Bantencorner’s Weblog


Soeharto di Balik Buku
Januari 12, 2008, 11:48 am
Filed under: Pustaka

Dari yang Kontroversi hingga yang Simpati

Membicarakan Soeharto, mantan Presiden RI ke-2, seperti tidak pernah berkesudahan. Selalu ada yang menarik untuk dibahas dan diperbincangkan dari sosok yang pernah berkuasa selama 32 tahun tersebut. Perjalanan hidup jenderal bintang lima yang kini dirawat intensif karena penyakit kompilkasi yang dideritanya dan karena usianya yang sudah sangat uzur (87 tahun), ini memang menyimpan banyak kontroversi, dari awal berkuasa, hingga lengser 1998 silam.

Karena beragam kontroversi itulah, banyak buku yang mengupas dan mengulas segala hal menyangkut sepak terjang Pak Harto selama memimpin rezim Orde Baru. Mulai dari buku-buku yang menyanjungnya sebagai Bapak Bangsa, Bapak Pembangunan, dan sebagainya, hingga buku-buku yang menghujatnya, baik yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing (Inggris), ditulis oleh penulis bangsa sendiri maupun penulis asing. Dari yang isinya biasa-biasa saja hingga yang sangat kontroversial, sehingga menjadi perbincangan hangat publik.

Salah satu yang terkategori cukup kontroversial adalah buku berjudul Pledoi Kolonel A Latief: Soeharto Terlibat G30S (Penulis: A. Latif, Penerbit: Institut Studi Arus Informasi, Tahun 2000, 282 halaman).. Buku ini berisi pembelaan Kolonel Abdul Latief yang ditahan sejak   tanggal 11 Oktober 1965 karena tuduhan terlibat G30S, namun baru diadili pada tahun 1978. Pada buku yang mengisahkan serangkaian panjang penyiksaan fisik dan mental di luar kemanusiaan yang dilakukan Orde Baru terhadap Latief diungkapkan, dalam pertemuan Soeharto-Latief  tanggal 28 September 1965, Soeharto menyebutkan mengetahui bakal meletus suatu gerakan yang di kemudian hari dibakukan Orde Baru sebagai G30S/PKI.

       Persoalannya, menurut Latief yang ketika itu sebagai Komandan Brigade Infanteri I Kodam V Jaya datang melapor kepada Soeharto, mengapa Soeharto selaku Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) tidak menggagalkan peristiwa yang berbuntut pada penggulingan Soekarno selaku presiden “setelah mendapat laporan dari saya”.

       Dalam pengantar buku setebal 282 halaman tersebut, Latief  mempertanyakan “siapa sebenarnya yang melakukan coup d’etat pada 1 Oktober 1965: G30S ataukah Jenderal Soeharto. Inilah yang selalu menjadi permasalahan sekarang karena siapa sebenarnya yang mulai berkuasa setelah Presiden Soekarno ditawan hingga wafat. Siapa yang  menahan Presiden Soekarno dan siapa yang menggulingkan pemerintahan   Soekarno: G30S ataukah Soeharto?”

Buku lain meski terlalu kontroversi tetapi cukup membuat kita tercengang tentang sepak terjang Soeharto adalah buku berjudul Soeharto Sehat  terbitan Galang Press karya beberapa penulis. Buku ini merupakan suvenir untuk Presiden Kedua negeri ini “Bapak Pembangunan” penerima Surat Perintah Sebelas Maret”.

Dalam tulisannya yang bertajuk “Membongkar Kleptokrasi Warisan Soeharto: Mungkinkah?” yang dimuat dalam “Soeharto Sehat”, misalnya, George Junus Aditjondro secara gamblang membongkar seluk-beluk arena bisnis sang “Bapak Pembangunan”. Bahkan ia berhasil memetakan tujuh modus operandi yang dipakai untuk mengembalikan dinasti ekonomi Soeharto yang menurutnya sangat berbahaya ini.

Modus operandi pertama adalah penyelamatan perusahaan bermodal milik keluarga Soeharto yang terancam bangkrut, oleh perusahaan lain milik mereka yang berbasis di luar negeri. Dengan demikian, uang sekadar pindah dari kantong kiri ke kantong kanan. Modus operandi kedua adalah, mayoritas saham perusahaan milik keluarga Soeharto dibeli oleh perusahaan lain, tapi dengan meninggalkan saham minoritas buat anggota keluarga Soeharto. Di bawah pemilik baru, perusahaan-perusahaan itu berkembang dengan pesat. Sehingga walaupun persentase sahamnya mengecil, toh dividennya masih cukup besar.

Modus operandi ketiga adalah memanen dividen dari saham keluarga Soeharto di konglomerat-konglomerat yang dekat dengan penguasa sekarang, walaupun hanya merupakan saham minoritas. Modus operandi keempat adalah usaha aktif kerabat dan konco Soeharto untuk merebut kembali perusahaan-perusahaan yang dulu mereka kuasai secara penuh, antara lain dengan menggunakan vehicle companies di luar negeri. Modus operandi kelima adalah mendorong konco-konco keluarga Soeharto mengambil alih atau mengelola perusahaan-perusahaan yang ada kaitan dengan mereka, sambil tetap membayar ‘setoran’ ke keluarga Soeharto. Hal ini sangat menonjol dalam kerajaan bisnis Tommy Soeharto, termasuk di LP Nusa Kambangan. Di sana ia bersama Bob Hasan, mengembangkan modus operandi keenam, yakni berbisnis dengan melibatkan sipir penjara dan sesama narapidana. Akhirnya modus operandi ketujuh adalah memfasilitasi cucu-cucu Soeharto untuk terjun ke bisnis.

Junus Aditjontro juga sempat menulis buku Dari Soeharto ke Habibie; Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari yang diterbitkan oleh MIK-Pijar Indonesia tahun 1998 lalu. Buku ini antara lain berisi data-data yang membuat kita tercengang dan merupakan sebuah karya karya investigasi penulisnya yang ditulis dengan apik.

Aditjondro melakukan investigasi terhadap harta kekayaan Soeharto dan Habibie baik yang dikelola yayasan maupun perusahaan-perusahaan berikut milik kroni-kroninya. Ia mengakui kesulitan melacak kekayaan semua yayasan itu karena tumpang-tindihnya kekayaan keluarga Soeharto dengan kekayaan sejumlah keluarga bisnis yang lain, misalnya tiga keluarga Liem Sioe Liong, keluarga Eka Tjipta Widjaya, dan keluarga Bob Hasan.

Ternyata keluarga Soeharto tak hanya senang menggunakan pengusaha-pengusaha keturunan Cina sebagai operator bisnisnya. Sebab bisnis keluarga Soeharto juga sangat tumpang tindih dengan bisnis dua keluarga keturunan Arab, yakni Bakrie dan Habibie.

Harta kekayaan keluarga Soeharto bertumpang-tindih dengan kekayaan keluarga Habibie, yang berkongsi dengan Tommy dan Bambang dalam berbagai bisnis mereka di Pulau Batam, termasuk ekspor babi hidup ke Singapura dan dengan Tutut dalam bisnis telekomunikasi dan pemetaan udara.

Yayasan adalah salah satu mesin uang bagi Soeharto dan konco-konconya. Aditjondro mengelompokkannya menjadi enam kelompok yayasan. Pada bagian pertama berupa yayasan-yayasan yang diketuai Soeharto sendiri. Kedua, yayasan-yayasan yang diketuai Nyonya Tien Soeharto di masa hidupnya. Ketiga, yayasan-yayasan yang diketuai Soeharto secara tidak langsung lewat Habibie dan Bob Hasan. Keempat, yayasan-yayasan yang diketuai para anak dan menantu Soeharto.

Kelima, yayasan-yayasan yang diketuai atau dikelola para besan Soeharto beserta anak serta sanak-saudara mereka. Dan keenam, yayasan-yayasan yang diketuai atau dikelola sanak-saudara Soeharto dan Nyonya Tien Soeharto dari kampung halaman mereka di Yogyakarta dan Surakarta.

Terkadang karya-karya sosial yang sekilas nampak tak ada cela d iluarnya namun memiliki maksud lain di belakang. Misalnya keinginan Tutut untuk mendirikan satu perguruan tinggi di Timor Leste. Namun di balik semuanya ada keinginan untuk mendapatkan tenaga kerja berpendidikan tinggi. Rencana itu juga berbau politis: perguruan tinggi swasta yang sudah ada, Untim, sudah berkembang menjadi basis perlawanan pemuda-pemudi Maubere terhadap pendudukan Indonesia, menyusul adik-adik mereka di SLTA. Berarti, setelah gagal menggemboskan perlawanan para siswa SLTA, Tutut kini berusaha merambah ke benak para lulusan SLTA.

Ada juga buku otobiorafinya berjudul The Life and Legacy of Indonesian’s Second President. Otobiografi Soeharto yang ditulis oleh Retnowati itu terdiri atas 5 bab dan 351 halaman. Pada bab pertama berkisah tentang mimpi-mimpi Soeharto sejak kecil di kampung halamannya di Kemusuk, Yogyakarta. Bab kedua, Soeharto bercerita mengenai karir militernya. Kemudian pada bab tiga, Soeharto berbagi pengalaman ketika dirinya menjadi presiden. Dan pada bab empat, Soeharto menuturkan sejarah yayasan-yayasan yang dibentuknya.

Sedang bab terakhir merupakan refleksi penulis atas jalan hidup Soeharto. Dalam tulisannya itu Retnowati menekankan kemiripan hidup Soeharto dan Soekarno. Menurutnya, kedua tokoh tersebut dilahirkan dalam tingkat intelejensi dan keingintahuan tinggi yang tumbuh secara natural. Soekarno dan Soeharto, menurutnya, tokoh yang tampan secara fisik dengan kehidupan melegenda.

Buku tersebut senafas dengan buku berjudul Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan K.H (Penerbit: PT Citra Lamtoro Gung Persada, terbit tahun 1988).. Hanya bedanya, buku ini terbit ketika Soeharto berkuasa dan isi tulisannya ditentukan oleh Soeharto sendiri, sedangkan buku The Life and Legacy of Indonesian’s Second President terbit setelah Soeharto lengser dan merupakan tulisan hasil wawancara sekaligus reportase penulisanya.

Selain buku-buku yang kontroversial, bahkan berisi hujatan, tapi ada pula buku yang justru berisi simpati. Di antaranya buku berjudul Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto. Buku setebal 364 halaman yang diterbitkan PT Jakarta Citra itu ditulis Dewi Ambar Sari dan Lazuardi Adi Sage, mengungkapkan sisi baik Soeharto yang membuatnya dicintai rakyat.

Buku “Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto” itu merupakan penyempurnaan buku berjudul “Beribu Alasan Kita Mencintai Pak Harto” karya penulis yang sama dan diluncurkan sebagai kado ulang tahun Pak Harto Juni 2006. Dalam buku itu, Ambar dan Lazuardi memuat komentar rakyat dari berbagai lapisan dan penjuru negeri, selain juga memuat biografi, dan memuat foto-foto kegiatan dan kehidupan Soeharto, Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan yang pernah memimpin Indonesia selama 32 tahun.***(diolah dari berbagai sumber)


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

buy bitcoins paypal Localbitcoins

Soeharto di Balik Buku | Bantencorner’s Weblog

Lacak balik oleh buy bitcoins paypal Localbitcoins




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: