Bantencorner’s Weblog


HOT NEWS:
November 2, 2007, 3:45 am
Filed under: News

Kenaikan Gaji PNS Bebani Negara

JAKARTA–Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai proyeksi kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam beberapa tahun mendatang membebani keuangan negara. Wapres bahkan memprediksi keuangan negara bakal kolaps bila pemerintah merealisasi rencana kenaikan gaji PNS. “Bila gaji pegawai terus naik tanpa diikuti pertumbuhan ekonomi, pada 2011 akan terjadi stagnasi pembangunan karena anggaran belanja rutin lebih besar dari anggaran pembangunan,” ujar Wapres Jusuf Kalla ketika membuka seminar nasional Pencegahan Korupsi Melalui Reformasi Birokrasi di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta Selatan, kemarin (1/11).

Rabu lalu (31/10), Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendy di Kantor Kepresidenan mengatakan, pemerintah berencana menaikkan gaji PNS secara bertahap setiap tahun. Awal tahun anggaran 2008 mendatang, gaji PNS diproyeksikan naik 20 persen. Kalla menuturkan, pertumbuhan ekonomi hanya bisa diraih bila birokrasi pemerintahan berlangsung efektif dan efisien. Efektif artinya pelaksanaan aturan dilaksanakan secara cepat dan prima, sementara efisien berarti biaya pengurusan birokrasi harus sesuai aturan.

 “Negara, birokrasi, dan pertumbuhan ekonomi saling terkait. Pegawai butuh penghasilan besar dan negara bisa memberikannya bila pertumbuhan ekonomi tinggi. Pertumbuhan ekonomi bisa tinggi kalau pelayanan publik efektif dan efisien,” tuturnya.

Namun, kata Wapres, bila PNS menuntut kenaikan gaji tanpa upaya meningkatkan pelayanan publik, pertumbuhan ekonomi akan melambat dan negara kesulitan memenuhi tuntutan kenaikan gaji PNS. Kalla menegaskan, iklim usaha di Indonesia selama ini kurang ramah karena birokrasi yang terlalu panjang dan praktik pungli di birokrasi. Mantan pengusaha perkapalan ini mencontohkan ada 21 meja perizinan milik Ditjen Bea dan Cukai di pelabuhan yang harus dilewati importir untuk mengeluarkan kontainer yang dibawanya dari pelabuhan.

Akibatnya, pengusaha harus menunggu lama untuk membongkar barang dan mengeluarkan uang yang tidak sedikit agar dokumen-dokumen pengiriman barang bisa lekas lolos dari pemeriksaan Ditjen Bea dan Cukai. “Solusinya sebenarnya sederhana, pangkas saja meja perizinan dari 21 menjadi tujuh. Korupsi pasti akan turun dan ekspor-impor akan lebih cepat,” katanya.

Menanggapi keluhan Wapres Jusuf Kalla, Ketua KPK Taufiqurrahman Ruki menilai gaji PNS tidak akan menjadi beban bila pemerintah serius memberangus korupsi. “Kenaikan gaji PNS tidak perlu harus dengan menaikkan pajak atau mengurangi anggaran yang lain, cukup pejabat tidak melakukan korupsi sudah akan terbayar semua,” katanya. Ruki mencontohkan, anggaran pengadaan barang dan jasa pemerintah tahun ini mencapai Rp 480 triliun dan akan meningkat menjadi Rp 600 triliun tahun depan.

Menurut asumsi Begawan ekonomi Sumitro, 25-35 persen anggaran pengadaan barang dan jasa habis dikorupsi. “Jadi, bila kita bisa menyelamatkan 25 persen saja, akan diperoleh penghematan Rp 150 triliun yang bisa digunakan untuk membayar gaji pegawai,” tukasnya.

Berdasarkan pengalaman 24 pemerintah daerah dan lembaga pemerintah lain yang telah mempraktikkan tender elektronik, setiap tahun dapat dihemat anggaran negara senilai Rp 9 triliun. “Kalau seluruh lembaga negara dan pemerintah daerah melakukan tender terbuka melalui e-procurement, berapa anggaran negara yang bisa dihemat? Jumlah kabupaten/kota di Indonesia saja sudah 456, belum lembaga negara lain,” terangnya.

“Tidak perlu repot, cukup berhenti korupsi, maka gaji PNS akan naik bahkan bisa untuk membayar utang luar negeri. Jadi, kalau pegawai negeri mau dinaikkan gajinya, hentikan korupsi,” tambah Ruki. Mantan jenderal bintang satu Polri ini juga mengutip pernyataan Mahatma Gandhi bahwa bahan makanan yang ada di seluruh dunia ini cukup untuk dimakan semua orang. Namun, bahan makanan di seluruh dunia tidak akan cukup untuk satu orang yang melakukan korupsi.

Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendy menuturkan, penghematan belanja barang dan jasa tersebut bisa digunakan pemerintah daerah untuk membiayai program-program kesejahteraan masyarakat yang populis. Dia mencontohkan penghematan anggaran bisa digunakan untuk membiayai program pendidikan dan kesehatan gratis untuk rakyat. Efeknya, sembilan kepala daerah yang melaksanakan e-procurement sukses terpilih lagi untuk masa jabatan kedua. “Bupati Jembrana terpilih kembali dengan perolehan suara 87 persen, bupati Sragen 86 persen, dan gubernur Gorontalo dipilih kembali oleh hampir 90 persen rakyatnya,” terang Taufiq. (jpnn)

 Sumber: Radar Banten edisi Jumat 2 November 2007



Ibu Guru Sujiyah, 28 Tahun Mengabdi di Ciboleger
November 2, 2007, 3:31 am
Filed under: Kisah

Tak Ingin Pulang Ke Tanah Leluhur 

Rumah berukuran sedang itu nyaris tak terawat. Langit-langitnya mulai lapuk terkena rembesan hujan. Juga perabotan seperti kursi, meja dan lemari, warnanya mulai pudar. Sedangkan tembok rumah yang bercat putih terlihat buram. Ada beberapa hiasan dinding tertempel, antara lain lukisan perempuan Jawa dan kalender dengan gambar wajah cantik seorang bakal calon (balon) gubernur. “Saya juga dapat ini,” kata Sujiyah (49), sambil memperlihatkan tiga buah gantungan kunci bergambar balon gubernur tadi tanpa menyebut pemberian siapa.

*** 

Hanya karena pengabdian dan rasa tangung jawablah, Sujiyah  mau bertahan dan menetap di Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Padahal, tahun 1978 adalah masa-masa yang begitu sulit. Dari Rangkasbitung saja harus ditempuh dalam waktu dua hari. Ditambah lagi dengan suasana Ciboleger yang masih rawan. Jika malam, gelap pekat karena belum ada listrik, penduduknya sedikit, dan jarak antara satu rumah penduduk dengan rumah penduduk yang lain begitu berjauhan.     

“Saya nyaris kembali ke Kulonprogo karena tak betah,” kata Sujiyah mengenang kembali masa 28 tahun yang lalu.  Tapi, keinginan pulang kampung itu kini telah sirna. Ia bahkan sudah berketetapan hati untuk menghabiskan masa hidupnya hanya di Ciboleger.

Sujiyah lahir 15 September 1957 silam di sebuah desa di Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta. Setamat Sekolah Pendidikan Guru (SPG) pada 1977, ia mengikuti program pengangkatan guru untuk ditempatkan di Jawa Barat. “Waktu itu Provinsi Jawa Barat kekurangan banyak guru SD. Saya ikut mendaftar bersama 2.500 orang lainnya. Semuanya dari Jogja,” kata Sujiyah dengan logat Jawanya yang masih kental.

April 1978, bersama ribuan tamatan SPG lainnya, Sujiyah diberangkatkan dengan menggunakan bus malam. Ada yang ditempatkan di Sukabumi, Cianjur dan daerah lainnya di Jawa Barat. Sedangkan Sujiyah ditempatkan di Kabupaten Lebak, tepatnya di kecamatan Leuwidamar. “Saya tak pernah membayangkan akan ditempatkan di lokasi yang begitu jauh dan terpelosok,” aku Sujiah.

Tiba di Rangkasbitung, Sujiyah dan rekan-rekannya disambut para pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Setelah beberapa hari tinggal di rumah kepala dinas, Sujiyah selanjutnya berangkat menuju medan pengabdian sesungguhnya; di Leuwidamar. “Saya harus berjalan kaki dan menyeberangi sungai Cisimeut,” urai Sujiyah tak mampu menyembunyikan kegetirannya.

Di Leuwidamar ia ditugaskan di SD Cibungur III yang lokasinya berbatasan dengan Kampung Kadu Ketug, salah satu kawasan Baduy Luar. Waktu itu, sekolah tersebut baru ada dua kelas. “Tak terbayang Pak, bagaimana susahnya mengajar di sana,” kata perempuan bersuamikan Syamsudin, warga asli Ciboleger yang berprofesi sebagai sopir di Bekasi.

Selain kondisinya yang masih apa adanya, tantangan lain yang dihadapi  adalah persoalan perbedaan budaya. Syukurnya, persoalan ini dapat teratasi karena kepala sekolahnya berasal dari Sumedang yang telaten mengajarinya terutama bahasa Sunda.Menurutnya, yang membuat dia tidak betah pada masa-masa awal tinggal di Ciboleger adalah kondisi geografisnya. Selain masih hutan, jarak antara rumah penduduk dengan rumah penduduk lainnya begitu berjauhan, belum lagi masyarakatnya yang suka membawa golok. Bahkan beberapa kali terjadi kasus kriminal seperti pembunuhan dan perampokan.

“Pernah, gaji seluruh guru se Kecamatan Leuwidamar dirampok. Saya sampai tidak gajian tapi untungnya segera diganti. Pokoknya kalau membayangkan kembali masa-masa awal dulu, ngeri Pak! Tapi, alhamdulillah saya betah-betahin terus,” ujar Sujiyah yang mengaku memperoleh gaji pertama sebesar 15 ribu rupiah setiap bulannya.  

Pada 1993, SD Cibungur III berubah nama menjadi SD Bojong Menteng III seiring dengan pemekaran desa. Dan setelah 18 tahun mengajar di SD tersebut, tepatnya tahun 1996, Sujiyah mendapat promosi menjadi kepala sekolah dan ditempatkan di SD Nayagati III dengan siswanya kebanyakan berasal dari komunitas Baduy Luar. Setahun kemudian, Sujiyah kembali dimutasi ke sekolah asal, SD Bojong Menteng III yang kini jumlah muridnya mencapai 400 orang lebih dengan lokal kelas yang bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar hanya tiga unit, tiga unit lainnya sejak beberapa tahun yang lalu sama sekali tak lagi bisa dipakai.

Tentang pengalamannya mengajar selama hampir 30 tahun ini, Sujiyah bercerita panjang lebar. Menurutnya, kalau dirasakan, lebih banyak dukanya dibanding sukanya. Apalagi pada masa sekarang, terutama dari daya tangkap pelajaran serta sikap dan tingkah laku siswa.Disebutkan, kalau dulu siswa begitu tekun dan cepat menangkap mata pelajaran yang diberikan guru. Begitu juga soal sopan santun dan etika. “Sekarang susah. Murid-murid sulit menangkap pelajaran. Termasuk soal sopan santun. Ada guru di depan pun mereka nyelonong begitu saja,” kata ibu beranak satu ini.

Apa yang menyebabkan murid-murid berubah? Menurut Sujiyah, salah satu faktornya adalah karena tontonan televisi. “Anak-anak zaman sekarang lebih banyak menonton televisi ketimbang belajar,” katanya.

Duka lain yang dirasakan Sujiyah adalah sikap para orangtua yang cenderung menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada guru. Tapi, ketika ada anak yang karena prestasi belajar di sekolah jelek hingga tidak naik kelas, si orang tua dengan serta merta memarahi dan menyalahkan guru. “Sikap orangtua yang seperti itulah yang paling menyedihkan saya,” keluhnya.

Kendati begitu, ia mengaku berbahagia karena sudah ada beberapa muridnya yang sukses, di antaranya ada yang menjadi PNS dan polisi. “Ada murid saya namanya Pak Citra, sekarang sudah jadi guru dan jadi PNS. Juga ada Euis yang bekerja di Bappeda, lalu Yudi yang menjadi polisi, dan Julaeha yang menjadi guru bantu,” urai Sujiyah menyebut satu per satu mantan muridnya yang telah sukses berkarir.

***

Di usianya yang menjelang setengah abad ini, Sujiyah menyatakan tak punya keinginan macam-macam, termasuk keinginan untuk kembali ke Kulonprogo, tanah leluhurnya. Yang diinginkan justru tinggal lebih banyak di rumah dengan alasan capai. “Saya sudah capek dan ingin beristirahat,” katanya.

“Saya hanya ingin membesarkan anak saya satu-satunya, Eka, biar cepat lulus kuliah dan cepat mendapat pekerjaan,” katanya lagi. Eka Supriyadi adalah anak satu-satunya Sujiyah yang kini kuliah di STIE La Tansa Rangkasbitung.

Pada wajah perempuan murah senyum ini, memang terlihat gurat-gurat kelelahan. Sudah hampir 30 tahun ia bergulat dalam medan pengabdian yang membutuhkan kesabaran, ketelatenan, bahkan keyakinan. Dan, nyatanya ia berhasil bertahan.Kalau bukan Sujiyah, siapa yang mau bertahan dalam medan pengabdian seperti di Ciboleger yang sunyi dan sepi ini? ***