Bantencorner’s Weblog


Orang Baik
April 26, 2008, 11:49 am
Filed under: Kolom

SEORANG pejabat teras di salah satu daerah di Banten pernah berkeluh kesah tentang nasib tragis yang dialaminya terkait dengan dugaan kasus korupsi yang menimpanya. Gara-gara kasusnya itu, ia tak lagi bisa bertegur sapa dengan warga di lingkungan tempat tinggalnya.
Sholat subuh pun tak lagi bisa dilakukan di masjid. Ruang geraknya begitu terbatasi. Masyarakat yang biasanya ramah, mau menyapa, mendadak diam atau memalingkan muka. Kalaupun bertegur sapa, suasananya begitu kaku dan terkesan dipaksakan.
“Itulah yang saya alami sekarang. Padahal, belum ada keputusan hukum yang menyatakan saya bersalah. Tapi, belum apa-apa saya sudah seperti pesakitan. Ruang gerak saya menjadi sangat terbatas. Sikap masyarakat pun sudah mulai berubah,” ungkap pejabat tersebut.
Yang lebih menyedihkan lagi saat ia bercerita tentang kondisi kejiwaan sang anak yang terguncang lantaran teman-temannya banyak bertanya tentang kasus yang menimpanya. “Anak saya sampai menangis dan bertanya, betulkah Bapak korupsi?” imbuh pejabat itu sambil menahan rasa getir.
Padahal, pejabat tersebut selama ini dikenal begitu baik dan tidak pernah punya cela, baik di lingkungan pekerjaan maupun di masyarakat. Selain menjadi pejabat teras di sebuah daerah, ia pun dikenal sebagai tokoh masyarakat yang berjiwa sosial dengan aktif di berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, dan tentu saja taat beribadah.
***
Sungguh, tidak bisa dibayangkan betapa hancurnya perasaan dia, istri, maupun anak-anaknya. Betapa nama besar dan kebaikan yang dilakukan selama puluhan tahun itu hancur tak berbekas. Tidak pula dapat dipulihkan dengan segera.
Dan apa yang dialaminya, tentunya juga dialami oleh pejabat-pejabat lain, atau siapa pun yang tersangkut kasus kriminalitas semacam kasus korupsi. Kendatipun statusnya masih ‘dugaan’ dan belum terbukti bersalah, tetap saja bisanya opini yang terbangun di masyarakat adalah bahwa pejabat itu telah melakukan korupsi. Stigma negatif begitu mudah terbangun.
“Gak nyangka ya ternyata dia itu koruptor.”
“Padahal dia itu baik, dermawan, kok bisa ya korupsi?”
“Pantas saja rumahnya bagus, mobilnya banyak. Korupsi sih!”
Begitu antara lain rasan-rasan orang manakala mengetahui tetangganya yang kebetulan seorang pejabat, tersandung kasus korupsi.
***
Persoalan orang baik yang terseret kasus korupsi hingga masuk bui, kerap kali menjadi bahan perbincangan hangat sejumlah pihak. Umumnya perbincangan itu akan terhenti pada satu pertanyaan, kenapa orang baik itu bisa korupsi?
Jawabannya memang bisa bermacam-macam. Ada yang menjawab bahwa pejabat itu hanya berpura-pura baik saja di mata publik, sehingga dikenal bersih tanpa cela. Padahal, ia sebetulnya korputor. Kalau tidak, mana mungkin terjerat kasus korupsi dan dipenjara.
Ada juga yang menjawab bahwa kebaikan si pejabat tersebut telah dimanfaatkan oleh pihak lain dengan menjadikannya sebagai kambing hitam kesalahan. Saking baiknya, ia tak mampu menolak untuk berbuat sesuatu yang seolah-olah baik, padahal sejatinya apa yang dilakukannya itu salah hingga menjerumuskannya ke dalam penjara.
Jawaban-jawaban di atas bisa jadi benar, bisa pula salah. Adapun yang punya jawaban sebenarnya adalah para pejabat bersangkutan yang terkena kasus (korupsi). Merekalah yang sejatinya lebih tahu apa yang dilakukannya selama menjabat dan berkuasa, sehingga tahu pula konsekuenasi apa yang bakal diterima ketika berbuat dan tidak berbuat.
Hanya yang harus disadari, menjadi pejabat yang baik saja tidak akan cukup selamat dari kemungkinan jeratan hukum jika ia hidup dalam sistem dan lingkungan yang tidak baik (baca; jahat). Dan sebaik-baiknya pejabat — sekalipun terpaksa – akan ‘ikut-ikutan’ menjadi (baca; terstigma) jahat, karena berada dalam sistem yang tidak memungkinkannya berbuat baik.
Karena itu, tak ada pilihan lain selain berbuat baik sambil memperbaiki sistem yang tidak baik menjadi baik. Menjadi individu yang baik saja tanpa memberi perbaikan (baca; manfaat) kepada sistem dan lingkungan, hanya akan menjadi seperti lilin. Dibakar, meleleh, lalu hancur dan binasa…..!***

 

 

 

 


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

salam kenal

Komentar oleh karnoto

Bandung memang kreatif…. , Aeryn

Komentar oleh kevin2




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: