Bantencorner’s Weblog


Pedal Becak
Januari 16, 2008, 3:45 am
Filed under: Kolom

Selain soal Pak Harto, topik lain yang ramai diperbincangkan orang saat ini adalah soal tahu dan tempe. Dan berbincang soal tahu atau tempe, saya teringat pada kisah belasan tahun silam ketika masih nyantri di sebuah pesantren di pinggiran Tangerang.

Selain mengaji dan belajar sebagai kegiatan rutin, ada satu lagi aktivitas rutin yang tidak pernah ditinggalkan para santri, yaitu makan di dapur umum. Waktunya, pagi sekitar jam enam, tepatnya sebelum kegiatan belajar dimulai. Kedua, setelah solat duhur, dan ketiga sore hari sekitar pukul lima.

Setiap hari menu makannya berbeda-beda. Terkadang, sarapannya berupa nasi goreng dan kerupuk, ditambah sambal dan kecap. Siangnya, sepotong telur rebus plus sayur nangka, dan sorenya, goreng tahu atau tempe dengan sayur kacang. Besoknya lain lagi. Untuk sarapannya nasi plus tempe balado, siangnya ikan asin dan sayur kangkung, dan sorenya sepotong telor goreng dengan sayur lodeh. Daging ayam, kerbau atapun sapi, jarang-jarang didapat. Kalaupun ada, paling banter sebulan sekali.

Kendati dimasak dalam bentuk masakan yang selalu berbeda, tetapi ada jenis lauk pauk yang tak pernah alpa disajikan, yaitu tahu dan tempe. Hari ini, tempe atau tahunya digoreng, esoknya disayur, esoknya lagi diorek, esoknya lagi dibacam, dan esoknya lagi dipepes. Begitu seterusnya. Saking seringnya disajikan, para santri pun kerap kali dilanda kebosanan. Tapi, berhubung tidak ada pilihan lain, mau tidak mau menu itu akhirnya disantap juga.

Yang menarik dan entah siapa yang memulai, gara-gara menu makannya tempe lagi-tempe lagi, santri pun memiliki sebutan khas untuk jenis makanan yang satu itu, yaitu pedal becak, karena bentuk potongannya yang mirip atau sebesar pedal becak. Jadi, setiap kali ibu dapur ditanya, “Apa ikannya?”, dan dijawab tempe, para santri akan bilang, “O… pedal becak!”.

Menariknya lagi, istilah pedal becak tidak hanya populer di satu pesantren saja, tetapi juga di banyak pesantren. Satu bukti adalah ketika saya harus pindah pesantren. Di pesantren yang baru, saya mendapati tempe dengan sebutan pedal becak juga!

***

Pedal becak, eh.. tempe, adalah makanan yang merakyat. Selain harganya murah meriah dan mudah diperoleh, tempe juga kaya akan gizi, tak kalah dengan gizi yang terdapat pada daging. Tapi, ironisnya, tempe seperti sudah terstigma dengan makanan rakyat jelata dan dianggap sebagai makanan kelas dua. Padahal, nyatanya tempe tidak hanya dimakan oleh rakyat jelata, tapi juga disuka para penguasa.

Maka, selain sebutan pedal becak tadi, tak jarang kita juga sering mendengar ungkapan-ungkapan yang dinisbatkan dengan tempe dengan maksud menghina, misalnya sebutan mental tempe atau bangsa tempe. Tak kurang dari Presiden Soekarno, dalam sebuah orasinya pernah mengatakan agar bangsa ini jangan memiliki mental tempe! Seolah dengan mental atau bangsa tempe kita menjadi bangsa yang terjajah atau bangsa yang bodoh.

Akibat stigmatisasi yang begitu mendalam sebagai makanan kelas dua, kita menjadi tidak punya rasa bangga terhadap tempe sebagai makanan khas bangsa sendiri. Kita juga tak marah ketika hak paten tempe kini berada di tangan Jepang. Kita baru tersadar dan merasa kehilangan terhadap tempe dan tahu, baru kali ini saja, setelah keduanya sulit didapat di tukang-tukang sayur atau di pasar-pasar karena harga kedelai yang melambung tinggi. Setelah para produsen tahu dan tempe sepakat menghentikan produksinya dan berdemo di depan istana memprotes kenaikan harga kedelai yang sangat tidak wajar.

Sungguh terlalu. Sebagai bangsa tempe, kita juga ternyata tak lagi dapat menikmati tempe….!

***

Beberapa hari yang lalu saya datang ke pesantren tempat saya nyantri dahulu karena ada reunian. Selepas acara, kami dipersilakan menikmati makan siang khas pesantren. Kecuali sayur asam, kerupuk, ikan asin, sambal, dan lalapan, saya sama sekali tak menemukan pedal becak, alias tempe.

Saya tak sempat bertanya mengapa tidak ada tempe atau tahu yang biasa kami makan semasa mesantren. Tapi saya yakin, kedua jenis lauk pauk itu sudah menghilang di pasaran, sehingga menu makan kali ini berubah. Bukan lagi pedal becak, tapi ikan asin. Hanya ikan asin, minus tempe. Ya, ya, ya……!**

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: