Bantencorner’s Weblog


Belajar dari Kesuksesan John Wood
November 30, 2007, 4:03 am
Filed under: Pustaka

Leaving Microsoft To Change The World

Penulis: John Wood – Pendiri Room to Read
Penerjemah: Widi Nugroho
Penyunting: Hermawan Aksan, Salman Faridi
Penerbit: Bentang (PT. Bentang Pustaka)
Cetakan: I, Agustus 2007

Siapa pun yang mengaku sebagai pecinta buku dan berniat untuk mendirikan perpustakaan, hendaknya belajar terlebih dahulu kepada semangat John Wood. Siapakah dia?

Nama ini memang masih terasa asing di telinga kita. Tapi, sesungguhnya dia memiliki tingkat popularitas yang begitu tinggi di banyak negara karena berhasil membangun lebih dari 3.600 perpustakaan di negara-negara di Asia.

John Wood rela melepas pekerjaannya di perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia, Microsoft. Gaji yang besar dan dan jabatannya sebagai Direktur Pengembangan Bisnis Microsoft Cina, ia lepaskan. Ia kemudian memilih dunia barunya yang tentu saja sangat aneh, absurd, dan mengejutkan banyak orang, sehingga sempat memperoleh cibiran sana-sini.

Tapi, cibiran itu berhasil ia balikkan 360 derajat karena kesuksesannya membangun lebih dari 3.600 perpustakaan di negara-negara di Asia, menyumbang dan memublikasikan 3 juta buku, membangun 287 sekolah, serta memberikan 3.400 beasiswa jangka panjang kepada anak-anak perempuan. Atas keberhasilannya ini, John Wood pun memperoleh beragam penghargaan. Ia, misalnya, memperoleh pengakuan sebagai Pemimpin Muda Dunia dari Forum Ekonomi Dunia, disebut pahlawan oleh majalah Time, dan lain-lain.

Kehidupan John Wood berubah 100 persen manakala ia pergi ke Nepal tahun 1998 silam. Di sebuah kedai bir ia berkenalan dengan Pasuphati, pegawai pemerintahan Provinsi Lamjung, Nepal. Lamjung mengaku bertanggung jawab mencari sumber daya bagi 17 sekolah di provinsi pedalaman itu.

Dari ceritanya, John Wood mengetahui soal angka buta huruf di Nepal yang mencapai 70 persen, terburuk di dunia. Hal tersebut disebabkan oleh kemiskinan yang terjadi di nepal, sehingga negara yang berpenduduk 27 juta jiwa itu kesulitan untuk mengupayakan sekolah, guru maupun buku-buku.

Karena penasaran akan apa yang diceritakan Pasuphati, John Wood kemudian mengunjungi sebuah sekolah di Desa Bahundanda. Di sekolah tersebut terdapat ruangan perpustakaan yang melayani 450 siswa tanpa satu buku pun. Apa yang dilihatnya sangat membekas di hati John Wood.

Sepulangnya dari Nepal ke Sydney, Australia, di sela-sela pekerjaannya sebagai direktur Pemasaran Microsft Australia, ia menyurati keluarga, kenalan, dan siapa saja untuk mengumpulkan buku guna dikirim ke Nepal. Di luar dugaan, surat-surat yang dikirimnya mendapat sambutan sangat positif. Berkarung-karung buku dari seluruh penjuru Amerika akhirnya terkumpul dan dikirim ke Bahundanda.

Karena harus membagi konsentrasi antara beraktivitas sosial di Nepal dan bekerja di Microsoft, John Wood pun sempat mengalami kebimbangan. Namun, pada akhirnya John memutuskan untuk keluar dari Microsoft dan memutuskan berkonsentrasi untuk mendirikan Book for Nepal. Dari situ, seluruh hidup John tersedot habis untuk berjualan program dari satu malam dana ke malam dana yang lain, dari Amerika sampai Eropa. Tak terasa, uang simpanannya dari hari kian menyusut.

Tapi John tak patah arang. Ia tetap melanjutkan kerja sosialnya. Books for nepal, yang kemudian pada tahun 2001, seiring dengan ekspansi mereka ke Vietnam, berubah nama menjadi Room to Read, terus tumbuh dengan kombinasi gairah, kerja sama tim, dan disiplin tinggi. Dan kini, setelah tujuh tahun kegiatan itu dirintis, lembaga nirlaba tersebut telah tumbuh besar. Mereka telah berhasil membangun lebih dari 3.600 perpustakaan di negara-negara berkembang di Asia, beserta kegiatan sosial turunannya.

Kisah tentang John Wood ini bisa kita baca dalam buku biografinya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbita Bentang Budaya dengan judul Leaving Microsoft to Change the World, Kisah Menakjubkan Seorang pendiri 3.600 Perpustakaan di Asia. Bgai para pecinta buku, pengelola perpustakaan, pengelola taman bacaan maupun, pengelola rumah-rumah baca, selayaknya membaca buku tersebut.

Selamat membaca….!**



Kota Serang, PKS dan Pesimisme
November 22, 2007, 9:06 am
Filed under: Kolom

Jumat pekan lalu (16/11/07), saya diundang secara dadakan untuk tampil menjadi salah satu pembicara dalam diskusi tentang Kota Serang oleh DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Serang di sebuah rumah makan. Selain saya, tampil dua orang pembicara lainnya, yakni Panji Tirtayasa (Asda II Pemkab Serang) yang juga dicalonkan sebagai Sekretaris Kota Pemkot Serang, serta tokoh LSM Iwan Kusuma Hamdan sekaligus orang di balik layar kesuksesan Pasangan Taufik Nuriman dan Andy Sujadi menjadi bupati dan wakil bupati Serang. Diskusi yang dipandu tokoh muda sekaligus pengusaha travel Arif Kirdiat, ini berlangsung gayeng, santai dan sesekali dibumbui derai tawa pembicara dan peserta.

Panji Tirtayasa yang mendapat kesempatan berbicara pertama, lebih banyak mengupas berbagai persoalan yang dihadapi Kota Serang baik dari sisi PAD maupun SDM, dengan tentu saja menggunakan pola pendekatan birokratis. Sementara pembicara kedua Iwan Kusuma Hamdan, lebih banyak mengupas tentang apatisme masyarakat terhadap terbentuknya Kota Serang. Kata Iwan, karena berbagai faktor, masyarakat kurang antusias menyambut kehadiran Kota Serang. Mereka seperti masa bodoh, bahkan terkesan pesimistis, karena dianggap tidak akan membawa perubahan apa-apa bagi peningkatan kesejahteraan.

Adapun saya, karena diundang dadakan sehingga tidak menyiapkan secara khusus materi yang akan disampaikan, lebih bersifat menambahkan atau menguatkan apa yang disampaikan kedua pembicara tersebut. Karena saya orang media (jurnalis), saya mengawali pembicaraan dari apa yang selama ini diungkap media tentang Kota Serang.

Kata saya, pembentukan Kota Serang tidak mengharubiru seperti pembentukan Provinsi Banten. Tak terlihat pelibatan masyarakat sebagaimana jamak terjadi setiap kali dilakukan pemekaran wilayah. Yang mencuat di media massa justru hanya geliat elit, baik elit politik, LSM, maupun birokrasi. Dengan begitu, kesan yang muncul ke permukaan adalah bahwa terbentuknya Kota Serang lebih karena ‘kepentingan’ elit saja, meskipun diperjuangkan atau tidak, Kota Serang akan tetap lahir karena sesuai dengan amanat Undang-Undang.

Di sisi lain, melalui pemberitaan media, saya melihat pembentukan Kota Serang tidak dipersiapkan dengan baik. Hal ini bisa dilihat, hingga dilantiknya Penjabat Walikota Asmudji, kantor administrasi pemerintahan Kota Serang, belum siap ditempati.

Kondisi ini diperparah oleh tarik menarik kepentingan soal siapa yang bakal menjadi sekretaris kota, sehingga sampai tulisan ini dibuat, belum ada tanda-tanda siapa yang bakal ditunjuk untuk menduduki jabatan tersebut. Sementara, hari terus bergulir, pekerjaan mahabesar seperti pembentukan anggota DPRD hingga pemilihan walikota definitif harus segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Nah, jika kelambanan dan ‘ketidaksiapan’ ini terus dipertontonkan, bagaimana Kota Serang bisa menjadi kota yang mampu menyejahterakan warganya. Karena itu, wajar jika masyarakat terkesan masa bodoh dan pesimistis terhadap si jabang bayi ini.

***

Dalam sesi tanya jawab, sempat muncul pertanyaan ‘sersan’ alias serius tapi santai. Antara lain pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan untuk Kota Serang jika ketiga pembicara dicalonkan oleh PKS untuk menjadi Walikota Serang. Jika kedua orang pembicara, Panji Tirtayasa dan Iwan Kusuma Hamdan, menyampaikan apa saja yang hendak dilakukannya, saya sebaliknya, hanya menjawab singkat saja.

Saya hanya mengatakan menolak dicalonkan dengan alasan tidak punya mahar alias fulus yang bisa diberikan kepada PKS. Karuan, para peserta langsung tertawa. Selain jawaban dianggap lucu, boleh jadi mereka (juga sedang) menertawakan diri sendiri sekaligus partainya karena jawaban itu dianggap menyindir (baca; mencandai) PKS yang dalam beberapa pengalaman pilkada juga tak lepas dari urusan mahar.

Pada kesempatan itu saya juga sempat ditanya mengapa pesimistis terhadap Kota Serang. Jawaban saya juga amat sederhana. Kata saya, sementara ini yang optimis terhadap Kota Serang adalah PKS dan ‘kawan-kawannya’ (baca; partai politik). Apa pasal? Karena setelah ini PKS dan ‘kawan-kawannya’ akan sibuk mengalkulasi berapa kursi yang akan diperoleh di DPRD Kota Serang nanti. Selain itu, juga disibukkan dengan urusan siapa yang akan dicalonkan sebagai walikota.

Dan saya – mungkin juga masyarakat lainnya – tetap pesimis meskipun yang dicalonkan oleh PKS menjadi walikota dan wakil walikota Serang. Sebab, belajar dari pengalaman pemilihan bupati dan wakil bupati Serang dua tahun silam, meskipun pasangan yang dicalonkan PKS berhasil menjadi bupati dan wakil bupati, tapi nyaris tidak ada perubahan dari Kabupaten Serang ke arah yang lebih baik.

Dalam pelayanan publik, misalnya, (sesuai dengan pengalaman empiris saya) pembuatan akta kelahiran saja harus menunggu selama tujuh bulan. Bagi saya, kondisi ini menunjukkan ketidakseriusan pemerintah Kabupaten Serang dalam melayani masyarakatnya. Jadi, sangat beralasan jika saya dan masyarakat pesimistis (sementara ini) terhadap segala yang berbau pemerintahan, partai politik, dan kekuasan, selama semua pihak yang melaksanakannya tidak memiliki ketulusan.

Belajar dari pengalaman pula, saya malah menjadi semakin takut dan tentu saja semakin pesimis bahwa PKS bakal mampu menjaring calon walikota dan wakil walikota sesuai harapan masyarakat — yang tulus, memiliki kecakapan, punya integritas serta akhlakul karimah. Sebaliknya, PKS akan lebih mengejar dan memilih calon yang memiliki mahar alias fulus, dengan mengenyampingkan ketulusan, kecakapan, integritas dan akhlakul karimah tadi. Jika demikian, niscaya masyarakat akan tetap masa bodoh dan pesimistis…!

***

Dan, tulisan ini hanyalah sebuah catatan kritis dari seorang ‘pembicara dadakan’, sehingga apa yang disampaikan pun lebih bersifat ‘dadakan’.****

 


Studi Banding ke China Dikritik
November 21, 2007, 3:48 am
Filed under: News

SERANG – Rencana studi banding para pejabat ke China, terkait kawasan perdagangan bebas (FTZ) terus menuai protes. Kali ini protes disampaikan Front Aksi Mahasiswa (FAM) Banten dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banten dengan berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Banten, Selasa (20/11).
Mereka menilai kebijakan tersebut tidak mencerminkan ketaatan pemerintah terhadap azas efisiensi anggaran yang seharusnya dipegang teguh.
Unjuk rasa memrotes rencana keberangkatan 21 pejabat pada 29 November tersebut dilakukan mahasiswa dari FAM Banten sekira pukul 11.00 dan KAMMI Banten pada pukul 14.00. Setibanya di depan Kantor Gubernur Banten puluhan mahasiswa tersebut langsung menggelar orasi. Dalam orasinya mereka mengkririk kebijakan Pemprov Banten yang tidak berpihak terhadap kepentingan masyarakat banyak.
“Dengan keberangkatan 21 pejabat ini, jelas membuktikan bahwa studi banding ini bukan untuk menimba ilmu, akan tetapi hanya untuk berjalan-jalan dan menyerap anggaran. Mewujudkan kawasan perdagangan bebas bisa jadi keinginan seluruh masyarakat Banten. Tapi, tidak dengan mengikutsertakan banyak pejabat,” ujar Wirawan, Koordinator Lapangan FAM Banten.
Dalam aksinya, selain menyampaikan kritikan, mahasiswa juga menyampaikan beberapa tuntutan antara lain, rasionalisasi peserta studi banding, transparansi hasil studi banding, dan penerapan hasil studi banding.
Unjuk rasa mahasiswa sempat memanas, ketika keinginan mereka menyampaikan langsung aspirasinya kepada Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dihalang-halangi petugas keamanan yang menjaga ketat pintu masuk Kantor Gubernur.
Ditemui terpisah, menyikapi aksi mahasiswa, Kepala Biro Ekonomi Pemprov Banten Iin Masyur menyatakan, pihaknya hanya sekadar membantu merencanakan dan membuat sketsa kerja demi kemajuan pembanguan Provinsi Banten. Sementara itu, terkait banyaknya pejabat yang bakal ikut serta, Iin mengatakan. “Kalau memang APBD kita cukup kenapa tidak. Sebab, pembangunan Banten ini harus mendapat dukungan dari semua elemen masyarakat,” tukasnya. (ila)

Sumber: Radar Banten, Rabu 21 November 2007

 



Belajar KEK ke Negeri China
November 19, 2007, 5:03 am
Filed under: Kolom

SEKITAR sepekan lalu, secara tak sengaja penulis terlibat obrolan dengan sejumlah PNS di lingkungan Pemprov Banten yang penulis belum kenal sebelumnya. Obrolan terfokus pada rencana Banten menjadi tuan rumah MTQ tingkat Nasional pada 2008 mendatang yang akan dipusatkan di Pusat pemerintahan Provinsi Banten di kawasan Curug, Serang.
Dalam perbincangan itu terungkap kekhawatiran mereka karena belum terlihat adanya persiapan dan kesiapan serius dalam menghadapi even besar ini. Selain masjid yang belum dibangun, berbagai sarana pendukung lainnya, termasuk balum masuknya sarana air bersih (baca; PAM) juga menjadi persoalan besar yang dihadapi Pemprov, sementara waktu begitu cepat berjalan.
Dari obrolan itu, penulis menangkap sebuah ‘simpulan’ yang sempat dilontarkan oleh salah seorang dari mereka. Kata dia, birokrasi di Banten seringkali tidak bisa memilah mana kebutuhan dan mana keinginan, sebab antara keduanya sangat berbeda. Kebutuhan, kata dia, merupakan prioritas yang harus segera dilaksanakan. Sedangkan keinginan, tidak merupakan kebutuhan sehingga tidak perlu menjadi prioritas, dan jika dilaksanakan ataupun tidak, tidak akan berpengaruh apa-apa.
Celakanya, birokrasi di kita kerap kali lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan. Sehingga, sering muncul rencana muluk yang lebih bersumber dari keinginan tadi, dan terkadang sangat subjektif dan lebih merupakan ambisi orang per orang.

Kunjungan ke China 

Beberapa hari ini koran-koran lokal di Banten rajin mengangkat berita soal rencana kunjungan sekitar 21 pejabat birokrat dan legislatif Banten ke China pada 29 November 2007 mendatang untuk mempelajari tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Keberangkatan mereka, tak pelak, menuai kontroversi di masyarakat.
Banyak pihak menganggap bahwa keberangkatan ke China hanya pemborosan dan tidak memiliki banyak manfaat. Inefesiensi, dan sebagainya. Sebaliknya, bagi pejabat yang akan berangkat menyatakan bahwa keberangkatan ke China sangat penting karena Banten memiliki kawasan yang rencananya akan dikembangkan menjadi kawasan ekonomi khusus seperti di China.
Tentang rencana pengembangan kawasan Bojonegara sebagai kawasan ekonomi khusus, penulis sempat ‘terlibat’ secara pasif dan simbolis karena mendapatkan SK Gubernur. Karena itu, sekitar dua kali penulis ikut rapat untuk membahas rencana besar tersebut. Pertama, mengikuti pertemuan di Jakarta, kalau tidak salah sekitar tiga atau empat bulan silam. Kedua, mengikuti workshop tentang KEK Bojonegara selama dua hari, tak lama setelah pertemuan di Jakarta.
Setelah itu, tak ada lagi undangan maupun koordinasi apapun tentang KEK Bojonegara. Tahu-tahu, penulis membaca koran dan beroleh informasi bahwa sekian pejabat akan berangkat ke China untuk belajar tentang KEK.
Tanpa mengurangi penghargaan kepada Pak Yayat Suhartono (anggota DPRD Banten yang kebetulan ikut berangkat) yang telah merekomendasikan nama penulis dalam tim KEK sehingga penulis sempat disebut oleh Kabiro Perekonomian Pak Iin Mansyur sebagai orangnya beliau, ada satu pertanyaan penulis; benarkah keberangkatan ke China sudah merupakan kebutuhan atau prioritas, bukan atas dasar keinginan dari orang per orang yang kemudian dilegalisasi menjadi keinginan institusi karena sudah tercantum dalam item anggaran APBD, sehingga ‘menjadi’ prioritas?
Tentu, hanya mereka yang bisa menjawab pertanyaan itu.
Tapi, bagi penulis, selama paradigma belum belum berubah, sulit mendapatkan sesuatu yang berharga dari sebuah perjalanan atau kunjungan, apalagi sampai diaplikasikan sekembalinya ke Banten. Sebab, tak sedikit program kunjungan dibuat oleh dinas/instansi di lingkungan Pemprov Banten setiap tahunnya, baik kunjungan ke luar daerah maupun luar negeri. Setiap itu pula publik tak pernah memperoleh laporan dari hasil kunjungan mereka, apalagi manfaat langsung yang dirasakan.
Yang muncul ke publik hanya sebatas laporan seperti kawasan yang dikunjungi sangat cocok diterapkan karena memiliki kesamaan dengan salah satu kawasan di Banten. Sedangkan aplikasi sesungguhnya di lapangan, amat sulit kita melihat wujudnya.

Ikan Asin

Pada 2002 silam penulis diajak dan ikut rombongan para pejabat dalam kunjungan kerja ke sejumlah kota di Sulawesi Utara. Kegiatan kunjungan yang diselenggarakan salah satu badan di lingkungan Pemprov Banten, itu antara lain dimaksudkan untuk mempelajari berbagai hal mulai dari administrasi pemerintahan hingga pengembangan objek wisata yang manfaatnya dapat diterapkan di Banten.
Selama sekitar tiga empat hari di sana, penulis mencatat hanya sedikit saja waktu yang dimanfaatkan untuk benar-benar belajar. Sebagian besar waktu justru digunakan untuk ‘belajar’ menikmati satu objek wisata ke objek wisata lain. Dan terakhir, waktu yang paling ditunggu-tunggu adalah berbelanja oleh-oleh sepuas hati, mulai dari ikan asin hingga kain khas Sulawesi Utara.
Tak aneh bila masing-masing dari mereka membawa pulang dua hingga tiga kardus besar oleh-oleh, layaknya hendak membuka warung. Sedangkan oleh-oleh sesungguhnya yang mereka bawa, berupa ilmu, wawasan, dan perubahan cara pandang, terlupakan oleh kesibukan menghitung berapa staf atau anggota keluarga yang bakal memperoleh buah tangan berupa kaos, guntingan kunci, atau….. hanya ikan asin.
Nah, jangan-jangan sepulang dari China nanti, oleh-oleh yang dibawa malah cerita tentang pengalaman menelusuri tembok China……?***



Polisi Gagalkan Pengiriman Belasan TKW Ilegal
November 13, 2007, 4:32 am
Filed under: News

PANDEGLANG – Sedikitnya 15 tenaga kerja wanita (TKW) illegal atau tanpa dilengkapi dokumen resmi, asal Pandeglang, digagalkan jajaran Polres Pandeglang, Senin (12/11). Namun polisi belum menahan dan menetapkan satu orang pun sebagai tersangka dalam kasus ini. Karena polisi masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah orang yang dianggap mengetahui seluk-beluk TKW tersebut. TKW juga sudah siap berangkat ke Arab Saudi dengan berbekal pakaian yang sudah di masukkan ke tas besar.

Berdasarkan informasi yang diperole Radar Banten, rencananya belasan TKW itu akan diberangkatkan ke Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga. Sebagian besar TKW itu berasal dari Panimbang, Angsana, dan daerah lainnya di Pandeglang Selatan. Terungkapnya kasus ini karena kecurigaan polisi terhadap tiga mobil carry yang mengangkut TKW. Kemudian tepat di pertigaan Cipacung, Pandeglang, polisi memberhentikan mobil itu dan membawanya ke Mapolres Pandeglang untuk dimintai keterangan.

Benar saja, setelah diintrogasi, keberangkatan para TKW itu tanpa dilengkapi surat resmi. Namun ada dua TKW yang dinyatakan lengkap dokumennya yakni Eroh warga Cibodas, Kecamatan Angsana, Pandeglang, dan Teti warga Kecamatan Munjul.

Kapolres Pandeglang AKBP Mamat Surahmat ketika dikonfirmasi membenarkan pihaknya telah menggagalkan TKW illegal tersebut. “Kami masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah orang yang dianggap mengetahui asal-usul TKW itu. Kami masih melakukan pendalaman,” paparnya.

Ketika disinggung apakah sudah ada yang dijadikan tersangka, Kapolres menyatakan belum. “Belum ada tersangka, kami masih melakukan pendalaman,” kilahnya.

Apabila setelah dilakukan pemeriksaan ditemukan unsur penipuan atau tindak pidana lainnya, kata Kapolres, maka pihaknya akan memroses sesuai hukum yang berlaku. Kapores juga tidak memberikan identitas TKW tersebut.

“Namun apabila ada pelanggaran adminitrasi maka kami akan menyerahkannya ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrasn) untuk dibina. Dan dalam menangani kasus ini, kami juga sudah berkoordinasi dengan Disnakertarns Pandeglang,” ujar Kapolres.

Kabid Penempatan dan Pelatihan Tenaga Kerja Disnakertrans Pandeglang Subiyanto didampingi Kasi Penempatan Tenaga Kerja Muslih, ketika dikonfimrasi membenarkan. “Kami hanya berkoordinas saja dengan kepolisian,” ujar Subiyanto.

Dijelaskan, setelah dilakukan pengecekan berkas, ternyata dari sekian banyak TKW, hanya dua orang yang dilengkapi surat resmi yakni Eroh dan Teti, keduanya direkrut melalui PJTKI asal Jakarta PT Young Biba Abadi. “TKW yang lainnya kami tidak tahu. Itu urusan polisi,” katanya.

Dua orang TKW yang diduga illegal yakni Saeni dan Tami ketika ditemui Radar Banten mengatakan, dirinya tidak tahu akan digaji berapa oleh majikannya nanti. TKW asal Panimbang ini mengaku sudah mempunyai suami dan anak. Mereka mengaku dibawa oleh seorang calo TKW dan dijanjikan bekerja di Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga. Calon TKW ini mengaku mengantongi surat-surat resmi, tetapi ketika dimintai menunjukkan, mereka tidak mau. “Surat-surat saya lengkap kok,” kilahnya. (adj)

Sumber: Radar Banten edisi Selasa 13 November 2007



News: Anak Krakatau Luncurkan Pijar
November 12, 2007, 3:01 am
Filed under: News

SERANG-Hingga Minggu (11/11) malam, aktivitas Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda masih menunjukkan aktivitas tinggi. Belum ada tanda-tanda mereda sehingga statusnya masih tetap siaga.
Berdasarkan catatan Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, pada pukul 12.00-18.00 WIB Gunung Anak Krakatau mengeluarkan 96 letusan, 13 tremor, 19 hembusan, 11 gempa vulkanik dalam, dan 51 gempa vulkanik dangkal. Selain itu Gunung Anak Krakatau juga mengeluarkan batu pijar berwarna hitam kemerah-merahan (seperti bara api). “Jarak luncur batu pijar mencapai 300 meter sementara jarak luncurnya sudah mencapai 200 meter,” terang Ketua Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Anton Tripambudi, kepada Radar Banten, tadi malam.
Kata Anton, luncuran batu pijar itu terlihat jelas dari Pulau Rakata yang hanya berjarak sekira 4 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. “Luncuran batu pijar itu arahnya ke selatan (perairan Provinsi Lampung), bukan ke kita (Serang-red),” ujarnya.
Anton menambahkan, batu pijar bentuknya seperti bara api yang berwarna hitam kemerah-merahan. “Itu bukan lava karena batu pijar itu adalah material,” tandasnya.
Terkait dengan kawah, Anton menegaskan, ada ada perubahan. Bila sebelumnya kawah Gunung Anak Krakatau berkisar 75 meter, kini sudah hamper melebihi 100 meter. “Bentuknya sudah bulat, sebelumnya kan lonjong,” tandasnya.
Anton tidak dapat memprediksi kawah itu akan bertambah besar atau tidak. Menurutnya, masih tergantung dengan kekuatan gempa di sekitar gunung. “Kawah itu berisi seperti hembusan,” pungkasnya.
Sementara itu pantauan Radar Banten, pada Sabtu (10/11) siang Gunung Anak Krakatau diselimuti kabut karena hujan. Dari jarak sekira 4 kilometer, Gunung Anak Krakatau tidak terlihat jelas. Begitupun dengan kepulan asap masih terlihat membumbung tinggi hingga mencapai mencapai 450 meter. (alt)

Sumber: Radar Banten, Senin 12 November 2007

 



Kolom: Dari IAIN ke Entertainment
November 11, 2007, 1:36 am
Filed under: Kolom

BEBERAPA hari lalu, saya kedatangan dua orang mahasiswa. Mereka datang ke kantor untuk meminta saya menjadi pembicara dalam acara pembekalan Kang dan Nong Serang yang akan berlangsung pada 14 November nanti di salah satu hotel di kawasan Anyer. Kedua orang itu adalah mahasiswa IAIN Serang yang juga aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya.
Beberapa bulan silam saya masih diundang mereka untuk menjadi moderator sebuah seminar nasional dan pembicara dalam kegiatan diskusi di kampusnya. Kali ini, saya diundang sebagai pembicara dalam kegiatan di luar kampus. Dan dari obrolan dengan mereka, saya menjadi tahu bahwa keduanya telah lulus kuliah beberapa waktu lalu dan kini berkiprah di dunia entertainment.
Keduanya bersama beberapa lulusan IAIN lainnya bergabung dengan komunitas Titik Nol, sebuah komunitas yang di antaranya menerbitkan majalah komik. Di samping itu komunitas ini juga mulai bergerak dalam kegiatan lain seperti menjadi co promotor dalam even pemilihan Kang dan Nong Serang tahun 2007 ini.
Yang saya surprise adalah bahwa latar belakang kuliah mereka ternyata tidak berkaitan sama sekali dengan pekerjaan mereka saat ini. Mata kuliah entertainment sama sekali tidak tidak diajarkan oleh dosen mereka. Yang diajarkan adalah mata kuliah-mata kuliah seperti Tafsir, Hadis, Fikih, dan lain-lain.
Tapi kemudian saya menjadi mafhum bahwa sebagai mantan aktivis mahasiswa, mereka memiliki modal untuk ‘tercebur’ di dunia antah berantah itu (baca; entertainment). Aktif dalam organisasi kemahasiswaan semacam BEM memungkinkan mereka memiliki banyak jejaring dengan siapa pun dan lembaga mana pun.
Selama berorganisasi mereka menjadi tertempa, bukan saja secara mental, tetapi juga wawasan dan pergaulan. Dunia mereka menjadi lebih luas. Keterkungkungan yang boleh jadi melingkupi rekan-rekannya sesama IAIN karena telah terstigma sebagai kampus agama sehingga sulit memperoleh kerja, tidak berlaku bagi mereka.

Ijazah Kedua
Dari cerita dan paparan di atas, saya mengambil dua kesimpulan besar. Pertama, berorganisasi — apapun bentuk organisasi dan kegiatannya – memiliki manfaat yang besar dalam rangka pengembangan diri. Dengan berorganisasi kita menjadi makhluk sosial, lebih memiliki kepekaan dan kepedulian, serta yang terpenting lagi memiliki jaringan atau networking yang satu waktu akan sangat membantu kita ketika akan berkiprah dalam dunia kerja.
Sebaliknya, jejaring atau networking agak sulit diperoleh oleh mereka yang semasa mahasiswanya memilih untuk hanya berorientasi kuliah, dalam arti tidak berorganisasi. Karena terkungkungi oleh target sekian tahun harus lulus kuliah dan memperoleh IP sekian, mereka yang memilih cara seperti ini akan terpola dengan kegiatan rutin yang seluruhnya berorientasikan kuliah. Kegiatan di luar kuliah semisal berorganisasi dianggap sebagai penghambat. Karena itu, berorganisasi, kalau bisa sekadarnya saja, atau bahkan dihindari.
Pilihan seperti itu tentu tidak salah, akan tetapi akan berpengaruh di saat menghadapi realitas kehidupan sebenarnya terutama pasca selesainya kuliah. Mereka baru akan sadar betapa pasar kerja tidak selalu membutuhkan kesarjanaan kita. Kalaupun ada lowongan yang membutuhkan keahlian yang sesuai latar belakang kesarjanaan kita, jumlahnya hanya sedikit tetapi peminatnya bejibun. Dengan demikian, kemungkinan untuk diterima pun amat tipis. Nah, dari sinilah biasanya banyak dari kita merasa memiliki masa depan suram alias madesu. Dari sini pula kebanyakan dari kita mulai menyadari betapa jejaring itu amat perlu.
Kedua, keahlian berorganisasi memungkinkan untuk dijadikan sebagai ijazah kedua setelah ijazah kesarjaan kita, sehingga ada banyak pilihan pekerjaan yang dapat kita lakukan. Mengapa demikian?
Ijazah sarjana bisa kita gunakan untuk pilihan pekerjaan yang sifatnya formal dan sesuai dengan latar kesarjanaan kita. Saat melamar menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS), misalnya, mau tidak mau ijazah kesarjanaan harus kita sertakan. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa setiap penerimaan CPNS, kuota pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang kesarjaanaan kita amat sedikit, sementara peminatnya begitu banyak, sehingga kemungkinan diterima pun amat tipis.
Jika kondisi demikian yang terjadi, tidak ada pilihan lain kecuali kita menggunakan ‘ijazah kedua’, yakni keahlian berorganisasi dan jejaring yang telah kita bangun dahulu. Jejaring inilah yang kerap membantu kita memperoleh pekerjaan, meskipun – sekali lagi – kerap kali pekerjaannya itu sama sekali tidak memiliki hubungan dengan latar kesarjanaan kita. Bahkan dalam banyak contoh, orang yang bekerja karena keberhasilannya membangun jejaring, karirnya akan lebih cepat naik. Ia bisa segera meraih impiannya.

Menanam Harapan
Paparan di atas tentu bukan merupakan semacam ‘vonis mati’, terutama bagi mereka yang memilih tidak berorganisasi. Dunia itu berputar, karenanya tidak ada jaminan bagi siapa pun untuk meraih apa yang diinginkan (baca; memperoleh pekerjaan) tanpa keinginan kuat dari masing-masing individu. Artinya, dapat tidaknya pekerjaan selepas kuliah, semuanya bergantung pada individu masing-masing.
Pada kenyataannya, cukup banyak pula orang yang bisa bekerja hanya dengan mengandalkan ijazah kesarjanaannya. Karirnya pun cepat melesat. Tapi, ada pula yang mantan aktivis kampus hingga lulusnya dari kuliah masih juga nganggur alias bermasa depan suram. Lagi-lagi semuanya dikembalikan kepada individu masing-masing.
Tapi, dengan beragam aktivitas yang kita lakukan baik di kampus atau di mana pun, setidaknya kita tengah menanam banyak harapan untuk suatu ketika di antara harapan-harapan itu, ada satu atau dua yang terwujud. Dua orang lulusan IAIN tadi yang saat ini ‘tercebur’ dalam dunia lain (baca; entertainment), satu ketika boleh jadi mereka akan sukses menjadi entertainer profesional. Tapi, boleh jadi pula akan putar haluan ke habitatnya semula dengan berkiprah sesuai gelar kesarjanaannya. Juga boleh jadi nganggur sama sekali. Semua itu serba mungkin, namun setidaknya mereka kini sedang menanam harapan.
Selama dunia masih berputar, kewajiban kita untuk terus berikhtiar dengan menanam sebanyak-banyaknya harapan, sehingga ada banyak kemungkinan yang nantinya kita peroleh. Bukan begitu?***

Tulisan ini disampaikan dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Organisasi (LDKO) UKM Kamatika STIMIK Serang, pada hari Minggu 11 November 2007.