutu buku, tapi perjalanan hidupku sejak kecil selalu bersentuhan dengan buku dan bacaan-bacaan lain.
Kini, sebagian dari cita-cita dan khayalku telah tergapai. Itu semua, antara lain, berkat buku dan bacaan lain. Benar kata orang. Buku tak sekadar membuka cakrawala berpikir, tetapi juga ikut berpengaruh besar terhadap kesuksesan seseorang.
Buku adalah pembebasan……..! ***