Bantencorner’s Weblog


Nyonya Gajah Mada
Januari 7, 2008, 4:33 am
Filed under: Kolom

Suatu hari saat berlangsung mata pelajaran Sejarah, sang guru bertanya kepada anak-anak didiknya, “Siapa istri Mahapatih Gajah Mada?”

Karuan, pertanyaan tersebut membuat para pelajar bengong, karena selama ini tak pernah muncul pertanyaan yang aneh dan sulit dijawab seperti itu. Apalagi, dalam buku-buku sejarah tak pernah dibahas peran seorang istri, sekalipun ia istri sang Mahapatih. Buku-buku sejarah yang ada selalu dan hanya memuat cerita tentang kehebatan kaum pria saja.

Jadinya, murid pun hanya tahu dan hapal nama-nama para aktor sejarah seperti Gajah Mada, Pangeran Diponegoro, Sultan Ageng Tirtayasa, dan laki-laki lain yang gagah berani itu. Kaum perempuan, jikapun ditulis di buku-buku sejarah dan dihapal para murid, tidak pernah berkutat pada nama-nama seperti RA Kartini, Dewi Sartika, dan sedikit kaum perempuan lainnya.

Pertanyaan guru tadi tentang siapa istri Mahapatih Gajah Mada tentu saja hanya sebuah pertanyaan imajiner. Akan tetapi jawabannya belum tentu imajiner. Jawabannya sangat mudah dan sudah pasti betul. Siapa? Ya Nyonya Gajah Mada!

Itulah fakta bahwa sejarah kita masih didominasi cerita kepahlawanan kaum Adam yang gagah perkasa itu. Peran kaum perempuannya, termasuk para nyonya si aktor sejarah tadi nyaris tak tersentuh dalam bahasan di buku-buku sejarah kita. Maka, tak aneh jika kita katakan bahwa sejarah kita adalah sejarah yang melelaki, sejarah yang penuh dengan nuansa kelelakian.

Fakta sejarah ini, tentu berimbas pula pada realitas keseharian kita hari ini. Saat ini kita sulit menemukan peran kaum perempuan yang mandiri, yang tanpa diembel-embeli nama besar sang suami. Lihatlah, misalnya, nama-nama istri pejabat kita, selalu di ujung namanya tercantun nama sang suami. Jadinya, publik kalaupun mengenali siapa mereka, tak lebih sebagai istri dari orang-orang hebat yang memiliki kekuasaan tadi.

Kalaupun dikenali kiprahnya, tak lebih dari sekadar berkiprah di organisasi yang secara tradisional menjadi pendamping (?) sang suami. Maka tak heran bila sang suami melakukan kunjungan kerja ke mana pun, atau berkegiatan seremonial lain dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik, di situ selalu didampingi sang nyonya dengan kapasitas selain sebagai istri, tetapi juga sebagai ketua organisasi kewanitaan ini dan itu yang berhubungan langsung dengan tempat suaminya bekerja atau beraktivitas.

Tentu, pandangan seperti itu terlalu stereotip. Terlalu hitam putih dan menyamaratakan kaum perempuan. Akan tetapi, pandangan tersebut pun tak selalu salah. Sebagian fakta itu benar karena nyatanya masih ada para nyonya yang tak pernah lepas dari peran dan nama besar sang suami baik secara individual maupun secara organisatoris.

Dalam budaya patriarki sebagaimana masih dianut oleh umumnya masyarakat kita, aktivitas, sebutan, dan panggilan yang disandingkan dengan nama besar suami tentu saja sah-sah saja terjadi. Akan tetapi, tanpa kita sadari, peran-peran para kaum perempuan seperti itu pada akhirnya hanya menjadi peran para kaum perempuan elit saja. Kiprahnya pun di masyarakat tidak terlalu terlihat dan dirasakan.

Aktivitasnya bisa jadi tak lebih dari sekadar kumpul-kumpul dengan pekaian kebesarannya seperti mendampingi suami ketika melakukan kunjungan kerja, arisan, lomba masak, donor darah, dan sesekali mengadakan pengajian. Peran lebih besar lagi yang sesungguhnya amat dinanti masyarakat amat jarang, bahkan (mungkin) sama sekali tidak dilakukan.

Parahnya lagi, dunia pendidikan kita ikut-ikutan membangun stereotipe demikian. Dari begitu banyak perguruan tinggi di Indonesia, dari Aceh hingga Papua, nyaris tidak ada perguruan tinggi dengan nama-nama perempuan. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Gajah Mada, Universitas Diponegoro, dan lain-lain, adalah fakta bahwa dunia pendidikan kita adalah dunia yang melelaki. Padahal, melalui pendidikanlah stereotipe demikian itu mestinya bisa dihapus, dan keseimbangan maupun kesetaraan gender dapat dibangun.

Karena itu, sulit bagi kita membangun kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, jika sistem pendidikan, pola pikir, maupun sejarah masa lalu bangsa ini masih belum adil membagi peran kepada kaum hawa. Sebab, di balik ’kesuksesan’ para lelaki itu, sejatinya selalu ada peran signifikan kaum hawa (baca; para istri). Dan, tentu bukan yang aktivitasnya hanya sebagai pendamping, tetapi juga pendorong sekaligus partner seimbang kaum Adam (baca; suami).

Jadi, tak mungkin nama Mahapatih Gaja Mada begitu terkenal dan legendaris hingga kini, jika tanpa ada perempuan di sampingnya. Ya, Nyonya Gajah Mada itu orangnya…!


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Perempuan perlu sekali membekali diri dengan ilmu, dimanapun dan kapanpun dia bnerada. Tidak harus melulu melalui bangku kuliah.. tapi dng tekas dan semangad yang kuat untuk mendapatkan ilmu dapat diperoleh lewat buku-buku, dan juga memperluas pergaulan. Dengan demikian prempuan dapat selalu menjadi partner bagi suaminya.

Komentar oleh see.ayie




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: