Bantencorner’s Weblog


Kolom: Kuasa Adam dan Derita Hawa
November 7, 2007, 10:49 am
Filed under: Kolom

(Sebuah Otokritik terhadap Pemberitaan Media tentang Gender)

Siapa tak kenal Ahmad Dani, leader grup band Dewa. Dia adalah di antara sosok selebritis yang paling banyak menghiasi tayangan infotainment. Ia dikenal bukan karena kepiawaiannya memainkan alat musik maupun wibawanya dalam memimpin Dewa. Tapi — dalam setiap tayangan infotainment – Dani lebih dikenal sebagai sosok playboy. Terakhir, ia tersandung oleh gosip pernikahan siri dengan mantan lawan main istrinya dalam grup band Ratu, Mulan Kwok. Akibat gosip tersebut, tak urung, Dani, Mulan, maupun Maia Ahmad (istri Dani Ahmad), selama beberapa minggu menjadi bulan-bulanan infotainment. Wajah ketiganya tak pernah berhenti muncul di setiap kali tayangan infotainment tersebut. Selama itu pula, persepsi kita dibentuk oleh infotainment melalui ‘penggambaran’ superioritas Dani yang ‘berkuasa’ atas Maia dan Mulan.

Hal di atas hanyalah salah satu contoh tentang masih kurangnya sensitivitas media massa terhadap persoalan gender. Karena itu, tak berlebihan jika banyak kalangan menyatakan media sebagai salah satu pihak yang sebetulnya diharapkan mampu menciptakan kesetaraan, justru ikut tercebur dalam penciptaan dan pengukuhan kaum adam sebagai kaum superior atas kaum wanita.

Tak hanya dalam pemberitaan seputar artis dan selebritis (baca; infotainment), pemberitan dalam konteks yang lebih global dan beragam pun (politik, ekonomi, pemerintahan, hukum, kriminal, dan sebagainya), nuansa superioritas kaum adam atas kaum hawa begitu jelas terlihat dan terbaca. Adapun berita-berita tentang wanita (peran maupun kiprahnya) yang menampilkan nuansa kelembutan khas kaum wanita, amat jarang. Kalaupun ada, lebih sebatas sebagai pelengkap saja.

Di banyak pemberitaan media massa (baca; cetak), kita kerap membaca berita-berita yang baik disadari maupun tidak oleh para pengelolanya, kurang memperlihatkan sikap sensitivitas gender, serta tidak terlihat upaya membuat penyetaraan. Sebaliknya, media kerap kali bias dan lagi-lagi menjadikan kaum adam sebagai subjek kuasa, dan kaum hawa sebagai objek derita. Umumnya pemberitaan demikian itu dapat kita baca di halaman kriminal dan halaman hiburan (rubrik artis/selebritis) media.

Di bawah ini adalah contoh berita-berita dimaksud:

Pompa Payudara

BARU tiga hari jadi ibu, Rachel Maryam sudah berencana meninggalkan bayinya Muhammad Kale Mata Angin. Itu akan dilakukan setelah usia putra sulungnya memasuki 40 hari. Pasalnya, wanita berambut keriting itu akan sering berpisah dengan buah hatinya demi Arisan.

Tentu saja yang dimaksud bukan Arisan biasa, melainkan sinetron Arisan. Sebab, sesuai dengan kontrak, Rachel harus mengikuti syuting untuk meneruskan perannya sebagai Lita. Selama ditinggal, si kecil akan diasuh oleh ibunda Rachel. Meski demikian, Rachel berjanji tetap akan memberikan ASI kepada jagoannya itu. ”Paling nanti pompa ASI. Syutingnya juga nggak bisa lama-lama,” ujar Rachel yang didampingi sang suami, Ebes, ketika ditemui wartawan di RS Asih, selasa (1/8).

Setelah kelahiran putra pertamanya, Rachel dan Ebes juga mengaku tak akan buru-buru mengusahakan anak kedua. Pasangan ini memilih untuk menunggu Kale cukup besar. Alasannya, agar buah hatinya itu tak merasa kekurangan kasih saying. “Kayaknya jaraknya agak lama. Fokus ke Kale dulu biar nggak kurang kasih sayang,” imbuhnya.

Sumber: Sebuah terbitan edisi Rabu 2 Agustus 2006

 

Nenek 80 Tahun Diperkosa Preman Kampung

SEORANG nenek berusia 80, Tukiyem (bukan nama sebenarnya) diperkosa seorang tetangganya, kemarin. Karena mengalami pendarahan, warga Desa Plesungan, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, Jatim, itu dilarikan ke RS Sosodoro Djatikoesoemo. Dst……………

Sumber: Sebuah terbitan edisi 5 Agustus 2006

 

Gadis ABG Digilir Enam Pemuda

SEORANG gadis ABG diduga digilir secara bergantian oleh enam pemuda, setelah sebelumnya dicekoki minuman keras (miras) hingga mabuk berat, di sebuah warung yang tertutup di Kampung Kelor, RT 1/1, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Jumat (4/8) sekitar pukul 21.00 WIB. Peristiwa itu bermula ketika malam itu, gadis malang itu sebut saja Mawar (13), warga sekitar lokasi kejadian berasam Ida, seorang temannya, pergi ke sebuah wartel tak jauh dari lokasi. Dst……………

Sumber: Sebuah terbitan edisi 7 Agustus 2006

 

Berikut beberapa catatan kritis terhadap ketiga contoh tersebut, kaitannya dengan masalah sensitivitas gender. Pertama, contoh berita berjudul Memompa Payudara, secara jelas telihat bahwa antara judul dengan isi berita tidak memiliki ketersambungan makna. Kalaupun ada, terkesan begitu dipaksakan dengan mempersepsikan bahwa memompa ASI (air susu ibu) sama dengan memompa payudara. Kemudian, dengan penjudulan demikian, pembaca secara tidak sengaja (?) telah diarahkan kepada upaya membayangkan – maaf – payudara Rachel Maryam. Dari konteks berita ini, terlihat bahwa wanita (yang diwakili Rachel Maryam) telah menjadi objek sensualitas dan sensasionalitas.

Kedua, berita berjudul Nenek 80 Tahun Diperkosa Preman Kampung dan berita berjudul Gadis ABG Digilir Enam Pemuda, sekilas tidak ada persoalan gender atau menjadikan wanita sebagai objek yang dirugikan. Baik si nenek maupun si gadis ABG namanya tidak disebut dalam berita tersebut. Hal ini telah sesuai dengan Undang-Undang No 40 tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI). Tetapi, jika ditelaah lebih jauh, penggunaan inisial atau nama samaran Tukiyem untuk si nenek dan Mawar untuk ABG sebagai korban perkosaan, masih kurang tepat dan belum sensitif gender.

Tukiyem maupun Mawar adalah dua nama yang banyak dipakai kaum perempuan di Indonesia. Akhirnya, yang ’menjadi korban’ perkosaan itu adalah perempuan-perempuan bernama Tukiyem dan Mawar, bukan si nenek dan si ABG yang namanya tidak disebutkan itu. Sebagai saran, untuk pemberitaan seputar korban kekerasan dan pelecehan seksual, inisial korban baiknya menggunakan huruf awal dari namanya saja.

Tentu saja, persoalan ”lelaki yang kuasa” dan ”wanita yang derita” dalam pemberitaan media tidak sebatas pada diksi atau istilah saja. Dalam sudut pengambilan berita (angle) pun kerap kita temukan berita-berita yang sekalipun subjek pelakunya adalah wanita, tetapi isinya cenderung bicara kuasa, yang merupakan sifat dominan laki-laki. Tentu, ’penderitaan kaum wanita’ tak sebatas dalam pemberitaan saja.

Dalam hal lain yang non-pemberitaan, masalah kesetaraan juga kerap terlupakan pengelola media. Dalam penerimaan karyawan, masih banyak media yang memiliki hanya satu atau dua, bahkan adakalanya tidak ada sama sekali wartawan perempuan. Kondisi ini, disadari maupun tidak, tentu saja berefek pada berita-berita yang dimuat media akan didominasi oleh nuansa kelelakian. Celakanya lagi jika wartawan perempuan yang hanya sedikit itu juga ikut-ikutan menulis berita yang melelaki.

 

Reorientasi

Masih adanya ketimpangan gender dalam pemberitaan, tak serta merta dikatakan sebagai kesalahan media seratus persen. Persoalan ini terkait erat dengan kultur dan budaya bangsa ini yang menjadikan kaum wanita sebagai subordinat kaum laki-laki. Dari penggunaan istilah wanita dan lelaki saja, sudah terasa adanya ’penjajahan’ kaum lelaki atas wanita. Bukankah wanita itu artinya wani ditata (berani ditata – objek) dalam arti sebagai sosok manusia yang selalu diatur. Sedangkan lelaki artinya sosok yang memiliki laku (pelaku/pengatur – subjek).

Karena kultur dan budaya itulah, dalam berbagai sendi dan aspek kehidupan, posisi kaum wanita tak pernah menjadi setara dengan kaum lelaki. Kalaupun ada, lebih pada kesetaraan struktural saja, sedangkan peran maupun kiprahnya di institusi tempatnya bekerja atau dalam masyarakat (kesetaraan kultural) tetap berada di bawah bayang-bayang kaum adam.

Begitupun dalam konteks media. Media ikut terpengaruh oleh kultur dan budaya yang patriaki tersebut. Kendati demikian, sebagai sebuah institusi sosial yang mengemban misi perubahan di masyarakat, media sejatinya dapat memulai menempatkan kaum hawa sebagai pihak yang memiliki kesejajaran dengan kaum adam. Caranya antara lain dengan melakukan reorientasi baik dari sisi manajemen maupun dari sisi keredaksian.

Dari sisi manajemen, pengelola media bisa memberikan kesempatan lebih banyak lagi dalam penerimaan pegawai perempuan, khususnya untuk tenaga wartawan. Dari aspek redaksional, perlu ada reinventing jurnalistik bagi para wartawan khususnya tentang bagaimana menulis berita yang memiliki spirit kesetaraan gender. Masalahnya, dalam setiap pelatihan jurnalisik yang digelar berbagai lembaga, maupun kampus yang mengkhususkan diri dalam pendidikan jurnalistik, urusan kesetaraan gender tak pernah dibahas dan disampaikan kepada peserta/mahasiswa. Dari tahun ke tahun, pelajaran jurnalistik lebih banyak berkutat pada bagaimana membuat berita dengan rumus 5 W + 1 H. Akibatnya, para peserta/mahasiswa yang kemudian menjadi wartawan hanya mahir membuat berita sesuai rumusan tadi tanpa memiliki konsepsi yang jelas terhadap berita yang dibuatnya.

Di sisi lain, kaum hawa yang selama ini menjadi objek derita, tak semestinya pasrah dan nerimo atas berbagai perlakuan yang dialami, termasuk perlakuan oleh media. Selama ini, penulis nyaris tak pernah mendengar suara keberatan kaum wanita terhadap berita-berita yang merugikan mereka. Akibat tak ada komplain maupun suara keberatan, media pun semakin lupa dan tak sadarkan diri untuk terus membuat berita tentang kuasa adam atas hawa.

Dengan demikian, lengkap sudah penderitaan kaum hawa. Selain ’dijajah’ lelaki, wanita juga ikut ’dijajah” media. Budaya kita menganut paham bahwa diam bagi wanita adalah tanda ia setuju. Pertanyaannya, jika kaum wanita diberitakan sebagai objek derita dan mereka diam saja, apakah itu pertanda mereka setuju, nerimo atau, malah merasa keenakan? Jika ya, berarti istilah wani ditata benar adanya. Jika tidak, mengapa diam saja?***


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: