Bantencorner’s Weblog


Si Doel
Januari 24, 2008, 4:45 am
Filed under: Kolom

Sinetron Si Doel Anak Sekolahan, kembali nongol di salah satu stasiun televisi swasta kita. Sinetron yang pada masanya sangat digemari para pemirsa televisi hingga mencapai rating cukup tinggi, ini berkisah tentang keluarga si Doel yang diperankan oleh aktor kawakan Rano Karno dengan segala pernak-perniknya, dalam setting budaya Betawi.

Dalam sinetron itu, antara lain diceritakan tentang si Doel sebagai sedikit dari orang Betawi yang sadar akan pentingnya pendidikan. Ia lebih memilih kuliah ketimbang menjadi makelar tanah, atau sopir oplet seperti pamannya (yang diperankan oleh Mandra), demi menggapai cita-cita: Menjadi tukang insinyur!

Si Doel yang berpendidikan itu dikenal pula sebagai sosok yang jujur, idealis, dan pekerja keras. Ia pun dikenal sebagai si Doel yang relijius, tukang sembahyang dan mengaji seperti dalam tembangnya: Nih Si Doel anak Betawi asli, kerjaannya sembahyang mengaji…., dan seterusnya.

Tulisan ini, tentu saja tidak bermaksud mengulas lebih jauh tentang sinetron tersebut. Hanya, secara kebetulan, di saat sebuah stasiun televisi menayangkan kembali sinetron ini, di saat yang sama Rano Karno yang kemudian menjadi lebih akrab dipanggil Si Doel, tengah terjun ke dunia politik praktis, yakni mencalonkan diri sebagai wakil bupati Tangerang berpasangan dengan calon bupati Ismet Iskandar.

Hasilnya, seperti kita ketahui, meski belum ada penetapan resmi, si Doel bersama sang incumbent sukses meraup suara terbanyak. Jika tidak ada aral melintang, pasangan ini bakal resmi menjadi pasangan bupati dan wakil bupati Tangerang untuk lima tahun ke depan.

Tentu tak ada kaitan antara sinteron Si Doel yang dibintanginya itu dengan profesi baru yang akan dijalaninya nanti, sebagai wakil bupati. Tapi, terlepas seperti apa kemampuannya sebagai birokrat kelak, masyarakat Tangerang yang notabene sebagai pemirsa sinetron Si Doel juga, boleh jadi hanya akan membayangkan sosok Rano Karno yang jujur, idealis, tipe pekerja keras, sebagaimana tervisualisasi dalam sinetronnya itu.

Artinya, melalui sinetron Si Doel, frame (baca; cara pandang) masyarakat terhadap sosok Rano Karno sudah lebih dahulu terbentuk. Bahkan frame tersebut telah cukup mengakar di benak masyarakat, semengakarnya sebutan Si Doel bagi Rano Karno.

Nah, dalam konteks ini Rano Karno dihadapkan dengan sebuah tantangan berkaitan dengan persepsi masyarakat yang sudah kadung terbentuk pada dirinya melalui penggambaran sosok Si Doel itu. Ia dituntut menjadi Si Doel selaku wakil bupati yang jujur, idealis, dan pekerja keras. Bersama sang incumbent ia pun harus mampu mewujudkan janji-janji yang pernah dilontarkannya ketika kampanye dulu.

Terpenting lagi, ia harus sadar bahwa saat ini dan untuk lima tahun ke depan, ia tidak sedang bersinetron. Tapi ia sedang berperan sebagai wakil bupati sungguhan yang segala janji manisnya saat kampanye dulu akan ditagih secara sungguh-sungguh pula oleh masyarakat, termasuk oleh para pemirsa Si Doel Anak Sekolahan.

***

Nah, manakala persepsi masyarakat tentang sosok si Doel mampu ia wujudkan dalam kerja sesungguhnya sebagai wakil bupati, boleh jadi success story-nya itu kelak bakal disinetronkan sekaligus menjadi kelanjutan dari kisah Si Doel Anak Sekolahan, dengan kisah utama: kandasnya cita-cita menjadi tukang insinyur gara-gara menjadi wakil bupati. Ceritanya pun tak lagi berputar-putar pada persoalan Si Doel yang dihadapkan dua pilihan sulit dan dilematis — memilih si Jaenab atau si Sarah — tapi bergesar pada cerita ketika datang pinangan dari seorang incumbent.

Nyatanya, si Doel pun tak kuasa atas pinangan itu!

Bukan begitu Dul, eh maaf, Pak Wakil….? ***

 

 

Iklan


Bermula dari Sebuah Dapur Tua
Januari 24, 2008, 4:39 am
Filed under: Pustaka

Judul Buku: Pesantren Daar el-Qolam Menjawab Tantangan Zaman

(Biografi Kepemimpinan KH Ahmad Rifa’i Arief)

Penulis: Muhamad Wahyuni Nafis

Penerbit: Daar el-Qolam Press

Terbit: Januari 2008

Tebal: 197 halaman

 

Empat puluh tahun adalah usia yang tidak lagi muda. Usia yang sudah cukup matang, dewasa, sekaligus mapan. Begitupun dengan Daar el-Qolam. Pada usianya yang ke-40, tahun ini, telah berhasil membuktikan diri sebagai pesantren yang bukan saja mampu ‘bertahan’ dari perubahan zaman, tapi juga sukses menjawab tantangan zaman.

Kesuksesan Daar el-Qolam tidak saja dapat dilihat dari segi fisik dengan segala kelengkapan fasilitas yang dimiliki dengan ribuan santrinya, tetapi juga dapat dirasakan dari kiprah para alumninya di tengah-tengah masyarakat. Di antara mereka ada yang mendirikan pesantren, politisi, pegawai negeri, tentara, polisi, akademisi, maupun pengusaha. Tak sedikit juga yang sukses di negeri orang (baca; luar negeri), baik sebagai alumni yang melanjutkan studi S-2 dan S-3, maupun alumni yang menjadi tenaga kerja profesional.

Sukses yang diraih Daar el-Qolam tentu tidak diraih dengan mudah. Selain butuh waktu, tetapi juga melalui perjuangan yang tak pernah henti dan tak kenal lelah para pengelolanya, terutama sekali almarhum KH Ahmad Rifa’i Arief. Dan melalui buku ini (Pesantren Daar el-Qolam Menjawab Tantangan Zaman; Biografi Kepemimpinan KH Ahmad Rifa’i Arief) pembaca akan diajak melakukan pengembaraan lebih lebih jauh lagi tentang Kiai Rifa’i, tentang kepemimpinannya, tentang visinya, juga tentang karya monumentalnya yang lain selain Daar el-Qolam.

Buku ini juga memiliki nilai plus, karena selain berkisah tentang segala hal menyangkut Kiai Rifa’i dengan Daar el-Qolamnya, juga dilengkapi dengan ulasan ’historis’ yang memperkaitkan sang kiai dan pesantrennya dengan situasional keislaman dan keindonesiaan – dalam bahasa penulis, buku ini ditulis dalam perspektif keislaman dan keindonesiaan (lihat Pengantar Penulis halaman viii).

Muhamad Wahyuni Nafis, sang penulis sekaligus alumni Daar el-Qolam, mengklasifikasi isi buku ini menjadi enam bagian. Bagian pertama, Merancang Masa Depan, berkisah tentang sosok Kiai Rifa’i dan keluarganya – terutama sang ayah, Kiai Qashad Mansyur. Dalam bagian ini dikisahkan bagaimana sang ayah menyiapkan putranya, Lilip (nama kecil Kiai Rifa’i), untuk menjadi penerus dirinya dalam mengelola madrasah yang didirikannya, dengan menyekolahkan ke Pondok Modern Gontor, Jawa Timur.

Bagian kedua, Proses Pencarian Ilmu dan Penjadian Diri, bertutur tentang masa-masa Rifai muda nyantri di Gontor. Pada bagian ini diurai tentang prestasi kesantriannya hingga dipercaya menjadi ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Cabang Gontor, serta menjadi murid kesayangan sang kiai, KH Imam Zarkasyi (pendiri Gontor).

Selepas menamatkan pendidikan, Rifa’i muda melaksanakan tugas pengabdian selama setahun di almamaternya dengan mengajar, sekaligus menjadi sekretaris sang kiai. Pada masa pengabdian itulah, secara alami Rifa’i muda belajar langsung kepada sang kiai menyangkut segala aspek kepesantrenan, yang kelak semua itu amat berharga baginya ketika mendirikan dan mengelola Daar el-Qolam.

Bagian ketiga, Pesantren Daar el-Qolam; Bermula dari Bekas Dapur Tua, bercerita tentang masa-masa awal mendirikan pesantren Daar el-Qolam. Pada bagian ini dikisahkan tentang dapur tua milik sang uwak, Hj Pengki, yang disulap menjadi pesantren. Santrinya kala itu berjumlah 22 orang saja. Itu pun sebagian besar adalah adik, keponakan, kerabat, dan tetangganya sendiri.

Pada bagian itu dikisahkan juga tentang rintangan-rintangan yang dihadapi Kiai Rifa’i baik dari dalam maupun luar pesantren. Mulai dari tuduhan dan kecurigaan masyarakat akan ajaran agama yang dibawa Kiai Rifa’i sebagai ajaran yang aneh, hingga sikap indisipliner santri yang berakibat pemecatan, dan berujung pada ancaman pembunuhan oleh sekelompok jawara yang sengaja diutus ayah si santri karena tidak terima anaknya dipecat.

Bagian keempat, Daar el-Qolam, Taman Ilmu yang Penuh Inovasi, mengulas tentang Daar el-Qolam yang terus berkembang dengan jumlah santrinya yang terus bertambah dan bangunan asrama dan kelas yang juga bertambah. Seiring dengan itu, masyarakat yang dulunya curiga dan berprasangka negatif terhadap keberadaan pesantren, berbalik arah menjadi menerima dan mendukung.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti aman bagi perjalanan Daar el-Qolam maupun Kiai Rifa’i. Seiring dengan situasi perpolitikan yang kala itu dikuasai rezim Orde Baru dan Golkar-nya, Kiai Rifa’i dituntut untuk pintar-pintar bersikap. Dan sikap yang dipilih sang kiai adalah independen. Bujuk rayu agar kiai dan pesantrennya ikut dalam gerbong politik orde baru dengan iming-iming bantuan dana hingga Rp 200 juta (jumlah amat besar kala itu), berhasil ditolak dengan cara halus. Sikap independen itulah agaknya yang menjadi salah satu faktor mengapa Daar el-Qolam terus eksis dan terus berkembang hingga sekarang.

Hingga wafatnya pada 15 Juni 1997, Kiai Rifa’i juga meninggalkan karya besar lain selain Daar el-Qolam, yakni Pesantren La Tansa di Cipanas, Lebak, Perguruan Tinggi La Tansa, juga di Lebak, serta Pesantren Wisata Sakinah La Lahwa yang berlokasi di tepian pantai di Pandeglang.

Bagian kelima, Daar el-Qolam di Tangan Penerusnya, bercerita tentang proses estafeta kepemimpinan dari Kiai Ahmad Riaf’i Arif kepada sang adik KH Syahiduddin. Di tangan sang adik, Daar el-Qolam terus berkembang dengan jumlah santri saat ini mencapai 4.164 dan 242 guru. Yang fenomenal sekaligus spektakuler adalah dibentuknya excelence class yang telah dimulai pada tahun ajaran 2007-2008 lalu. Kelas ini dibentuk dalam rangka menjawab tantangan zaman sekaligus sebagai bagian dari upaya pembaruan di bidang pendidikan, khususnya di lingkungan pesantren.

Bagian keenam, Nilai-nilai Kesantrian: Citra Diri dan Sunnah Pondok Pesantren Daar el-Qolam, mengulas tentang citra sang kiai plus visi-visinya. Diulas pula tentang Moto dan Panca Jiwa Pondok yang menjadi ciri khas umumnya pondok-pondok modern yang berkiblat pada sistem Pesantren Modern Gontor. Tetapi, tentu saja moto dan panca jiwa di sini lebih berdasarkan pada perspektif Kiai Rifa’i.

Bagi para alumni, buku ini bisa dibilang sebagai obat kerinduan terhadap pesantren dan sang kiai, almarhum Kiai Ahmad Rifa’i Arif. Bagi pembaca yang lain, buku ini tetap menarik dibaca dan ditelaah, karena isinya sesungguhnya tidak melulu berkisah tentang Daar el-Qolam dan sepak terjang kiainya. Tetapi berkisah pula tentang kondisi keislaman dan keindonesiaan secara global. Selamat membaca…!**

 

Abdul Malik, pernah nyantri setahun di Daar el-Qolam



Pedal Becak
Januari 16, 2008, 3:45 am
Filed under: Kolom

Selain soal Pak Harto, topik lain yang ramai diperbincangkan orang saat ini adalah soal tahu dan tempe. Dan berbincang soal tahu atau tempe, saya teringat pada kisah belasan tahun silam ketika masih nyantri di sebuah pesantren di pinggiran Tangerang.

Selain mengaji dan belajar sebagai kegiatan rutin, ada satu lagi aktivitas rutin yang tidak pernah ditinggalkan para santri, yaitu makan di dapur umum. Waktunya, pagi sekitar jam enam, tepatnya sebelum kegiatan belajar dimulai. Kedua, setelah solat duhur, dan ketiga sore hari sekitar pukul lima.

Setiap hari menu makannya berbeda-beda. Terkadang, sarapannya berupa nasi goreng dan kerupuk, ditambah sambal dan kecap. Siangnya, sepotong telur rebus plus sayur nangka, dan sorenya, goreng tahu atau tempe dengan sayur kacang. Besoknya lain lagi. Untuk sarapannya nasi plus tempe balado, siangnya ikan asin dan sayur kangkung, dan sorenya sepotong telor goreng dengan sayur lodeh. Daging ayam, kerbau atapun sapi, jarang-jarang didapat. Kalaupun ada, paling banter sebulan sekali.

Kendati dimasak dalam bentuk masakan yang selalu berbeda, tetapi ada jenis lauk pauk yang tak pernah alpa disajikan, yaitu tahu dan tempe. Hari ini, tempe atau tahunya digoreng, esoknya disayur, esoknya lagi diorek, esoknya lagi dibacam, dan esoknya lagi dipepes. Begitu seterusnya. Saking seringnya disajikan, para santri pun kerap kali dilanda kebosanan. Tapi, berhubung tidak ada pilihan lain, mau tidak mau menu itu akhirnya disantap juga.

Yang menarik dan entah siapa yang memulai, gara-gara menu makannya tempe lagi-tempe lagi, santri pun memiliki sebutan khas untuk jenis makanan yang satu itu, yaitu pedal becak, karena bentuk potongannya yang mirip atau sebesar pedal becak. Jadi, setiap kali ibu dapur ditanya, “Apa ikannya?”, dan dijawab tempe, para santri akan bilang, “O… pedal becak!”.

Menariknya lagi, istilah pedal becak tidak hanya populer di satu pesantren saja, tetapi juga di banyak pesantren. Satu bukti adalah ketika saya harus pindah pesantren. Di pesantren yang baru, saya mendapati tempe dengan sebutan pedal becak juga!

***

Pedal becak, eh.. tempe, adalah makanan yang merakyat. Selain harganya murah meriah dan mudah diperoleh, tempe juga kaya akan gizi, tak kalah dengan gizi yang terdapat pada daging. Tapi, ironisnya, tempe seperti sudah terstigma dengan makanan rakyat jelata dan dianggap sebagai makanan kelas dua. Padahal, nyatanya tempe tidak hanya dimakan oleh rakyat jelata, tapi juga disuka para penguasa.

Maka, selain sebutan pedal becak tadi, tak jarang kita juga sering mendengar ungkapan-ungkapan yang dinisbatkan dengan tempe dengan maksud menghina, misalnya sebutan mental tempe atau bangsa tempe. Tak kurang dari Presiden Soekarno, dalam sebuah orasinya pernah mengatakan agar bangsa ini jangan memiliki mental tempe! Seolah dengan mental atau bangsa tempe kita menjadi bangsa yang terjajah atau bangsa yang bodoh.

Akibat stigmatisasi yang begitu mendalam sebagai makanan kelas dua, kita menjadi tidak punya rasa bangga terhadap tempe sebagai makanan khas bangsa sendiri. Kita juga tak marah ketika hak paten tempe kini berada di tangan Jepang. Kita baru tersadar dan merasa kehilangan terhadap tempe dan tahu, baru kali ini saja, setelah keduanya sulit didapat di tukang-tukang sayur atau di pasar-pasar karena harga kedelai yang melambung tinggi. Setelah para produsen tahu dan tempe sepakat menghentikan produksinya dan berdemo di depan istana memprotes kenaikan harga kedelai yang sangat tidak wajar.

Sungguh terlalu. Sebagai bangsa tempe, kita juga ternyata tak lagi dapat menikmati tempe….!

***

Beberapa hari yang lalu saya datang ke pesantren tempat saya nyantri dahulu karena ada reunian. Selepas acara, kami dipersilakan menikmati makan siang khas pesantren. Kecuali sayur asam, kerupuk, ikan asin, sambal, dan lalapan, saya sama sekali tak menemukan pedal becak, alias tempe.

Saya tak sempat bertanya mengapa tidak ada tempe atau tahu yang biasa kami makan semasa mesantren. Tapi saya yakin, kedua jenis lauk pauk itu sudah menghilang di pasaran, sehingga menu makan kali ini berubah. Bukan lagi pedal becak, tapi ikan asin. Hanya ikan asin, minus tempe. Ya, ya, ya……!**

 



Buku-buku tentang Soeharto
Januari 12, 2008, 12:20 pm
Filed under: Pustaka

Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, Seperti dipaparkan kepada: G. Dwipayana dan Ramadhan K.H (Penerbit: PT Citra Lamtoro Gung Persada, Terbit Tahun 1988)

Dua Jenderal Bicara Tentang Gestapu/PKI (Editor: Anton Tabah, Pengantar: Prof. Dr. Taufik Abdullah, Pencetak: CV Sahabat Klaten Tahun 2000).

Perkara HM Soeharto; Politisasi Hukum Dalam Kajian Perspektif Hukum (Acara) Pidana (Penulis: Dr. Indriyanto Seno Adji, SH, MH dan Juan Felix Tampubolon, SH, MH, Penerbit: Multimedia Metrie Tahun 2001).

Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988 (Oleh: Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: Nazaruddin Sjamsuddin, Penerbit: PT Citra Lamtoro Gung Persada, Tahun 1992).

Proses Peradilan Soeharto Presiden Ke-2; Penegakan Hukum atau Komoditi Politik (Penulis: Ismail Saleh SH, Sambutan: Sudhrmono, Saadillah Mursjid, Prof. Dr. Loebby Loqman, Amir Santoso, Ismail Saleh, Penerbit: Yayasan Dharmais, Juni 2001).

Empati di Tengah Badai; Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei-31 Desember 1998 (Editor: Anton Tabah, Penerbit: Kharisma Tahun 1999).

Simpati dan Doa untuk Pak Harto; Kumpulan Surat-Surat 1 Januari s/d 30 Juni 1999 (Editor: Anton Tabah, Penerbit: Kharisma Tahun 1999).

Pandangan Presiden Soeharto Tentang Pancasila (Editor: Krissantono, Penerbit: Centre for Strategic and International Studies, Dicetak Kembali Oleh Sekretariat Negara Tahun 1976).

Pandangan Perempuan Tentang Soeharto; Kata Hati La Rose dan Upi (Penulis: La Rose dan Upi Tuti Sundari, Penerbit: Yayasan La Rose Tahun 1999).

Pledoi Kolonel A Latief: Soeharto Terlibat G30S (Penulis: A. Latif, Penerbit: Institut Studi Arus Informasi, Tahun 2000, 282 halaman).

The Life and Legacy of Indonesian’s Second President (Penulis: Retnowati Abdulgani-Knapp, Penerbit: itu terdiri atas 5 bab dan 351 halaman).

Biografi Daripada Soeharto Dari Kemusuk Hingga Kudeta (Penulis Yogaswara, Penerbit Media Presindo, Tahun 2007).

Harta dan Yayasan Soeharto (Penulis Indra Ismawan, Penerbit: Media Presindo, Tahun 2007).

HM. Soeharto Membangun Citra Islam (Penulis Mistah Yusuf, Penerbit: Asiamark, Tahun 2007).

Soeharto Sehat (Kumpulan tulisan sejumlah penulis di antaranya George Junus Aditjondro, Penerbit: Galang Press, 2006).

Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto (Penulis Dewi Ambar Sari, dan Lazuardi Adi Sage, Penerbit: PT Jakarta Citra, Tebal: 364 halaman).

Dari Soeharto ke Habibie; Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari (Penulis: Dr. George Junus Aditjontro, Penerbit : MIK-Pijar Indonesia, Tahun 1998, Tebal: 160 halaman).

Renegotiating Boundaries: Local Politic in Post-Suharto Indonesia (Penyunting: Henk Shulte Nordholt & Gerri van Klinken, Penerbit: KITLV Press, Tahun 2007, Tebal: 562 halaman).

Anak Desa, Biografi Presiden Soeharto (Penulis: OG Roeder, Penerbit: Gunung Agung, Jakarta, Tahun 1976, Tebal: 416 halaman).

Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia (Penulis: Asvi Warman Adam, tebal 219 halaman).

     



Soeharto di Balik Buku
Januari 12, 2008, 11:48 am
Filed under: Pustaka

Dari yang Kontroversi hingga yang Simpati

Membicarakan Soeharto, mantan Presiden RI ke-2, seperti tidak pernah berkesudahan. Selalu ada yang menarik untuk dibahas dan diperbincangkan dari sosok yang pernah berkuasa selama 32 tahun tersebut. Perjalanan hidup jenderal bintang lima yang kini dirawat intensif karena penyakit kompilkasi yang dideritanya dan karena usianya yang sudah sangat uzur (87 tahun), ini memang menyimpan banyak kontroversi, dari awal berkuasa, hingga lengser 1998 silam.

Karena beragam kontroversi itulah, banyak buku yang mengupas dan mengulas segala hal menyangkut sepak terjang Pak Harto selama memimpin rezim Orde Baru. Mulai dari buku-buku yang menyanjungnya sebagai Bapak Bangsa, Bapak Pembangunan, dan sebagainya, hingga buku-buku yang menghujatnya, baik yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing (Inggris), ditulis oleh penulis bangsa sendiri maupun penulis asing. Dari yang isinya biasa-biasa saja hingga yang sangat kontroversial, sehingga menjadi perbincangan hangat publik.

Salah satu yang terkategori cukup kontroversial adalah buku berjudul Pledoi Kolonel A Latief: Soeharto Terlibat G30S (Penulis: A. Latif, Penerbit: Institut Studi Arus Informasi, Tahun 2000, 282 halaman).. Buku ini berisi pembelaan Kolonel Abdul Latief yang ditahan sejak   tanggal 11 Oktober 1965 karena tuduhan terlibat G30S, namun baru diadili pada tahun 1978. Pada buku yang mengisahkan serangkaian panjang penyiksaan fisik dan mental di luar kemanusiaan yang dilakukan Orde Baru terhadap Latief diungkapkan, dalam pertemuan Soeharto-Latief  tanggal 28 September 1965, Soeharto menyebutkan mengetahui bakal meletus suatu gerakan yang di kemudian hari dibakukan Orde Baru sebagai G30S/PKI.

       Persoalannya, menurut Latief yang ketika itu sebagai Komandan Brigade Infanteri I Kodam V Jaya datang melapor kepada Soeharto, mengapa Soeharto selaku Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) tidak menggagalkan peristiwa yang berbuntut pada penggulingan Soekarno selaku presiden “setelah mendapat laporan dari saya”.

       Dalam pengantar buku setebal 282 halaman tersebut, Latief  mempertanyakan “siapa sebenarnya yang melakukan coup d’etat pada 1 Oktober 1965: G30S ataukah Jenderal Soeharto. Inilah yang selalu menjadi permasalahan sekarang karena siapa sebenarnya yang mulai berkuasa setelah Presiden Soekarno ditawan hingga wafat. Siapa yang  menahan Presiden Soekarno dan siapa yang menggulingkan pemerintahan   Soekarno: G30S ataukah Soeharto?”

Buku lain meski terlalu kontroversi tetapi cukup membuat kita tercengang tentang sepak terjang Soeharto adalah buku berjudul Soeharto Sehat  terbitan Galang Press karya beberapa penulis. Buku ini merupakan suvenir untuk Presiden Kedua negeri ini “Bapak Pembangunan” penerima Surat Perintah Sebelas Maret”.

Dalam tulisannya yang bertajuk “Membongkar Kleptokrasi Warisan Soeharto: Mungkinkah?” yang dimuat dalam “Soeharto Sehat”, misalnya, George Junus Aditjondro secara gamblang membongkar seluk-beluk arena bisnis sang “Bapak Pembangunan”. Bahkan ia berhasil memetakan tujuh modus operandi yang dipakai untuk mengembalikan dinasti ekonomi Soeharto yang menurutnya sangat berbahaya ini.

Modus operandi pertama adalah penyelamatan perusahaan bermodal milik keluarga Soeharto yang terancam bangkrut, oleh perusahaan lain milik mereka yang berbasis di luar negeri. Dengan demikian, uang sekadar pindah dari kantong kiri ke kantong kanan. Modus operandi kedua adalah, mayoritas saham perusahaan milik keluarga Soeharto dibeli oleh perusahaan lain, tapi dengan meninggalkan saham minoritas buat anggota keluarga Soeharto. Di bawah pemilik baru, perusahaan-perusahaan itu berkembang dengan pesat. Sehingga walaupun persentase sahamnya mengecil, toh dividennya masih cukup besar.

Modus operandi ketiga adalah memanen dividen dari saham keluarga Soeharto di konglomerat-konglomerat yang dekat dengan penguasa sekarang, walaupun hanya merupakan saham minoritas. Modus operandi keempat adalah usaha aktif kerabat dan konco Soeharto untuk merebut kembali perusahaan-perusahaan yang dulu mereka kuasai secara penuh, antara lain dengan menggunakan vehicle companies di luar negeri. Modus operandi kelima adalah mendorong konco-konco keluarga Soeharto mengambil alih atau mengelola perusahaan-perusahaan yang ada kaitan dengan mereka, sambil tetap membayar ‘setoran’ ke keluarga Soeharto. Hal ini sangat menonjol dalam kerajaan bisnis Tommy Soeharto, termasuk di LP Nusa Kambangan. Di sana ia bersama Bob Hasan, mengembangkan modus operandi keenam, yakni berbisnis dengan melibatkan sipir penjara dan sesama narapidana. Akhirnya modus operandi ketujuh adalah memfasilitasi cucu-cucu Soeharto untuk terjun ke bisnis.

Junus Aditjontro juga sempat menulis buku Dari Soeharto ke Habibie; Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari yang diterbitkan oleh MIK-Pijar Indonesia tahun 1998 lalu. Buku ini antara lain berisi data-data yang membuat kita tercengang dan merupakan sebuah karya karya investigasi penulisnya yang ditulis dengan apik.

Aditjondro melakukan investigasi terhadap harta kekayaan Soeharto dan Habibie baik yang dikelola yayasan maupun perusahaan-perusahaan berikut milik kroni-kroninya. Ia mengakui kesulitan melacak kekayaan semua yayasan itu karena tumpang-tindihnya kekayaan keluarga Soeharto dengan kekayaan sejumlah keluarga bisnis yang lain, misalnya tiga keluarga Liem Sioe Liong, keluarga Eka Tjipta Widjaya, dan keluarga Bob Hasan.

Ternyata keluarga Soeharto tak hanya senang menggunakan pengusaha-pengusaha keturunan Cina sebagai operator bisnisnya. Sebab bisnis keluarga Soeharto juga sangat tumpang tindih dengan bisnis dua keluarga keturunan Arab, yakni Bakrie dan Habibie.

Harta kekayaan keluarga Soeharto bertumpang-tindih dengan kekayaan keluarga Habibie, yang berkongsi dengan Tommy dan Bambang dalam berbagai bisnis mereka di Pulau Batam, termasuk ekspor babi hidup ke Singapura dan dengan Tutut dalam bisnis telekomunikasi dan pemetaan udara.

Yayasan adalah salah satu mesin uang bagi Soeharto dan konco-konconya. Aditjondro mengelompokkannya menjadi enam kelompok yayasan. Pada bagian pertama berupa yayasan-yayasan yang diketuai Soeharto sendiri. Kedua, yayasan-yayasan yang diketuai Nyonya Tien Soeharto di masa hidupnya. Ketiga, yayasan-yayasan yang diketuai Soeharto secara tidak langsung lewat Habibie dan Bob Hasan. Keempat, yayasan-yayasan yang diketuai para anak dan menantu Soeharto.

Kelima, yayasan-yayasan yang diketuai atau dikelola para besan Soeharto beserta anak serta sanak-saudara mereka. Dan keenam, yayasan-yayasan yang diketuai atau dikelola sanak-saudara Soeharto dan Nyonya Tien Soeharto dari kampung halaman mereka di Yogyakarta dan Surakarta.

Terkadang karya-karya sosial yang sekilas nampak tak ada cela d iluarnya namun memiliki maksud lain di belakang. Misalnya keinginan Tutut untuk mendirikan satu perguruan tinggi di Timor Leste. Namun di balik semuanya ada keinginan untuk mendapatkan tenaga kerja berpendidikan tinggi. Rencana itu juga berbau politis: perguruan tinggi swasta yang sudah ada, Untim, sudah berkembang menjadi basis perlawanan pemuda-pemudi Maubere terhadap pendudukan Indonesia, menyusul adik-adik mereka di SLTA. Berarti, setelah gagal menggemboskan perlawanan para siswa SLTA, Tutut kini berusaha merambah ke benak para lulusan SLTA.

Ada juga buku otobiorafinya berjudul The Life and Legacy of Indonesian’s Second President. Otobiografi Soeharto yang ditulis oleh Retnowati itu terdiri atas 5 bab dan 351 halaman. Pada bab pertama berkisah tentang mimpi-mimpi Soeharto sejak kecil di kampung halamannya di Kemusuk, Yogyakarta. Bab kedua, Soeharto bercerita mengenai karir militernya. Kemudian pada bab tiga, Soeharto berbagi pengalaman ketika dirinya menjadi presiden. Dan pada bab empat, Soeharto menuturkan sejarah yayasan-yayasan yang dibentuknya.

Sedang bab terakhir merupakan refleksi penulis atas jalan hidup Soeharto. Dalam tulisannya itu Retnowati menekankan kemiripan hidup Soeharto dan Soekarno. Menurutnya, kedua tokoh tersebut dilahirkan dalam tingkat intelejensi dan keingintahuan tinggi yang tumbuh secara natural. Soekarno dan Soeharto, menurutnya, tokoh yang tampan secara fisik dengan kehidupan melegenda.

Buku tersebut senafas dengan buku berjudul Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan K.H (Penerbit: PT Citra Lamtoro Gung Persada, terbit tahun 1988).. Hanya bedanya, buku ini terbit ketika Soeharto berkuasa dan isi tulisannya ditentukan oleh Soeharto sendiri, sedangkan buku The Life and Legacy of Indonesian’s Second President terbit setelah Soeharto lengser dan merupakan tulisan hasil wawancara sekaligus reportase penulisanya.

Selain buku-buku yang kontroversial, bahkan berisi hujatan, tapi ada pula buku yang justru berisi simpati. Di antaranya buku berjudul Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto. Buku setebal 364 halaman yang diterbitkan PT Jakarta Citra itu ditulis Dewi Ambar Sari dan Lazuardi Adi Sage, mengungkapkan sisi baik Soeharto yang membuatnya dicintai rakyat.

Buku “Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto” itu merupakan penyempurnaan buku berjudul “Beribu Alasan Kita Mencintai Pak Harto” karya penulis yang sama dan diluncurkan sebagai kado ulang tahun Pak Harto Juni 2006. Dalam buku itu, Ambar dan Lazuardi memuat komentar rakyat dari berbagai lapisan dan penjuru negeri, selain juga memuat biografi, dan memuat foto-foto kegiatan dan kehidupan Soeharto, Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan yang pernah memimpin Indonesia selama 32 tahun.***(diolah dari berbagai sumber)



Syekh Nawawi al-Bantani
Januari 9, 2008, 4:23 am
Filed under: Apa Siapa

Penghulu Para Ulama

 

Sayid ’Ulamail Hijaz adalah gelar yang disandangnya. Sayid adalah penghulu, sedangkan Hijaz wilayah Saudi sekarang, yang di dalamnya termasuk Mekah dan Madinah. Dialah Syekh Muhammad Nawawi, yang lebih dikenal orang Mekah sebagai Nawawi al-Bantani, atau Nawawi al-Jawi seperti tercantum dalam kitab-kitabnya.

Al-Bantani menunjukkan bahwa ia berasal dari Banten, sedangkan sebutan al-Jawi mengindikasikan musalnya yang Jawah, sebutan untuk para pendatang Nusantara karena nama Indonesia kala itu belum dikenal. Kalangan pesantren sekarang menyebut ulama yang juga digelari asy-Syaikh al-Fakih itu sebagai Nawawi Banten.

Muhammad Nawawi lahir pada 1230 H (1815 M) di Tanara, sekitar 25 km arah utara Kota Serang. Ayahnya, Umar ibnu Arabi, adalah penghulu setempat. Ia sendiri yang mengajar putra-putranya (Nawawi, Tamim, dan Ahmad) pengetahuan dasar bahasa Arab, Fikih, dan Tafsir.

Kemudian mereka melanjutkan pelajaran ke Kiai Sahal, masih di Banten, dan setelah itu mesantren ke Purwakarta, Jawa Barat, kepada Kiai Yusuf yang banyak santrinya dari seluruh Jawa. Masih remaja ketika mereka menunaikan ibadah haji, Nawawi baru berusia 15 tahun, dan tinggal selama tiga tahun di mekah. Tapi, kehidupan intelektual Kota Suci itu rupanya mengiang-ngiang dalam diri si sulung, sehingga tidak lama setelah tiba di Banten ia mohon dikembalikan lagi ke Mekah. Dan di sanalah ia tinggal sampai akhir hayatnya. Ia wafat pada 25 Syawwal 1314 H/1897 M. Kabar lain menyebutkan kembalinya ke Tanah Suci, setelah setahun di Tanara meneruskan pengajaran ayahnya, disebabkan situasi politik yang tidak menguntungkan. Agaknya keduanya benar.

Di Mekah, selama 30 tahun Nawawi belajar pada ulama-ulama terkenal seperti Syekh Abdul Gani Bima, Syekh Yusuf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, dan Abdul Hamid Daghestani, selain pada Khatib Sambas, pemimpin tarekat Qadiriah, penulis kitab Fathul Arifin, bacaan pengamal tarekat di Asia Tenggara. Samba juga merupakan guru tokoh di balik pemberontakan petani Banten (1888), KH Abdul Karim alias Kiai Agung, yang menjelang ajal sang guru dipanggil kembali ke Mekah untuk menggantikan kedudukannya.

Dalam penggambaran Snouck Hurgronje, Syekh Nawawi adalah orang yang rendah hati. Dia memang menerima cium tangan dari hampir semua orang di Mekah, khususnyan orang Jawa, tapi itu hanya sebagai penghormatan kepada ilmu. Kalau ada orang yang meminta nasihatnya di bidang fikih, dia tidak pernah menolaknya.

Snouck Hurgronje pernah menanyakan, mengapa dia tidak mengajar di Masjid al-Haram, Syekh Nawawi menjawab bahwa pakaiannya yang jelek dan kepribadiannya yang tidak cocok dengan kemulian seorang profesor berbangsa Arab. Sesudah itu Snouck mengatakan bahwa banyak orang yang tidak berpengetahuan tidak sedalam dia, toh mengajar di sana juga. Nawawi menjawab, “Kalau mereka diizinkan mengajar di sana, pastilah mereka cukup berjasa untuk itu”.(Lihat, Steenbrink, Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia, h. 117-122)

Pada tahun 1860-1970, Nawawi mulai aktif memberi pengajaran. Tapi itu dijalaninya hanya pada waktu-waktu senggang, sebab antara tahun-tahun tersebut ia sudah sibuk menulis buku-buku. Di antara murid-muridnya yang berasal dari Indonesia adalah:

  1. KH Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Kelak bersama KH Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).
  2. KH Khalil, Bangkalan, Madura, Jawa Timur.
  3. KH Mahfudh at-Tarmisi, Tremas, Jawa Timur.
  4. KH Asy’ari, Bawean, yang kemudian diambil mantu oleh Syekh Nawawi dinikahkan dengan putrinya, Nyi Maryam.
  5. KH Nahjun, Kampung Gunung, Mauk, Tangerang, yang dijadikan mantunya (cucu).
  6. KH Asnawi, Caringin, Labuan (kelak memimpin Sarekat islam di Banten).
  7. KH Ilyas, Kragilan, Serang.
  8. KH Abdul Ghaffar, Tirtayasa, Serang.
  9. KH Tubagus Bakri, Sempur, Purwakarta.
  10. KH Mas Muhammad Arsyad Thawil, Tanara, Serang, yang kemudian dibuang Belanda ke Manado, Sulawesi Utara, karena peristiwa Geger Cilegon.

Mata pelajaran yang diajarkan Nawawi meliputi Fikih, Ilmu Kalam, Tasawuf/Akhlak, Tafsir, dan Bahasa Arab.

 

Karya-karyanya

Setelah tahun 1870 Nawawi memusatkan kegiatannya hanya untuk mengarang. Dan boleh dikata, Nawawi adalah penulis yang subur, kurang lebih dari 80 kitab yang dikarangnya. Tulisan-tulisannya meliputi karya pendek, berupa berbagai pedoman ibadah praktis, sampai tafsir al-Qur’an – sebagian besarnya merupakan syarah kitab-kitab para pengarang besar terdahulu.

Berikut contoh beberapa karya Nawawi, mulai dari fikih, tafsir, sampai bahasa Arab, yang kita kutip dari H Rafiuddin (Sejarah Hidup dan Silsilah al-Syeikh Kyai Muhammad Nawawi Tanari, 1399 H):

  1. Sulam al-Munajah, syarah atas kitab Safinah ash-Shalah, karya Abdullah ibn Umar al-Hadrami.
  2. Al-Tsimar al-Yaniat fi riyadl al-Badi’ah, syarah atas kitab Al-Riyadl al-Badi’ah fi Ushul ad-Din wa Ba’dhu furu’usy Sar’iyyah ’ala Imam asy-Syafi’i karya Syekh Muhammad Hasballah ibn Sulaiman.
  3. Uqud al-Lujain fi Bayani Huquq al-Jawazain, kitab fikih mengenai hak dan kewajiban suami-istri
  4. Nihayatuz Zain fi Irsyad al-Mubtadiin, syarah atas kitab Qurratul ’aini bi muhimmati ad-din, karya Zainuddin Abdul Aziz al-Maliburi.
  5. Bahjat al-Wasil bi Syarhil Masil, syarah atas kitab Ar-Rasail al-Jami’ah Baina Ushul ad-Din wal-Fiqh wat-Tasawuf, karya Sayid Ahmad ibn Zein al-Habsyi.
  6. Qut al-Habib al-Ghaib, Hasyiyah atas syarah Fathul Gharib al-Mujib karya Muhammad ibn Qasyim al-Syafi’i.
  7. Asy-Syu’ba al-Imaniyyat, ringkasan atas dua kitab yaitu Niqayyah karya al-Sayuthi dan al-Futuhat al-Makiyyah karya Syekh Muhammad ibn Ali.
  8. Marraqiyyul ’Ubudiyyat, syarah atas kitab Bidayatul Hidayah karya Abu hamid ibn Muhammad al-Ghazali .
  9. Tanqih al-Qaul al-Hadits, syarah atas kitab Lubab al-Hadits karya al-Hafidz Jalaluddin Abdul Rahim ibn Abu Bakar as-Sayuthi.
  10. Murah Labib li Kasyfi Ma’na al-Qur’an al-Majid, juga dikenal sebagai Tafsir Munir.
  11. Qami’al Thughyan, syarah atas Syu’ub al Iman, karya Syekh Zaenuddin ibn Ali ibn Muhammad al-Malibari.
  12. Salalim al-Fudlala, ringkasan/risalah terhadap kitab Hidayatul Azkiya ila Thariqil Awliya, karya Zeinuddin ibn Ali al-Ma’bari al-Malibari.
  13. Nasaih al-Ibad, syarah atas kitab Masa’il Abi Laits, karya Imam Abi Laits.
  14. Minqat asy-Syu’ud at-Tasdiq, syarah dari Sulam at-Taufiq karya Syeikh Abdullah ibn Husain ibn Halim ibn Muhammad ibn Hasyim Ba’lawi.
  15. Kasyifatus Saja, syarah atas kitab Syafinah an-Najah, karya Syekh Salim ibn Sumair al-Hadrami.

Dalam pada itu, YA Sarkis menyebut 38 karya Nawawi yang penting, yang sebagiannya diterbitkan di Mesir. Misalnya Murah Labib, yang juga dikenal sebagai Tafsir Munir.

Berikut beberapa contoh karya Nawawi yang penting yang terbit di Mesir (Dhofier, 86):

  1. Syarah al-Jurumiyah, isinya tentang tata bahasa Arab, terbit tahun 1881.
  2. Lubab al-Bayan (1884).
  3. Dhariyat al-Yaqin, isinya tentang doktrin-doktrin Islam, dan merupakan komentar atas karya Syekh sanusi, terbit tahun 1886.
  4. Fathul Mujib. Buku ini merupakan komentar atas karya ad-Durr al-Farid, karya Syekh Nahrawi (guru Nawawi) terbit tahun 1881.
  5. Dua jilid komentar tentang syair maulid karya al-Barzanji. Karya ini sangat penting sebab selalu dibacakan dalam perayaan-perayaan maulid.
  6. Syarah Isra’ Mi’raj, juga karangan al-Barzanji.
  7. Syarah tentang syair Asmaul Husna.
  8. Syarah Manasik Haji karangan Syarbini terbit tahun 1880.
  9. Syarah Suluk al-Jiddah (1883)
  10. Syarah Sullam al-Munajah (1884) yang membahas berbagai persoalan ibadah.
  11. Tafsir Murah Labib.

Syekh Nawawi menjadi terkenal dan dihormati karena keahliannya menerangkan kata-kata dan kalimat-kalimat Arab yang artinya tidak jelas atau sulit dimengerti yang tertulis dalam syair terkenal yang bernafaskan keagamaan. Kemasyhuran Nawawi terkenal di hampir seluruh dunia Arab. Karya-karyanya banyak beredar terutama di negara-negara yang menganut faham Syafi’iyah. Di Kairo, Mesir, ia sangat terkenal. Tafsirnya Murah Labib yang terbit di sana diakui mutunya dan memuat persoalan-persoalan penting sebagai hasil diskusi dan perdebatannya dengan ulama al-Azhar.

Di Indonesia khususnya di kalangan pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam, serta peminat kajian Islam Syekh Nawawi tentu saja sangat terkenal. Sebagian kitabnya secara luas dipelajari di pesantren-pesantren Jawa, selain di lembaga-lembaga tradisional di Timur tengah, dan berbagai pemikirannya menjadi kajian para sarjana, baik yang dituangkan dalam skripsi, tesis, disertasi, atau paper-paper ilmiah, di dalam maupun luar negeri.

Beberapa karya ilmiah tentang Syekh Nawawi yang ditulis sarjana kita antara lain:

  1. Ahmad Asnawi, Pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani tentang Af’al al-’Ibad (Perbuatan Manusia), (Tesis Magister IAIN Jakarta, 1984).
  2. Ahmad Asnawi, Penafsiran Syekh Muhammad nawawi tentang Ayat-ayat Qadar. (Disertasi Doktor IAIN Jakarta, 1987).
  3. Hazbini, Kitab Ilmu Tafsir Karya Syeikh Muhammad Nawawi, (Tesis Magister IAIN Jakarta, 1996).
  4. MA Tihami, Pemikiran Fiqh al-Syeikh Muhammad Nawawi al-Bantani, (Disertasi Doktor IAIN Jakarta, 1998).
  5. Sri Mulyati, Sufism in Indonesia: Analysisof Nawawi al-Bantani’s Salalim al-Fudhala, (Tesis Mgister McGill University, Kanada, 1992).
  6. Muslim Ibrahim Abdur Rauf, Al-Syeikh Muhammad Nawawi al-Jawi: Hayatuhu wa Atsaruhu fi al-Fiqh al-Islami. (Tesis Magister, Al-Azhar University, Kairo, 1979).

 

Nawawi dan Polotik Kolonialisme

Syekh Nawawi memang tidak seaktif Syekh Nahrawi yang menyerukan jihad dalam menghadapi kekuasaan asing di Nusantara. Toh dia merasa bersyukur juga ketika mendengar betapa Belanda menghadapi banyak kesulitan di Aceh. Dalam pembicaraannya dengan Snouck Hurgronje, dia tidak menyetujui pendapat bahwa tanah Jawa harus diperintah oleh orang Eropa.

“Andaikata Kesultanan Banten akan dihidupkan kembali, atau andaikata sebuah negara Islam independen akan didirikan di sana, pasti dia akan betul-betul merupakan kegiatan suatu kelompok orang fanatik yang tidak teratur,” kata Hurgronje, yang pernah menetap selama enam bulan di Mekah (dalam penyamaran), 1884-1885. Tak heran, jika ia memandang pemberontakan petani di Cilegon (1888) yang dipimpin KH Wasid, sebagai jihad yang diperintahkan.(suryana sudrajat dan abdul malik/artikel ini juga bisa dibaca di buku Jejak Ulama Banten, dari Syekh Nawawi Hingga Abuya Dimyati, penerbit Humas Setda Provinsi Banten, 2004)



Nyonya Gajah Mada
Januari 7, 2008, 4:33 am
Filed under: Kolom

Suatu hari saat berlangsung mata pelajaran Sejarah, sang guru bertanya kepada anak-anak didiknya, “Siapa istri Mahapatih Gajah Mada?”

Karuan, pertanyaan tersebut membuat para pelajar bengong, karena selama ini tak pernah muncul pertanyaan yang aneh dan sulit dijawab seperti itu. Apalagi, dalam buku-buku sejarah tak pernah dibahas peran seorang istri, sekalipun ia istri sang Mahapatih. Buku-buku sejarah yang ada selalu dan hanya memuat cerita tentang kehebatan kaum pria saja.

Jadinya, murid pun hanya tahu dan hapal nama-nama para aktor sejarah seperti Gajah Mada, Pangeran Diponegoro, Sultan Ageng Tirtayasa, dan laki-laki lain yang gagah berani itu. Kaum perempuan, jikapun ditulis di buku-buku sejarah dan dihapal para murid, tidak pernah berkutat pada nama-nama seperti RA Kartini, Dewi Sartika, dan sedikit kaum perempuan lainnya.

Pertanyaan guru tadi tentang siapa istri Mahapatih Gajah Mada tentu saja hanya sebuah pertanyaan imajiner. Akan tetapi jawabannya belum tentu imajiner. Jawabannya sangat mudah dan sudah pasti betul. Siapa? Ya Nyonya Gajah Mada!

Itulah fakta bahwa sejarah kita masih didominasi cerita kepahlawanan kaum Adam yang gagah perkasa itu. Peran kaum perempuannya, termasuk para nyonya si aktor sejarah tadi nyaris tak tersentuh dalam bahasan di buku-buku sejarah kita. Maka, tak aneh jika kita katakan bahwa sejarah kita adalah sejarah yang melelaki, sejarah yang penuh dengan nuansa kelelakian.

Fakta sejarah ini, tentu berimbas pula pada realitas keseharian kita hari ini. Saat ini kita sulit menemukan peran kaum perempuan yang mandiri, yang tanpa diembel-embeli nama besar sang suami. Lihatlah, misalnya, nama-nama istri pejabat kita, selalu di ujung namanya tercantun nama sang suami. Jadinya, publik kalaupun mengenali siapa mereka, tak lebih sebagai istri dari orang-orang hebat yang memiliki kekuasaan tadi.

Kalaupun dikenali kiprahnya, tak lebih dari sekadar berkiprah di organisasi yang secara tradisional menjadi pendamping (?) sang suami. Maka tak heran bila sang suami melakukan kunjungan kerja ke mana pun, atau berkegiatan seremonial lain dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik, di situ selalu didampingi sang nyonya dengan kapasitas selain sebagai istri, tetapi juga sebagai ketua organisasi kewanitaan ini dan itu yang berhubungan langsung dengan tempat suaminya bekerja atau beraktivitas.

Tentu, pandangan seperti itu terlalu stereotip. Terlalu hitam putih dan menyamaratakan kaum perempuan. Akan tetapi, pandangan tersebut pun tak selalu salah. Sebagian fakta itu benar karena nyatanya masih ada para nyonya yang tak pernah lepas dari peran dan nama besar sang suami baik secara individual maupun secara organisatoris.

Dalam budaya patriarki sebagaimana masih dianut oleh umumnya masyarakat kita, aktivitas, sebutan, dan panggilan yang disandingkan dengan nama besar suami tentu saja sah-sah saja terjadi. Akan tetapi, tanpa kita sadari, peran-peran para kaum perempuan seperti itu pada akhirnya hanya menjadi peran para kaum perempuan elit saja. Kiprahnya pun di masyarakat tidak terlalu terlihat dan dirasakan.

Aktivitasnya bisa jadi tak lebih dari sekadar kumpul-kumpul dengan pekaian kebesarannya seperti mendampingi suami ketika melakukan kunjungan kerja, arisan, lomba masak, donor darah, dan sesekali mengadakan pengajian. Peran lebih besar lagi yang sesungguhnya amat dinanti masyarakat amat jarang, bahkan (mungkin) sama sekali tidak dilakukan.

Parahnya lagi, dunia pendidikan kita ikut-ikutan membangun stereotipe demikian. Dari begitu banyak perguruan tinggi di Indonesia, dari Aceh hingga Papua, nyaris tidak ada perguruan tinggi dengan nama-nama perempuan. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Gajah Mada, Universitas Diponegoro, dan lain-lain, adalah fakta bahwa dunia pendidikan kita adalah dunia yang melelaki. Padahal, melalui pendidikanlah stereotipe demikian itu mestinya bisa dihapus, dan keseimbangan maupun kesetaraan gender dapat dibangun.

Karena itu, sulit bagi kita membangun kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, jika sistem pendidikan, pola pikir, maupun sejarah masa lalu bangsa ini masih belum adil membagi peran kepada kaum hawa. Sebab, di balik ’kesuksesan’ para lelaki itu, sejatinya selalu ada peran signifikan kaum hawa (baca; para istri). Dan, tentu bukan yang aktivitasnya hanya sebagai pendamping, tetapi juga pendorong sekaligus partner seimbang kaum Adam (baca; suami).

Jadi, tak mungkin nama Mahapatih Gaja Mada begitu terkenal dan legendaris hingga kini, jika tanpa ada perempuan di sampingnya. Ya, Nyonya Gajah Mada itu orangnya…!