Bantencorner’s Weblog


Bambang Wibowo: Memanusiakan Manusia
Maret 3, 2008, 3:30 am
Filed under: Apa Siapa, Kolom

SULIT mengaitkan latar belakang pendidikannya yang sarjana geofisika dengan lembaga pendidikan yang dikelolanya. Ia bahkan begitu low profile, jauh dari sikap kaku sebagaimana umumnya orang eksakta. Tapi, itulah Bambang Wibowo.
Bambang sebagai salah seorang konseptor, pendiri sekaligus pengelola Sekolah Peradaban, justru memiliki segudang konsep tentang sistem pendidikan yang lebih memanusiakan manusia, tak kalah dari orang-orang yang berlatar belakang sarjana kependidikan.
Salah satu konsep yang tengah diwujudkannya ya di Sekolah Peradaban ini. “Cita-citanya, melalui sekolah ini kita ingin mempersiapkan anak didik menjadi dirinya sendiri, karena mereka dilahirkan untuk zaman yang berbeda dengan kita. Dengan sistem pendidikan yang diterapkan di sini, si anak dikembalikan fitrahnya sebagai anak yang unggul,” kata Bambang.
Bambang sendiri tidak secara langsung terlibat dalam pengelolaan. Ia malah berada di belakang layar, dan hanya duduk sebagai salah satu pengurus di Yayasan Insan Peradaban yang menaungi sekolah ini. Adapun untuk pengelolaan, diserahkan kepada sang istri, Rahmiyana, dan guru-guru lainnya.
Selain di Serang, Sekolah Peradaban juga terdapat di Cilegon, tepatnya di daerah Palas. “Untuk yang di Cilegon, pengelolanya Ibu Irna Yossi yang sekaligus konspetor atas kurikulum yang ada di Sekolah Peradaban. Malah Sekolah Peradaban di Cilegon lebih dulu setahun dibanding yang di Serang,” ujar Rahmiyana.
Konsep lain yang ingin dikembangkan Bambang adalah lembaga pendidikan berbasis pesantren modern. Tapi bukan seperti pesantren modern pada umumnya. Salah satu ciri khas pesantren ini adalah bahwa setiap santri wajib pulang ke rumahnya setiap akhir pekan. Mereka baru kembali ke pesantren pada Minggu malam atau Senin paginya.
Konsep ini amat bertolak belakang dengan pesantren modern yang sudah ada. Sebab, santri biasanya hanya boleh pulang pada waktu-waktu tertentu saja, semisal liburan atau karena ada keperluan lain. Nah, di dalam hal ini Bambang memiliki cara pandang berbeda.
Menurut Bambang, jika santri boleh pulang hanya pada saat liburan, interaksi dengan orangtua dan keluarga sangat singkat dan amat terbatas. Padahal, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang seimbang, antara pendidikan di dalam lingkungan keluarga dan di luar lingkungan pendidikan. “Dengan diwajibkan pulang setiap pekan ke rumahnya, hubungan antara santri dengan orangtua akan terjalin dengan baik,” kata Bambang.
Gagasan lain Bambang adalah ingin agar para guru tidak sebatas melakukan kewajibannya sebagai pengajar dengan hanya memperoleh gaji sebagai tenaga pengajar. Tapi ia ingin guru-guru itu sekaligus sebagai pemilik saham. Dengan demikian, para guru akan memiliki kecintaan yang tinggi terhadap sekolah dan anak-anak didiknya.
Caranya?
“Kita berikan guru kesempatan untuk mengelola unit-unit tertentu yang ada di sekolah. Misalnya mobil jemputan, katering, dan lain-lain. Melalui cara tersebut, selain memperoleh gaji sebagai tenaga pendidik, guru pun memiliki pendapatan lain,” kata Bambang yang merasa yakin konsep-konsepnya satu saat akan terwujud seperti ia mewujudkan Sekolah Peradaban.**

 


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

semoga ide2nya terwujud, bukan hanya memanusiakana murid tp guru2 jg hrs dimanusiakan

Komentar oleh Anonim

Memanusiakan manusia, semoga guru manusia juga di manusiakan agar manusia menjadi manusia yg seutuhnya.

Komentar oleh manusia

semoga memanusiakan manusia dapat diimplementasikan dengan kehidupan sehari – hari bukan saja jadi wacana semata

Komentar oleh wahyu




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: