Bantencorner’s Weblog


KH. Zaenuddin, Berjuang di Tengah Globalisasi Desa Sawarna
November 10, 2007, 11:49 am
Filed under: Kisah

 Tak Ingin Sawarna Berubah Warna 

Sudah seperempat malam, tapi Zaenuddin belum juga tidur.  Ia masih berada di tengah-tengah santrinya di depan kobong pesantren yang baru didirikan dua bulan lalu. Sesekali ia memberi instruksi satu dua orang santri untuk mempercepat pekerjaan membuat gapura. 

Malam itu Zaenuddin bersama beberapa santrinya tengah diburu pekerjaan menyelesaikan pembuatan gapura tujuh belasan yang akan dipasang di pintu masuk pesantren. ”Sudah tidak ada waktu lagi, besok pagi sudah harus terpasang,” kata Zaenuddin.

Di kobong berukuran dua kali rumah tipe 21 inilah Zaenuddin mencoba meneguhkan diri menjadi penjaga moral anak-anak dari arus modernitas yang mulai masuk  ke desa wisata yang dikenal dengan keindahan kawasan pantainya itu. Selain mengajari baca tulis al-Quran, pria yang biasa bersorban ini  juga mengajari para santri pelajaran aqidah, akhlak, bahasa Arab, serta beberapa keterampilan seperti menulis indah. ”Saya hanya ingin mengisi kekosangan waktu santri dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat,” aku pria kelahiran 1952 silam itu.

Ia mengajar seorang diri, kecuali sesekali dibantu sang anak, Mustofa, khusus untuk pelajaran bahasa Inggris. Mustofa adalah satu dari sebelas anaknya yang aktivitas kesehariannya selain menjadi guru honorer, juga menjadi guide para turis asing yang biasa berkunjung ke Desa Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten.

Baru dua bulan didirikan, kobong pesantren yang terbuat dari bilik bambu ini sudah dihuni sekitar empat puluhan santri yang berasal dari kampung sekitar. Di antara mereka ada yang tinggal di pesantren, sebagian lagi merupakan santri kalong — sebutan santri yang tidak tingal di pesantren. ”Kalau pagi sampai siang, mereka sekolah formal di SMP dan SMA, sorenya belajar di pesantren,” kata Zaenuddin.

Membangun pesantren di Desa Wisata Sawarna bukanlah cita-cita Zenuddin. Malah, sebelumnya pun tak terbayangkan jika ia harus kembali ke desa kelahirannya. ”Saya sudah lama menetap Lampung. Tapi, orangtua meminta saya pulang. Padahal di Lampung waktu itu saya juga sedang merintis pembangunan pesantren,” ujar kiai yang masa mudanya dihabiskan untuk mesantren dari kobongan satu ke kobongan yang lain, dari kiai yang satu ke kiai yang lain.

Atas permintaan sang ibu, kendati dengan berat hati, pada awal 1990-an ia kembali ke kampung halaman. Dan praktis, Zaenuddin pun memulai hidup dari awal lagi. Tak ada aktivitas yang dikerjakan selain membantu mengajar di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) di desanya dengan honor tak seberapa. Karena kondisi ekonomi dan tuntutan hidup, pada 1994 Zaenuddin memutuskan berangkat ke Arab Saudi menjadi TKI. Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 1998, ia pulang ke kampung halaman. ”Alhamdulillah dengan keberangkatan ke Arab saya ditakdirkan Allah untuk berziarah ke makam Nabi (berhaji, pen),” ujar Zaenuddin setengah menerawang.

Sepulangnya dari Saudi, Zaenuddin mulai menancapkan niat untuk kembali merintis pembangunan pesantren yang sempat ia semai ketika di Lampung dulu. Langkahnya diawali dengan membangun kembali masjid kampung yang lokasinya berada tak jauh dari kobong pesantrennya. Bersama masyarakat setempat masjid itu dibangun dan kini berdiri cukup  bersih dan terawat. ”Berkat seluruh masyarakat dan bantuan para donatur, Alhamdulillah, meskipun belum sempurna masjid itu telah berdiri dan bisa digunakan untuk ibadah,” kata Zaenuddin.

Selesai membangun masjid, konsentrasi Zaenuddin beralih ke rencana pembangunan pesantren. Prosesnya cukup lama karena terbentur oleh dana. Diawali dengan membangun pondasi seadanya, secara perlahan pesantren yang seratus persen tanpa bahan material semen dan pasir itu dibangun. Karena dana yang tidak mencukupi, pembangunan beberapa kali harus terhenti.

Namun, berkat keuletan dan kerja keras, sejak dua bulan silam bangunan pesantren itu akhirnya berdiri. Tidak megah, juga tidak luas. Bangunan itu malah sangat bersahaja sebersahaja pendirinya. Hanya terbuat dari bilik bambu yang ditopang oleh kayu, tapi cukup untuk menampung empat puluhan santri belajar agama. ”Ya di tempat jelek inilah saya mengajari santri,” kata Zaenuddin dengan nada merendah.

Untuk menghidupi pesantren, Zaenuddin tak memiliki kas khusus. Semua ia biarkan mengalir apa adanya. Ia juga tak pernah memungut sepeser pun iuran dari para santri. Semua bergantung keikhlasan para orangtua santri yang menitipkan anaknya di pesantren. Kalaupun ada sumbangan dari orangtua, kembalinya untuk kepentingan para santri seperti untuk membeli kapur tulis dan alat tulis lainnya.Zaenuddin memiliki cita-cita luhur atas pesantren yang didirikannya ini. Ia ingin para santrinya kelak, selain mampu menguasai ilmu agama, kultur Desa  Sawarna yang agamis tetap terjaga meskipun desa ini telah menjadi desa wisata yang banyak dikunjungi para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara.

”Saya khawatir kehadiran para wisatawan bisa berdampak pada perubahan perilaku masyarakat. Sekarang pun sudah terasa,” akunya tanpa memerinci lebih jauh maksud dari perubahan itu. Zaenuddin hanya bercerita tentang tingkah para turis asing yang kadang tidak sesuai adat setempat, seperti cara berpakaian, dan sebagainya.

Meski begitu, ia mengaku tidak anti-turis asing, juga tidak phobi terhadap budaya luar. ”Saya hanya ingin menjaga moral saja. Toh, bagaimanapun keberadaan turis-turis itu juga memiliki dampak positif,” ujarnya.

Sikap moderat dan akomodatif  terhadap keberadaan para turis asing ia buktikan dengan memberikan dorongan dan dukungan terhadap pekerjaan sang anak, Mustofa, untuk menjadi guide. ”Dia (Mustofa, pen.) lumayan bahasa Inggrisnya. Saya ingin Mustofa menjadi guide yang baik, mampu memandu serta dapat memberikan pemahaman kepada para turis untuk menghargai adat dan budaya di sini. Dengan begitu, kultur dan budaya Desa Sawarna dapat tetap terjaga,” urainya.

Bahkan, jauh di relung hatinya tersimpan harapan bahwa santrinya kelak ada juga yang menjadi guide bagi para turis-turis itu. ”Makanya, saya juga membekali mereka pelajaran bahasa Inggris. Biar mereka juga lancar bicara Inggris dan bisa berkomunikasi dengan turis,” ujar Zaenuddin.

Pesantren yang rencananya akan dinamai Pesantren Mathlabul Hidayah (tempat mencari hidayah, pen.) itu adalah satu-satunya pesantren di Desa Wisata Sawarna. Desa ini mendapat sebutan desa wisata karena memiliki kawasan pantai dengan keindahan alam serta ombaknya dengan ketinggian lebih dari dua meter, sehingga menjadi surga bagi para turis asing terutama penggila selancar. Di samping objek wisata pantai, di desa ini juga terdapat puluhan objek wisata gua dengan stalaknit yang luar biasa indahnya. Meskipun secara geografis berada di pelosok dan nyaris terisolir, Sawarna sudah menjadi desa global dan kondang di mancanegara. Dan, tak mustahil satu waktu Desa Sawarna akan berubah warna seiring arus kedatangan para wisatawan asing dan derasnya globalisasi.

Namun, Pak Kiai tak ingin Sawarna berubah warna…….!***


9 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Sayah sebagai warga masarakat di gondang merasa sangat terharu setelah membaca isi teks di atas. dan sayah sangatber
terima kasih kepada bapak KH Zaenuddin telah ber upaya memajukan anak bangsa kita.
salam kenal dari heri di dondang.

Komentar oleh juheri

Salut kepada K.H. Zaenuddin. saya pernah ke sawarna untuk menjadikan sawarna sebagai ojek studi saya di bidang perencanaan Lansekap. Daerah Sawarna merupakan objek yg sangat alami dalam pembangunannya, tetapi berorientasi sebagai pendukung devisa negara. Arus globalisasi hanya dapat dipagari oleh moral dan pendidikan. Dan langkah yg diambil oleh K.H Zaenuddin ini merupakan pondasi terpenting perkembangan Sawarna.

Salam dari Mahasiswa Arsitektur Lasekap

Komentar oleh Novri

saya sangat setuju dan mendukung upaya KH. Zaenudin, karena efek dari budaya global sudah sangat terasa, contohnya istri saya yang sydah sangat tidak menghargai suami.

Komentar oleh Gilang

“SAWARNA’S MY HOME TOWN..MY HEAVEN”…. THIS IS THE SECRET PARADISE THAT ANY ONE NEVER CHANGE IT.. A VILLAGE THAT NEVER SURENDER FOR FIGHTING,HUNTING,AND SAVING WHAT THEY GOT.. TIME WILL TELL.. AND SAWARNA IS WATING FOR OUR ACTION TO BE A GREAT PLACE.. LET,S SEE.. I.LL COME TO HOLD YOU NEAR MY PARADISE..

Komentar oleh Anonim

WELL.. I FORGOT SOMETHING.. IF THERE’S ANY SUGESSTION,IDEA,TO BUILD SAWARNA.. PLEASE WRITE IT UP IN THIS WEB.. I REALY APPRECIATE THAT.. THANKS A LOT…

Komentar oleh FAUZI FAMILY SWRNA

Pak KH.Zaenuddin SEMANGAT TERUS ya,untuk memajukan desa kita.pak kh.Zaenuddin kirim mail ya dong ke juheri_8@yahoo.co.id hehehe…!kalau boleh sih.

Komentar oleh Heri Ci Kepuh tea

Cerita Yang Menarik…Come On Pak KH.Zaenuddin.
Bro..Gw Lagi coba2 untuk menulis..tentang wisata pantai di inconesia..walaupun blom semua pantai gw datengin. Gw berusaha dengan seaching juga untuk dapet artikel nya. Seneng bisa nemuin blog ini.

Komentar oleh Hendra

Pak KH.Zaenuddin.mudah2an dengan adanya pemekaran desa sawarna ini desa Gondang dan desa sawarna tetap bisa lebih maju tuk parawisata di desa kita amin

Komentar oleh Heri Ci Kepuh tea

lam kenal dech pak zainuddin..dari saya ismet farlente

Komentar oleh Anonim




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: