Bantencorner’s Weblog


Bukuku Hatiku (Sebuah Testimoni):
November 1, 2007, 5:01 am
Filed under: Kisah

Dengan Buku Kini Aku Menjadi


SUATU  hari di tahun 1993, aku sibuk menyibak-nyibak buku yang tersusun rapi di sebuah rak Perpustakaan Institut Pendidikan Islam Darussalam (IPD) Pondok Modern Gontor. Tiba-tiba, pandangan tertuju pada sebuah buku merah karya Emha Ainun Nadjib berjudul – kalau tidak salah – Indonesia Bagian Dari Desa Saya. Aku ambil, lalu aku buka halaman demi halaman dari buku itu.
Hmm…, cukup menarik isinya. Timbul keinginan dalam diriku untuk memiliki buku tersebut. Maka, setelah sejenak memperhatikan kanan kiri, dan dirasa aman karena tak ada seorang pun tahu – kecuali Tuhan – buku merah itu aku masukkan ke balik baju. Lalu, sambil berjingkat aku keluar dari gedung perpustakaan menuju asrama.
Aku sadar. Aku telah mengambil sebuah buku tanpa izin (baca; mencuri). Tapi, karena keinginan yang begitu kuat untuk membaca sekaligus memilikinya, buku itu akhirnya terbang ke lemariku. Pada waktu-waktu senggang, aku baca buku karya Kyai Mbeling itu. Kadang aku tertawa karena isinya yang lucu dan nakal, dus, ada banyak kesamaan dengan kisah kecilku.
Di salah satu bagian buku itu Cak Nun – panggilan akrab Emha – berkisah tentang anak-anak desa yang suka mengejar-ngejar mobil, lalu menaikinya. Jika tak terkejar, anak-anak desa hanya bisa memandangnya dengan rasa takjub hingga hilang dari pandangan. Lalu, mengelus-elus legokan tanah yang menyisakan warna hitam serta bau yang khas dari ban mobil tersebut. Ya, pada dua puluhan tahun silam, mobil masih merupakan benda aneh bagi anak-anak kampung.
Maka, begitu membaca bagian itu, pikiranku melayang ke masa aku masih berusia SD. Aku pernah mengejar-ngejar mobil sepulang mengaji pada malam hari. Kuselendangkan sarung di bahu, mobil kukejar. Kena, dan aku pun bergelantung. Begitu hampir tiba melewati rumah, aku meloncat. Dan, aduh…..! Aku terjatuh. Aku terpelanting ke arah krikil tajam. Lututku berdarah, beberapa bagian tangan tergores. Untungnya, tak ada yang melihatku, juga orangtuaku.
Di bagian lain dari buku itu, Emha juga berkisah tentang televisi yang merupakan barang langka sekaligus menunjukkan simbol ketinggian derajat seseorang yang memilikinya. Kata Emha, orang-orang di desanya dahulu menyebut televisi adalah pisyi. Di satu desa paling hanya satu atau dua orang saja yang memiliki pisyi, itu pun hitam putih dan untuk menyalakannya menggunakan aki – karena listrik belum masuk desa. Saban malam minggu, orang-orang se desa tumplek blek di rumah si pemilik pisyi untuk menonton film akhir pekan.
Itu pula yang kualami dulu. Meskipun kedua orangtuaku hanya berprofesi guru dan beranak banyak, kami cukup beruntung karena memiliki pisyi hitam putih merek SHARP yang dibeli sekitar tahun 1979. Mirip yang dikisahkan Emha, setiap malam minggu rumah kontrakan kami penuh dengan orang-orang desa yang ingin menyaksikan film akhir pekan.
Gara-gara buku merah, aku menjadi sering berkhayal betapa enaknya menjadi penulis. Apalagi jika tulisannya dimuat di koran atau dibukukan, seperti tulisan-tulisannya Cak Nun. Aku bisa jadi orang terkenal karenanya.

***

Buku merah itu tak pernah lagi ku kembalikan ke rak perpustakaan IPD. Buku itu aku bawa ke Solo – karena aku memutuskan pindah kuliah dari IPD ke Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dan, nasib buku itu kini tak jelas lagi rimbanya. Terakhir, buku itu aku titipkan bersama sekardus atau dua kardus buku koleksiku yang lain kepada seseorang yang pernah aku yakini akan menjadi pendamping hidup, gadis Banjarnegara, teman PPL semasa kuliah dulu.
***
Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga yang serba terbatas. Ayah dan ibu – karena banyak anak – tak pernah memanjakan anak-anaknya. Karena keterbatasan keuangan pula, orangtuaku jarang membelikan baju lebaran. Hidup kami selalu diwarnai oleh suasana kerja, kerja dan kerja. Ayahku, terutama, secara tegas memberikan tugas yang harus kami kerjakan setiap hari. Mulai bersih-bersih pekarangan, menimba air dari sumur, hingga membersihkan kandang ayam. Hari minggu pun demikian.
Kadang aku merasa terkekang karena di saat anak-anak sebayaku bermain sepeda atau sepak bola, aku malah diajak ayah mencabuti rumput dengan tangan di kebun. Tak boleh pakai cangkul atau kored, kata ayah. Pernah, saking inginnya bermain, saat membantu ayah menambal lantai rumah dengan semen, aku menyelinap diam-diam untuk pergi bertanding sepak bola ayam cup tanpa sepengetahuannya. Kala itu timku menang dan melaju ke babak final. Sungguh, betapa gembiranya aku karena salah satu gol kemenangan itu merupakan hasil tendanganku. Namun, kegembiraan itu seketika pupus karena tiba-tiba adikku menyusul ke lapangan sembari mengabarkan ayah marah besar karena aku pergi tanpa pamit.
Rasa takut untuk pulang tiba-tiba menyergapku. Aku bingung harus bagaimana, sementara bayang-bayang kemarahan ayah sudah mampir di pikiranku. Benar saja. Begitu tiba di rumah, ayah dengan serta merta memarahiku. “Kalau memang sepakbola bisa membuat kamu hidup, pergi saja dari sini!” hardik ayah. Aku hanya berdiri mematung sambil menunduk. Syukurlah, ibu segera memapahku ke dapur dan memintaku mandi.
Namun, esok harinya, saat aku sedang makan, tiba-tiba ayahku mendekat. “Kapan sepakbolanya lagi,” tanya ayah.
“Besok pak, tinggal sekali lagi karena sudah masuk final,” jawabku penuh heran, karena tumben-tumbennya ayah bertanya demikian.
Aku bertambah kaget sekaligus gembira begitu ayah membolehkan aku main bola besok.
Itulah sekelumit masa kecilku. Hidup penuh disiplin dan selalu dalam suasana kerja. Tapi, aku masih bersyukur, karena kendatipun dibesarkan dalam lingkungan yang kaku dan disiplin ala militer, orangtuaku selalu membiasakan anak-anaknya membaca. Ayah berlanggananan majalah Panjimas, sedangkan ibuku berlangganan Galura, koran berbahasa Sunda dan sesekali membeli majalah seperti Intisari atau tabloid lain terutama khusus wanita. Sementara, anak-anaknya berlangganan majalah Bobo. Sesekali pula ayah membawa setumpuk buku-buku cerita dari kantornya.
Dari situlah kegemaranku membaca terasah. Tak hanya suka membaca cerita Oki dan Nirmala atau Deni Manusia Ikan, aku juga menjadi sering membaca Panjimas. Dari Panjimas pula, aku mulai mengenal nama budayawan nyentrik Emha Ainun Nadjib lewat kolom-kolomnya yang dimuat secara berkala. Aku suka karena bahasanya yang nakal dan ngepop. Sedangkan Galura jarang aku perhatikan kecuali sesekali saja.
Selepas SMP, aku dipesantrenkan ke Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Tangerang. Setahun di sana aku dipindah ke Pesantren Daar el-Istiqomah, Serang. Di sini, aku mulai membaca beberapa buku karya Emha, terutama di penghujung kelulusanku. Namun, aku harus jujur, yang paling banyak dibaca semasa di pesantren, terutama di Daar el-Qolam adalah Wiro Sableng karya Bastian Tito. Itu pun sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan pengurus pesantren. Biasanya Wiro Sableng aku sisipkan ke dalam sebuah buku pelajaran. Pura-puranya membaca buku pelajaran pesantren, padahal yang dibaca dan dihapal adalah jurus seruling sakti-nya Wiro Sableng.
Minat bacaku hingga kini terbilang biasa-biasa saja. Bukan kutu buku, kecuali untuk beberapa buku saja. Ya, seperti Wiro Sableng itu, atau beberapa buku Emha, atau buku Khalil Gibran macam Sayap-Sayap Patah, terutama saat aku tengah kasmaran. Buku yang lain, apalagi yang terlalu teoritis, aku kurang suka karena terlalu berat dan jarang sampai tamat dibaca. Kalaupun kini aku suka menulis dan pernah dibukukan, tulisan-tulisan itu paling isinya ringan-ringan saja, tidak berteori karena aku miskin referensi tentang teori tokoh ini atau itu. Tulisan-tulisanku lebih banyak bersifat reflektif dan subjektif sesuai pengalaman empirisku terutama sebagai wartawan. Ya, niru-niru tulisannya Emha, gitu loch….!
O ya, saat SMP dulu, aku adalah pembeli setia Kompas edisi Jumat. Mengapa? Karena hari itu Kompas memiliki suplemen olahraga Bola berbentuk tabloid (kini sudah berpisah dengan induk semangnya). Jadi, yang kubaca bukan Kompas-nya, tapi Bola-nya. Dari dulu aku memang suka olahraga, terutama bulutangkis dan sepakbola. Bahkan aku pernah bercita-cita menjadi pemain bulutangkis seperti Rudi Hartono atau pemain bola macam Heri Kiswanto dan Rully Nere.
Cita-cita itu ada historisnya. TVRI pada medio 1980-an menayangkan siaran langsung Piala Thomas dan Pra Piala Dunia. Karena tayangan tersebut, bulutangkis dan sepak bola mendadak digandrungi warga selama beberapa waktu. Kebetulan, ada warga yang memiliki pekarangan yang sedikit luas dan disulap menjadi lapangan badminton. Di rumahku ada dua raket kayu, sehingga aku ikut-ikutan menggandrungi permainan badminton hingga sekarang. Sedangkan sepakbola, aku juga suka ikut dan malah tergabung dalam klub anak-anak kampung. Beberapa kali kampungku ikut pertandingan sepakbola memperebutkan hadiah seekor ayam jago atau bahkan kambing yang biasa kami sebut ayam cup dan kambing cup.
Meski cita-cita menjadi seperti Rudi Hartono atau Rully Nere itu kandas, aku tetap doyan membaca berita dan perkembangan olahraga di Bola atau di Pikiran Rakyat, milik tetangga sebelah. Dari situlah sesungguhnya cita-cita menjadi wartawan itu tumbuh. Gara-gara sering baca Bola yang banyak menyajikan berita olahraga luar negeri, terutama Liga Italia, aku selalu berpikir dan mengkhayal betapa enaknya jadi wartawan. Bisa naik pesawat terbang dan melanglangbuana dari satu negara ke negara lain, juga bisa kenal dengan nayak orang penting.

***
Alhamdulillah, cita-cita itu akhirnya terkabul. Meskipun hanya menjadi wartawan koran lokal, aku sudah sangat bersyukur. Impianku menjadi penulis pun tergapai. Paling tidak tulisan-tulisanku pernah dimuat secara berkala dalam kolom Refleksi seminggu sekali di Harian Banten (kini Radar Banten) tempatku bekerja dari tahun 2001 hingga 2003. Apalagi, berkat dorongan, desakan, sekaligus kebaikan Gola Gong, Toto ST Radik, almarhum Rys Revolta, dan Andi Suhud, kumpulan tulisan itu telah diterbitkan menjadi buku berjudul Menjadi Orang Banten; Refleksi Seorang Wartawan tentang Banten.
Dan, gara-gara rutin menulis, lalu dibukukuan, aku – lagi-lagi harus bersyukur – (banyak) dikenal orang. Aku jadi sering mendapat undangan baik seminar, pelatihan jurnalistik maupun diskusi. Baik dalam kapasitas sebagai pembicara maupun moderator. Kini, dalam satu bulan rata-rata aku diundang dalam forum-forum seperti itu, antara dua hingga tiga kali.
Pada awalnya nyaris tak ada honor yang kuperoleh. Kalaupun ada, besarnya antara 20 ribu hingga 50 ribu rupiah saja, jarang sekali dapat 100 ribu rupiah. Tapi, kini, honor yang kuperoleh bisa mencapai antara 200 ribu hingga 500 ribu rupiah bahkan pernah tembus beberapa kali ke angka satu juta rupiah, untuk sekali tampil. Selain itu, aku juga banyak terlibat dalam penyusunan dan pengeditan buku yang diterbitkan lembaga maupun perorangan. Honornya amat lumayan, bisa dua hingga empat kali lipat dari gajiku saat ini.
Kini, di samping menjalankan aktivitas rutin di kantor, aku juga mengajar di sebuah perguruan tinggi negeri di Banten khusus untuk mata kuliah jurnalistik. Tak seberapa honornya, tapi ada kepuasan tersendiri karena bisa berbagi ilmu, wawasan dan pengalaman pada para mahasiswa. Konsep dan gagasanku juga banyak dipakai orang, dan kadang, juga menghasilkan uang.
Sebagian besar pendapatanku di luar gaji kantor aku manfaatkan untuk keperluan seperti kuliah lagi, mencicil sebuah rumah kecil di sebuah komplek perumahan di Kota Serang, termasuk mencicil komputer yang biasa aku pakai di rumah.
Apa yang kuraih saat ini tentu saja tidak diperoleh dengan mudah. Aku melaluinya dengan perjalanan panjang dan berliku. Dimulai dari serba keterbatasan. Masa kecil yang penuh dengan suasana kerja, kerja dan kerja, kuliah dengan jurusan yang tidak kusuka, hingga akhirnya menjadi wartawan yang ternyata tidak semanis dan sehebat bayanganku dahulu.
Namun, ada satu hal. Jika aku meruntut kembali perjalanan hidup hingga menjadi wartawan, penulis, pembicara/moderator, juga dosen, ternyata itu tidak lepas dari buku dan membaca, di samping pergaulan dan jaringan. Meski bukan kutu buku, tapi perjalanan hidupku sejak kecil selalu bersentuhan dengan buku dan bacaan-bacaan lain.
Kini, sebagian dari cita-cita dan khayalku telah tergapai. Itu semua, antara lain, berkat buku dan bacaan lain. Benar kata orang. Buku tak sekadar membuka cakrawala berpikir, tetapi juga ikut berpengaruh besar terhadap kesuksesan seseorang.
Buku adalah pembebasan……..! ***
 



Catatan Perjalanan Haji (3/Habis)
November 1, 2007, 4:59 am
Filed under: Perjalanan

Dari Bangladesh Hingga Madura, Semua Mengejar Real

Makkah dan Madinah juga menjadi surga bagi para pencari kerja dari berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Semua demi mengais Real. Ada yang berpenghasilan pas-pasan, ada juga yang sukses hingga mampu membeli kendaraan roda empat.
***

Buruh asal Bangladesh boleh jadi menempati rangking pertama jumlah tenaga kerja kasar di Arab Saudi. Pasukan Orange (kalau di Indonesia dikenal dengan sebutan pasukan kuning) yang setia setiap saat membersihkan dan mengangkut sampah-sampah di setiap sudut kota Makkah dan Madinah, hampir semuanya berasal dari Bangladesh.
Hotel-hotel maupun pondokan yang biasa ditempati para jamaah haji, khusus tenaga kasarnya seperti cleaning services, umumnya juga didominasi oleh tenaga kerja asal Bangladesh. Kendati begitu, ada juga para pekerja asal Indonesia yang bekerja di sektor ini. Beberapa kali saya maupun rekan-rekan saya menjumpai para buruh asal negeri sendiri.
Satu waktu, saya menjumpai seorang pekerja cleaning services Masjidil Haram berwajah Melayu. Belum sempat bertanya, ia menyapa duluan. “Mas, sandalnya jangan disimpan di situ, nanti hilang,” kata dia sambil terus mengepel lantai. Saya yang sedang menggantung sandal di pagar masjid agar tidak hilang, balik bertanya. “Indonesia?”
“Ya, Indonesia,” jawab dia. “Indonesianya di mana?” tanya saya lagi. “Cianjur,” jawabnya pendek.
“Tos lami damel di dieu, Kang (sudah lama bekerja di sini, Kang)?” tanya saya dalam bahasa Sunda. “Tos tujuh tahun (Sudah tujuh tahun),” jawabnya.
Ditanya soal penghasilan per bulan, pria yang kemudian diketahui bernama Asep ini tak mau berterus terang. “Ya lumayanlah,” kata Asep pendek.
Setiap ditanya soal penghasilan, para pekerja asal Indonesia yang saya jumpai hampir semuanya tutup mulut. Atau, kalau dijawab, jawabannya selalu “lumayan”.
Ketika berada di Madinah saya pun beberapa kali menjumpai para pekerja asal Indonesia. Juhaedi salah satunya. Pria asal Labuan, Kabupaten Pandeglang, ini saya jumpai di salah satu toilet Masjid Nabawi. Kali ini saya duluan yang menyapa. “Indonesia?” tanya saya sambil mengajaknya bersalaman.
”Ya, Indonesia,” jawab dia. ”Indonesianya di mana?” tanya saya lagi. “Banten, Pak,” kata Juhaedi.
Mendengar kata Banten, membuat saya semakin bersemangat untuk bertanya. ”Saya juga dari Banten, dari Pandeglang, Akang Bantennya di mana?”
“Pandeglang, Pak, ti Labuan,” jawab dia dengan bahasa Sunda.
Dari ceritanya diketahui, pria kelahiran tahun 1975 ini telah bekerja sebagai tenaga kebersihan Masjid Nabawi sejak 2003 silam. Tapi, ia mulai tertutup ketika ditanya soal mengapa bekerja di Arab Saudi dan berapa pendapatannya.
“Arek kumaha deui Kang, ja ieu mah kabutuh hirup (mau bagaiamana lagi Kang, ini (bekerja di sini) sudah menjadi kebutuhan hidup),” kata dia datar sambil wajahnya menunduk. Tak tega dengan sikapnya yang berubah, setelah beberapa saat, saya pamitan dengan Juhaedi, ayah beranak satu lulusan sebuah SMA di pandeglang.
Soal berapa pendapatan para tenaga kerja asal Indonesia, saya baru memperoleh informasinya dari Saeful, pria asal Cililin-Bandung yang bekerja di sebuah travel sekaligus pengurus katering pondokan kami di Madinah. Menurut Saeful, untuk tenaga kerja seperti Juhaedi, per bulannya dibayar tak lebih dari 400 Real. Sedangkan untuk tenaga sopir biasa memperoleh gaji 700 real. “Gaji sopir bisa mencapai 1.200 Real kalau banyak lembur,” urai Saeful.
“Untuk tenaga cleaning services di Masjid (seperti Juhaedi, Pen.) selain dari gaji, pendapatan sampingannya berasal dari sodakoh yang besarnya tidak tetap,” kata saeful yang telah tiga tahun bekerja di Arab saudi.
Mendengar cerita Seful, saya jadi berpikir, ternyata bekerja di Arab Saudi tidak lebih baik dibanding bekerja di negeri sendiri.
Namun, ada juga cerita sukses tentang tenaga kerja asal Indonesia. Saya sempat menjumpai Hambali. Pria asal Balaraja, Tangerang, ini telah belasan tahun bekerja di Arab Saudi. Sebagai mukimin yang telah memiliki kartu iqomah (istilah untuk kartu tanda penduduk khusus bagi pekerja asing), ia memiliki pekerjaan yang erat kaitannya dengan masalah haji.
Hambali, selain bekerja di sebuah perusahaan catering, setiap tahun rutin menjadi pemandu bagi para jamaah haji asal Indonesia. Hambali, di kalangan rekan-rekannya sesama mukimin, dikenal pula memiliki jaringan kerja lumayan luas. “Selama setengah tahun yakni setiap musim haji saya berada di sini, setengah tahun lagi berada di Pandeglang karena mengurusi usaha ternak ayam,” kata Hambali yang beristri asal Picung, Pandeglang.
Cerita sukses lain dialami Juanda, juga asal Pandeglang. Sudah 15 tahun bekerja di Arab Saudi, tapi bidang pekerjaannya sama sekali tidak berkaitan dengan masalah haji. Ia bekerja di sebuah perusahaan makanan asal Indonesia yang mengekspor produknya ke Arab Saudi. Oleh perusahaan dengan produk seperti mi, kecap, dan sambal, ini Juanda diserahi tanggung jawab mengurusi pemasarannya.
Tentu saja penampilannya lebih perlente dibanding Hambali. Berpakaian khas eksekutif muda, ke mana-mana selalu membawa sedan Toyota. Bersama H. Amin, rekan satu pondokan yang mengenalkan saya padanya, saya sempat dibawa berkeliling kota Makkah dan makan malam di Restoran Surabaya yang berlokasi di jantung Kota Makkah. “Kita makan dulu,” ajak Juanda.
Makan di restoran ini serasa berada di tanah air karena suasananya benar-benar Indonesia. Selain menunya berupa sate dan sop kambing, para pelayan dan konsumennya juga berasal dari Indonesia, plus komunikasi berbahasa Sunda, Indonesia, dan Jawa Timuran. Tapi, terlihat pula beberapa orang Arab yang makan di restoran tersebut.
Yang menarik, banyak orang Indonesia yang telah beranak pinak di sana. Saya menjumpai Ubaidillah, orang yang boleh jadi telah kehilangan akar budayanya sebagai orang Indonesia. Lahir, besar dan bekerja di Arab Saudi, Ubeid – panggilan akrabnya – hanya sesekali saja menengok tanah leluhurnya di Lebak.
Meski bisa berbahasa Sunda, namun Ubeid lebih banyak berkomunikasi dengan bahasa Arab. Begitu juga cara berpakaian, sikap dan perilakunya, sudah mirip orang Arab, kecuali wajahnya yang tetap Indonesia. Bekerja sebagai staf di sebuah kantor kementrian Arab Saudi, Ubeid agak kesulitan diajak bicara soal tanah kelahirannya. Mungkin karena pengetahuannya yang terbatas dan jarangnya ia pulang.
Ada banyak orang yang senasib dengan Ubeid. Tapi, mereka meraih sukses di negara Real itu, terutama dialami oleh mereka yang berasal dari Madura. Dari ribuan tenaga kerja asal Indonesia, orang Maduralah yang tampaknya mendominasi. Pada musim haji mereka banyak dijumpai berjualan makanan dengan menu masakan yang beragam. Mulai dari nasi putih, gado-gado, sate, soto, hingga bakso.
Di Laut Merah, Jeddah, saya sempat berbincang dengan seorang pria setengah baya asal Madura. Sambil menunggui istrinya yang berjualan sate, ia bercerita soal kisah suksesnya mengais Real. Dengan bangga ia memperlihatkan kepada kami sedan barunya. “Di sini harga mobil murah. Saya beli baru hanya dengan harga 20 ribu real saja,” katanya sambil menunjuk sedan Ford-nya.*** 



Catatan Perjalanan Haji (2)
November 1, 2007, 4:55 am
Filed under: Perjalanan

Mau Harga Murah? Elus Saja Janggutnya

Makkah, bukan saja tempat beribadah bagi jamaah haji yang datang dari seantero dunia, tetapi juga sebagai surga belanja. Di sana, terdapat kawasan niaga yang dikenal dengan Pasar Seng, di samping mal dan pusat perbelanjaan dengan koleksi barang-barang mewah, khusus diperuntukkan bagi jamaah ber-fulus lebih.
 
***
Makkah kini tak lagi identik dengan kawasan padang pasir dan gunung berbatu yang hanya bisa ditempuh melalui perjalanan kaki atau dengan unta, sebagaimana pernah kita baca dalam buku-bukua sejarah Islam. Kota ini telah berubah menjadi kota pesolek. Gunung-gunung diratakan, dan di atasnya didirikan gedung-gedung pencakar langit dengan arsitektur terkini.
Terowongan yang menembus gunung pun dibuat untuk mempermudah akses lalu lintas. Unta sebagai binatang khas gurun pasir maupun sebagai ’kendaraan’ tunggangan, kini telah tergantikan oleh mobil berbagai merek dengan tahun produksi teranyar.
Pusat-pusat perbelanjaan juga mendominasi kawasan ini. Yang dijual tak hanya sajadah dan tasbih, tetapi juga emas, jam tangan, hingga produk elektronik berbagai merek. Gerai-gerai makanan asal Paman Sam seperti Kentucky Fried Chicken (KFC), Mc Donald, dan Pizza Hut, berdiri di berbagai sudut kota.
Kapitalisme memang sudah masuk Makkah, kota suci umat Islam. Kenyataan ini agaknya tidak bisa dihindarkan seiring dengan kemajuan zaman. Dan Makkah tak ingin tertinggal dalam hal ini.
Yang mengagetkan, terutama bagi yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Makkah, adalah bahwa kawasan Masjidil Haram kini telah dikepung oleh gedung-gedung pencakar langit yang tingginya mengalahkan menara masjid. Gedung-gedung yang berfungsi sebagai hotel dan pusat perbelanjaan itu mengelilingi kawasan tersebut, sehingga keberadaan masjid menjadi terisolir dan sulit memandangnya dari kejauhan lantaran terhalangi bangunan menjulang.
Kendatipun begitu, kondisi ini amat mengasyikan para jamaah haji, terutama bagi yang doyan belanja. Seusai beribadah di Masjidil Haram mereka tinggal melangkah beberapa kaki saja dan sampailah ke pusat-pusat perbelanjaan untuk membeli oleh-oleh.
Bagi yang berkantung standar-standar saja, mereka bisa memuaskan rasa dahaga akan berbelanja cukup di Pasar Seng. Di kawasan ini berbagai produk ditawarkan dengan harga yang tentu saja jauh lebih miring dibanding di mal atau pusat perbelanjaan kelas atas.
Menariknya, para pedagang di kawasan Pasar Seng seperti sudah hapal dengan kecenderungan belanja jamaah asal Indonesia. Mereka juga tahu dan hapal bagaimana menawarkan atau ’merayu’ para jamaah. Kalimat-kalimat berbunyi, ”Indonesia bagus!, lihat dulu-lihat dulu! Atau, murah haji-murah haji!” sering terlontar kendati dengan logat yang lucu.
”Itu 20 Real,” kata seorang pedagang kepada rekan saya yang tengah memegang sajadah bermotif Ka’bah. ”10 Real,” tawar rekan tadi. ”La haram, 15 Real halal,” jawab pedagang tadi.
Kata haram dan halal kerap dijadikan istilah dalam transaksi jual beli di Arab Saudi. Jika pedagang mengatakan haram, artinya tidak boleh, dan jika dikatakan halal berarti boleh.
Ada jurus khusus yang biasa digunakan para jamaah haji asal Indonesia jika pedagang tak mau menurunkan harga. Yakni menggunakan jurus elus janggut, tak peduli pedagang itu asli Arab Saudi atau India, Bangladesh maupun negara lain. Sebab, umumnya para pedagang di sana berjanggut dan berpakaian khas Arab, berjubah.
Dalam adat istiadat bangsa Arab, mengelus janggut adalah bentuk penghormatan. Sehingga, tak jarang senyum pedagang langsung mengembang jika janggutnya dielus dan spontan mengucap, ”Masya Allah.” Dari situ, suasana bisa bertambah akrab dan harga yang ditawarkan menjadi turun.
Tapi, tentu saja tidak semua pedagang dapat dirayu dengan jurus itu. Kendati dielus janggutnya, harga tetap tidak bisa ditawar. Bahkan, karena terlalu sering dielus janggutnya, si pedagang bisa berubah menjadi ketus. ”La, wahid kalam 10 Real, atau akhir kalam 10 Real.” Maksudnya, harga tidak bisa berubah, tetap 10 Real.
Di Pasar Seng, banyak jam tangan yang dijual dengan harga sangat murah, berkisar antara 5 Real hingga 15 Real. Bahkan sepasang jam tangan untuk suami istri bisa dijual dengan hanya 15 Real saja (1 Real = Rp 2.500). Di pusat perbelanjaan kelas atas, harganya di atas 100 Real. Mengapa berbeda? Di Pasar Seng, produk-produk seperti itu umumnya imitasi. Sedangkan di pusat perbelanjaan adalah produk bermerek dan terjamin keasliannya.
Tentang jam tangan ini, rekan satu pondokan saya tertarik membelinya. Ia membeli sebuah jam tangan karena mereknya Citizen. Harganya 25 Real. Setelah ditawar, harga menjadi 15 Real. Jam tangan itu langsung ia kenakan. Namun, sesampainya di pondokan, tali jamnya terlepas. Beberapa hari kemudian, giliran jarum jamnya yang tidak jalan. Setelah diteliti, ternyata bukan merek Citizen, tapi Cetezen. ”Baru beli kok langsung rusak,” kata rekan tadi.
Adapun bagi jamaah haji yang ber-fulus tebal bisa berbelanja di mal atau pusat-pusat perbelanjaan yang biasanya berada di hotel-hotel bintang lima. Barang yang ditawarkan, harganya tentu saja bisa berkali-kali lipat di banding yang dijual di Pasar Seng. Selain kualitasnya lebih bagus, juga dijamin keasliannya.
Rekan saya tak jadi berbelanja karena uangnya tidak cukup sekalipun uang living cost sebesar 1.500 Real ditambahi dengan uang rupiah yang sengaja dibawa dari tanah air. Harga jam tangan paling murah 100 real, tasbih 100 Real, masuk ke Mc Donald minimal habis 25 Real. Itu harga terhitung murah. Harga menengah tentu saja di atas 500 Real. Sedangkan yang paling mahal di atas 1.000 Real. Bahkan sebuah ornamen Kabah yang terbuat dari batu dijual hingga 3.500 Real (setara dengan Rp 8.750.000).
“Ya sudah kita belanjanya di Pasar Seng saja,” kata rekan saya sambil keluar dari pusat perbelanjaan di Hotel Darut Tauhid, salah satu hotel termewah yang lokasinya hanya lima langkah dari pelataran Masjidil Haram.***
 



Catatan Perjalanan Haji (1)
November 1, 2007, 3:26 am
Filed under: Perjalanan

Wukuf di Arafah, Antara Dzikir dan Lapar

Pada musim haji tahun 2006 lalu, saya mendapat ‘panggilan’ Allah untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ada banyak pengalaman unik dan menarik yang saya alami. Berikut catatan perjalanan haji saya.

****

”Alhamdulillah, musim haji tahun ini merupakan haji akbar karena wukuf di Arafah dilaksanakan pada hari Jumat. Selamat, jaga kondisi kesehatan agar badan tetap fit dalam menjalankan ibadah.” Demikian kira-kira bunyi SMS dari Pak Haji Embay Mulya Syarif (tokoh dan agamawan Banten) yang dikirim setelah beberapa hari saya berada di Makkah.
Awalnya saya tidak terlalu memikirkan bunyi SMS tersebut. Saya juga tidak terlalu hirau dengan apa yang dimaksud wukuf di hari Jumat dan haji akbar. Karenanya, balasan SMS yang saya kirim pun bunyinya biasa saja, hanya ”Terimakasih dan mohon doa”.
Saya baru ngeh dan mencoba mencermati kembali bunyi SMS tersebut pasca pelaksanaan wukuf dan melempar jumroh. Bukan lantaran ritual wukuf atau melempar jumrahnya, tetapi lebih karena tragedi kelaparan yang menimpa sebagian besar jamaah haji Indonesia, sehingga membuat sanak saudara di tanah air amat mengkhawatirkan nasib kami. Sampai-sampai adik saya yang berada di Belanda yang turut mendengar kehebohan tersebut, ikut mengonfirmasi kebenaran peristiwa yang konon diblow up begitu rupa oleh pers di tanah air.
”Benarkah kelaparan?” tanya adik saya via telepon sehari setelah pelaksanaan melempar jumrah. Pertanyaan senada dilontarkan oleh sanak saudara dan rekan-rekan saya yang lain, termasuk ketika saya tiba di tanah air. Setiap kali bertemu siapa pun, pertanyaan yang dilontarkan pertama kali selalu soal kelaparan.
Sebagai pelaku dari tragedi yang diistilahkan banyak pihak sebagai tragedi kelaparan, saya agak sulit mengatakan bahwa tragedi itu sebagai tragedi kelaparan atau bukan. Tetapi, saya lebih cenderung menyatakan sebagai kelaparan, mengingat efek dari ketiadaan nasi (orang Indonesia umumnya belum dikatakan makan kalau belum makan nasi) katering, yang berakibat terganggunya kekhusuan saat wukuf berlangsung.
Betapa tidak. Kebanyakan dari jamaah haji Indonesia selama hampir 24 jam tidak menemukan nasi, sementara kondisi suhu udara kala itu begitu dingin. Sedangkan tubuh jamaah haji laki-laki hanya dibalut dua kain ihram saja. Saking dinginnya, dokter kloter kami seperti diceritakan rekan saya menyebutkan bahwa suhu udara saat dinihari mencapai 5 derajat celsius.
Kalaupun banyak dari jamaah membawa perbekalan makan, tak lebih dari sepotong dua potong roti atau biskuit plus sebotol kecil air mineral. Akibatnya, saya menyaksikan, para jamaah yang seharusnya terdiam khusuk untuk berdoa dan berdzikir, justru resah alang kepalang.
Ada yang hilir mudik mencari makanan, ada juga yang mengeluarkan sumpah serapah yang tak sepatutnya diucapkan. Bahkan, ada yang limbung dan berjatuhan akibat lapar dan dingin, terutama menimpa kalangan usia lanjut. Di tenda samping kami, seorang laki-laki tua meregang nyawa. Ia gugur sebagai syuhada dalam perergulatannya menahan lapar, dingin, dan mungkin sakit yang dibawanya sebelum wukuf.
Sementara itu, akibat suhu musim dingin yang begitu ekstrem, hampir seluruh jamaah terkena flu disertai batuk. Saya sendiri mengalaminya. Bibir pecah-pecah mengeluarkan darah, dahak dan ingus kental bercampur darah. Belum lagi nafas yang sesak. Sebuah ujian yang tentu belum seberapa jika membayangkan kehidupan di padang mahsyar yang akan kita alami kelak.
Di tengah suasana yang serba tidak menentu itu, kami diuntungkan oleh para pedagang makanan asal Madura yang telah bermukim di Makkah selama bertahun-tahun hingga beranak pinak. Keberadaan mereka yang menjual nasi, gado-gado, bakso, hingga setengah gelas kecil sahi (teh hangat campur susu), rupanya cukup membantu.
Harga mahal (satu porsi senilai 5 Real. 1 Real = Rp 2.500) tak kami hiraukan, yang penting perut terisi. Satu strip obat flu (berisi empat tablet) yang biasa dijual di warung-warung di Indonesia, dijual dengan harga 10 Real (sama dengan Rp 25 ribu). Dan saya tetap membelinya karena flu yang tak tertahankan.
Jumlah pedagang asal Madura yang tak seberapa tentu saja tak sebanding dengan jumlah jamaah haji yang kelaparan. Dalam sekejap, makanan yang dijajakan ludes diserbu. Untuk mendapatkannya harus berebut dan tak jarang saling sikut. Para jamaah itu tak ubahnya para pengungsi korban tsunami di Aceh. Serbu sana serbu sini, sikut sana sikut sini.
Suasana semakin tak karuan manakala hari menjelang siang. Makan gado-gado justru menambah daftar persoalan. Banyak jamaah yang terkena diare, sehingga semakin membuat panik dan sibuk dua tenaga medis kloter kami. ”Ini akibat makan gado-gado,” kata dr Hendrik, saat memeriksa seorang jamaah yang terkulai lemas.
Siangnya bantuan mulai datang. Entah berasal dari mana, di tengah arus lalu lintas yang begitu padat tak jauh dari lokasi perkemahaan, sebuah truk besar menurunkan berkardus-kardus mie (mie gelas produk terkenal asal Indonesia). Karuan, jamaah pun berbondong-bondong menuju arah truk.
Di sana, mereka berebut dan saling sikut untuk mendapatkannya. Arus lalu lintas yang padat dan resiko tertabrak, sama sekali tak dihiraukan. Sungguh, amat miris menyaksikannya. Kain ihram yang melilit badan dibuka dan dijadikan sebagai alat untuk mengangkut berkardus-kardus mie.
Kondisi ini amat bertolak belakang dengan jamaah haji dari negara lain. Pada jamaah asal Malaysia dan Singapura yang lokasi tendanya berdekatan dengan tenda kami, tak tampak kekisruhan akibat kelaparan. Sebaliknya, dari arah tenda mereka terdengar alunan dzikir dan doa. Sementara di tenda-tenda Indonesia, para jamaah hajinya sibuk berkeluh kesah tentang rasa lapar, tentang nasi yang tak kunjung datang.

***

Beberapa hari setelah wukuf, saya bertemu dengan H. Kosasih, Kasie Urusan Haji Departemen Agama Kabupaten Pandeglang, yang tergabung dalam Kloter 35 (gabungan Pandeglang dan Cilegon). Saat tragedi kelaparan terjadi, ia menyaksikan ada semacam indikasi kesengajaan atas ketiadaan katering (baca; sabotase).
”Katering sebetulnya ada tapi tidak sampai ke para jamaah. Katering dihalang-halangi masuk dan dibuang di jalan. Kalaupun ada yang sampai ke jamaah, isu nasi basi dihembuskan sehingga jamaah tak mau memakannya,” kata H. Kosasih.
Seakan menguatkan kesaksian itu, kami memperoleh kabar bahwa pengurusan katering kali ini tidak lagi dikelola oleh pondokan tempat kami tinggal, tapi dikelola langsung oleh perusahaan katering yang ditunjuk pemerintah. Kondisi ini tentu membuat kecewa para pemilik pondokan.
Di sebuah papan pengumuman yang tertempel di lokasi wukuf kami juga membaca tulisan yang berbunyi bahwa pengadaan katering kali ini tidak dikelola oleh pondokan tetapi oleh perusahaan katering. Segala keterlambatan dan segala hal menyangkut katering bukan tanggung jawab pihak pondokan, tetapi tanggung jawab perusahaan katering.
Dalam anggarannya, selama tiga hari wukuf dan mabit, per jamaah mendapat jatah makan sebesar 300 Real (Rp 750 ribu). Jika satu pondokan dihuni 2.000 jamaah, kalikan 300 Real! Nilai uang yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah yang tentu saja membuat banyak pihak ’berebut’ proyek katering itu.

***

Haji akbar. Barangkali itulah maksud dari haji akbar. Dengan predikat itu Allah rupanya sedang menguji kesabaran dan ketabahan para jamaah asal Indonesia dengan ketiadaan nasi. SMS yang dikirim Pak Haji Embay pun saya buka kembali. ”……jaga kondisi kesehatan agar badan tetap fit dalam menjalankan ibadah”.
Tapi, ibadah kami terganggu karena perut keroncongan…..!***
 



Banten dan kelas Menengah yang Frustrasi
November 1, 2007, 2:59 am
Filed under: Kolom

DALAM  konsepnya Alexis de Tocqueville menyebutkan bahwa civil society merupakan penyeimbang dari kekuatan negara. Di dalam dirinya memiliki kekuatan politis yang dapat mengekang atau mengontrol kekuatan intervensionis negara. Civil society sebagai wilayah kehidupan yang terorganisasi bercirikan kesukarelaan,  keswasembadaan, keswadayaan, dan kemandirian.

Terbentuknya Provinsi Banten tujuh tahun silam juga tidak terlepas dari peran civil society yang dikenal  sebagai masyarakat kelas menengah atau masyarakat madani. Masyarakat kelas inilah yang menjadi motor penggerak perubahan dari Banten sebagai sebuah karesidenan menjadi Banten sebagai provinsi.

Dalam perjalanannya, kelas menengah di Banten tidak hanya berperan saat perjuangan hingga terbentuknya provinsi. Dua hingga tiga tahun pasca provinsi pun peran mereka masih bisa kita rasakan. Mereka tidak hanya melakukan pengawalan atas berjalannya roda pemerintahan, tetapi juga mampu menjadi penyeimbang ’kekuatan negara’. Kemunculan Majelis Musyawarah Masyarakat Banten (M3B) waktu itu, adalah bukti masih berlangsunya peran mereka.

Namun, (setidaknya) dari tahun kelima hingga tahun ketujuh provinsi ini, keberadaan dan keberlangsungan gerakan kelas menengah di Banten, secara perlahan mulai kehilangan arah.  Sikap kritis berupa gerakan pengawalan maupun kekuatan penyimbang itu, secara perlahan juga mulai hilang. Yang tampil selanjutnya adalah lebih kepada gerakan individu atau kelompok-kelompok kecil dalam beragam tujuan.

Puncaknya adalah saat berlangsung pemilihan gubernur 2006 lalu. Kelompok-kelompok atau kekuatan-kekuatan yang dulu lebih memilih bersikap oposan terhadap institusi negara, tampak begitu cair dan menyatu, seakan tak pernah ada perbedaan prinsip maupun ideologi politik yang menyebabkan mereka pernah berseberangan di masa awal terbentuknya provinsi.

Di sisi yang lain, sejumlah individu yang dulu menjadi motor penggerak perubahan, seperti tak kuasa menahan ’godaan’ syahwat politik ketimbang menjadi seorang begawan. Mereka terjun ke dunia politik praktis memperebutkan kursi nomor satu di provinsi ini.

Kondisi seperti ini menyiratkan bahwa kalangan kelas menengah di Banten tak hanya mulai kehilangan arah gerakan, tetapi juga terpecah dalam berbagai kepentingan, sehingga peran sesungguhnya dari masyarakat menengah dengan ciri-ciri sebagaimana disebutkan Alexis de Tocqueville tak lagi terlihat. Seakan terbentuknya Provinsi Banten adalah akhir dari perjuangan mereka.

Inkonsistensi Gerakan

Tidak bisa dipungkiri bahwa munculnya kesadaran untuk bersatu dan berjuang bersama yang dilakukan kalangan kelas menengah di Banten kala itu karena mereka memiliki garis perjuangan yang sama, yang dibalut oleh semangat kedaerahan sebagai orang Banten, yakni menjadikan Banten sebagai provinsi. Tapi, seiring dengan perjalanan waktu, kesadaran untuk bersatu tak lama berselang lama. Hanya beberapa tahun setelah terbentuk, kesadaran itu seperti hilang.  Semangat melakukan perubahan dengan menjadikan Banten sebagai provinsi guna mengejar berbagai ketertinggalan masyarakatnya, pada akhirnya hanya sebatas jargon.

Dari sini terlihat betapa kelas menengah di Banten begitu rapuh dan sesungguhnya tidak memiliki visi perjuangan yang jelas. Gerakan mereka, terutama pasca terbentuknya provinsi, terlihat inkonsisten dan tidak memiliki arah yang pasti. Maka, boleh jadi, kondisi ini membuat mereka menjadi terpecah dan cenderung bergerak sendiri-sendiri, sehingga sulit melakukan perubahan.

Hilangnya M3B dari peredaran adalah contoh nyata dari inkonsistensi gerakan masyarakat kelas menengah di Banten. Padahal, kehadiran forum multistakeholder ini waktu itu sempat memunculkan harapan terjadinya perubahan ke arah Banten yang lebih baik, lebih dari sekadar menjadi provinsi. M3B tidak hanya berperan sebagai pengawal, tetapi juga sebagai kekuatan politis sekaligus penyimbang kekuatan negara, sehingga  roda pemerintahan di Banten relatif terkontrol dan terawasi.

Kelas Menengah yang Frustrasi

Pasang surut (baca; inkonsistensi) gerakan yang terjadi selama kurun waktu lima tahun pasca terbentuknya provinsi, boleh jadi menjadi andil terpecahnya kelas menengah di Banten sekaligus membuat mereka ’lupa’ menjalankan perannya sebagai kekuatan kritis, politis, maupun penyeimbang dari kekuatan negara.

Karena itu, tak heran jika kini – terlebih pasca pilkada – tak ada lagi suara maupun sikap kritis khas mereka sebagaimana pernah terlihat pada lima tahun silam. Padahal, dulu — saat tahun-tahun pertama provinsi ini – ada sedikit persoalan atau kejanggalan saja menyangkut roda pemerintahan, mereka langsung bereaksi dengan sikapnya yang kritis, bahkan ’berani’ bersikap oposan.

Penulis pernah mendiskusikan persoalan ini dengan beberapa orang yang ’tergolong’ sebagai kaum kelas menengah di Banten. Ada beragam jawaban yang mereka sampaikan. Tapi, dari beragam jawaban itu hanya ada satu kesimpulan, yakni kelas menengah di Banten belum cukup memiliki spirit yang lebih dalam melakukan perannya, sehingga mudah terpecah oleh berbagai kepentingan yang terkadang terlalu pragmatis dan politis.  Karena spiritnya yang kurang itulah, pada sebagian lagi dari kaum kelas menengah ini berada dalam kondisi yang frustrasi. Frustrasi karena situasi yang tidak pernah lebih baik — bahkan menjadi lebih buruk.

Satu waktu penulis diundang sarapan oleh salah seorang tokoh pejuang provinsi ini.  Sambil menikmati hidangan yang tersaji, kami terlibat dalam obrolan dengan tema utama tentang Banten. Dari ungkapan-ungkapannya tersirat betapa  ia begitu mencintai Banten tetapi kecewa terhadap situasinya saat ini yang kalau menurutnya tidak juga berubah ke arah yang lebih baik.

Penulis sulit untuk tidak mengatakan bahwa yang bersangkutan tengah dilanda frustrasi. Dan penulis yakin bahwa sikap itu juga dialami oleh kaum kelas menengah yang lain.

Jika tidak, mana mungkin mereka sekarang diam. Sungguh terlalu….!***