Bantencorner’s Weblog


Catatan Perjalanan Haji (3/Habis)
November 1, 2007, 4:59 am
Filed under: Perjalanan

Dari Bangladesh Hingga Madura, Semua Mengejar Real

Makkah dan Madinah juga menjadi surga bagi para pencari kerja dari berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Semua demi mengais Real. Ada yang berpenghasilan pas-pasan, ada juga yang sukses hingga mampu membeli kendaraan roda empat.
***

Buruh asal Bangladesh boleh jadi menempati rangking pertama jumlah tenaga kerja kasar di Arab Saudi. Pasukan Orange (kalau di Indonesia dikenal dengan sebutan pasukan kuning) yang setia setiap saat membersihkan dan mengangkut sampah-sampah di setiap sudut kota Makkah dan Madinah, hampir semuanya berasal dari Bangladesh.
Hotel-hotel maupun pondokan yang biasa ditempati para jamaah haji, khusus tenaga kasarnya seperti cleaning services, umumnya juga didominasi oleh tenaga kerja asal Bangladesh. Kendati begitu, ada juga para pekerja asal Indonesia yang bekerja di sektor ini. Beberapa kali saya maupun rekan-rekan saya menjumpai para buruh asal negeri sendiri.
Satu waktu, saya menjumpai seorang pekerja cleaning services Masjidil Haram berwajah Melayu. Belum sempat bertanya, ia menyapa duluan. “Mas, sandalnya jangan disimpan di situ, nanti hilang,” kata dia sambil terus mengepel lantai. Saya yang sedang menggantung sandal di pagar masjid agar tidak hilang, balik bertanya. “Indonesia?”
“Ya, Indonesia,” jawab dia. “Indonesianya di mana?” tanya saya lagi. “Cianjur,” jawabnya pendek.
“Tos lami damel di dieu, Kang (sudah lama bekerja di sini, Kang)?” tanya saya dalam bahasa Sunda. “Tos tujuh tahun (Sudah tujuh tahun),” jawabnya.
Ditanya soal penghasilan per bulan, pria yang kemudian diketahui bernama Asep ini tak mau berterus terang. “Ya lumayanlah,” kata Asep pendek.
Setiap ditanya soal penghasilan, para pekerja asal Indonesia yang saya jumpai hampir semuanya tutup mulut. Atau, kalau dijawab, jawabannya selalu “lumayan”.
Ketika berada di Madinah saya pun beberapa kali menjumpai para pekerja asal Indonesia. Juhaedi salah satunya. Pria asal Labuan, Kabupaten Pandeglang, ini saya jumpai di salah satu toilet Masjid Nabawi. Kali ini saya duluan yang menyapa. “Indonesia?” tanya saya sambil mengajaknya bersalaman.
”Ya, Indonesia,” jawab dia. ”Indonesianya di mana?” tanya saya lagi. “Banten, Pak,” kata Juhaedi.
Mendengar kata Banten, membuat saya semakin bersemangat untuk bertanya. ”Saya juga dari Banten, dari Pandeglang, Akang Bantennya di mana?”
“Pandeglang, Pak, ti Labuan,” jawab dia dengan bahasa Sunda.
Dari ceritanya diketahui, pria kelahiran tahun 1975 ini telah bekerja sebagai tenaga kebersihan Masjid Nabawi sejak 2003 silam. Tapi, ia mulai tertutup ketika ditanya soal mengapa bekerja di Arab Saudi dan berapa pendapatannya.
“Arek kumaha deui Kang, ja ieu mah kabutuh hirup (mau bagaiamana lagi Kang, ini (bekerja di sini) sudah menjadi kebutuhan hidup),” kata dia datar sambil wajahnya menunduk. Tak tega dengan sikapnya yang berubah, setelah beberapa saat, saya pamitan dengan Juhaedi, ayah beranak satu lulusan sebuah SMA di pandeglang.
Soal berapa pendapatan para tenaga kerja asal Indonesia, saya baru memperoleh informasinya dari Saeful, pria asal Cililin-Bandung yang bekerja di sebuah travel sekaligus pengurus katering pondokan kami di Madinah. Menurut Saeful, untuk tenaga kerja seperti Juhaedi, per bulannya dibayar tak lebih dari 400 Real. Sedangkan untuk tenaga sopir biasa memperoleh gaji 700 real. “Gaji sopir bisa mencapai 1.200 Real kalau banyak lembur,” urai Saeful.
“Untuk tenaga cleaning services di Masjid (seperti Juhaedi, Pen.) selain dari gaji, pendapatan sampingannya berasal dari sodakoh yang besarnya tidak tetap,” kata saeful yang telah tiga tahun bekerja di Arab saudi.
Mendengar cerita Seful, saya jadi berpikir, ternyata bekerja di Arab Saudi tidak lebih baik dibanding bekerja di negeri sendiri.
Namun, ada juga cerita sukses tentang tenaga kerja asal Indonesia. Saya sempat menjumpai Hambali. Pria asal Balaraja, Tangerang, ini telah belasan tahun bekerja di Arab Saudi. Sebagai mukimin yang telah memiliki kartu iqomah (istilah untuk kartu tanda penduduk khusus bagi pekerja asing), ia memiliki pekerjaan yang erat kaitannya dengan masalah haji.
Hambali, selain bekerja di sebuah perusahaan catering, setiap tahun rutin menjadi pemandu bagi para jamaah haji asal Indonesia. Hambali, di kalangan rekan-rekannya sesama mukimin, dikenal pula memiliki jaringan kerja lumayan luas. “Selama setengah tahun yakni setiap musim haji saya berada di sini, setengah tahun lagi berada di Pandeglang karena mengurusi usaha ternak ayam,” kata Hambali yang beristri asal Picung, Pandeglang.
Cerita sukses lain dialami Juanda, juga asal Pandeglang. Sudah 15 tahun bekerja di Arab Saudi, tapi bidang pekerjaannya sama sekali tidak berkaitan dengan masalah haji. Ia bekerja di sebuah perusahaan makanan asal Indonesia yang mengekspor produknya ke Arab Saudi. Oleh perusahaan dengan produk seperti mi, kecap, dan sambal, ini Juanda diserahi tanggung jawab mengurusi pemasarannya.
Tentu saja penampilannya lebih perlente dibanding Hambali. Berpakaian khas eksekutif muda, ke mana-mana selalu membawa sedan Toyota. Bersama H. Amin, rekan satu pondokan yang mengenalkan saya padanya, saya sempat dibawa berkeliling kota Makkah dan makan malam di Restoran Surabaya yang berlokasi di jantung Kota Makkah. “Kita makan dulu,” ajak Juanda.
Makan di restoran ini serasa berada di tanah air karena suasananya benar-benar Indonesia. Selain menunya berupa sate dan sop kambing, para pelayan dan konsumennya juga berasal dari Indonesia, plus komunikasi berbahasa Sunda, Indonesia, dan Jawa Timuran. Tapi, terlihat pula beberapa orang Arab yang makan di restoran tersebut.
Yang menarik, banyak orang Indonesia yang telah beranak pinak di sana. Saya menjumpai Ubaidillah, orang yang boleh jadi telah kehilangan akar budayanya sebagai orang Indonesia. Lahir, besar dan bekerja di Arab Saudi, Ubeid – panggilan akrabnya – hanya sesekali saja menengok tanah leluhurnya di Lebak.
Meski bisa berbahasa Sunda, namun Ubeid lebih banyak berkomunikasi dengan bahasa Arab. Begitu juga cara berpakaian, sikap dan perilakunya, sudah mirip orang Arab, kecuali wajahnya yang tetap Indonesia. Bekerja sebagai staf di sebuah kantor kementrian Arab Saudi, Ubeid agak kesulitan diajak bicara soal tanah kelahirannya. Mungkin karena pengetahuannya yang terbatas dan jarangnya ia pulang.
Ada banyak orang yang senasib dengan Ubeid. Tapi, mereka meraih sukses di negara Real itu, terutama dialami oleh mereka yang berasal dari Madura. Dari ribuan tenaga kerja asal Indonesia, orang Maduralah yang tampaknya mendominasi. Pada musim haji mereka banyak dijumpai berjualan makanan dengan menu masakan yang beragam. Mulai dari nasi putih, gado-gado, sate, soto, hingga bakso.
Di Laut Merah, Jeddah, saya sempat berbincang dengan seorang pria setengah baya asal Madura. Sambil menunggui istrinya yang berjualan sate, ia bercerita soal kisah suksesnya mengais Real. Dengan bangga ia memperlihatkan kepada kami sedan barunya. “Di sini harga mobil murah. Saya beli baru hanya dengan harga 20 ribu real saja,” katanya sambil menunjuk sedan Ford-nya.*** 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: