Bantencorner’s Weblog


Banten dan kelas Menengah yang Frustrasi
November 1, 2007, 2:59 am
Filed under: Kolom

DALAM  konsepnya Alexis de Tocqueville menyebutkan bahwa civil society merupakan penyeimbang dari kekuatan negara. Di dalam dirinya memiliki kekuatan politis yang dapat mengekang atau mengontrol kekuatan intervensionis negara. Civil society sebagai wilayah kehidupan yang terorganisasi bercirikan kesukarelaan,  keswasembadaan, keswadayaan, dan kemandirian.

Terbentuknya Provinsi Banten tujuh tahun silam juga tidak terlepas dari peran civil society yang dikenal  sebagai masyarakat kelas menengah atau masyarakat madani. Masyarakat kelas inilah yang menjadi motor penggerak perubahan dari Banten sebagai sebuah karesidenan menjadi Banten sebagai provinsi.

Dalam perjalanannya, kelas menengah di Banten tidak hanya berperan saat perjuangan hingga terbentuknya provinsi. Dua hingga tiga tahun pasca provinsi pun peran mereka masih bisa kita rasakan. Mereka tidak hanya melakukan pengawalan atas berjalannya roda pemerintahan, tetapi juga mampu menjadi penyeimbang ’kekuatan negara’. Kemunculan Majelis Musyawarah Masyarakat Banten (M3B) waktu itu, adalah bukti masih berlangsunya peran mereka.

Namun, (setidaknya) dari tahun kelima hingga tahun ketujuh provinsi ini, keberadaan dan keberlangsungan gerakan kelas menengah di Banten, secara perlahan mulai kehilangan arah.  Sikap kritis berupa gerakan pengawalan maupun kekuatan penyimbang itu, secara perlahan juga mulai hilang. Yang tampil selanjutnya adalah lebih kepada gerakan individu atau kelompok-kelompok kecil dalam beragam tujuan.

Puncaknya adalah saat berlangsung pemilihan gubernur 2006 lalu. Kelompok-kelompok atau kekuatan-kekuatan yang dulu lebih memilih bersikap oposan terhadap institusi negara, tampak begitu cair dan menyatu, seakan tak pernah ada perbedaan prinsip maupun ideologi politik yang menyebabkan mereka pernah berseberangan di masa awal terbentuknya provinsi.

Di sisi yang lain, sejumlah individu yang dulu menjadi motor penggerak perubahan, seperti tak kuasa menahan ’godaan’ syahwat politik ketimbang menjadi seorang begawan. Mereka terjun ke dunia politik praktis memperebutkan kursi nomor satu di provinsi ini.

Kondisi seperti ini menyiratkan bahwa kalangan kelas menengah di Banten tak hanya mulai kehilangan arah gerakan, tetapi juga terpecah dalam berbagai kepentingan, sehingga peran sesungguhnya dari masyarakat menengah dengan ciri-ciri sebagaimana disebutkan Alexis de Tocqueville tak lagi terlihat. Seakan terbentuknya Provinsi Banten adalah akhir dari perjuangan mereka.

Inkonsistensi Gerakan

Tidak bisa dipungkiri bahwa munculnya kesadaran untuk bersatu dan berjuang bersama yang dilakukan kalangan kelas menengah di Banten kala itu karena mereka memiliki garis perjuangan yang sama, yang dibalut oleh semangat kedaerahan sebagai orang Banten, yakni menjadikan Banten sebagai provinsi. Tapi, seiring dengan perjalanan waktu, kesadaran untuk bersatu tak lama berselang lama. Hanya beberapa tahun setelah terbentuk, kesadaran itu seperti hilang.  Semangat melakukan perubahan dengan menjadikan Banten sebagai provinsi guna mengejar berbagai ketertinggalan masyarakatnya, pada akhirnya hanya sebatas jargon.

Dari sini terlihat betapa kelas menengah di Banten begitu rapuh dan sesungguhnya tidak memiliki visi perjuangan yang jelas. Gerakan mereka, terutama pasca terbentuknya provinsi, terlihat inkonsisten dan tidak memiliki arah yang pasti. Maka, boleh jadi, kondisi ini membuat mereka menjadi terpecah dan cenderung bergerak sendiri-sendiri, sehingga sulit melakukan perubahan.

Hilangnya M3B dari peredaran adalah contoh nyata dari inkonsistensi gerakan masyarakat kelas menengah di Banten. Padahal, kehadiran forum multistakeholder ini waktu itu sempat memunculkan harapan terjadinya perubahan ke arah Banten yang lebih baik, lebih dari sekadar menjadi provinsi. M3B tidak hanya berperan sebagai pengawal, tetapi juga sebagai kekuatan politis sekaligus penyimbang kekuatan negara, sehingga  roda pemerintahan di Banten relatif terkontrol dan terawasi.

Kelas Menengah yang Frustrasi

Pasang surut (baca; inkonsistensi) gerakan yang terjadi selama kurun waktu lima tahun pasca terbentuknya provinsi, boleh jadi menjadi andil terpecahnya kelas menengah di Banten sekaligus membuat mereka ’lupa’ menjalankan perannya sebagai kekuatan kritis, politis, maupun penyeimbang dari kekuatan negara.

Karena itu, tak heran jika kini – terlebih pasca pilkada – tak ada lagi suara maupun sikap kritis khas mereka sebagaimana pernah terlihat pada lima tahun silam. Padahal, dulu — saat tahun-tahun pertama provinsi ini – ada sedikit persoalan atau kejanggalan saja menyangkut roda pemerintahan, mereka langsung bereaksi dengan sikapnya yang kritis, bahkan ’berani’ bersikap oposan.

Penulis pernah mendiskusikan persoalan ini dengan beberapa orang yang ’tergolong’ sebagai kaum kelas menengah di Banten. Ada beragam jawaban yang mereka sampaikan. Tapi, dari beragam jawaban itu hanya ada satu kesimpulan, yakni kelas menengah di Banten belum cukup memiliki spirit yang lebih dalam melakukan perannya, sehingga mudah terpecah oleh berbagai kepentingan yang terkadang terlalu pragmatis dan politis.  Karena spiritnya yang kurang itulah, pada sebagian lagi dari kaum kelas menengah ini berada dalam kondisi yang frustrasi. Frustrasi karena situasi yang tidak pernah lebih baik — bahkan menjadi lebih buruk.

Satu waktu penulis diundang sarapan oleh salah seorang tokoh pejuang provinsi ini.  Sambil menikmati hidangan yang tersaji, kami terlibat dalam obrolan dengan tema utama tentang Banten. Dari ungkapan-ungkapannya tersirat betapa  ia begitu mencintai Banten tetapi kecewa terhadap situasinya saat ini yang kalau menurutnya tidak juga berubah ke arah yang lebih baik.

Penulis sulit untuk tidak mengatakan bahwa yang bersangkutan tengah dilanda frustrasi. Dan penulis yakin bahwa sikap itu juga dialami oleh kaum kelas menengah yang lain.

Jika tidak, mana mungkin mereka sekarang diam. Sungguh terlalu….!***


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: