Bantencorner’s Weblog


Kolom: Dari IAIN ke Entertainment
November 11, 2007, 1:36 am
Filed under: Kolom

BEBERAPA hari lalu, saya kedatangan dua orang mahasiswa. Mereka datang ke kantor untuk meminta saya menjadi pembicara dalam acara pembekalan Kang dan Nong Serang yang akan berlangsung pada 14 November nanti di salah satu hotel di kawasan Anyer. Kedua orang itu adalah mahasiswa IAIN Serang yang juga aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya.
Beberapa bulan silam saya masih diundang mereka untuk menjadi moderator sebuah seminar nasional dan pembicara dalam kegiatan diskusi di kampusnya. Kali ini, saya diundang sebagai pembicara dalam kegiatan di luar kampus. Dan dari obrolan dengan mereka, saya menjadi tahu bahwa keduanya telah lulus kuliah beberapa waktu lalu dan kini berkiprah di dunia entertainment.
Keduanya bersama beberapa lulusan IAIN lainnya bergabung dengan komunitas Titik Nol, sebuah komunitas yang di antaranya menerbitkan majalah komik. Di samping itu komunitas ini juga mulai bergerak dalam kegiatan lain seperti menjadi co promotor dalam even pemilihan Kang dan Nong Serang tahun 2007 ini.
Yang saya surprise adalah bahwa latar belakang kuliah mereka ternyata tidak berkaitan sama sekali dengan pekerjaan mereka saat ini. Mata kuliah entertainment sama sekali tidak tidak diajarkan oleh dosen mereka. Yang diajarkan adalah mata kuliah-mata kuliah seperti Tafsir, Hadis, Fikih, dan lain-lain.
Tapi kemudian saya menjadi mafhum bahwa sebagai mantan aktivis mahasiswa, mereka memiliki modal untuk ‘tercebur’ di dunia antah berantah itu (baca; entertainment). Aktif dalam organisasi kemahasiswaan semacam BEM memungkinkan mereka memiliki banyak jejaring dengan siapa pun dan lembaga mana pun.
Selama berorganisasi mereka menjadi tertempa, bukan saja secara mental, tetapi juga wawasan dan pergaulan. Dunia mereka menjadi lebih luas. Keterkungkungan yang boleh jadi melingkupi rekan-rekannya sesama IAIN karena telah terstigma sebagai kampus agama sehingga sulit memperoleh kerja, tidak berlaku bagi mereka.

Ijazah Kedua
Dari cerita dan paparan di atas, saya mengambil dua kesimpulan besar. Pertama, berorganisasi — apapun bentuk organisasi dan kegiatannya – memiliki manfaat yang besar dalam rangka pengembangan diri. Dengan berorganisasi kita menjadi makhluk sosial, lebih memiliki kepekaan dan kepedulian, serta yang terpenting lagi memiliki jaringan atau networking yang satu waktu akan sangat membantu kita ketika akan berkiprah dalam dunia kerja.
Sebaliknya, jejaring atau networking agak sulit diperoleh oleh mereka yang semasa mahasiswanya memilih untuk hanya berorientasi kuliah, dalam arti tidak berorganisasi. Karena terkungkungi oleh target sekian tahun harus lulus kuliah dan memperoleh IP sekian, mereka yang memilih cara seperti ini akan terpola dengan kegiatan rutin yang seluruhnya berorientasikan kuliah. Kegiatan di luar kuliah semisal berorganisasi dianggap sebagai penghambat. Karena itu, berorganisasi, kalau bisa sekadarnya saja, atau bahkan dihindari.
Pilihan seperti itu tentu tidak salah, akan tetapi akan berpengaruh di saat menghadapi realitas kehidupan sebenarnya terutama pasca selesainya kuliah. Mereka baru akan sadar betapa pasar kerja tidak selalu membutuhkan kesarjanaan kita. Kalaupun ada lowongan yang membutuhkan keahlian yang sesuai latar belakang kesarjanaan kita, jumlahnya hanya sedikit tetapi peminatnya bejibun. Dengan demikian, kemungkinan untuk diterima pun amat tipis. Nah, dari sinilah biasanya banyak dari kita merasa memiliki masa depan suram alias madesu. Dari sini pula kebanyakan dari kita mulai menyadari betapa jejaring itu amat perlu.
Kedua, keahlian berorganisasi memungkinkan untuk dijadikan sebagai ijazah kedua setelah ijazah kesarjaan kita, sehingga ada banyak pilihan pekerjaan yang dapat kita lakukan. Mengapa demikian?
Ijazah sarjana bisa kita gunakan untuk pilihan pekerjaan yang sifatnya formal dan sesuai dengan latar kesarjanaan kita. Saat melamar menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS), misalnya, mau tidak mau ijazah kesarjanaan harus kita sertakan. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa setiap penerimaan CPNS, kuota pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang kesarjaanaan kita amat sedikit, sementara peminatnya begitu banyak, sehingga kemungkinan diterima pun amat tipis.
Jika kondisi demikian yang terjadi, tidak ada pilihan lain kecuali kita menggunakan ‘ijazah kedua’, yakni keahlian berorganisasi dan jejaring yang telah kita bangun dahulu. Jejaring inilah yang kerap membantu kita memperoleh pekerjaan, meskipun – sekali lagi – kerap kali pekerjaannya itu sama sekali tidak memiliki hubungan dengan latar kesarjanaan kita. Bahkan dalam banyak contoh, orang yang bekerja karena keberhasilannya membangun jejaring, karirnya akan lebih cepat naik. Ia bisa segera meraih impiannya.

Menanam Harapan
Paparan di atas tentu bukan merupakan semacam ‘vonis mati’, terutama bagi mereka yang memilih tidak berorganisasi. Dunia itu berputar, karenanya tidak ada jaminan bagi siapa pun untuk meraih apa yang diinginkan (baca; memperoleh pekerjaan) tanpa keinginan kuat dari masing-masing individu. Artinya, dapat tidaknya pekerjaan selepas kuliah, semuanya bergantung pada individu masing-masing.
Pada kenyataannya, cukup banyak pula orang yang bisa bekerja hanya dengan mengandalkan ijazah kesarjanaannya. Karirnya pun cepat melesat. Tapi, ada pula yang mantan aktivis kampus hingga lulusnya dari kuliah masih juga nganggur alias bermasa depan suram. Lagi-lagi semuanya dikembalikan kepada individu masing-masing.
Tapi, dengan beragam aktivitas yang kita lakukan baik di kampus atau di mana pun, setidaknya kita tengah menanam banyak harapan untuk suatu ketika di antara harapan-harapan itu, ada satu atau dua yang terwujud. Dua orang lulusan IAIN tadi yang saat ini ‘tercebur’ dalam dunia lain (baca; entertainment), satu ketika boleh jadi mereka akan sukses menjadi entertainer profesional. Tapi, boleh jadi pula akan putar haluan ke habitatnya semula dengan berkiprah sesuai gelar kesarjanaannya. Juga boleh jadi nganggur sama sekali. Semua itu serba mungkin, namun setidaknya mereka kini sedang menanam harapan.
Selama dunia masih berputar, kewajiban kita untuk terus berikhtiar dengan menanam sebanyak-banyaknya harapan, sehingga ada banyak kemungkinan yang nantinya kita peroleh. Bukan begitu?***

Tulisan ini disampaikan dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Organisasi (LDKO) UKM Kamatika STIMIK Serang, pada hari Minggu 11 November 2007.

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: