Bantencorner’s Weblog


Hijauisasi
Maret 29, 2008, 3:04 pm
Filed under: Kolom

BERKUNJUNG ke Pandeglang hari-hari ini akan membuat mata kita terbelalak menyaksikan berbagai bangunan milik pemerintah dan fasilitas umum yang berubah warna cat, dari yang biasanya berwarna putih menjadi hijau. Dari kantor-kantor pemerintahan, bangunan sekolah, gapura, pagar, hingga pot bunga, semua menjadi hijau. ‘Penghijauan’ ini tak hanya di dalam kota, tapi juga hingga ke pelosok.
Dan tidak dapat dipungkiri jika perubahan warna itu membuat suasana Pandeglang terasa lebih asri, rapi, dan tentu saja menjadi hijau. Tapi, tak dapat dipungkiri pula jika perubahan itu telah menyulut kontroversi di masyarakat.
Apa sebab?
Sebabnya, banyak pihak menilai bahwa perubahan warna cat pada bangunan-bangunan milik pemerintah dan berbagai fasilitas umum lainnya, dilakukan seiring dengan tampilnya penguasa setempat sebagai orang nomor satu sebuah partai politik yang kebetulan berciri khas warna hijau. Maka, tak pelak bila banyak kalangan menilai perubahan warna itu dalam rangka hijauisasi Pandeglang guna menghadapi Pemilu 2009 mendatang.
Dengan demikian, masyarakat Pandeglang — paling tidak – yang setiap hari telah terbiasa melihat warna hijau, pada pemilu mendatang akan ramai-ramai mencoblos partai dimaksud. Golnya adalah tentu saja partai tersebut memperoleh suara terbanyak.
“Meski tidak secara implisit, orang bisa menebak kenapa dicat hijau. Karena memang kepala daerahnya juga ketua salah satu partai politik,” protes anggota DPRD Pandeglang Hatami Kastura (Radar Banten, 23/3).
Soal adanya politisasi di balik warna cat ini, buru-buru disanggah oleh pejabat pemerintahan setempat. Menurut pejabat tersebut, hijauisasi yang dilakukan itu merupakan bagian dari upaya mewujudkan Pandeglang yang hijau, dalam arti bukan hanya hijau gunung atau tanaman, tetapi termasuk gedung dan perkantoran.
“Makna hijau di sini bukan hanya gunung dan hutan saja, tetapi keseluruhan termasuk gedung. Dan ini tidak ada kaitannya dengan sebuah partai politik. Yang jelas warna hijau ini bisa membuat kesejukan dan kenyamanan,” kata Kabag Humas Pemkab Pandeglang Olis Solihin (Radar Banten, 23/3).
***
Soal hijauisasi yang kini tengah berlangsung di Pandeglang, membawa ingatan saya pada peristiwa beberapa tahun silam saat masih kuliah di sebuah kota di Jawa Tengah. Kala itu, penguasanya amat ‘gandrung’ dengan warna kuning, sehingga menginstruksikan aparat di bawahnya untuk melakukan kuningisasi.
Maka, hampir seluruh bangunan, mulai dari pagar, gapura, pot bunga, tong sampah, bahkan pohon-pohon asam di pinggiran jalan, di seantero kota/kabupaten di Jawa Tengah disulap menjadi kuning ‘sekuning-kuningnya’, sesuai harapan penguasa. Walhasil, wilayah Jawa Tengah yang notabene berhawa panas pun semakin terang benderang saja dengan warna kuning yang jika di siang hari membuat mata kita terasa silau.
Fenomena kuningisasi tersebut tak pelak menjadi bahan obrolan, bahkan candaan para mahasiswa. Sampai-sampai ada seorang kawan yang berkelakar menyatakan bahwa selain cat kuning, cat warna lain tidak akan laku di Jawa Tengah. Untungnya saja tidak ada yang berkelakar tentang gigi yang harus pula berwarna kuning. Sebab, kalau sampai gigi harus kuning, yang rugi adalah produsen maupun penjual sikat gigi dan odol.
Nah, jangan-jangan di Pandeglang pun cat yang tengah laku di pasaran adalah cat warna hijau. Sebab, bayangkan saja, ada berapa bangunan dan fasilitas umum yang harus dicat hijau, serta menghabiskan berapa kaleng atau galon cat setiap bangunannya. Dan jika benar ini bernuansa politis, maka fenomena tersebut bisa diprediksi paling tidak akan berlangsung hingga 2009 mendatang, tepatnya ketika pemilu berlangsung. Artinya, para produsen cat kini harus lebih banyak lagi memproduksi cat warna hijau terutama untuk didistribusikan ke Pandeglang.
Tapi, seorang rekan wartawan mengatakan bahwa fenomena hijauisasi di Pandeglang berkaitan dengan masalah global warming. “Untuk mengantisipasi global warming, maka diperlukan penghijauan. Nah, saking semangatnya, gedung dan bangunan pun dicat hijau,” kata dia sambil tertawa.
“Ah, bisa saja ente…….!”***


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: