Bantencorner’s Weblog


Masyarakat Masakin(i)
Maret 8, 2008, 9:05 am
Filed under: Kolom

Di Kota Serang tercatat 12.857 anak yang tidak tamat sekolah dasar (SD). Lalu, dari 1.577 ruang belajar di tingkat SD, sebanyak 421 ruang dalam kondisi rusak berat, 445 rusak ringan, dan sisanya dalam keadaan baik. (Radar Banten, Kamis 28 Februari 2008)

Berdasarkan data di Dinas Kesehatan dan Sosial Kota Serang, hingga Desember 2007, dari sebanyak 67.030 bayi di Kota Serang, 785 di antaranya menderita gizi buruk. (Radar Banten, Jumat 29 Februari 2008)
***
BIARKAN angka yang bicara, sebab angka biasanya lebih nyata dibanding kata-kata. Dan, angka-angka di atas telah berbicara kepada kita bahwa masih cukup banyak anak yang putus sekolah (dasar). Masih cukup banyak pula bayi yang menderita gizi buruk.
Itu baru di Kota Serang yang wilayahnya tak begitu luas dan hanya terdiri dari enam kecamatan saja. Belum di kota/kabupaten lain yang wilayahnya lebih luas dengan jumlah kecamatan lebih banyak. Jika dijumlah (se Banten), niscaya angka-angka itu akan bertambah berkali lipat, dan sekaligus memberikan gambaran semakin nyata betapa masih (teramat) sangat banyak masyarakat yang hidupnya dalam ketidakberuntungan.
Akibat ketidakberuntungan pulalah mereka tak lagi bisa mengenyam bangku pendidikan, sekalipun hanya tingkat dasar. Juga tak mendapat asupan makanan yang mengenyangkan dan menyehatkan, sehingga harus kekurangan gizi.
Muara dari semua itu adalah karena faktor kemiskinan, baik bersifat kultural alias sudah dari sananya miskin, maupun bersifat struktural. Dalam arti, karena sistem (birokrasi) dan ketiadaan akses maupun kesempatan untuk mengubah nasib, mereka tetap menjadi miskin. Padahal, sesungguhnya mereka ingin dan punya potensi untuk lepas dari kemiskinan.
Sekadar contoh, ada orang memiliki kemampuan menjadi PNS dan dia berkali-ikut tes. Tetapi karena tidak memiliki akses, ia pun gagal dan tak pernah menjadi PNS. Ia ‘terkalahkan’ oleh orang yang sekali ikut tes tapi langsung diterima lantaran yang bersangkutan anak pejabat atau saudara dari pejabat (baca; memiliki akses). Kondisi inilah antara lain yang menyebabkan terjadinya kemiskinan struktural.
Untuk mengentaskannya, tentu tak cukup hanya dengan menyalurkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ke masing-masing sekolah, bukan dengan beras raskin, bukan pula dengan BLT alias bantuan langsung tunai. Karena semua bantuan itu sifatnya konsumtif, sekali pakai langsung habis.
Pemberian bantuan seperti demikian bahkan tidak membuat masyarakat kita mandiri dan bisa terlepas dari kemikinan. Sebaliknya, masyarakat akan terus dibuat ketergantungan, sehingga kemiskinan akan semakin menjadi-jadi dan jumlahnya terus bertambah. Ujung-ujungnya, yang repot selain masyarakat sendiri, juga pemerintah. Karena, berapa pun dana yang dikeluarkan, dan apapun yang diberikan, akan langsung habis dalam sekejap, tidak berbekas.
Memang tidak mudah mengatasi persoalan kemiskinan. Tapi, jika ada keseriusan dan ketulusan dari para pemilik regulasi, persoalan ini sebetulnya sangat mungkin dicarikan solusinya yang lebih dari sekadar memberikan berbagai bantuan yang sifatnya cuma-cuma. Adapun yang mengetahui cara dan formulanya, tak lain para pemilik regulasi sendiri. Toh, mereka bekerja dan dibayar (sebagai PNS, wakil rakyat), dengan tugas antara lain mengatasi persoalan-persoalan demikian. Dengan begitu, sebetulnya tidak ada alasan bagi mereka untuk berkelit, atau bahkan lari dari tanggung jawab.
Lebih jauh lagi, untuk mampu mengatasi problem kemiskinan ini dibutuhkan pemimpin yang kuat (strong leadership), dalam arti memiliki keberanian dan keteladanan, serta visi misi yang jelas lagi mengakar (membumi, bukan melangit). Tanpa modal tersebut, persoalan kemiskinan hanya akan menjadi wacana dan bahan diskusi yang tak akan pernah ada habisnya.
Khusus Kota Serang yang sebentar lagi akan menggelar pemilihan kepala daerah, semestinya persoalan kemiskinan dijadikan isu sentral oleh mereka yang berkehendak menjadi walikota. Tentu bukan sebatas isu yang laku dijual sebagai kecap nomor satu. Tetapi isu yang dikampanyekan dan diperjuangkan, dengan strong leadership-nya, yang berangkat dari ketulusan tentunya.
Jika tidak, siapa pun yang menjadi walikota, angka-angka di atas dalam waktu setahun ke depan saja niscaya akan terus bertambah, bahkan bisa berkali-kali lipat jumlahnya.
Tidak percaya? Mari kita buktikan!***


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: