Bantencorner’s Weblog


Catatan Perjalanan Haji (1)
November 1, 2007, 3:26 am
Filed under: Perjalanan

Wukuf di Arafah, Antara Dzikir dan Lapar

Pada musim haji tahun 2006 lalu, saya mendapat ‘panggilan’ Allah untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ada banyak pengalaman unik dan menarik yang saya alami. Berikut catatan perjalanan haji saya.

****

”Alhamdulillah, musim haji tahun ini merupakan haji akbar karena wukuf di Arafah dilaksanakan pada hari Jumat. Selamat, jaga kondisi kesehatan agar badan tetap fit dalam menjalankan ibadah.” Demikian kira-kira bunyi SMS dari Pak Haji Embay Mulya Syarif (tokoh dan agamawan Banten) yang dikirim setelah beberapa hari saya berada di Makkah.
Awalnya saya tidak terlalu memikirkan bunyi SMS tersebut. Saya juga tidak terlalu hirau dengan apa yang dimaksud wukuf di hari Jumat dan haji akbar. Karenanya, balasan SMS yang saya kirim pun bunyinya biasa saja, hanya ”Terimakasih dan mohon doa”.
Saya baru ngeh dan mencoba mencermati kembali bunyi SMS tersebut pasca pelaksanaan wukuf dan melempar jumroh. Bukan lantaran ritual wukuf atau melempar jumrahnya, tetapi lebih karena tragedi kelaparan yang menimpa sebagian besar jamaah haji Indonesia, sehingga membuat sanak saudara di tanah air amat mengkhawatirkan nasib kami. Sampai-sampai adik saya yang berada di Belanda yang turut mendengar kehebohan tersebut, ikut mengonfirmasi kebenaran peristiwa yang konon diblow up begitu rupa oleh pers di tanah air.
”Benarkah kelaparan?” tanya adik saya via telepon sehari setelah pelaksanaan melempar jumrah. Pertanyaan senada dilontarkan oleh sanak saudara dan rekan-rekan saya yang lain, termasuk ketika saya tiba di tanah air. Setiap kali bertemu siapa pun, pertanyaan yang dilontarkan pertama kali selalu soal kelaparan.
Sebagai pelaku dari tragedi yang diistilahkan banyak pihak sebagai tragedi kelaparan, saya agak sulit mengatakan bahwa tragedi itu sebagai tragedi kelaparan atau bukan. Tetapi, saya lebih cenderung menyatakan sebagai kelaparan, mengingat efek dari ketiadaan nasi (orang Indonesia umumnya belum dikatakan makan kalau belum makan nasi) katering, yang berakibat terganggunya kekhusuan saat wukuf berlangsung.
Betapa tidak. Kebanyakan dari jamaah haji Indonesia selama hampir 24 jam tidak menemukan nasi, sementara kondisi suhu udara kala itu begitu dingin. Sedangkan tubuh jamaah haji laki-laki hanya dibalut dua kain ihram saja. Saking dinginnya, dokter kloter kami seperti diceritakan rekan saya menyebutkan bahwa suhu udara saat dinihari mencapai 5 derajat celsius.
Kalaupun banyak dari jamaah membawa perbekalan makan, tak lebih dari sepotong dua potong roti atau biskuit plus sebotol kecil air mineral. Akibatnya, saya menyaksikan, para jamaah yang seharusnya terdiam khusuk untuk berdoa dan berdzikir, justru resah alang kepalang.
Ada yang hilir mudik mencari makanan, ada juga yang mengeluarkan sumpah serapah yang tak sepatutnya diucapkan. Bahkan, ada yang limbung dan berjatuhan akibat lapar dan dingin, terutama menimpa kalangan usia lanjut. Di tenda samping kami, seorang laki-laki tua meregang nyawa. Ia gugur sebagai syuhada dalam perergulatannya menahan lapar, dingin, dan mungkin sakit yang dibawanya sebelum wukuf.
Sementara itu, akibat suhu musim dingin yang begitu ekstrem, hampir seluruh jamaah terkena flu disertai batuk. Saya sendiri mengalaminya. Bibir pecah-pecah mengeluarkan darah, dahak dan ingus kental bercampur darah. Belum lagi nafas yang sesak. Sebuah ujian yang tentu belum seberapa jika membayangkan kehidupan di padang mahsyar yang akan kita alami kelak.
Di tengah suasana yang serba tidak menentu itu, kami diuntungkan oleh para pedagang makanan asal Madura yang telah bermukim di Makkah selama bertahun-tahun hingga beranak pinak. Keberadaan mereka yang menjual nasi, gado-gado, bakso, hingga setengah gelas kecil sahi (teh hangat campur susu), rupanya cukup membantu.
Harga mahal (satu porsi senilai 5 Real. 1 Real = Rp 2.500) tak kami hiraukan, yang penting perut terisi. Satu strip obat flu (berisi empat tablet) yang biasa dijual di warung-warung di Indonesia, dijual dengan harga 10 Real (sama dengan Rp 25 ribu). Dan saya tetap membelinya karena flu yang tak tertahankan.
Jumlah pedagang asal Madura yang tak seberapa tentu saja tak sebanding dengan jumlah jamaah haji yang kelaparan. Dalam sekejap, makanan yang dijajakan ludes diserbu. Untuk mendapatkannya harus berebut dan tak jarang saling sikut. Para jamaah itu tak ubahnya para pengungsi korban tsunami di Aceh. Serbu sana serbu sini, sikut sana sikut sini.
Suasana semakin tak karuan manakala hari menjelang siang. Makan gado-gado justru menambah daftar persoalan. Banyak jamaah yang terkena diare, sehingga semakin membuat panik dan sibuk dua tenaga medis kloter kami. ”Ini akibat makan gado-gado,” kata dr Hendrik, saat memeriksa seorang jamaah yang terkulai lemas.
Siangnya bantuan mulai datang. Entah berasal dari mana, di tengah arus lalu lintas yang begitu padat tak jauh dari lokasi perkemahaan, sebuah truk besar menurunkan berkardus-kardus mie (mie gelas produk terkenal asal Indonesia). Karuan, jamaah pun berbondong-bondong menuju arah truk.
Di sana, mereka berebut dan saling sikut untuk mendapatkannya. Arus lalu lintas yang padat dan resiko tertabrak, sama sekali tak dihiraukan. Sungguh, amat miris menyaksikannya. Kain ihram yang melilit badan dibuka dan dijadikan sebagai alat untuk mengangkut berkardus-kardus mie.
Kondisi ini amat bertolak belakang dengan jamaah haji dari negara lain. Pada jamaah asal Malaysia dan Singapura yang lokasi tendanya berdekatan dengan tenda kami, tak tampak kekisruhan akibat kelaparan. Sebaliknya, dari arah tenda mereka terdengar alunan dzikir dan doa. Sementara di tenda-tenda Indonesia, para jamaah hajinya sibuk berkeluh kesah tentang rasa lapar, tentang nasi yang tak kunjung datang.

***

Beberapa hari setelah wukuf, saya bertemu dengan H. Kosasih, Kasie Urusan Haji Departemen Agama Kabupaten Pandeglang, yang tergabung dalam Kloter 35 (gabungan Pandeglang dan Cilegon). Saat tragedi kelaparan terjadi, ia menyaksikan ada semacam indikasi kesengajaan atas ketiadaan katering (baca; sabotase).
”Katering sebetulnya ada tapi tidak sampai ke para jamaah. Katering dihalang-halangi masuk dan dibuang di jalan. Kalaupun ada yang sampai ke jamaah, isu nasi basi dihembuskan sehingga jamaah tak mau memakannya,” kata H. Kosasih.
Seakan menguatkan kesaksian itu, kami memperoleh kabar bahwa pengurusan katering kali ini tidak lagi dikelola oleh pondokan tempat kami tinggal, tapi dikelola langsung oleh perusahaan katering yang ditunjuk pemerintah. Kondisi ini tentu membuat kecewa para pemilik pondokan.
Di sebuah papan pengumuman yang tertempel di lokasi wukuf kami juga membaca tulisan yang berbunyi bahwa pengadaan katering kali ini tidak dikelola oleh pondokan tetapi oleh perusahaan katering. Segala keterlambatan dan segala hal menyangkut katering bukan tanggung jawab pihak pondokan, tetapi tanggung jawab perusahaan katering.
Dalam anggarannya, selama tiga hari wukuf dan mabit, per jamaah mendapat jatah makan sebesar 300 Real (Rp 750 ribu). Jika satu pondokan dihuni 2.000 jamaah, kalikan 300 Real! Nilai uang yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah yang tentu saja membuat banyak pihak ’berebut’ proyek katering itu.

***

Haji akbar. Barangkali itulah maksud dari haji akbar. Dengan predikat itu Allah rupanya sedang menguji kesabaran dan ketabahan para jamaah asal Indonesia dengan ketiadaan nasi. SMS yang dikirim Pak Haji Embay pun saya buka kembali. ”……jaga kondisi kesehatan agar badan tetap fit dalam menjalankan ibadah”.
Tapi, ibadah kami terganggu karena perut keroncongan…..!***
 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: