Bantencorner’s Weblog


Nasi Aking
Maret 22, 2008, 9:57 am
Filed under: Kolom

MANTAN Panglima TNI Wiranto, yang telah menegaskan akan maju dalam pencalonan presiden mendatang, Selasa (18/3) pekan lalu berkunjung ke Serang, tepatnya ke Kampung Masigit Tegal, Desa Priyayi, Kecamatan Kasemen. Di sana, ketua umum DPP Partai Hanura ini menyambangi kediaman Solihah (45), janda beranak lima yang kesehariannya berjualan kue keliling.
Oleh si empunya rumah, ia disuguhi nasi aking yang biasa dimakan masyarakat setempat. Dan Wiranto pun melahapnya sembari disaksikan oleh puluhan pasang mata. Esoknya, hampir seluruh media lokal menurunkan berita tentang kunjungan sang calon presiden, plus fotonya yang tengah asyik menikmati makanan tersebut.
***
Sebetulnya tak ada sesuatu yang luar biasa dari kunjungan tersebut. Sebab, apa yang dilakukan Wiranto jamak pula dilakukan oleh para elit politik setiap kali akan menghadapi momen politik, baik momen pemilihan anggota legislatif, pemilihan kepala daerah, maupun pemilihan presiden. Tujuannya, tak perlu kita jelaskan karena semua sudah tahu. Nah, kalaupun ada yang bisa disebut luar biasa, itu karena persoalan nasi aking yang dimakan oleh Wiranto saja, sehingga menjadikan kunjungannya memiliki nilai plus.
Seandainya saja nasi (bekas) yang dijemur dan dikeringkan sebagai makanan cadangan manakala beras tak lagi dimiliki warga itu hanya dimakan oleh Solihah atau warga lain, peristiwanya tentu biasa-biasa saja. Apalagi berdasarkan keterangan Ketua RT setempat, Supeni, kebiasaan makan nasi aking yang dilakukan warga bukan sebuah kasus kemanusiaan yang luar biasa. Artinya, warga memang sudah sangat terbiasa mengonsumsi makanan itu.
Tapi, karena kali ini disuguhkan dan dimakan oleh sosok sepopuler Wiranto, maka peristiwa tersebut (seakan-akan) menjadi luar biasa, sehingga memperoleh porsi liputan yang istimewa terutama oleh media-media lokal. Ada yang menempatkannya sebagai headline dengan judul Warga Kota Makan Nasi Aking, ada juga yang ‘sekadar’ berita biasa dengan judul Ke Banten, Wiranto Cicipi Nasi Aking.
Karenanya, nasi aking pun mendadak ‘naik daun’. Ia tidak lagi sekadar dikonsumsi masyarakat jelata yang hidupnya serba kekurangan, melainkan telah jauh memasuki ranah politik, dan dengan sendirinya menjadi ‘santapan politik’ lumayan menarik — paling tidak — bagi Wiranto.
Pun demikian, Wiranto mengaku jika nasi tersebut sama sekali tidak enak, kecuali dicampur sambal. “Perut saya sampai sakit karena terlalu banyak makan sambal,” aku Wiranto kepada wartawan sesaat setelah menikmati makanan itu.
Jika rasanya tidak terlalu enak barangkali juga bukan hal yang luar biasa karena banyak juga jenis makanan lain yang tak enak di lidah. Tapi, persoalannya adalah, sudah tidak enak di lidah, makanan tersebut amat minim dari nilai gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Lalu, ada apa di balik kebiasaan mereka mengonsumsi nasi aking?
Jawabannya sebetulnya amat sederhana. Saat ini Solihah dan puluhan bahkan mungkin ratusan warga yang mengonsumsi nasi aking itu hidup dalam kubangan kemiskinan. Mereka hanya mengandalkan keahlian sebagai buruh kasar atau pedagang keliling saja, dengan pendapatan yang tidak pernah pasti alias senen kemis.
Dalam kondisi yang serba ketidakpastian itulah mereka sangat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sekalipun hanya untuk membeli barang seliter atau dua liter beras. Untuk menyiasatinya, dikonsumsilah nasi aking, terutama ketika persediaan beras sudah tak ada lagi. Tak peduli nilai gizinya minim, yang penting perut tak lagi keroncongan.
Toh, andai saja hidupnya berkecukupan, rasanya tak mungkin mereka (terbiasa) mengonsumsi nasi aking. Kalaupun bosan makan nasi, pilihannya tentu roti, mie, atau bahkan hamburger dan sejenisnya yang notabene memiliki nilai gizi tinggi, lantaran mereka ada uang untuk membelinya.
Karena itu, seorang rekan yang juga aktivis LSM menyesalkan sikap seorang pejabat teras di lingkungan Pemerintah Kabupaten Serang yang juga menyatakan bahwa persoalan nasi aking bukan persoalan serius lantaran sudah biasa dikonsumsi masyarakat. “Masyarakat memang terbiasa makan nasi aking karena di rumah mereka sudah tidak ada lagi beras!” kata rekan tersebut dalam diskusi mengenai Indeks Demokrasi Indonesia di Provinsi Banten yang berlangsung di sebuah hotel di Serang, sepekan lalu.
Lalu, jika sebab kemiskinan yang membuat mereka mengonsumsi nasi aking, masih bisakah kita mengatakan ini bukan peristiwa kemanusiaan?
Jika ya, sungguh terlalu …!!***


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: