Bantencorner’s Weblog


Belajar KEK ke Negeri China
November 19, 2007, 5:03 am
Filed under: Kolom

SEKITAR sepekan lalu, secara tak sengaja penulis terlibat obrolan dengan sejumlah PNS di lingkungan Pemprov Banten yang penulis belum kenal sebelumnya. Obrolan terfokus pada rencana Banten menjadi tuan rumah MTQ tingkat Nasional pada 2008 mendatang yang akan dipusatkan di Pusat pemerintahan Provinsi Banten di kawasan Curug, Serang.
Dalam perbincangan itu terungkap kekhawatiran mereka karena belum terlihat adanya persiapan dan kesiapan serius dalam menghadapi even besar ini. Selain masjid yang belum dibangun, berbagai sarana pendukung lainnya, termasuk balum masuknya sarana air bersih (baca; PAM) juga menjadi persoalan besar yang dihadapi Pemprov, sementara waktu begitu cepat berjalan.
Dari obrolan itu, penulis menangkap sebuah ‘simpulan’ yang sempat dilontarkan oleh salah seorang dari mereka. Kata dia, birokrasi di Banten seringkali tidak bisa memilah mana kebutuhan dan mana keinginan, sebab antara keduanya sangat berbeda. Kebutuhan, kata dia, merupakan prioritas yang harus segera dilaksanakan. Sedangkan keinginan, tidak merupakan kebutuhan sehingga tidak perlu menjadi prioritas, dan jika dilaksanakan ataupun tidak, tidak akan berpengaruh apa-apa.
Celakanya, birokrasi di kita kerap kali lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan. Sehingga, sering muncul rencana muluk yang lebih bersumber dari keinginan tadi, dan terkadang sangat subjektif dan lebih merupakan ambisi orang per orang.

Kunjungan ke China 

Beberapa hari ini koran-koran lokal di Banten rajin mengangkat berita soal rencana kunjungan sekitar 21 pejabat birokrat dan legislatif Banten ke China pada 29 November 2007 mendatang untuk mempelajari tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Keberangkatan mereka, tak pelak, menuai kontroversi di masyarakat.
Banyak pihak menganggap bahwa keberangkatan ke China hanya pemborosan dan tidak memiliki banyak manfaat. Inefesiensi, dan sebagainya. Sebaliknya, bagi pejabat yang akan berangkat menyatakan bahwa keberangkatan ke China sangat penting karena Banten memiliki kawasan yang rencananya akan dikembangkan menjadi kawasan ekonomi khusus seperti di China.
Tentang rencana pengembangan kawasan Bojonegara sebagai kawasan ekonomi khusus, penulis sempat ‘terlibat’ secara pasif dan simbolis karena mendapatkan SK Gubernur. Karena itu, sekitar dua kali penulis ikut rapat untuk membahas rencana besar tersebut. Pertama, mengikuti pertemuan di Jakarta, kalau tidak salah sekitar tiga atau empat bulan silam. Kedua, mengikuti workshop tentang KEK Bojonegara selama dua hari, tak lama setelah pertemuan di Jakarta.
Setelah itu, tak ada lagi undangan maupun koordinasi apapun tentang KEK Bojonegara. Tahu-tahu, penulis membaca koran dan beroleh informasi bahwa sekian pejabat akan berangkat ke China untuk belajar tentang KEK.
Tanpa mengurangi penghargaan kepada Pak Yayat Suhartono (anggota DPRD Banten yang kebetulan ikut berangkat) yang telah merekomendasikan nama penulis dalam tim KEK sehingga penulis sempat disebut oleh Kabiro Perekonomian Pak Iin Mansyur sebagai orangnya beliau, ada satu pertanyaan penulis; benarkah keberangkatan ke China sudah merupakan kebutuhan atau prioritas, bukan atas dasar keinginan dari orang per orang yang kemudian dilegalisasi menjadi keinginan institusi karena sudah tercantum dalam item anggaran APBD, sehingga ‘menjadi’ prioritas?
Tentu, hanya mereka yang bisa menjawab pertanyaan itu.
Tapi, bagi penulis, selama paradigma belum belum berubah, sulit mendapatkan sesuatu yang berharga dari sebuah perjalanan atau kunjungan, apalagi sampai diaplikasikan sekembalinya ke Banten. Sebab, tak sedikit program kunjungan dibuat oleh dinas/instansi di lingkungan Pemprov Banten setiap tahunnya, baik kunjungan ke luar daerah maupun luar negeri. Setiap itu pula publik tak pernah memperoleh laporan dari hasil kunjungan mereka, apalagi manfaat langsung yang dirasakan.
Yang muncul ke publik hanya sebatas laporan seperti kawasan yang dikunjungi sangat cocok diterapkan karena memiliki kesamaan dengan salah satu kawasan di Banten. Sedangkan aplikasi sesungguhnya di lapangan, amat sulit kita melihat wujudnya.

Ikan Asin

Pada 2002 silam penulis diajak dan ikut rombongan para pejabat dalam kunjungan kerja ke sejumlah kota di Sulawesi Utara. Kegiatan kunjungan yang diselenggarakan salah satu badan di lingkungan Pemprov Banten, itu antara lain dimaksudkan untuk mempelajari berbagai hal mulai dari administrasi pemerintahan hingga pengembangan objek wisata yang manfaatnya dapat diterapkan di Banten.
Selama sekitar tiga empat hari di sana, penulis mencatat hanya sedikit saja waktu yang dimanfaatkan untuk benar-benar belajar. Sebagian besar waktu justru digunakan untuk ‘belajar’ menikmati satu objek wisata ke objek wisata lain. Dan terakhir, waktu yang paling ditunggu-tunggu adalah berbelanja oleh-oleh sepuas hati, mulai dari ikan asin hingga kain khas Sulawesi Utara.
Tak aneh bila masing-masing dari mereka membawa pulang dua hingga tiga kardus besar oleh-oleh, layaknya hendak membuka warung. Sedangkan oleh-oleh sesungguhnya yang mereka bawa, berupa ilmu, wawasan, dan perubahan cara pandang, terlupakan oleh kesibukan menghitung berapa staf atau anggota keluarga yang bakal memperoleh buah tangan berupa kaos, guntingan kunci, atau….. hanya ikan asin.
Nah, jangan-jangan sepulang dari China nanti, oleh-oleh yang dibawa malah cerita tentang pengalaman menelusuri tembok China……?***


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Mungkin bapak-bapak pejabat mau melestarikan pepatah lama “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negri Cina”, atau bapak-bapak pejabat mau melihat salah satu keajaiban dunia ya……Biar nanti pulang dari Cina bisa membuat Banten menjadi ajaib yang tiba-tiba menjadi makmur adil dan sejahtera

Komentar oleh Nino Tri




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: