Bantencorner’s Weblog


Buang Hajat
Februari 8, 2008, 6:39 am
Filed under: Kolom

SELASA (7/2) pekan lalu, penulis diminta rekan-rekan dari UNICEF untuk terlibat dalam penilaian lomba kebersihan antar-RT di Desa Curug, Kecamatan Curug, Kota Serang, terkait dengan kampanye tentang bahaya penyakit flu burung dan cara pencegahannya. Selain penulis, ada juga dokter puskesmas kecamatan setempat, dan dua orang lainnya yang terlibat dalam penilaian. Selama setengah harian kami berkeliling melihat lebih dekat kondisi lingkungan di wilayah kelurahan tersebut.
Sambil berkeliling, sejumlah warga kami datangi. Kami berdialog dengan mereka terutama tentang seputar flu burung, di antaranya dengan seorang ibu setengah baya.
“Ibu punya ayam berapa?”
“Saya mah nggak punya ayam”
“Tapi, Ibu tahu nggak flu burung?”
“Saya mah nggak tahu apa itu flu burung. Emangnya, mau ada flu burung gitu?”
Jawaban terakhir si ibu yang lugu membuat kami manggut-manggut. Lucu sekaligus miris. Lebih miris lagi, selain tingkat pemahaman yang masih kurang, si ibu dan warga pada umumnya hidup dalam lingkungan yang kurang sehat. Ayam dan bebek dilepas di alam bebas, dan baru masuk kandang atau hinggap di pepohonan saat petang menjelang. Padahal, di situlah letak bahayanya, karena virus flu burung akan lebih mudah menyerang unggas maupun manusia.
Di samping itu, keberadaan kandang ayam, bebek, ataupun burung — yang berdempetan dengan rumah-rumah penduduk — ikut menambah rasa khawatir akan (kemungkinan) terjangkitnya penyakit flu burung pada unggas maupun manusia. Tak jarang, kandang-kandang itu diletakkan di samping jendela rumah dengan kondisinya yang penuh kotoran unggas. Lebih parah lagi, ada kandang yang lokasinya berdampingan dengan sumur, atau dengan tempat jemuran.
Di lapangan, kami juga menemukan fakta lain yang tak kalah mengagetkan, yakni masih banyak rumah warga yang belum dilengkapi fasilitas MCK alias tempat buang hajat. Kami datangi salah seorang pemilik rumah dan berdialog dengannya.
“Kenapa rumahnya belum dilengkapi MCK?”
“Bikin MCK kan butuh dana”
“Jadi, kalau buang hajat gimana?”
“Ya di belakang rumah. Di situ (belakang rumah, pen.) kan ada kali”
“Mengalir nggak kalinya?”
“Kalau musim hujan sih ngalir”
Ya, itulah fakta bahwa betapa tingkat pemahaman dan kesadaran mereka tentang flu burung dan kesehatan secara umum masih begitu rendah. Tapi, semua itu tentu saja tidak berdiri sendiri. Sebab, di balik rendahnya tingkat pemahaman dan kesadaran ini, mereka sejatinya sedang mengalami apa yang dinamakan dengan kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural.
***
Secara geografis administratif, Kecamatan Curug masuk wilayah Kota Serang. Di Kecamatan Curug pula kawasan pusat pemerintahan Provinsi Banten berada. Tapi, sungguh ironis. Di tengah gegap gempita pembangunan yang tengah berlangsung di sana, mayoritas masyarakatnya ternyata masih terpinggirkan. Dan mereka, secara mentalitas sesungguhnya belum siap untuk menjadi warga kota.
Ironisnya lagi, beberapa bulan ke depan, wilayah ini akan menjadi pusat perhelatan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Nasional. Curug tentu akan hiruk pikuk dengan berbagai kegiatan, dikunjungi ratusan kafilah, tamu undangan, bahkan mungkin tetamu lain dari sejumlah negara.
Persiapan untuk perhelatan acara yang sungguh prestisius dan menelan dana puluhan miliar tersebut kini sedang dikebut. Namun, persiapan hanya sebatas persiapan fisik. Persiapan mental masyarakatnya malah nyaris tak tersentuh.
Sekarang, bayangkan ketika perhelatan itu berlangsung, ada kafilah, pengunjung, atau tamu undangan yang ingin berkeliling melihat-lihat kondisi sekitar. Mereka keluar masuk kampung. Melihat ayam dan bebek berkeliaran, dan seterusnya. Lalu kesan apa yang kira-kira yang akan mereka peroleh?
Soal kesan kekumuhan atau kondisi-kondisi kampung dengan ayam atau bebek yang bekeliaran di mana-mana, untuk sementara mungkin tidak membuat kita terlalu hirau, karena barangkali itu akan menjadi pemandangan alami yang justru bisa membuat mereka berkesan.
Tetapi, yang susah sekali penulis bayangkan adalah manakala ada di antara mereka yang tiba-tiba kebelet ingin buang hajat.
Nah loh, buang hajat di mana? Di kebunkah, atau, di kali……?*


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: