Bantencorner’s Weblog


Mengubah Paradigma Sekolah
Maret 3, 2008, 3:28 am
Filed under: Kisah

Sulit menemukan suasana formal di lembaga pendidikan yang satu ini. Selain bangunannya yang amat sederhana – terbuat dari kayu dan beratap rumbia – aktivitas yang tercipta sama sekali jauh dari suasana sekolah pada umumnya yang serba formal. Itulah Sekolah Peradaban yang berlokasi di kawasan Sepang, Serang. Sebuah sekolah dengan konsep yang boleh dibilang ‘sangat bertolak belakang’ dengan sekolah-sekolah lain.
***
Siang itu (25/2) suasana sekolah agak lengang. Hanya ada beberapa siswa saja yang terlihat bermain. Kebanyakan tengah beristirahat dan menunaikan solat duhur. “Anak-anak barusan melakukan kegiatan out bond,” ungkap Bambang Wibowo, saat menyambut kedatangan wartawan koran ini.
Selepas jam 12, suasana kembali ramai dengan beragam aktivitas para siswa. Ada yang bermain bola, becek-becekan, dan permainan lain khas anak-anak. Mereka dibiarkan bermain sesuka hati kendati baju yang dikenakan basah atau kotor oleh lumpur. Sementara para pengelola (guru-guru, Red.), hanya mengawasi dari kejauhan. Sesekali saja mereka menegur, itupun sekadar mengingatkan atau mengarahkan saja.
Bambang sendiri hari itu cukup disibukkan dengan aktivitas seorang anak autis. Namanya Dani Fakih Noval, murid kelas empat. Tapi, dengan sabar dan telaten Bambang melayani apa yang diminta sang murid. “Dia (Dani, Red.) itu cerdas. Kemampuannya di bidang pemrograman komputer,” ungkap Bambang.
Kemana pun Bambang pergi, di situlah Dani ada. Bahkan ketika wawancara berlangsung di ruang atas kantor, Dani turut serta dan sesekali nimbrung sambil mengutak-atik handphone milik Bambang.
Bambang adalah salah seorang yang berada di belakang layar dari Sekolah Peradaban. Ia termasuk pendiri sekaligus konseptor sekolah ini. Adapun pengelolaan sekolah diserahkan kepada sang istri, Rahmiyana, yang hari itu ikut terlibat dalam perbincangan, ditemani beberapa guru lainnya.
Dalam perbincangan itulah terungkap tentang konsep dan gagasan dari sekolah ini, sekaligus alasan yang melandasi pendiriannya, sehingga baik kurikulum maupun sistem pengajarannya jauh berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya.
Menurut Rahmiyana, sistem pendidikan di Indonesia pada umumnya sudah tidak bisa dipakai karena cenderung melakukan pemaksaan kepada anak didik. “Untuk itu perlu dibuat sistem yang baru yang mencerahkan sekaligus menghargai anak didik,” ungkap Rahmiyana.
Dengan sistem baru yang coba diterapkan di Sekolah Peradaban ini, anak dibiarkan beraktivitas dan berkreativitas sesuai kemauan dan kecenderungannya, sehingga dengan sendirinya potensi dan kemampuan anak dapat terlihat sekaligus diasah dan diarahkan. “Sebab, hakekatnya anak yang bodoh itu tidak ada,” ujar Rahmiyana lagi yang mengaku bahwa sistem pendidikan di sekolahnya merupakan hasil gabungan dari berbagai sistem pendidikan, tapi disesuaikan dengan kultur Indonesia.
Seakan menegaskan apa yang disampaikan Rahmiyana, Bambang ikut angkat bicara. Menurutnya, sekolah ini melalui sistem pendidikan dan pengajarannya hanya ingin mengembalikan si anak sesuai kodratnya sebagai manusia. Karena sesungguhnya setiap anak itu champion (baca; unggul).
“Tidak ada anak yang bodoh atau nakal. Semua anak anak itu pintar. Dari berjuta-juta sperma, toh yang jadi hanya satu. Dan masing-masing anak merupakan hasil dari sperma yang jutaan jumlahnya itu. Sperma terunggul. Artinya, masing-masing anak itu memiliki keunggulan,” kata Bambang seakan mempertanyakan paradigma yang berlaku saat ini di masyarakat, terkait dengan adanya sebutan anak bodoh atau anak nakal.
Untuk itulah, imbuh Bambang, sekolah ini terbuka bagi siapa pun, termasuk bagi anak-anak autis semacam Dani. “Nyatanya Dani memiliki keunggulan dan kecerdasan luar biasa, terutama di bidang komputer dan matematika. Ini membuktikan bahwa setiap anak itu unggul,” ujarnya sambil melirik Dani yang kali ini asyik mencari cara menjinakan virus “Tati My Love” di sebuah laptop.
Dani adalah murid pindahan. Sebagai anak autis, ia dianggap bermasalah karena tingkah lakunya yang susah diatur dan dipahami. Kedua orangtuanya nyaris putus asa mencarikan sekolah untuk Dani karena hampir semuanya menolak. Hanya satu sekolah yang mau menerima keberadaan Dani, yakni di Sekolah Peradaban ini.
“Butuh perhatian ekstra untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada Dani. Tapi, dengan pola pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di sini, secara perlahan Dani sudah mulai berlaku seperti rekan-rekannya yang lain,” urai Bambang.
***
“Dani, sekarang ceritakan kamu itu siapa,” pinta Rahmiyana, direktur Sekolah Peradaban kepada Dani yang tengah asyik mengutak-atik laptop.
Tak ada respon. Ia malah asyik membuka sebuah program di komputer, sementara mulutnya tak henti bicara. Entah apa yang dibicarakan karena terlalu cepat.
“Ayo Dani, ceritakan sedikit saja, kamu itu siapa,” pinta Rahmiyana lagi. Alih-alih mendengarkan, Dani malah menarik lengan kiri bu guru sambil memperlihatkan sesuatu di layar monitor. “Tuh lihat tuh, Tati My Love,” kata Dani.
Beberapa hari ini Dani tengah dipusingkan dengan virus tersebut. Beberapa kali ia mencari cara ‘menaklukan’ virus itu. Mulai dari membuka internet hingga membedah program komputer. Tapi hasilnya selalu nihil. “Kalau sudah di depan komputer, ya seperti itu,” kata Bambang sambil tersenyum.
“Ayo dong Dani sedikit saja kamu cerita,” pinta Rahmiyana sekali lagi.
Kali ini Dani mendengar. “Namaku Dani Fakih Noval kelas empat SD.” Kata-katanya begitu cepat. “Saya anak hebat.”
“Hebatnya di mana?” Tanya Rahmiyana.
“Main komputer dan matematika,” jawab Dani singkat sambil jemarinya terus memainkan keyboard.
“Kenapa main komputer dan matematika?” Rahmiyana terus bertanya.
“Karena saya senang main komputer dan matematika,” jawab Dani lagi.
“Kalau sudah besar cita-citanya apa?” kali ini Rahmiyana memberikan pertanyaan lain.
“Mau bikin koran,” jawab Dani. Setelah itu, dialog terhenti karena Dani kembali asyik mengutak-atik laptop. Pertanyaan lanjutan yang disampaikan Rahmiyana sama sekali tak diresponnya.
Kendati butuh perhatian khusus, tetapi Rahmiyana, Bambang, maupun guru-guru lainnya tak menyimpan sedikit pun rasa kesal. Sebaliknya, mereka malah menyanjung kehebatan Dani.
“Kalau Microsoft tahu kehebatan Dani, Bill Gates mungkin mau mengadopsinya,” kata Bambang setengah bergurau.
Tapi, gurauan Bambang ada benarnya, karena Dani dalam usianya yang baru 9 tahun memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang pemrograman. “Saya saja kalah,” kata Fajar, guru komputer.
Dani, tentu bukan satu-satunya murid yang menjadi fokus perhatian para pengelola di sekolah ini. Seluruh murid diperlakukan sama. Yang berbeda adalah pemberian arahan dan bimbingan yang disesuaikan potensi masing-masing murid. “Dengan kebebasan berkreativitasnya, kita sesungguhnya memberikan pembelajaran yang acceleration. Dari situ, potensi dan kemampuannya akan segera terlihat. Kita, hanya sebatas mengarahkan saja,” ungkap Rahmiyana.
***
Rahmiyana selaku direktur sekolah menyebutkan beberapa hal yang menjadi ciri khas sekaligus sisi keunggulan Sekolah Peradaban. Selain menisbikan anak bodoh, sekolah ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan penekanan pada sisi praktik daripada teori (kontekstual). “Di sini tidak ada istilah atau sebutan guru, yang ada adalah fasilitator karena hakekatnya kami ini adalah fasilitator,” kata Rahmiyana.
Dengan begitu, dimungkinkan tak ada gap antara guru dan murid. Yang ada justru semangat kekeluargaan yang kental. Di samping itu ada pula kegiatan yang penekanannya pada pengembangan diri si anak semisal out bond. Sebab, dengan kegiatan seperti out bond, si anak mampu mendobrak sisi ‘aku tak bisa’ mereka menjadi bisa.
Agar lebih optimal dan maksimal dalam memberikan arahan dan bimbingan, sekolah ini menerapkan rasio 1 : 10. Artinya, 1 guru memiliki tanggung jawab untuk 10 murid. “Tidak seperti di sekolah-sekolah pada umumnya yang perbandingannya mencapai 1 : 40, bahkan 50 puluh,” tutur M Faiz A Rahman, kepala SD Peradaban yang ikut terlibat dalam perbincangan.
Sekolah Peradaban Serang hingga kini baru membuka dua jenjang pendidikan, jenjang Taman Kanak-kanak (TK), dan Sekolah Dasar (SD). Karena baru memasuki tahun keempat, maka kelas tertinggi di sekolah tersebut baru kelas empat SD. Sekolah ini berdiri di lahan seluas 7.800 meter per segi dengan suasana yang amat jauh dari kesan formal.
Bangunannya tidak seperti bangunan sekolah pada umumnya. Hanya terbuat dari kayu dengan bentuk panggung beratap rumbia. Hanya ada satu bangunan permanen, bantuan dari Dinas Pendidikan. Komplek pendidikan ini dilengkapi dengan lapangan sepakbola dan lapangan basket mini. Ada juga sarana outbond dan sebidang tanah khusus untuk anak-anak belajar bercocok tanam dilengkapi sebuah kolam ikan.
Suasana belajar di dalam kelas juga jauh dari kesan formal. Seperti siang itu, sambil lesehan para siswa dengan segala tingkah polahnya asyik mendengarkan pelajaran yang disampaikan guru. Ada yang menyandarkan tubuh, ada pula yang merebahkan tubuh di lantai, dan sebagainya. Mereka belajar dengan suasana gembira.***

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: