Bantencorner’s Weblog


Si Doel
Januari 24, 2008, 4:45 am
Filed under: Kolom

Sinetron Si Doel Anak Sekolahan, kembali nongol di salah satu stasiun televisi swasta kita. Sinetron yang pada masanya sangat digemari para pemirsa televisi hingga mencapai rating cukup tinggi, ini berkisah tentang keluarga si Doel yang diperankan oleh aktor kawakan Rano Karno dengan segala pernak-perniknya, dalam setting budaya Betawi.

Dalam sinetron itu, antara lain diceritakan tentang si Doel sebagai sedikit dari orang Betawi yang sadar akan pentingnya pendidikan. Ia lebih memilih kuliah ketimbang menjadi makelar tanah, atau sopir oplet seperti pamannya (yang diperankan oleh Mandra), demi menggapai cita-cita: Menjadi tukang insinyur!

Si Doel yang berpendidikan itu dikenal pula sebagai sosok yang jujur, idealis, dan pekerja keras. Ia pun dikenal sebagai si Doel yang relijius, tukang sembahyang dan mengaji seperti dalam tembangnya: Nih Si Doel anak Betawi asli, kerjaannya sembahyang mengaji…., dan seterusnya.

Tulisan ini, tentu saja tidak bermaksud mengulas lebih jauh tentang sinetron tersebut. Hanya, secara kebetulan, di saat sebuah stasiun televisi menayangkan kembali sinetron ini, di saat yang sama Rano Karno yang kemudian menjadi lebih akrab dipanggil Si Doel, tengah terjun ke dunia politik praktis, yakni mencalonkan diri sebagai wakil bupati Tangerang berpasangan dengan calon bupati Ismet Iskandar.

Hasilnya, seperti kita ketahui, meski belum ada penetapan resmi, si Doel bersama sang incumbent sukses meraup suara terbanyak. Jika tidak ada aral melintang, pasangan ini bakal resmi menjadi pasangan bupati dan wakil bupati Tangerang untuk lima tahun ke depan.

Tentu tak ada kaitan antara sinteron Si Doel yang dibintanginya itu dengan profesi baru yang akan dijalaninya nanti, sebagai wakil bupati. Tapi, terlepas seperti apa kemampuannya sebagai birokrat kelak, masyarakat Tangerang yang notabene sebagai pemirsa sinetron Si Doel juga, boleh jadi hanya akan membayangkan sosok Rano Karno yang jujur, idealis, tipe pekerja keras, sebagaimana tervisualisasi dalam sinetronnya itu.

Artinya, melalui sinetron Si Doel, frame (baca; cara pandang) masyarakat terhadap sosok Rano Karno sudah lebih dahulu terbentuk. Bahkan frame tersebut telah cukup mengakar di benak masyarakat, semengakarnya sebutan Si Doel bagi Rano Karno.

Nah, dalam konteks ini Rano Karno dihadapkan dengan sebuah tantangan berkaitan dengan persepsi masyarakat yang sudah kadung terbentuk pada dirinya melalui penggambaran sosok Si Doel itu. Ia dituntut menjadi Si Doel selaku wakil bupati yang jujur, idealis, dan pekerja keras. Bersama sang incumbent ia pun harus mampu mewujudkan janji-janji yang pernah dilontarkannya ketika kampanye dulu.

Terpenting lagi, ia harus sadar bahwa saat ini dan untuk lima tahun ke depan, ia tidak sedang bersinetron. Tapi ia sedang berperan sebagai wakil bupati sungguhan yang segala janji manisnya saat kampanye dulu akan ditagih secara sungguh-sungguh pula oleh masyarakat, termasuk oleh para pemirsa Si Doel Anak Sekolahan.

***

Nah, manakala persepsi masyarakat tentang sosok si Doel mampu ia wujudkan dalam kerja sesungguhnya sebagai wakil bupati, boleh jadi success story-nya itu kelak bakal disinetronkan sekaligus menjadi kelanjutan dari kisah Si Doel Anak Sekolahan, dengan kisah utama: kandasnya cita-cita menjadi tukang insinyur gara-gara menjadi wakil bupati. Ceritanya pun tak lagi berputar-putar pada persoalan Si Doel yang dihadapkan dua pilihan sulit dan dilematis — memilih si Jaenab atau si Sarah — tapi bergesar pada cerita ketika datang pinangan dari seorang incumbent.

Nyatanya, si Doel pun tak kuasa atas pinangan itu!

Bukan begitu Dul, eh maaf, Pak Wakil….? ***

 

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: