Bantencorner’s Weblog


Bukuku Hatiku (Sebuah Testimoni):
November 1, 2007, 5:01 am
Filed under: Kisah

Dengan Buku Kini Aku Menjadi


SUATU  hari di tahun 1993, aku sibuk menyibak-nyibak buku yang tersusun rapi di sebuah rak Perpustakaan Institut Pendidikan Islam Darussalam (IPD) Pondok Modern Gontor. Tiba-tiba, pandangan tertuju pada sebuah buku merah karya Emha Ainun Nadjib berjudul – kalau tidak salah – Indonesia Bagian Dari Desa Saya. Aku ambil, lalu aku buka halaman demi halaman dari buku itu.
Hmm…, cukup menarik isinya. Timbul keinginan dalam diriku untuk memiliki buku tersebut. Maka, setelah sejenak memperhatikan kanan kiri, dan dirasa aman karena tak ada seorang pun tahu – kecuali Tuhan – buku merah itu aku masukkan ke balik baju. Lalu, sambil berjingkat aku keluar dari gedung perpustakaan menuju asrama.
Aku sadar. Aku telah mengambil sebuah buku tanpa izin (baca; mencuri). Tapi, karena keinginan yang begitu kuat untuk membaca sekaligus memilikinya, buku itu akhirnya terbang ke lemariku. Pada waktu-waktu senggang, aku baca buku karya Kyai Mbeling itu. Kadang aku tertawa karena isinya yang lucu dan nakal, dus, ada banyak kesamaan dengan kisah kecilku.
Di salah satu bagian buku itu Cak Nun – panggilan akrab Emha – berkisah tentang anak-anak desa yang suka mengejar-ngejar mobil, lalu menaikinya. Jika tak terkejar, anak-anak desa hanya bisa memandangnya dengan rasa takjub hingga hilang dari pandangan. Lalu, mengelus-elus legokan tanah yang menyisakan warna hitam serta bau yang khas dari ban mobil tersebut. Ya, pada dua puluhan tahun silam, mobil masih merupakan benda aneh bagi anak-anak kampung.
Maka, begitu membaca bagian itu, pikiranku melayang ke masa aku masih berusia SD. Aku pernah mengejar-ngejar mobil sepulang mengaji pada malam hari. Kuselendangkan sarung di bahu, mobil kukejar. Kena, dan aku pun bergelantung. Begitu hampir tiba melewati rumah, aku meloncat. Dan, aduh…..! Aku terjatuh. Aku terpelanting ke arah krikil tajam. Lututku berdarah, beberapa bagian tangan tergores. Untungnya, tak ada yang melihatku, juga orangtuaku.
Di bagian lain dari buku itu, Emha juga berkisah tentang televisi yang merupakan barang langka sekaligus menunjukkan simbol ketinggian derajat seseorang yang memilikinya. Kata Emha, orang-orang di desanya dahulu menyebut televisi adalah pisyi. Di satu desa paling hanya satu atau dua orang saja yang memiliki pisyi, itu pun hitam putih dan untuk menyalakannya menggunakan aki – karena listrik belum masuk desa. Saban malam minggu, orang-orang se desa tumplek blek di rumah si pemilik pisyi untuk menonton film akhir pekan.
Itu pula yang kualami dulu. Meskipun kedua orangtuaku hanya berprofesi guru dan beranak banyak, kami cukup beruntung karena memiliki pisyi hitam putih merek SHARP yang dibeli sekitar tahun 1979. Mirip yang dikisahkan Emha, setiap malam minggu rumah kontrakan kami penuh dengan orang-orang desa yang ingin menyaksikan film akhir pekan.
Gara-gara buku merah, aku menjadi sering berkhayal betapa enaknya menjadi penulis. Apalagi jika tulisannya dimuat di koran atau dibukukan, seperti tulisan-tulisannya Cak Nun. Aku bisa jadi orang terkenal karenanya.

***

Buku merah itu tak pernah lagi ku kembalikan ke rak perpustakaan IPD. Buku itu aku bawa ke Solo – karena aku memutuskan pindah kuliah dari IPD ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dan, nasib buku itu kini tak jelas lagi rimbanya. Terakhir, buku itu aku titipkan bersama sekardus atau dua kardus buku koleksiku yang lain kepada seseorang yang pernah aku yakini akan menjadi pendamping hidup, gadis Banjarnegara, teman PPL semasa kuliah dulu.
***
Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga yang serba terbatas. Ayah dan ibu – karena banyak anak – tak pernah memanjakan anak-anaknya. Karena keterbatasan keuangan pula, orangtuaku jarang membelikan baju lebaran. Hidup kami selalu diwarnai oleh suasana kerja, kerja dan kerja. Ayahku, terutama, secara tegas memberikan tugas yang harus kami kerjakan setiap hari. Mulai bersih-bersih pekarangan, menimba air dari sumur, hingga membersihkan kandang ayam. Hari minggu pun demikian.
Kadang aku merasa terkekang karena di saat anak-anak sebayaku bermain sepeda atau sepak bola, aku malah diajak ayah mencabuti rumput dengan tangan di kebun. Tak boleh pakai cangkul atau kored, kata ayah. Pernah, saking inginnya bermain, saat membantu ayah menambal lantai rumah dengan semen, aku menyelinap diam-diam untuk pergi bertanding sepak bola ayam cup tanpa sepengetahuannya. Kala itu timku menang dan melaju ke babak final. Sungguh, betapa gembiranya aku karena salah satu gol kemenangan itu merupakan hasil tendanganku. Namun, kegembiraan itu seketika pupus karena tiba-tiba adikku menyusul ke lapangan sembari mengabarkan ayah marah besar karena aku pergi tanpa pamit.
Rasa takut untuk pulang tiba-tiba menyergapku. Aku bingung harus bagaimana, sementara bayang-bayang kemarahan ayah sudah mampir di pikiranku. Benar saja. Begitu tiba di rumah, ayah dengan serta merta memarahiku. “Kalau memang sepakbola bisa membuat kamu hidup, pergi saja dari sini!” hardik ayah. Aku hanya berdiri mematung sambil menunduk. Syukurlah, ibu segera memapahku ke dapur dan memintaku mandi.
Namun, esok harinya, saat aku sedang makan, tiba-tiba ayahku mendekat. “Kapan sepakbolanya lagi,” tanya ayah.
“Besok pak, tinggal sekali lagi karena sudah masuk final,” jawabku penuh heran, karena tumben-tumbennya ayah bertanya demikian.
Aku bertambah kaget sekaligus gembira begitu ayah membolehkan aku main bola besok.
Itulah sekelumit masa kecilku. Hidup penuh disiplin dan selalu dalam suasana kerja. Tapi, aku masih bersyukur, karena kendatipun dibesarkan dalam lingkungan yang kaku dan disiplin ala militer, orangtuaku selalu membiasakan anak-anaknya membaca. Ayah berlanggananan majalah Panjimas, sedangkan ibuku berlangganan Galura, koran berbahasa Sunda dan sesekali membeli majalah seperti Intisari atau tabloid lain terutama khusus wanita. Sementara, anak-anaknya berlangganan majalah Bobo. Sesekali pula ayah membawa setumpuk buku-buku cerita dari kantornya.
Dari situlah kegemaranku membaca terasah. Tak hanya suka membaca cerita Oki dan Nirmala atau Deni Manusia Ikan, aku juga menjadi sering membaca Panjimas. Dari Panjimas pula, aku mulai mengenal nama budayawan nyentrik Emha Ainun Nadjib lewat kolom-kolomnya yang dimuat secara berkala. Aku suka karena bahasanya yang nakal dan ngepop. Sedangkan Galura jarang aku perhatikan kecuali sesekali saja.
Selepas SMP, aku dipesantrenkan ke Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Tangerang. Setahun di sana aku dipindah ke Pesantren Daar el-Istiqomah, Serang. Di sini, aku mulai membaca beberapa buku karya Emha, terutama di penghujung kelulusanku. Namun, aku harus jujur, yang paling banyak dibaca semasa di pesantren, terutama di Daar el-Qolam adalah Wiro Sableng karya Bastian Tito. Itu pun sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan pengurus pesantren. Biasanya Wiro Sableng aku sisipkan ke dalam sebuah buku pelajaran. Pura-puranya membaca buku pelajaran pesantren, padahal yang dibaca dan dihapal adalah jurus seruling sakti-nya Wiro Sableng.
Minat bacaku hingga kini terbilang biasa-biasa saja. Bukan kutu buku, kecuali untuk beberapa buku saja. Ya, seperti Wiro Sableng itu, atau beberapa buku Emha, atau buku Khalil Gibran macam Sayap-Sayap Patah, terutama saat aku tengah kasmaran. Buku yang lain, apalagi yang terlalu teoritis, aku kurang suka karena terlalu berat dan jarang sampai tamat dibaca. Kalaupun kini aku suka menulis dan pernah dibukukan, tulisan-tulisan itu paling isinya ringan-ringan saja, tidak berteori karena aku miskin referensi tentang teori tokoh ini atau itu. Tulisan-tulisanku lebih banyak bersifat reflektif dan subjektif sesuai pengalaman empirisku terutama sebagai wartawan. Ya, niru-niru tulisannya Emha, gitu loch….!
O ya, saat SMP dulu, aku adalah pembeli setia Kompas edisi Jumat. Mengapa? Karena hari itu Kompas memiliki suplemen olahraga Bola berbentuk tabloid (kini sudah berpisah dengan induk semangnya). Jadi, yang kubaca bukan Kompas-nya, tapi Bola-nya. Dari dulu aku memang suka olahraga, terutama bulutangkis dan sepakbola. Bahkan aku pernah bercita-cita menjadi pemain bulutangkis seperti Rudi Hartono atau pemain bola macam Heri Kiswanto dan Rully Nere.
Cita-cita itu ada historisnya. TVRI pada medio 1980-an menayangkan siaran langsung Piala Thomas dan Pra Piala Dunia. Karena tayangan tersebut, bulutangkis dan sepak bola mendadak digandrungi warga selama beberapa waktu. Kebetulan, ada warga yang memiliki pekarangan yang sedikit luas dan disulap menjadi lapangan badminton. Di rumahku ada dua raket kayu, sehingga aku ikut-ikutan menggandrungi permainan badminton hingga sekarang. Sedangkan sepakbola, aku juga suka ikut dan malah tergabung dalam klub anak-anak kampung. Beberapa kali kampungku ikut pertandingan sepakbola memperebutkan hadiah seekor ayam jago atau bahkan kambing yang biasa kami sebut ayam cup dan kambing cup.
Meski cita-cita menjadi seperti Rudi Hartono atau Rully Nere itu kandas, aku tetap doyan membaca berita dan perkembangan olahraga di Bola atau di Pikiran Rakyat, milik tetangga sebelah. Dari situlah sesungguhnya cita-cita menjadi wartawan itu tumbuh. Gara-gara sering baca Bola yang banyak menyajikan berita olahraga luar negeri, terutama Liga Italia, aku selalu berpikir dan mengkhayal betapa enaknya jadi wartawan. Bisa naik pesawat terbang dan melanglangbuana dari satu negara ke negara lain, juga bisa kenal dengan nayak orang penting.

***
Alhamdulillah, cita-cita itu akhirnya terkabul. Meskipun hanya menjadi wartawan koran lokal, aku sudah sangat bersyukur. Impianku menjadi penulis pun tergapai. Paling tidak tulisan-tulisanku pernah dimuat secara berkala dalam kolom Refleksi seminggu sekali di Harian Banten (kini Radar Banten) tempatku bekerja dari tahun 2001 hingga 2003. Apalagi, berkat dorongan, desakan, sekaligus kebaikan Gola Gong, Toto ST Radik, almarhum Rys Revolta, dan Andi Suhud, kumpulan tulisan itu telah diterbitkan menjadi buku berjudul Menjadi Orang Banten; Refleksi Seorang Wartawan tentang Banten.
Dan, gara-gara rutin menulis, lalu dibukukuan, aku – lagi-lagi harus bersyukur – (banyak) dikenal orang. Aku jadi sering mendapat undangan baik seminar, pelatihan jurnalistik maupun diskusi. Baik dalam kapasitas sebagai pembicara maupun moderator. Kini, dalam satu bulan rata-rata aku diundang dalam forum-forum seperti itu, antara dua hingga tiga kali.
Pada awalnya nyaris tak ada honor yang kuperoleh. Kalaupun ada, besarnya antara 20 ribu hingga 50 ribu rupiah saja, jarang sekali dapat 100 ribu rupiah. Tapi, kini, honor yang kuperoleh bisa mencapai antara 200 ribu hingga 500 ribu rupiah bahkan pernah tembus beberapa kali ke angka satu juta rupiah, untuk sekali tampil. Selain itu, aku juga banyak terlibat dalam penyusunan dan pengeditan buku yang diterbitkan lembaga maupun perorangan. Honornya amat lumayan, bisa dua hingga empat kali lipat dari gajiku saat ini.
Kini, di samping menjalankan aktivitas rutin di kantor, aku juga mengajar di sebuah perguruan tinggi negeri di Banten khusus untuk mata kuliah jurnalistik. Tak seberapa honornya, tapi ada kepuasan tersendiri karena bisa berbagi ilmu, wawasan dan pengalaman pada para mahasiswa. Konsep dan gagasanku juga banyak dipakai orang, dan kadang, juga menghasilkan uang.
Sebagian besar pendapatanku di luar gaji kantor aku manfaatkan untuk keperluan seperti kuliah lagi, mencicil sebuah rumah kecil di sebuah komplek perumahan di Kota Serang, termasuk mencicil komputer yang biasa aku pakai di rumah.
Apa yang kuraih saat ini tentu saja tidak diperoleh dengan mudah. Aku melaluinya dengan perjalanan panjang dan berliku. Dimulai dari serba keterbatasan. Masa kecil yang penuh dengan suasana kerja, kerja dan kerja, kuliah dengan jurusan yang tidak kusuka, hingga akhirnya menjadi wartawan yang ternyata tidak semanis dan sehebat bayanganku dahulu.
Namun, ada satu hal. Jika aku meruntut kembali perjalanan hidup hingga menjadi wartawan, penulis, pembicara/moderator, juga dosen, ternyata itu tidak lepas dari buku dan membaca, di samping pergaulan dan jaringan. Meski bukan kutu buku, tapi perjalanan hidupku sejak kecil selalu bersentuhan dengan buku dan bacaan-bacaan lain.
Kini, sebagian dari cita-cita dan khayalku telah tergapai. Itu semua, antara lain, berkat buku dan bacaan lain. Benar kata orang. Buku tak sekadar membuka cakrawala berpikir, tetapi juga ikut berpengaruh besar terhadap kesuksesan seseorang.
Buku adalah pembebasan……..! ***
 


4 Komentar so far
Tinggalkan komentar

lumayan dapet pertamax komentar….

Komentar oleh qizinklaziva

Cerita tentang Emha sama juga dengan ceritaku. Aku juga baru inget kalo dulu sering ngejar-ngejar mobil dan mencium bekas bannya di jalan. Ah, masa kecilku jadi indah dikenang.

Btw, ini hurufnya kenapa gak sama. jadi gak enak dibacanya. tabulasi per paragraf juga gak rapih.

Komentar oleh Ibnu

Oke trims atas atensi dan masukannya

Komentar oleh bantencorner

Pak Haji, dulu kecilnya bandel jg ya….(he….he….he….). Tapi lebih baik kenakalan remaja kali ye, daripada udah pada tua masih bandel2. Sukses buat Pak Haji….

Komentar oleh Nino




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: