Bantencorner’s Weblog


Sian Fu dan Serang tempo Doeloe: Menjelajah ke Masa Lalu
Maret 8, 2008, 9:08 am
Filed under: Kisah

Pada sebuah kursi plastik yang warnanya mulai memudar, siang itu, Sian Fu duduk dengan kaki kanan mengapit kaki kiri. Ia asyik membaca sebuah koran lokal. Entah, berita apa yang dibaca. Tapi, itulah aktivitas rutin yang dilakukannya hampir saban hari di sebuah ruko di kawasan Royal, Serang, dari pukul 10 pagi hingga 12 siang. Sian Fu baru menghentikan aktivitas rutinnya manakala sang cucu pulang sekolah. Dan hari itu, ia ditemani sang anak, Muhammad Iwan, yang lebih dikenal sebagai Iwan Nit Net.
***
PERHATIANNYA seketika berubah manakala penulis datang dan menyapanya. “Mari silakan duduk,” ujarnya dengan ramah.
Dari situ obrolan tercipta. Temanya tak jauh dari persoalan masa lalunya, saat ia masih muda. Ia berkisah tentang media massa, tentang Kota Serang tempo doeloe, tentang harmonisasi kehidupan masa lalu yang tak berjurang antara masyarakat pribumi dan warga keturunan.
Yang luar biasa, kendati usianya sudah uzur (75 tahun), Sian Fu masih mampu bercerita panjang lebar, dengan suara dan pendengaran cukup jelas. Ingatannya terhadap berbagai peristiwa masa lalu juga masih cukup tajam. Hanya sesekali obrolan terhenti, itu pun karena Sian Fu harus rehat untuk minum.
***
Tak banyak yang tahu siapa Sian Fu sebetulnya. Kalaupun ada yang mengenal, ia dikenal barangkali tak lebih dari seorang warga keturunan biasa, sebagaimana masyarakat secara umum mengenal warga keturunan lain yang tinggal dan berniaga di kawasan Royal. Tapi, sosok yang telah berusia uzur ini lain. Ia adalah sedikit saksi mata yang masih hidup sekaligus pernah mengikuti secara aktif denyut nadi dari perjalanan Kota Serang, setidaknya dalam setengah abad ke belakang.

Dari Bung Karno sampai Pabrik Baja Trikora
Lima puluh tahun silam, saat usianya baru dua puluhan, Sian Fu adalah seorang wartawan sekaligus tukang foto alias fotografer pada sebuah majalah bernama Utusan Banten – dan kemudian berubah menjadi tabloid Gelora Massa — yang ia dirikan bersama tiga rekannya yang lain. (tentang Utusan Banten dan Gelora Massa, lihat Jejak Penerbitan Pers di Banten Setengah Abad Silam, Radar Banten edisi Minggu 3 Februari 2008).
Kenangannya pada masa 50 tahun lampau masih terekam dalam ingatan. Misalnya, ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Serang pada sekitar 1957. Karena tahu Soekarno bakal datang, Gelora Massa membuat artikel yang berisi bahwa masyarakat Banten merasa dianaktirikan oleh pemerintah pusat.
“Koran (tabloid, Red.) yang berisi artikel itu sengaja kami taroh di meja tempat di mana Bung Karno akan berorasi. Maka, dengan sendirinya Bung Karno pun membaca artikel tersebut,” kata Sian Fu yang memiliki nama pena Chemmy.
Dalam orasinya, Bung Karno menyatakan bahwa tidak benar Banten dan masyarakatnya dianaktirikan. “Sebaliknya, kata Bung Karno, pemerintah ingin mengembangkan Banten,” ujar Sian Fu seraya bercerita bahwa benih-benih keinginan masyarakat Banten untuk mendirikan provinsi sendiri sudah muncul saat itu, meski tidak diungkapkan secara gamblang.
Masih terkait dengan kehadiran Bung Karno di Serang, Sian Fu juga memiliki kisah menarik. Selepas berorasi di alun-alun, Bung Karno dijamu di Karesidenan. Beragam menu masakan disajikan. Namun, setiap kali Bung Karno menikmati hidangan yang disajikan kepadanya, setiap itu pula ibu-ibu berebut mengambil piring bekas Bung Karno. “Sisa makanan Bung Karno diperebutkan untuk dimakan ibu-ibu,” kata Sian Fu sambil tersenyum.
Cerita lain yang masih diingatnya adalah ketika berlangsung pro kontra tentang rencana pembangunan pabrik baja di Cilegon. Pada sebagian masyarakat kala itu ada kekhawatiran bahwa dengan didirikannya pabrik baja, daerah Banten akan dikomuniskan.
Kekhawatiran itu cukup dimaklumi. Selain situasi politik yang tidak menentu karena munculnya komunisme, pabrik baja yang dinamai Pabrik Baja Trikora (kini PT Krakatau Steel, Red.) itu dananya berasal dari Uni Sovyet yang berhaluan komunis. “Kondisi ini terus berlangsung hingga waktu peresmian. Tiba-tiba beredar isu ancaman bom. Bung Karno pun tak jadi datang untuk meresmikan. Sebagai gantinya, yang meresmikan adalah Menteri Keuangan Subandrio,” kata Sian Fu yang ikut hadir dalam peristiwa itu untuk meliput.
Selepas peresmian, dilakukan semacam pesta syukuran di pantai Pulorida. Ketika pesta berlangsung, tiba-tiba hujan turun. Panitia kelimpungan. Segenap cara dilakukan untuk menghentikan hujan, termasuk meminta tolong kepada sekelompok orang Baduy yang kebetulan hadir dalam acara itu. “Saya menyaksikan sendiri, orang Baduy itu kemudian membaca sesuatu. Tak lama setelah itu, hujan berpindah arah,” kata Sian Fu sambil geleng-geleng kepala.

Serang Tempo Doeloe
Sudah lebih dari satu jam obrolan berlangsung, tapi tak ada tanda-tanda Sian Fu hendak menghentikannya. Hanya beberapa detik saja rehat, itu pun hanya untuk minum. Setelah itu Sian Fu kembali bercerita. Kali ini tentang Kota Serang tempo doeloe.
Kota Serang setengah abad yang lalu masih sangat lengang. Jangankan mobil, motor pun masih amat jarang. Moda transportasi yang dominan waktu itu adalah delman dan sepeda. Becak, juga belum ada. Untuk perjalanan jauh, ditempuh dengan naik kereta api. “Termasuk ke Cilegon, naiknya ya kereta api. Dan jarang ada yang berani malam-malam pergi ke Cilegon. Suasananya masih belum aman dan sangat mencekam,” urainya.
Adapun mobil, Sian Fu menghitung bahwa di Serang hanya dimiliki tidak lebih oleh empat sampai lima orang saja. “Pernah ada bemo, tapi hanya satu-satunya. Pemiliknya dulu tinggal di depan kantor BNI. Setelah itu tidak ada lagi,” katanya.
Sedangkan sepeda motor, jumlahnya sedikit lebih banyak, tetapi umumnya dipakai oleh para pejabat pemerintahan dan polisi. “Di antaranya ada motor DKW, Ducati, dan motor Jawa,” urai Sian Fu.
Tentang sepeda motor, Sian Fu teringat akan perempuan pengendara motor. “Namanya saya sudah lupa, tapi dia siswi SMEP (sekolah menengah ekonomi pertama, sekarang berganti SMP), tiap hari dia mengendarai motor Jawa yang besar,” kata Sian Fu agak terkekeh.
Ingatan lain tentang Kota Serang tempo doeloe yang masih terekam olehnya adalah soal bangunan-bangunan fisik. Dulu, kata dia, kawasan Pocis dan Royal adalah kawasan pemukiman dengan bentuk bangunan yang masih amat sederhana. Drainase kota juga amat lancar karena airnya mengalir. “Sekarang tidak lagi,” katanya.
“Rumah sakit sudah ada sejak dulu. O ya, di tugu alun-alun itu (sekarang menjadi tugu pahlawan) dulu ada sumur tempat orang mandi,” ujar Sian Fu seraya menambahkan bahwa suasana pusat Kota Serang waktu itu masih lengang, karena belum banyak gedung dan bangunan berdiri.

Pembaruan dan Harmonisasi
Kenangan lain dari seorang Sian Fu adalah tentang semangat kebersamaan dan harmonisasi masyarakat Serang waktu itu. Sian Fu berkisah, kendati dilahirkan sebagai warga keturunan, ia merasa tidak ada perbedaan mencolok dengan masyarakat pribumi pada umumnya. “Kami membaur dan akrab dengan seluruh masyarakat, tak ada perbedaan perlakuan. Bahkan, saling berjabat tangan antara warga keturunan dengan masyarakat pribumi pada waktu itu adalah hal yang biasa,” kata Sian Fu.
Toleransi beragama pun terjalin harmonis. Sebagai contoh betapa harmonisnya kehidupan beragama kala itu, Sian Fu mengisahkan soal tradisi kirim makanan. Kata dia, di Gang Rendah, setiap perayaan maulidan, dari rumah-rumah Tionghoa dikirim makanan ke masjid. Begitu pun saat bulan puasa. “Kami seolah ikut puasa untuk menghormati umat muslim,” ujarnya.
Namun, sejak 1960-an suasananya agak berubah seiring berubahnya peta perpolitikan di tanah air. Hubungan yang dulunya begitu cair dan nyaris tanpa jarak, menjadi sedikit lebih kaku. Hal itu pula yang kini disesalkan Sian Fu, termasuk oleh M Iwan, sang anak. “Sayang memang, suasana yang harmonis itu tidak dilanjutkan oleh anak keturunannya. Padahal, dulu kakek saya berkawan akrab dengan Jaro Kamid,” timpal Iwan.
Tapi Sian Fu tetap beruntung. Nasionalismenya yang dimanifestasikan dalam berbagai kiprahnya, telah terwariskan kepada sang anak, M Iwan dan Victor Sutanto. Iwan tak hanya memiliki bakat fotografi seperti ayahnya, tetapi ia masuk lebih dalam lagi. Cintanya terhadap Indonesia bahkan Banten, tak ada yang meragukan.
Ia menggali berbagai data tentang Banten, ia bersahabat sangat dekat dengan masyarakat Baduy, dan kini ia aktif dalam dunia pertanian. Dan bahkan, Iwan menikahi perempuan pribumi. Seiring dengan itu namanya pun berubah dari Ko Haw-Haw menjadi Mohammad Iwan Subakti Koharjaya. Begitupun dengan Victor Sutanto yang juga mempersunting perempuan pribumi.
“Dalam perjalanan ini, saya bersyukur dan berterimakasih kepala keluarga besar Sayuti, yaitu Agus Sayuti almarhum dan Hajah Halimah almarhumah beserta putra-putrinya yang telah membimbing serta membentuk kepribadian saya dalam hal bermasyarakat dan adaptasi kebangsaan Indonesia yang berjalan dengan baik,” urainya.

Tempat OERIDAB Disimpan
Sian Fu lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah, 8 Maret 1933, dengan nama Ko Kian Hoe. Ia pindah ke Banten (Serang) pada 1948, tepatnya menjelang agresi militer kedua Belanda. Waktu itu Banjarnegara dan wilayah sekitarnya dibumihanguskan seiring masuknya tentara Belanda ke Yogyakarta. “Maka kami pun mengungsi ke daerah Pekalongan,” kata Sian Fu mengenan kembali masa lalunya.
Tak lama berada di pengungsian, Sian Fu dan keluarga dijemput sang ayah untuk selanjutnya tinggal dan menetap di Serang. “Kami naik kapal kecil dari Pekalongan ke Tanjung Priok, dan selanjutnya tiba di Serang,” urainya.
Sian Fu juga masih mengingat masa-masa awal tinggal si Serang. Menurutnya, selain sebagai tempat tinggal, rumahnya kala itu sekaligus menjadi tempat penyimpanan uang yang dicetak oleh Pemerintahan Karesidenan Banten yang kerap disebut OERIDAB (Oeang Repoeblik Indonesia Daerah Banten).
“Saya menyaksikan uang yang belum dikasih nomor itu numpuk,” kata Sian Fu, sembari menambahkan bahwa uang tersebut berbahan kertas HVS berwarna warni tersimpan di sebuah lemari. Sayang sekali, kini benda bernilai bersejarah itu tak bersisa satu pun.
Tak hanya soal uang OERIDAB, bahkan dokumen-dokumen lain ikut lenyap seiring dengan berubahnya suhu perpolitikan di tanah air. “Kala itu sekitar tahun 1960-an, politik sedang berubah, kami warga minoritas dicurigai. Karena takut ada sweeping, berbagai dokumen itu dibakar ibu,” tutur Sian Fu.
Selain OERIDAB, dokumen-dokumen penting lainnya yang kini hilang tak berbekas itu adalah foto-foto ketika Bung Karno berkunjung ke Banten hasil jepretan Sian Fu, termasuk majalah Utusan Banten dan Gelora Massa. “Pokoknya, dokumen apa pun yang memungkinkan kami dicurigai, dibakar ibu,” timpalnya.
Sian Fu sendiri mengaku menyesali hal itu. Sebab, di antara dokumen-dokumen itu merupakan bagian dari tinggalan sejarah yang bisa lebih menjelaskan jejak masa lalu Serang atau Banten. Namun, apa hendak dikata. Karena dihadapkan situasi yang sulit, maka tak ada cara lain selain menghilangkannya.
***
Karir Sian Fu di bidang kewartawanan tak begitu lama. Pada 1962 ia meninggalkan Serang untuk bekerja dalam pembangunan Universitas Respublika (kini Universitas Trisakti) di Bandung. Tahun 1979 ia kembali ke Serang dan membuka praktik pengobatan tusuk jarum hingga 1984. Lalu, terhitung dari 1984 hingga 1988 ia kembali beralih profesi, dengan menjadi karyawan di sebuah perusahaan konstruksi
Saat ini, seiring dengan usianya yang kian uzur, Sian Fu tak lagi bekerja. Aktivitas rutin yang masih setia ia lakoni setiap hari adalah menunggui sang cucu, Mimosa Pudica Koharjaya pulang sekolah sambil membaca koran yang ia langgani.
***
Meski belum ada tanda akan dihentikan, tetapi obrolan sudah berlangsung dua jam lebih. Siang semakin terik, karenanya perbincangan hangat beda generasi ini harus berhenti pula. Di akhir obrolan, Sian Fu hanya berharap satu hal saja: Ia ingin tulisan ini dimuat tak jauh dari hari ulang tahunnya yang ke-75, tanggal 8 Maret 2008.
“Barangkali ini akan menjadi catatan tentang saya yang terakhir,” kata Sian Fu.
Selamat ulang tahun………….!**

Catatan: Wawancara dilakukan akhir Januari 2008

 

 


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

bagus sekali
slm knl

Komentar oleh Teguh Iman Prasetya




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: