Bantencorner’s Weblog


Wajah Kota Kita
Februari 22, 2008, 3:45 am
Filed under: Kolom

SELAMA delapan tahun belakangan ini kita menyaksikan perkembangan yang cukup luar biasa dari geliat ibukota Provinsi Banten, Serang. Selain arus lalu lintas yang kian hari kian padat, di kiri kanan jalan, kini nyaris tak ada lahan yang tersisa. Berbagai bangunan baru bermunculan dan memagari jalan-jalan protokol, khususnya bangunan ruko alias rumah dan toko.
Perkembangan Kota Serang yang semakin dinamis itu tak hanya bisa kita lihat di sepanjang jalan Jenderal Sudirman, Ahmad Yani hingga Veteran, tetapi juga kawasan lain seperti Lingkar Selatan yang dulu begitu sepi, gelap, dan angker, sehingga jarang orang melintas, apalagi menjadikannya sebagai lahan usaha. Tapi, kini ruas jalan tersebut sudah semakin ramai dan menjadi kawasan yang cukup strategis untuk usaha apapun.
Para pemilik kapital berdatangan menginvestasikan uangnya dalam beragam jenis usaha. Misalnya, membuat ruko, membangun perumahan, membukai gerai ini dan itu, hingga jenis usaha lain yang dulu boro-boro bisa laku di Serang, semisal jasa laundry dan sebagainya. Kafe dan rumah makan pun bertebaran hampir di sepanjang jalan di kawasan Kota Serang. Begitu pula dengan bank, hotel, maupun pusat perbelanjaan.
Sungguh luar biasa!
***
Geliat yang sedang terjadi di Serang tentu tak lepas dari statusnya sebagai ibukota provinsi. Tanpa status ibukota, barangkali perubahannya tak secepat ini. Karenanya, wajar jika Serang menjadi magnet tersendiri bagi para pendatang, pencari kerja, maupun pemilik kapital. Sebab, Serang kini lebih menjanjikan dibanding delapan tahun silam.
Hanya sayang, perubahan yang terjadi seperti tidak terantisipasi dan terprediksi dengan baik. Sehingga wajah kota yang sedang berubah itu tidak malah menjadi cantik, indah, tertib, dan humanis. Tetapi sebaliknya, menyimpan wajah kota yang semrawut, kusut, dan tentu saja amat tidak ramah.
Dan perubahan yang terjadi pun senyatanya lebih menguntungkan para pemilik kapital, sementara masyarakat semakin termarjinalisasi. Sebagai bukti adalah kemunculan ruko dan bangunan baru di sepanjang jalur di kawasan kota yang seperti jamur di musim hujan, tidak disertai sama sekali dengan penambahan ruang publik.
Alun-alun sebagai sedikit dari ruang publik yang kita punya, belakangan lebih banyak menjadi ruang komersil para pemilik modal dibanding menjadi ruang publik sesungguhnya. Lihatlah, nyaris setiap Sabtu malam tempat itu menjadi sarana promosi berbagai produk yang dibungkus dengan pagelaran ini itu dengan mengatasnamakan, semisal, pesta rakyat, hiburan rakyat, dan sebagainya.
Esok paginya sami mawon. Rasa nyaman untuk lari pagi atau sebatas rileks bersama keluarga hilang seiring dengan berjubelnya para pemilik modal tadi, mulai dari perusahaan besar yang menggelar berbagai acara dalam rangka mempromosikan produknya, hingga para pedagang kaki lima yang menjual mainan anak, hingga makanan. Alun-alun pun berubah layaknya sebuah pasar tumpah dengan sampah yang berserakan di mana-mana. Pun trotoar, yang semestinya hanya menjadi ruang untuk para pejalan kaki, di beberapa lokasi tersapu oleh lapak-lapak milik para pedagang kaki lima.
Ketidakramahan juga terasa di jalanan. Ruas jalan yang sempit tak hanya semakin padat oleh jumlah kendaraan yang semakin banyak, tapi diperparah oleh kondisinya yang berlubang, serta keberadaan para pengamen, anak-anak jalanan, maupun peminta-minta, khususnya di lampu-lampu merah. Belum lagi keberadaan orang gila yang begitu mudah kita jumpai di jalanan, dan terkesan dibiarkan berkeliaran.
***
Wajah yang mulai cenderung kapitalis dan tidak humanis ini sesungguhnya merupakan problem besar bagi kota Serang hari ini dan untuk masa yang akan datang. Jika tidak disikapi secara serius, terutama oleh para pemegang regulasi, bisa menimbulkan beragam problem baru yang semakin kompleks dan sulit dipecahkan. Tanpa keseriusan dan kesungguhan pemerintah dalam menata kota, maka perubahannya akan semakin tidak terkendali.
Kondisi ini merupakan PR sekaligus tantangan yang harus dijawab dan dihadapi oleh mereka yang berkehendak menjadi walikota. Jadi, jangan pernah (berani) mencalonkan sebelum memiliki konsep dan jawaban yang jitu untuk mengatasi dan menata kembali wajah kota kita yang mulai tak ramah ini!
Bukan begitu?***

 


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Pak Haji, ada yang ketinggalan. Di Serang juga ada authorized toyota dealer loh…semakin bulan semakin meningkat penjualannya. Numpang promo yah…

Komentar oleh nino tri

maaf..
dibanten atau khusus serang
untuk situs sejarah saja tidak diperhatikan / dipelihara / dilestarikan
kakek saya saja pencetak uang oeridab banten dan pejuang banten tidak diperhatikan hingga akhir hayatnya
jadi banyak orang yg ngaku pahlawan tapi kebanyakan kesiangan dan berkhianat naudzubillah
sementara yg benar berjuang oarang orangnya ditindas dan dihilangkan
apakah itu watak bangsa banten masa allah

Komentar oleh moch.rinto kurniawan




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: