Bantencorner’s Weblog


Alun-alun atau Pasar Tumpah?
Maret 14, 2008, 3:34 am
Filed under: Kolom

SALAH satu ikon sebuah kota adalah alun-alun. Lokasinya (selalu) berada di tengah-tengah kota, dikelilingi oleh jalan dan dapat diakses dari segala arah. Begitupun dengan alun-alun Serang, berada persis di jantung kota, dan dapat ditempuh dari berbagai arah.
Yang unik, alun-alun ini terbagi menjadi dua karena dibelah oleh jalan dua arah yang menghubungkan ruas jalan yang satu dengan ruas jalan yang lain. Meski masih terintegrasi, tetapi masyarakat menyebutnya sebagai alun-alun barat dan alun-alun timur. Sementara tepat di tengah belahan jalan, terdapat sebuah monumen perjuangan.
Selain itu, tak ada lagi keunikan lain yang dimiliki alun-alun Serang. Yang ada, akhir-akhir ini, adalah kekumuhan dan kesemrawutan dengan ceceran sampah di mana-mana.
Tidak percaya?
Cobalah datang sesekali pada minggu pagi. Di sana kita akan menjumpai pasar tumpah, bukan lagi alun-alun sebagai ruang publik yang aman dan nyaman sebagai tempat hiburan bagi keluarga. Untuk sekadar jalan kaki atau berlari-lari kecil mengelilingi alun-alun pun sulit kita lakukan.
Masuk ke dalam – baik ke alun-alun barat maupun timur – kita akan langsung berdesakan dengan para pedagang yang jumlahnya sebanding dengan jumlah pengunjung yang datang. Yang dijual amat beragam. Dari mainan, pakaian, makanan, minuman, bunga dengan segala jenisnya, perlengkapan rumah tangga, hingga buah-buahan. Satu waktu, bahkan sangat mungkin di alun-alun juga akan dijual hewan ternak seperti ayam, bebek, ikan basah atau barang dagangan lain yang cepat membusuk dan menimbulkan bau tidak sedap, menyebabkan becak, dan sebagainya.
Begitu pula di sepanjang trotoar yang sejatinya hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki, terkapling oleh para pedagang yang menggelar dagangannya. Jalan yang mengelilingi alun-alun pun setali tiga uang. Penuh sesak, baik oleh kendaraan yang melintas maupun yang parkir, becak yang mencari penumpang, hingga orang-orang yang berlalu lalang. Semua menyatu khas pasar tumpah, pasar kaget, atau bahkan pasar tradisional.
Anehnya, dalam situasi kekumuhan, kesemrawutan, dan ketidaktertiban ini, nyaris tak ada upaya pemerintah melakukan penataan, sehingga alun-alun menjadi aman nyaman, tertib, dan teratur, tanpa harus menghilangkan hak bagi siapa pun untuk memanfaatkannya. Dan sebagai ikon kota tak semestinya ruang publik ini menjadi pasar yang membuat wajah kota menjadi semakin buram, kusam, dan tentu saja tidak berwibawa.
Mengapa harus ditata?
Di luar maupun di dalam alun-alun ada beragam aktivitas, dari yang sekadar berolahraga hingga yang berjual beli. Dan di balik keberagaman aktivitas itu, selalu ada pelanggaran ataupun penyerobotan hak orang lain, seperti pedagang mengapling trotoar untuk menggelar dagangannya, parkir kendaraan yang tidak pada tempatnya, dan lain-lain.
Nah, di sinilah pentingnya pemerintah membuat semacam regulasi seputar pemanfaatan alun-alun sebagai ruang publik, khususnya pada setiap minggu pagi atau hari-hari lain yang ramai dikunjungi masyarakat. Misalnya, tentang larangan bagi pedagang untuk berjualan di sepanjang trotoar dan area-area tertentu di alun-alun. Kemudian, jenis dagangan apa yang boleh dijual, plus dalam kapasitas berapa, dan larangan parkir di lokasi-lokasi tertentu yang bisa menimbulkan kemacetan.
Aturan-aturan itu perlu dibuat sepaket dengan sanksinya, dan tentu saja harus dijalankan dengan konsisten, bukan anget-anget tai ayam seperti pelarangan becak melintasi jalan-jalan protokol di Kota Serang.
Pada awal-awal peraturan itu diberlakukan, kita melihat bagaimana aparat pemerintah rajin melakukan razia termasuk memberikan sanksi kepada tukang becak yang kedapatan beroperasi di jalur-jalur ‘terlarang’. Tapi, setelahnya, tak ada lagi pengawasan, apalagi razia. Akibatnya, kini para tukang becak santai saja melintasi ruas-ruas jalan tersebut.
Ketidakkonsistenan dalam menerapkan aturan beserta sanksinya hanya akan membuat pemerintah kehilangan muka dan wibawa di mata warganya. Dalam konteks alun-alun, pemerintah tak punya pilihan kecuali segera mengambil langkah-langkah tadi. Jika dibiarkan, alun-alun Serang pada akhirnya akan benar-benar menjadi pasar dengan segala kekumuhan dan kesemrawutan yang semakin tidak terkendali.
Para pedagang akan semakin sulit diatur karena merasa telah memperoleh legalitas setelah sekian lama dibiarkan bebas berjualan, terlebih jika selama ini mereka juga dimintai retribusi oleh petugas. Ujung-ujungnya akan muncul problem baru yang lebih kompleks lagi, dan pemerintah pun akan semakin kehilangan muka dan wibawa saja.
Tapi, semua pilihan itu ada di tangan pemerintah!***

 


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

setuju se-x agar penyakit tidak tambah kronis, maka diobati sejak dini.

Komentar oleh Dayan




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: