Bantencorner’s Weblog


Bermula dari Sebuah Dapur Tua
Januari 24, 2008, 4:39 am
Filed under: Pustaka

Judul Buku: Pesantren Daar el-Qolam Menjawab Tantangan Zaman

(Biografi Kepemimpinan KH Ahmad Rifa’i Arief)

Penulis: Muhamad Wahyuni Nafis

Penerbit: Daar el-Qolam Press

Terbit: Januari 2008

Tebal: 197 halaman

 

Empat puluh tahun adalah usia yang tidak lagi muda. Usia yang sudah cukup matang, dewasa, sekaligus mapan. Begitupun dengan Daar el-Qolam. Pada usianya yang ke-40, tahun ini, telah berhasil membuktikan diri sebagai pesantren yang bukan saja mampu ‘bertahan’ dari perubahan zaman, tapi juga sukses menjawab tantangan zaman.

Kesuksesan Daar el-Qolam tidak saja dapat dilihat dari segi fisik dengan segala kelengkapan fasilitas yang dimiliki dengan ribuan santrinya, tetapi juga dapat dirasakan dari kiprah para alumninya di tengah-tengah masyarakat. Di antara mereka ada yang mendirikan pesantren, politisi, pegawai negeri, tentara, polisi, akademisi, maupun pengusaha. Tak sedikit juga yang sukses di negeri orang (baca; luar negeri), baik sebagai alumni yang melanjutkan studi S-2 dan S-3, maupun alumni yang menjadi tenaga kerja profesional.

Sukses yang diraih Daar el-Qolam tentu tidak diraih dengan mudah. Selain butuh waktu, tetapi juga melalui perjuangan yang tak pernah henti dan tak kenal lelah para pengelolanya, terutama sekali almarhum KH Ahmad Rifa’i Arief. Dan melalui buku ini (Pesantren Daar el-Qolam Menjawab Tantangan Zaman; Biografi Kepemimpinan KH Ahmad Rifa’i Arief) pembaca akan diajak melakukan pengembaraan lebih lebih jauh lagi tentang Kiai Rifa’i, tentang kepemimpinannya, tentang visinya, juga tentang karya monumentalnya yang lain selain Daar el-Qolam.

Buku ini juga memiliki nilai plus, karena selain berkisah tentang segala hal menyangkut Kiai Rifa’i dengan Daar el-Qolamnya, juga dilengkapi dengan ulasan ’historis’ yang memperkaitkan sang kiai dan pesantrennya dengan situasional keislaman dan keindonesiaan – dalam bahasa penulis, buku ini ditulis dalam perspektif keislaman dan keindonesiaan (lihat Pengantar Penulis halaman viii).

Muhamad Wahyuni Nafis, sang penulis sekaligus alumni Daar el-Qolam, mengklasifikasi isi buku ini menjadi enam bagian. Bagian pertama, Merancang Masa Depan, berkisah tentang sosok Kiai Rifa’i dan keluarganya – terutama sang ayah, Kiai Qashad Mansyur. Dalam bagian ini dikisahkan bagaimana sang ayah menyiapkan putranya, Lilip (nama kecil Kiai Rifa’i), untuk menjadi penerus dirinya dalam mengelola madrasah yang didirikannya, dengan menyekolahkan ke Pondok Modern Gontor, Jawa Timur.

Bagian kedua, Proses Pencarian Ilmu dan Penjadian Diri, bertutur tentang masa-masa Rifai muda nyantri di Gontor. Pada bagian ini diurai tentang prestasi kesantriannya hingga dipercaya menjadi ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Gontor, serta menjadi murid kesayangan sang kiai, KH Imam Zarkasyi (pendiri Gontor).

Selepas menamatkan pendidikan, Rifa’i muda melaksanakan tugas pengabdian selama setahun di almamaternya dengan mengajar, sekaligus menjadi sekretaris sang kiai. Pada masa pengabdian itulah, secara alami Rifa’i muda belajar langsung kepada sang kiai menyangkut segala aspek kepesantrenan, yang kelak semua itu amat berharga baginya ketika mendirikan dan mengelola Daar el-Qolam.

Bagian ketiga, Pesantren Daar el-Qolam; Bermula dari Bekas Dapur Tua, bercerita tentang masa-masa awal mendirikan pesantren Daar el-Qolam. Pada bagian ini dikisahkan tentang dapur tua milik sang uwak, Hj Pengki, yang disulap menjadi pesantren. Santrinya kala itu berjumlah 22 orang saja. Itu pun sebagian besar adalah adik, keponakan, kerabat, dan tetangganya sendiri.

Pada bagian itu dikisahkan juga tentang rintangan-rintangan yang dihadapi Kiai Rifa’i baik dari dalam maupun luar pesantren. Mulai dari tuduhan dan kecurigaan masyarakat akan ajaran agama yang dibawa Kiai Rifa’i sebagai ajaran yang aneh, hingga sikap indisipliner santri yang berakibat pemecatan, dan berujung pada ancaman pembunuhan oleh sekelompok jawara yang sengaja diutus ayah si santri karena tidak terima anaknya dipecat.

Bagian keempat, Daar el-Qolam, Taman Ilmu yang Penuh Inovasi, mengulas tentang Daar el-Qolam yang terus berkembang dengan jumlah santrinya yang terus bertambah dan bangunan asrama dan kelas yang juga bertambah. Seiring dengan itu, masyarakat yang dulunya curiga dan berprasangka negatif terhadap keberadaan pesantren, berbalik arah menjadi menerima dan mendukung.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti aman bagi perjalanan Daar el-Qolam maupun Kiai Rifa’i. Seiring dengan situasi perpolitikan yang kala itu dikuasai rezim Orde Baru dan Golkar-nya, Kiai Rifa’i dituntut untuk pintar-pintar bersikap. Dan sikap yang dipilih sang kiai adalah independen. Bujuk rayu agar kiai dan pesantrennya ikut dalam gerbong politik orde baru dengan iming-iming bantuan dana hingga Rp 200 juta (jumlah amat besar kala itu), berhasil ditolak dengan cara halus. Sikap independen itulah agaknya yang menjadi salah satu faktor mengapa Daar el-Qolam terus eksis dan terus berkembang hingga sekarang.

Hingga wafatnya pada 15 Juni 1997, Kiai Rifa’i juga meninggalkan karya besar lain selain Daar el-Qolam, yakni Pesantren La Tansa di Cipanas, Lebak, Perguruan Tinggi La Tansa, juga di Lebak, serta Pesantren Wisata Sakinah La Lahwa yang berlokasi di tepian pantai di Pandeglang.

Bagian kelima, Daar el-Qolam di Tangan Penerusnya, bercerita tentang proses estafeta kepemimpinan dari Kiai Ahmad Riaf’i Arif kepada sang adik KH Syahiduddin. Di tangan sang adik, Daar el-Qolam terus berkembang dengan jumlah santri saat ini mencapai 4.164 dan 242 guru. Yang fenomenal sekaligus spektakuler adalah dibentuknya excelence class yang telah dimulai pada tahun ajaran 2007-2008 lalu. Kelas ini dibentuk dalam rangka menjawab tantangan zaman sekaligus sebagai bagian dari upaya pembaruan di bidang pendidikan, khususnya di lingkungan pesantren.

Bagian keenam, Nilai-nilai Kesantrian: Citra Diri dan Sunnah Pondok Pesantren Daar el-Qolam, mengulas tentang citra sang kiai plus visi-visinya. Diulas pula tentang Moto dan Panca Jiwa Pondok yang menjadi ciri khas umumnya pondok-pondok modern yang berkiblat pada sistem Pesantren Modern Gontor. Tetapi, tentu saja moto dan panca jiwa di sini lebih berdasarkan pada perspektif Kiai Rifa’i.

Bagi para alumni, buku ini bisa dibilang sebagai obat kerinduan terhadap pesantren dan sang kiai, almarhum Kiai Ahmad Rifa’i Arif. Bagi pembaca yang lain, buku ini tetap menarik dibaca dan ditelaah, karena isinya sesungguhnya tidak melulu berkisah tentang Daar el-Qolam dan sepak terjang kiainya. Tetapi berkisah pula tentang kondisi keislaman dan keindonesiaan secara global. Selamat membaca…!**

 

Abdul Malik, pernah nyantri setahun di Daar el-Qolam


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

bagus, tapi buku tsb bisa didapatkan dimana

Komentar oleh farah

smoga Allah menjaganya disana..
karea seorang guru
nama dan ilmunya tak akan luput dari hati

Komentar oleh iin kurnia




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: