Bantencorner’s Weblog


Catatan Perjalanan Haji (2)
November 1, 2007, 4:55 am
Filed under: Perjalanan

Mau Harga Murah? Elus Saja Janggutnya

Makkah, bukan saja tempat beribadah bagi jamaah haji yang datang dari seantero dunia, tetapi juga sebagai surga belanja. Di sana, terdapat kawasan niaga yang dikenal dengan Pasar Seng, di samping mal dan pusat perbelanjaan dengan koleksi barang-barang mewah, khusus diperuntukkan bagi jamaah ber-fulus lebih.
 
***
Makkah kini tak lagi identik dengan kawasan padang pasir dan gunung berbatu yang hanya bisa ditempuh melalui perjalanan kaki atau dengan unta, sebagaimana pernah kita baca dalam buku-bukua sejarah Islam. Kota ini telah berubah menjadi kota pesolek. Gunung-gunung diratakan, dan di atasnya didirikan gedung-gedung pencakar langit dengan arsitektur terkini.
Terowongan yang menembus gunung pun dibuat untuk mempermudah akses lalu lintas. Unta sebagai binatang khas gurun pasir maupun sebagai ’kendaraan’ tunggangan, kini telah tergantikan oleh mobil berbagai merek dengan tahun produksi teranyar.
Pusat-pusat perbelanjaan juga mendominasi kawasan ini. Yang dijual tak hanya sajadah dan tasbih, tetapi juga emas, jam tangan, hingga produk elektronik berbagai merek. Gerai-gerai makanan asal Paman Sam seperti Kentucky Fried Chicken (KFC), Mc Donald, dan Pizza Hut, berdiri di berbagai sudut kota.
Kapitalisme memang sudah masuk Makkah, kota suci umat Islam. Kenyataan ini agaknya tidak bisa dihindarkan seiring dengan kemajuan zaman. Dan Makkah tak ingin tertinggal dalam hal ini.
Yang mengagetkan, terutama bagi yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Makkah, adalah bahwa kawasan Masjidil Haram kini telah dikepung oleh gedung-gedung pencakar langit yang tingginya mengalahkan menara masjid. Gedung-gedung yang berfungsi sebagai hotel dan pusat perbelanjaan itu mengelilingi kawasan tersebut, sehingga keberadaan masjid menjadi terisolir dan sulit memandangnya dari kejauhan lantaran terhalangi bangunan menjulang.
Kendatipun begitu, kondisi ini amat mengasyikan para jamaah haji, terutama bagi yang doyan belanja. Seusai beribadah di Masjidil Haram mereka tinggal melangkah beberapa kaki saja dan sampailah ke pusat-pusat perbelanjaan untuk membeli oleh-oleh.
Bagi yang berkantung standar-standar saja, mereka bisa memuaskan rasa dahaga akan berbelanja cukup di Pasar Seng. Di kawasan ini berbagai produk ditawarkan dengan harga yang tentu saja jauh lebih miring dibanding di mal atau pusat perbelanjaan kelas atas.
Menariknya, para pedagang di kawasan Pasar Seng seperti sudah hapal dengan kecenderungan belanja jamaah asal Indonesia. Mereka juga tahu dan hapal bagaimana menawarkan atau ’merayu’ para jamaah. Kalimat-kalimat berbunyi, ”Indonesia bagus!, lihat dulu-lihat dulu! Atau, murah haji-murah haji!” sering terlontar kendati dengan logat yang lucu.
”Itu 20 Real,” kata seorang pedagang kepada rekan saya yang tengah memegang sajadah bermotif Ka’bah. ”10 Real,” tawar rekan tadi. ”La haram, 15 Real halal,” jawab pedagang tadi.
Kata haram dan halal kerap dijadikan istilah dalam transaksi jual beli di Arab Saudi. Jika pedagang mengatakan haram, artinya tidak boleh, dan jika dikatakan halal berarti boleh.
Ada jurus khusus yang biasa digunakan para jamaah haji asal Indonesia jika pedagang tak mau menurunkan harga. Yakni menggunakan jurus elus janggut, tak peduli pedagang itu asli Arab Saudi atau India, Bangladesh maupun negara lain. Sebab, umumnya para pedagang di sana berjanggut dan berpakaian khas Arab, berjubah.
Dalam adat istiadat bangsa Arab, mengelus janggut adalah bentuk penghormatan. Sehingga, tak jarang senyum pedagang langsung mengembang jika janggutnya dielus dan spontan mengucap, ”Masya Allah.” Dari situ, suasana bisa bertambah akrab dan harga yang ditawarkan menjadi turun.
Tapi, tentu saja tidak semua pedagang dapat dirayu dengan jurus itu. Kendati dielus janggutnya, harga tetap tidak bisa ditawar. Bahkan, karena terlalu sering dielus janggutnya, si pedagang bisa berubah menjadi ketus. ”La, wahid kalam 10 Real, atau akhir kalam 10 Real.” Maksudnya, harga tidak bisa berubah, tetap 10 Real.
Di Pasar Seng, banyak jam tangan yang dijual dengan harga sangat murah, berkisar antara 5 Real hingga 15 Real. Bahkan sepasang jam tangan untuk suami istri bisa dijual dengan hanya 15 Real saja (1 Real = Rp 2.500). Di pusat perbelanjaan kelas atas, harganya di atas 100 Real. Mengapa berbeda? Di Pasar Seng, produk-produk seperti itu umumnya imitasi. Sedangkan di pusat perbelanjaan adalah produk bermerek dan terjamin keasliannya.
Tentang jam tangan ini, rekan satu pondokan saya tertarik membelinya. Ia membeli sebuah jam tangan karena mereknya Citizen. Harganya 25 Real. Setelah ditawar, harga menjadi 15 Real. Jam tangan itu langsung ia kenakan. Namun, sesampainya di pondokan, tali jamnya terlepas. Beberapa hari kemudian, giliran jarum jamnya yang tidak jalan. Setelah diteliti, ternyata bukan merek Citizen, tapi Cetezen. ”Baru beli kok langsung rusak,” kata rekan tadi.
Adapun bagi jamaah haji yang ber-fulus tebal bisa berbelanja di mal atau pusat-pusat perbelanjaan yang biasanya berada di hotel-hotel bintang lima. Barang yang ditawarkan, harganya tentu saja bisa berkali-kali lipat di banding yang dijual di Pasar Seng. Selain kualitasnya lebih bagus, juga dijamin keasliannya.
Rekan saya tak jadi berbelanja karena uangnya tidak cukup sekalipun uang living cost sebesar 1.500 Real ditambahi dengan uang rupiah yang sengaja dibawa dari tanah air. Harga jam tangan paling murah 100 real, tasbih 100 Real, masuk ke Mc Donald minimal habis 25 Real. Itu harga terhitung murah. Harga menengah tentu saja di atas 500 Real. Sedangkan yang paling mahal di atas 1.000 Real. Bahkan sebuah ornamen Kabah yang terbuat dari batu dijual hingga 3.500 Real (setara dengan Rp 8.750.000).
“Ya sudah kita belanjanya di Pasar Seng saja,” kata rekan saya sambil keluar dari pusat perbelanjaan di Hotel Darut Tauhid, salah satu hotel termewah yang lokasinya hanya lima langkah dari pelataran Masjidil Haram.***
 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: