Bantencorner’s Weblog


Bebas, Bukan Bablas
Februari 15, 2008, 4:59 am
Filed under: Kolom

DALAM sejumlah forum diskusi maupun pelatihan jurnalistik di mana penulis menjadi salah satu pematerinya, kerap kali peserta mengeluhkan tentang kebebasan pers yang dinilai cenderung kebablasan. Keluhan itu terlontar oleh karena peserta biasanya pernah mengalami pengalaman buruk dengan pers.
Keluhannya pun bermacam-macam. Mulai dari ulah oknum wartawan yang kurang mengindahkan sopan santun, oknum wartawan yang sehabis konfirmasi minta uang transport, hingga masalah pemberitaan yang kurang sesuai fakta, atau terlalu tendensius, sehingga merugikan narasumber ataupun pihak tertentu.
Ujung-ujungya, biasanya mereka tidak lagi sekadar mempertanyakan, tetapi lebih cenderung menggugat kebebasan pers. “Buat apa ada kebebasan pers kalau kebebasan itu malah merugikan? Kebebasan pers bahkan cenderung menciderai hak asasi orang lain!” gugat seorang guru sebuah sekolah saat mendamping murid-muridnya ketika melakukan kunjungan jurnalistik ke Radar Banten, Sabtu (9/2) pekan lalu.
Lantas, apakah karena itu kebebasan pers harus kita bungkam?
Membungkam kebebasan tentu bukan langkah yang dewasa. Bukan pula menjadi semacam panasea. Sebab, jika kebebasan dibungkam, yang terjadi adalah situasi yang membuat kita mundur ke belakang, seperti masa ketika Orde Baru berkuasa. Di mana bukan saja jumlah media yang dibatasi, pemberitaan yang dibuat pun harus selalu ‘sesuai keinginan’ penguasa. Jika tidak, siap-siap saja media diberedel, dan wartawannya masuk bui.
Maka, tak ada alasan bagi siapa pun untuk membungkam kebebasan pers. Sebaliknya, kebebasan adalah anugerah yang patut disyukuri, bukan saja oleh kalangan pers, tetapi juga oleh masyarakat secara luas.
Adapun tentang dampak negatif dari kebebasan pers seperti dikeluhkan oleh banyak pihak, agaknya penting kita menyimak imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada puncak Hari Pers Nasional 2008 di Semarang, 9 Februari lalu. Menurut SBY, pers harus melakukan refleksi kritis dan otokritis. Caranya dengan melakukan evaluasi apakah dengan kebebasan pers yang dimiliki saat ini semua yang diperankan pers sudah tepat dan betul-betul membawa manfaat bagi bangsa.
Di samping itu, pers juga perlu melakukan sensor. “Dari kasus kartun nabi Muhammad di Denmark, pelajaran yang kita peroleh (adalah) kebebasan pers tidak absolut. Selalu ada pagar-pagar,” demikian imbauan Presiden SBY sebagaimana dikutip dari sebuah harian.
Apa yang dilontarkan Presiden SBY setidaknya mengandung dua pesan. Pertama, sebagai cermin terutama bagi kalangan pers agar tidak menjadikan kebebasan sebagai legitimasi untuk melakukan segala kegiatan jurnalitik secara bablas. Kedua, Pernyataan Presiden SBY adalah komitmen sekaligus garansi bahwa kebebasan pers di negeri ini tak hendak dibungkam.
Terpenting lagi. Selain refleksi kritis, otokritik, dan sensor yang harus dilakukan pers, andil masyarakat agar pers tidak bablas adalah sesuatu yang mutlak dibutuhkan. Antara lain dengan melakukan pengawasan secara aktif, serta meluruskan kealpaan yang dibuat pers, sesuai dengan aturan main (baca; aturan hukum) yang berlaku.
***
Beberapa waktu lalu kita dikejutkan oleh protes dan keberatan umat Katolik atas majalah Tempo (edisi 4-10 Februari 2008) dengan gambar sampul Soeharto didampingi anak-anaknya, ‘meniru’ sebuah gambar yang disakralkan oleh umat Katolik.
Komposisi gambar yang ditampilkan Tempo rupanya serupa dengan tata letak The Last Supper karya Leonardo da Vinci, yang menggambarkan Yesus Kristus dan murid-muridnya. Atas dasar itulah, umat Katolik pun protes dan merasa keberatan terhadap Tempo yang menampilkan gambar sampul demikian. Tempo meminta maaf atas kealpaannya, dan umat Katolik pun memaafkan.
Seandainya tidak ada protes dan keberatan (baca; pengawasan), barangkala Tempo akan terus alpa dalam kebablasan. Tapi, untung ada yang yang mengingatkan – berupa protes dan penyampaian keberatan oleh umat Katolik — sehingga Tempo pun segera menyadari kebablasannya.
Dari kasus ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kebablasan sesungguhnya dapat kita hentikan tanpa harus membungkam kebebasan. Jadi, kenapa harus dibungkam?***

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: